AIR AWET MUDA DAN TELAGA AGENG TAMAN NARMADA

Berita, Pariwisata

AIR AWET MUDA DAN TELAGA AGENG TAMAN NARMADA

Saya pergi meneliti ke Taman Narmada karena cukup dekat dengan tempat tinggal saya yaitu : di Keru, kecamatan Narmada. Di taman narmada saya langsung bertemu dengan Pemangku yang bernama Mangku Komang Puji. Saya hanya memfokuskan penelitian pada  dua objek yaitu Air suci yang dikenal dapat membuat awet muda sehingga dikenal dengan nama Air Awet Muda. Objek kedua adalah Telaga Ageng yang dikenal kekeramatannya oleh masyarakat khususnya masyarakat Narmada.

 

Taman Narmada berada di sebelah timur kota Mataram, tempatnya di Desa Narmada, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), letaknya tepat di seberang Pasar Narmada. Menurut penjelasan dari Mangku Komang Puji taman narmada merupakan replika Gunung Rinjani dan danau Segara Anak. Taman yang dibangun oleh Raja Anak Agung Gde Ngurah Karang Asem pada tahun 1727 bertujuan agar dapat berziarah dan beribadah tanpa harus berjalan ke Puncak Gunung Rinjani.

1. AIR AWET MUDA

      Pada gambar dibawah ini adalah tempat sumber mata air suci yang dikenal dapat membuat awet muda. Namanya adalah Bale Petirtan. Didalam Bale ini terdapat sebuah mata air yang merupakan pertemuan tiga sumber mata air yaitu : Lingsar, Suranadi dan Narmada sendiri, kemudian dinamakan Tampuhan Tige atau Campuran Tiga. Air ini merupakan asli dari Gunung Rinjani yang mengalir ke Lingsar kemudian ke Suranadi dan bertemu di Narmada. Bagi umat Hindu, air ini disakralkan sebagai tirta atau air suci. Sama halnya dengan di Gunung Rinjani airnya berasal dari campuran tige, yang pertama bernama Banyumurit kemudian dari Gua Manik dan Gua Susu. Ketiga campuran air ini bertemu jadi satu di Peropok.Mangku Komang Puji adalah pemangku di Narmada dan bertugas di Bale Petirtan, mengatakan ; air suci ini sudah lama dikenal oleh kalangan wisatawan. Hampir semua pengunjung yang datang bertujuan untuk mencari air suci ini untuk membasuh muka, kaki, dan meminumnya. Harga air ini Rp 10.000 per jerigen kecil.

Bagi pengunjung khususnya umat hindu yang ingin bersembahyang dikenakan biaya sebesar Rp 50.000 sebagai ganti uang banten, yang disiapkan oleh penjaga. Kemudian, dengan berselendang di pinggang pengunjung akan dipersilahkan memasuki Bale Petirtan untuk melakukan bakti.

2. TELAGA AGENG

Telaga Ageng dibuat sebagai miniatur Danau Segara Anak di Gunung Rinjani sebagai pengganti tempat pelaksanaan Upacara Pekelem setiap Purnama ke-lima tahun Caka  (Oktober-November), karena raja tidak mampu lagi ke Gunung Rinjani.

Upacara Pekelem yaitu suatu upacara yang dikaitkan dengan kesuburan dan turunnya hujan disebut juga Upacara Meras Danau.

Gambar-gambar patung di atas adalah merupakan simbol tahun renopasi Telaga Ageng. Bangunan pada nomor (1) merupakan miniatur candi berbentuk Matahari dan disimbolkan sebagai angka satu. Pada gambar nomor  (2) merupakan patung gajah atau Ganesa yang mengahadap barat disimbolkan sebagai angka delapan, sedangkan Telaga Ageng sendiri disimbolkan sebagai angka nol , dan yang terakhir pada gambar nomor (3) adalah patung Arjuna atau Pandawa Lima yang menghadap timur yang disimbolkan sebagai angka Lima. Dari ngka-angka tersebut menjadi tahun 1805 kemudian disebut tahun Saka atau sekitar tanggal 22 Maret 78, kalau di masehikan yaitu 1805+78 yang hasilnya adalah 1803.

Sumber : Mangku Komang Puji


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *