AMBA : Pulau Buru, Pulau Sejuta Sejarah Tentang Cinta dan Kematian

Buku, Non Fiksi, Resensi

 

AMBA  Pulau Buru, Pulau Sejuta Sejarah Tentang Cinta dan Kematian

IDENTITAS BUKU
JUDUL            : AMBA
PENGARANG : Laksmi Pamuntjak
PENERBIT      : PT Gramedia Pustaka Utama
TEBAL            : 494 Halaman
HARGA           : Rp. 80.000
RILIS               : Cetakan ketiga: Februari 2013
ISBN                : 978-979-22-8879-2

Di Pulau Buru, laut seperti seorang ibu: dalam dan menunggu.
Kalimat permbuka yang sangat indah dari sang penulis membuat kita selalu ingin membuka halaman demi halaman untuk mencari jawaban.
Amba adalah seorang anak seseorang guru di Kadipura, Jawa tengah, anak kepala sekolah yang mendalami Puisi-puisi jawa. Namun Amba tak mau mengikuti jejak Ayahnya. Amba meninggalkan pulau kecilnya dan merantau untuk dapat berkuliah di UGM.
Amba ditunangkan dengan seorang laki-laki yang bernama Salwani Munir, namun sebelum menikah Amba hamil dari seorang laki-laki lain yang bernama Bhisma Rashad, seorang dokter muda lulusan Universitas Karl Max di Leipzing, Jerman Timur. Ia bekerja di salah satu rumah sakit di Kediri.
Bhisma adalah seorang “anak menteng” yang kemudian berempati dengan gerakan kiri karena pengalamnnya di Eropa. Pada tahun 1965 Bhisma di tangkap di Yogya. Ia di buang ke Pulau Buru pada tahun 1971. Ia tak pulang lagi dan menjadi resi dari waeopo. Resi adalah sebutan untuk orang-orang yang bisa menyembuhkan di Waeopo.
Pada tahun 2006 Amba pergi ke pulau Buru, ia mencari Ayah dari anak perempuan sematawayangnya yang ia lahirkan tanpa pernikahan. Setelah kamp tahanan politik tempat Bhisma di tahan sebagai tahanan politik bubar, Bhisma tetap tak kembali.
Setelah menginjakan kaki di pulau Buru, Amba banyak bertemu dengan orang-orang yang menunjukannya pada satu arah yaitu Kuburan kekasihnya. Ketika tiba di kuburan tersebut ia di serang dengan ganas dari belakang oleh seorang perempuan yang mengaku istri sah dari Bhisma. Setelah lama tak sadarkan diri di rumah sakit karena perawatan, Amba kembali segar dan melanjutkan pencariannya. Kali ini tidak lagi mengenai keberadaan kekasihnya, namun sebab-musabab kekasih yang sudah empat puluh satu tahun di carinya itu mati.
Dri segi cerita, novel ini sangat kaya nilai-nilai sejarah yang terlupakan. Laksmi berhasil menggabungkan fiksi dengan latar belakangs ejarah sehingga semua tokoh seperti benar-benar hidup dan menjadi catatan sejarah Indonesia. Selain cerita yang sangat menarik, Laksmi membuktikan bahwa kisah percintaan tak perlu di balut dengan cerita yang mendayu dan di lebih-lebihkan.
Semua adegan di dalam novel terasa pas dan tidak berlebihan. Meskipun dalam beberapa penggambaran cerita Laksmi sering “Brutal” dan gamblang menyebut kata-kata yang tabu bagi orang timur seperti zakar, puting susu, bokong dan penggambaran pemerkosaan dan persetubuhan yang gamblang.
Dalam beberapa bab, Laksmi selalu memulai bab dengan perumpamaan-perumpamaan dan quote-quote yang mempunyai arti agung. Seperti dalam lembar pertama bab pertama, Laksmi memulainya dengan sebuah perumpamaan yang berbunyi “Di Pulau Buru, laut seperti seorang ibu: dalam dan menunggu” kata-kata itu menggambarkan latar pada bab pertama.
Begitu juga dalam halaman 58 bab tiga Laksmi memulainya dengan sebuah quote yang sangat bagus yaitu “Apabila kita bertanya pada seorang kesatria tua, apa keberanian yang paling purba, dia akan menjawab: kewajiban”. Quote tersebut juga menggabarkan apa yang akan di bahas di bab tiga. Cara ini ternyata berhasil menahan pembaca untuk tidak menutup buku lebih cepat.
Nyaris tak ada kekurangan dalam novel ini, sehingga sangat layak di baca oleh mereka yang mendambakan bacaan yang masih mempertahankan bahasa Indonesia yang bermartabat. Terlepas dari semua kekurangan dan kelebihannya, novel ini adalah pembuktian seorang penulis wanita Indonesia tentang kecintaannya terhadap fiksi dan sejarah yang dikawinkan dengan sangat serasi.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *