jemput jodoh pinalti 1

Adu Pinalti

Cerpen, Editor Picks, Fiksi

Hujan masih saja berisik. Sejak siang tadi, Ia mengutuki, keras sekali, barisan jendela yang dengan tegas membungkam suaranya. Tapi suara-suara sumbang di kepalaku ini jauh lebih berisik, sibuk menyalahkan sikapku yang juga ikut bungkam.

Meskipun usia sudah kepala tiga, belum juga kuberani memutuskan untuk menikah. Padahal, sudah tiga wanita yang mengajak ta’aruf melalui ustad Rahman, guru ngajiku. Sudah hampir satu bulan, tapi aku belum juga bisa memberi jawaban. Sedang Ayah terus saja mendesakku agar disegerakan.

Beda ceritanya dengan Najma, adikku yang pertama, dia jauh lebih siap dariku untuk menikah. Tapi, kesiapannya itu tidak mendapat dukungan dari Ayah. Sejak tadi dia diam cemberut seperti tak mau diusik. Sudah 11 orang laki-laki gagal memenangkan hati ayah, agar mengijinkan anak perempuan satu-satunya itu bisa segera menikah. Tinggallah kami berdua di depan televisi, saling menahan emosi.

“Ganti program berita dong, mas.. kan tahu sendiri aku ngga suka nonton bola!”

Najma protes, bosan dengan tayangan bola yang disiarkan, meski sebenarnya ia tak terlalu memperhatikan. Ia pun berusaha merebut remote control dari tanganku. Tangan kanannya melayang cepat bak elang menyambar mangsa.

“Eit, tidak bisa!”

Segera kutarik tangan menjauhkan tongkat sihir digital ini darinya. Aku tak mau kalah. Bagiku bola adalah berita, dan ini adalah berita yang kutunggu-tunggu: masuknya Persib di Final ISL.

Pertandingan malam ini cukup menegangkan, antara Persib Bandung melawan juara bertahan, Persipura Jayapura. Sama menegangkannya ketika sore tadi aku menemani sahabatku yang bertandang ke rumah, dan bersitegang dengan juara bertahan, Ayah.

Di layar kaca, orang-orang sibuk menyoraki bola yang bergulir di lapangan, sedangkan Ayah dan Ibu sibuk membahas obrolan yang bergulir di meja makan. Lagi-lagi, soal kepastian partai final piala pernikahan, yang terus saja mengalami perpanjangan waktu.

“Ih mas, ngalah dikit napa! Heran, dari dulu ngga pernah mau ngalah!”

tak terima, tangan kirinya ganti merebut bantal dari pangkuanku.

“Eh, tunggu dulu.. kata siapa mas ngga pernah ngalah, buktinya mas rela kok kamu duluan nikah.”

“Iya deh, mas.. Iya” katanya merajuk, pura-pura menunduk, “Nah itu, soal yang begitu aja bisa ngalah, masa soal nonton TV yang sepele gini ngga bisa?”

“Eh, beda ya. Soal nikah boleh ngalah, tapi soal persib ini sih, ogah!”

“Ya ampun, mas.. masa sih Persib jauh lebih penting dibanding nikah? Nikah itu kan ibadah, nonton bola itu mubah. Mana yang harus didahulukan, yang wajib kan, mas? Harusnya, kalau emang mau ngalah, jangan soal nikah, mas.. tapi soal nonton TV..”

Ia masih saja mencoba bernegosiasi. Tapi kesempatan langka ini amat jarang terjadi, menyaksikan Persib bermain meskipun dari TV, adalah momen yang tak boleh dilewatkan. Sudah 19 tahun Persib menantikan kemenangan, dan sudah 3 tahun aku menantikan kesempatan menonton bola. Bosan rasanya terus mengalah karena TV dirumah selalu saja dikuasai Ibu, penggemar sinetron yang ngga jelas ceritanya. Mumpung Ibu sedang sibuk ngobrol dengan ayah, kali ini tidak boleh ada kata mengalah.

“Iya deh, iya.. Kalau Persib menang, mas janji bulan depan mas nikah! Gimana?”

“Iih, bukan gitu maksudnya! Huh, punya mas kok ngga pengertian banget. Ya deh, yang bobotoh tea.. aku tagih lho bulan depan, awas kalau ngga jadi nikah juga!”

Akhirnya, dia menyerah gara-gara janjiku untuk menikah. Jujur, aku juga tak menyangka bisa bernazar seperti itu, tapi ada gunanya juga, jadi tertantang untuk segera memutuskan menikah. Kalaupun nazarnya demi ibadah kan sah-sah saja. Apalagi menikahnya kan dengan sesama manusia, bukan dengan monyet. Lebih baik dibandingkan nazar-nazar lain yang bukan ibadah, Nazarudin misalnya.

“Eh, memangnya kenapa sih, dek kamu ngga suka bola? Bagus kan, acara olahraga, banyak pelajaran yang bisa didapat darinya. Lagipula, jarang-jarang ini Persib Juara¬† masuk Final”

tanyaku heran, tak percaya kalau di dunia ini ada orang yang tidak suka menonton bola, adikku sendiri lagi.

“Aneh aja, bola kecil gitu sampai direbutin 11 orang. Eh begitu dapat, bukannya diambil malah ditendang-tendang. Itu kan konyol!”

Kalau dipikir-pikir benar juga. Tapi, urusan bola kadang bukan urusan kecil, orang bisa berkelahi cuman gara-gara beda kostum dan angka.

“Ya namanya juga permainan, emang gitu dari sananya.”

Terdengar suara komentator semakin bersemangat, disambut riuh para bobotoh yang menyerukan yel-yel khas berbahasa sunda. Kadang teriakannya diselingi kata-kata yang kurang enak didengar. Sama tidak enaknya dengan komentar Ayah tentang sahabatku, yang kurekomendasikan untuk jadi calon suami Najma.

Sebagai mantan pelatih bola, wajar bila Ayah sangat perhitungan dan jalan pikirannya sulit ditembus. Ibarat serangan ke gawang lawan, bola-bola umpan akurat yang kugulirkan, selalu saja berujung tendangan bebas. Begitu pula calon-calon yang diajukan oleh adikku, selalu kandas di tepis ayah yang selalu menolak tegas.

“Mas, mas.. Emang sebegitu berharganya ya itu bola, sampai harus jadi rebutan?” melihatku yang sangat serius menonton, cemberut Najma kini berganti penasaran. Ia menarik-narik kaosku dan bertanya heran.

“Mas..”

aku bergeming, pikiran dan hatiku nampaknya sudah benar-benar terhanyut dalam pertandingan, ikut bermain bersama Firman Utina Cs.

“Maas!!”

“Eh iya, kenapa, dek?”

“Yah, ngelamun ternyata.. itu mas, bola itu seberapa berharga sih, kok sampai jadi rebutan?”

“Oh iya, berharga banget. Kan kalau menang, hadiahnya lumayan. Lagipula, ini juga soal perjuangan harga diri, menanti buah dari proses penantian panjang selama 19 tahun”

“Hmm.. iya sih, lama banget ya 19 tahun. Tapi kok kayanya keterlaluan banget, segitu susahnya kah buat dapat juara? Pelatihnya kurang bagus ya? Apa gara-gara permainannya terlalu keras? Atau karena pemainnya kebanyakan kali, makanya susah masukin bolanya. Trus, kalau gitu kenapa ngga semuanya aja dikasih bola satu-satu, biar semua bisa masukin ke gawang. Beres kan, ngga perlu rebutan?”

Aku tahu, ia sedang mengungkapkan kekesalannya pada Ayah. Pertanyaannya makin kritis, tak kalah kritis dari penonton yang mempertanyakan kinerja wasit.

Pertandingan sudah mendekati menit-menit terakhir, meski sudah ada perpanjangan waktu, skor masih imbang, 2-2. Kalau sudah seperti ini, bisa-bisa berlanjut dengan adu pinalti.

“Ya mungkin biar makin terasa persaingannya. Kalau ngga begitu, mana seru? Coba kalau masing-masing pegang satu bola, trus main sendiri-sendiri, apa yang mau dilihat coba? kan bosen jadinya”, jawabku asal, tak ingin ketinggalan menit-menit yang menentukan.

“Ooh.. ya, ya, kalau emang berharga wajar sih kalau banyak yang mau ngedapetin”

“Iya, persis kayak kamu, sampai ada 11 laki-laki yang ngerebutin” celetukku lagi, sedikit menggodanya.

“Maksud mas, aku bulet kaya bola gitu? Terus, dioper-oper gitu? Enak aja, emang aku apaan!?”

Aduh, adikku satu ini memang terlalu sensitif. Kalau dipuji, selalu ngga percaya karena dikira pasti ada maunya. Kalau disindir, eh langsung nangis dianya.

“Bukan gitu, dek.. maksudnya kamu itu saking berharganya, sampai banyak yang mau nikahin”

“Ah, mas bisa aja, gombal!”
Mukanya memerah, semerah bantal berbentuk hati yang dia pukulkan.

Kasihan adikku, harapannya sudah terlalu lama dioper kesana-kemari, dari satu laki-laki ke yang lainnya lagi. Kalau kedudukannya seperti ini terus, bisa jadi nasib pernikahan adikku ini mirip drama adu pinalti. Siapa laki-laki yang pertama kali bisa menggolkan bola lamaran, dia yang jadi.

Pondok Hijau, 9 November 2014

Iqbal Arubi – Pena Arubi
Email: iqbalarubi@gmail.com
Twitter: @iqbalarubi
Facebook: http://fb.me/sajakpena


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *