8 Comedie Bandrek

Buku, Resensi

8 Comedie Bandrek

Judul buku : 8 Comedie Bandrek
Pengarang : Dini M. Kusmana
Bahasa : Indonesia
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2013
Halaman : 245 halaman
Genre : Pop, Fiksi, Novel Dewasa
ISBN : 978-979-22-9036-3

Membaca novel “8 Comedie Bandrek” karangan Dini M. Kusmana ini seperti berada di sebuah kafe bersama teman yang sedang bercerita dan kita diminta menjadi pendengar yang baik untuk setiap detil yang dia ceritakan. Cara bertutur yang ringan dan alur cerita yang mengalir dari awal cerita membuat kita terbius dan lupa kalo ini adalah sebuah cerita fiksi. Menarik banget buat saya sih..heheheeh
Pada dasarnya pengarang dari novel “8 Comedie Bandrek” ini ingin menunjukkan sisi lain dari proses adaptasi yang harus djalani oleh seseorang yang memutuskan untuk datang ke dunia barunya. Kebetulan si pengarang mengambil setting di kota Montpellier, di Perancis Selatan dimana sang tokoh wanita bernama Sejati menjalani hidup barunya dengan sang suami yang berasal dari Perancis, Jean-Charles. Pernikahan antara dua kultur yang berbeda bukannya tanpa masalah. Proses adaptasi yang “berat” harus dijalani oleh Sejati dan untuk beberapa saat, Sejati merasakan “frustasi” melihat sikap dan penerimaan yang setengah hati dari orang-orang di sekelilingnya di negara tersebut. Dari mengurus ijin tinggal yang berbelit-belit sampai sikap ibu mertuanya yang “keras” dan tidak bisa berkompromi bahkan untuk urusan pribadi semacam menyimpan bukti-bukti tagihan dan memasak membuat Sejati menjadi “frustasi”. Belum lagi dia harus menjelaskan tuntunan-tuntunan agama Islam yang dianutnya kepada bapak dan ibu mertuanya yang non-muslim membuat suasana semakin memburuk.
Satu persatu konflik intern di rumah bisa diselesaikan tapi kemudian Sejati dihadapkan pada kenyataan bahwa penerimaan orang lain di negeri orang bukanlah hal mudah. Tak jarang Sejati harus mengalami “pelecehan” dan dihina oleh orang-orang disekelilingnya. Dari supir bus sampai tetangga-tetangga di apartemennya. Masalah memeluk keyakinan tertentu, perbedaan cara hidup dan ribetnya menggunakan bahasa Perancis membuat Sejati benar-benar harus bersabar dan berbesar hati dalam menyikapinya.
“Rupanya, sejak aku memakai bahasa Perancis, walau pada awalnya belepotan, tanggapan masyarakat setempat luar biasa. Dan saat aku menguasai bahasa negara ini dengan lancar, pertanyaan yang lumayan sering kudapat adalah, “Sudah berapa lama tinggal disini? Karena bahasa anda bagus sekali..” (halaman 124)
“Memeluk Islam di daratan “berduri” mewajibkan aku sepuluh kali lipat lebih waspada jika tidak ingin hati tergores dan luka. Selain karena Tuhan, kekuatanku datang dari suami yang berkeyakinan seiman, dan sejalan dalam menjalankan perintah agama..” (halaman 131-132)
Sikap tidak bersahabat juga dirasakan oleh Sejati ketika berhadapan dengan teman-teman Indonesianya dan ini yang benar-benar membuatnya terluka. Ketika jauh di negeri orang, berada di sekitar orang-orang yang berasal dari satu negara harusnya menyenangkan tapi sebaliknya sejati mendapatkan perlakuan yang berat sebelah dan tidak adil.
“Ketakutan dan kecurigaan tak bisa hilang setiap berhadapan dengan mereka. Masih terngiang hinaan dan kata-kata yang mereka semburkan …” (halaman 146)
Setelah sekian tahun tinggal di Perancis, Sejati mulai mempertanyakan dirinya sendiri kenapa dia tidak bisa begitu mudahnya menanam hatinya di Perancis meski dia sudah lancar berbahasa Perancis dan semuanya berjalan baik seperti yang diharapkan.
“Ikhlas? Tak relakah selama ini aku berada di negara tempat suamiku dilahirkan? Tak pernah kutanyakan hal itu kepada diri sendiri. Enam huruf itu begitu mudah diucapkan dan sudah berjuta kali terlontar dari mulutku. Hanya, keiklasan masih sulit kugenggam karena hati yang sungkan…” (halaman 200)
Mengarungi gelombang kehidupan dengan air yang kadang tenang dan seringnya liar membuat Sejati menjadi wanita yang lebih kuat dan pada akhirnya bisa memaknai semua proses adaptasi yang panjang serta harus dijalani dengan kesabaran itu tidak lepas dari penjagaan Tuhan.
“Saat seseorang dihadapkan pada dua pilihan yang tak mungkin diraih secara bersamaan, otak dan hati akan dipaksa bekerja menemukan jalan keluar agar pilihan itu berubah menjadi sebuah keselarasan..” (halaman 243)
“Tak ada yang kebetulan atas semua yang terjadi. Aku percaya Tuhan menjaga satu persatu umatnya. Segala yang kualami merupakan cara Dia memperlihatkan kepada mata hatiku dunia ciptaan-Nya..” (halaman 245)
Membaca novel setebal 245 halaman ini pada akhirnya akan membawa kita pada kesimpulan bahwa proses adaptasi sesungguhnya harus dihadapi oleh semua orang.Tidak harus melalui proses yang ekstrim, seperti harus pindah dan tinggal di negara lain. Hal-hal sederhana semacam mendapatkan teman baru, bos baru, bekerja di kantor yang baru atau memiliki pasangan hidup yang berbeda suku juga memerlukan adaptasi. Adaptasi membutuhkan kesabaran dalam menjalaninya dan jiwa besar dalam menyikapinya karena tidak jarang dalam proses tersebut kita akan mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan. Meski berat, pada akhirnya dengan kesabaran, proses adaptasi bisa berbuah manis. Novel yang menarik untuk dibaca karena alur cerita yang mengalir ringan dan cara penyampaian pesan yang jauh dari kesan menggurui.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *