Aku, dan Dita yang sedang jatuh cinta

Cerpen, Fiksi

Aku, dan Dita yang sedang jatuh cinta

Tempat ini sudah berubah seiring waktu berjalan. Aku masih mengingatnya dulu, ketika dia masih usia kanak-kanak. Permainan boneka barbie dan boneka saun the sheepnya selalu tergeletak tidak beraturan di atas kasurnya. Mickey mouse seperti lucu sedang menggoda teman-temannya donald dan gofie di dinding kamar. Jam digital berbentuk rumah tikus itu tergantung di atas ketiga tokoh kartun disney itu. Warnanya didominasi warna merah muda. Aku ingat, ketika pertama kali dia memasuki kamar ini dengan menunjuk-nunjuk setiap sudut kamar kepada ayahnya untuk memberikan warna sesuai keinginannya. Menarik-narik kemeja ayahnya tidak sabaran.

menginjak usia sekolah dasar, ia mulai belajar menulis. Lucu sekali, berapa kali ibu mengatakan padanya jangan mencoret-coret tembok yang ada. Ibu menyiapkan buku dan pensil di meja untuk belajar menulis, bukan di tembok. Tapi dia selalu nyengir ketika ibu masuk ke kamar melihat semuanya berantakan. Ibu sering menjewernya melihat tingkah menyebalkan dia. menangis lalu mengadu padaku. Aku hanya bisa memberitahu kalau dia menangis, cantiknya hilang. Lalu dia tertawa sendiri dan mengusap air matanya, keluar dari kamarnya untuk meminta maaf kepada ibu.

Hari terus berganti. Nama Dita Ayu Anggraini tergantung menggantikan foto mickey mouse itu. Semua memang cepat berubah. aku tak melihat lagi boneka-boneka itu, aku juga tak melihat donald dan kawan-kawan yang terlihat saling bercanda, juga tak melihat coretan dinding itu lagi. Semua telah terganti oleh foto pemain bola klub ternama asal itali, AS Roma. di sana bertuliskan francesco totti, kemudian di sampingnya adalah laki-laki kurus menggunakan baju hitam merah, filipo inzagi. Lambang klub sepak bola berada di sana sini. Lampu kamar juga berubah menjadi seperti bola sepak. Semua hampir berbau sepak bola. Bantal, selimut, seprai. Hanya meja belajar dan meja rias saja yang masih seperti dulu. Entahlah aku harus merasa senang atau tidak. Tapi seiring berjalannya waktu, ia hanya menyapaku di pagi hari untuk ke sekolah dan ketika ingin pergi entah ke mana bersama teman-teman maniak bolanya.

Sekarang dia sudah mengenakan almamater. Beberapa kali meminta pertimbanganku tentang penampilannya sebagai seorang mahasiswi. Memutar-mutar di depanku kemudian tersenyum mendengar pujianku. Dia sekarang mengenakan kacamata, jilbabnya terulur menutup aurat ketika hendak ke kampus. Aku begitu bangga dengannya.

Hingga suatu ketika aku tidak paham apa yang sebenarnya terjadi. tiba-tiba dia membuka pintu kamar dengan menangis sesenggukan seperti waktu dia kecil dulu. Ingin sekali aku bertanya kenapa dia menangis. Aku ingin mengingatkannya, bukankah dulu dia sering mengadu kepadaku ketika ibu memukulnya karena mencoret-coret tembok. Aku kemudian membuatnya tersenyum ketika kamu tahu jika kamu menangis kamu akan terlihat jelek nak. Lalu siapa yang membuatmu sedih sekarang? Datanglah padaku. Bukankah dulu cukup kamu menangis hanya waktu lima menit?

Aku mengingatnya, memang sudah beberapa bulan terakhir dia sering bercerita tentang fikri. Aku sendiri baru tahu ketika foto mereka berdua ia letakkan di atas meja belajar. Setiap malam ia selalu cerita padaku dengan pipi yang merona merah, malu-malu.

“fikri itu baik, perhatian, ganteng. Aku suka sama dia. setelah dua bulan jadian kita, aku mau kasih kado apa ya?”

Pernah juga suatu hari dia mondar-mandir di depanku. Tidak lain tidak bukan untuk meminta pendapatku. Dia terus mencari pakaian yang pas untuk digunakan berkencan bersama fikri. Aku hanya tersenyum melihat dia yang begitu sibuk. Pernah juga sesekali dia sibuk menekan-nekan pipinya di depanku seraya bertanya. “hei! Apa aku ini mulai gemuk ya? Aku nggak gemuk kan? Aku masih cantik kan?” lama berselang dia berkata lagi “tapi bang fikri bilang aku gemuk, lebar” persis seperti gadis yang sedang jatuh cinta. Aku hanya mengatakan yang sejujurnya, dia adalah gadis paling cantik yang aku kenal.

ya, waktu itu dia menangis karena fikri ternyata bukan orang baik-baik. Dia adalah lelaki bejat yang sering mempermainkan hati wanita. Ketika dua bulan mereka pacaran, dita bermaksud memberikan kado yang malamnya selalu ia pandang dan tak sabar memberikannya pada fikri di hari mereka jadian. Setidaknya itu yang aku simpulkan ketika dia menangis membuka pintu sembari meletakkan handphone di atas meja lalu membanting kado itu ke tempat sampah. Dia terus menangis, aku melihat pesan masuk sekilas

Bang fikri > dita, ini gk sprti yang kmu liat. Ak bisa jlasin smua.

Aku hanya bisa melihat dita menangis sesenggukan, menutup wajahnya dengan bantal. Hingga dua hari berikutnya ia tidak masuk kuliah. Sepertinya demam. Ibu memberikan kompres di kepalanya dan menyuapinya. Ayah sesekali menengok, bertanya mengapa dan sakit apa? Ibu usil menimpali. “anak kita sedang kena malarindu.” Ayah hanya tersenyum melihat anaknya memukul lemah ibu. Sejenak kemudian ayah berkata “memang sudah waktunya kamu jatuh cinta sayang. Tapi bukan jalannya kalau itu pacaran. Kamu akan menemukan pasangan hidupmu kelak. Jika sekarang kamu sakit hati karena orang yang kamu cintai ditunjukan keburukannya oleh Allah, maka bersyukur. Sebenarnya Allah menyiapkan yang terbaik untukmu.”

Dita hanya diam sambil mengunyah buah apel yang diberikan ibu. Tapi sejurus kemudian mengangguk menyahut “iya ayah, dita akan kuliah dengan serius. Dita yakin kelak akan dipertemukan dengan jodoh yang lebih baik daripada orang yang menyakiti hati dita saat ini.” Ibu dan ayah tersenyum. Aku pun ikut tersenyum.

Semua berlalu begitu cepat hingga dandanan wisuda terbaiknya dia pamerkan padaku. Sekarang dia sudah tamat kuliah. Semua begitu cepat berlalu hingga rias pengantin pun dia pamerkan padaku. Aku ingat, ketika hari pernikahannya ia begitu mengembangkan senyumnya. Melihatku dan kembali bertanya “apa aku sudah sempurna cantik untuk suamiku?” aku mengangguk. Dan ijab kabul sudah terlaksana, pesta meriah di luar sana sudah berlangsung. Sekarang adalah perpisahanku dengan dia, perpisahan ibu, ayah dengannya. Ibu tersedu menangis melepas putri sematawayangnya itu, ayah terlihat lebih tegar walau berkaca-kaca ketika memeluk menantunya seraya berkata “aku titip anakku padamu.” Aziz hanya mengangguk takzim. Dita tak kalah histeris ketika memeluk ibu dan ayah. Sekarang, apa dia akan berpamitan padaku?

#####

Semua barang-barang dita sudah di pack untuk pindah bersama suaminya. Dia kembali masuk ke kamar. mengecek sesuatu, siapa tau ada barang berharga miliknya yang ia tinggalkan

“Bawa cermin itu ya mas.” Dita menoleh ke meja riasnnya

“sudah ada cermin di rumah kita, aku sudah siapkan semuannya kok.” Suaminya menegaskan.

Dita berjalan pelan ke meja rias tempat cermin itu terpasang sembari melihat perlahan setiap sudut kamarnya.

“entah lah mas, cermin ini mungkin cermin biasa untuk orang lain. Tapi untukku, dia sudah seperti saudara. Tempatku mengadu ketika dipukuli ibu. Kamu tau mas, aku dulu sering dimarahi ibu karena hobi mencoret-coret tembok. Sebenarnya bukan salahku, aku kan waktu itu baru belajar menulis. Jadi tembok adalah sarana kreativitas yang luas kan? haha” dita tersenyum, manis sekali. Mungkin karena di hadapan suaminya yang baru.

“lalu?” suaminya bertanya kembali.

“setiap aku menangis ketika di pukul,  aku duduk di depan cermin, mengadu. Mengadu kenapa aku di pukul, aku sedih. Tapi ketika aku melihat diriku di depan cermin dengan ingus dan air mata seolah-olah cermin sedang berkata padaku “jangan menangis, kalau menangis nanti cantiknya hilang”, aku tertawa dan berhenti menangis. Aku tersadar kalau ibu sebenarnya berniat baik dan aku berlari ke dapur memeluk ibu dari belakang lalu meminta maaf.”

“kalau begitu kita bawa cermin itu.” Dengan nada berwibawa aziz menyahuti cerita istrinya. Dita bersorak senang sambil memeluk suaminya.

Ternyata aku akan selalu menjadi saksi dita yang sedang jatuh cinta, aku adalah cermin. Aku, dan Dita yang sedang jatuh cinta.

singgih wiryono

BASTRINDO FKIP UNRAM 2011


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *