ANALISIS ASPEK ID EGO DAN SUPEREGO TOKOH SI BOCAH DALAM CERPEN PAGI BENING SEEKOR KUPU KUPU KARYA AGUS NOOR PSIKOLOGI SIGMUND FREUD 1

ANALISIS ASPEK ID, EGO, DAN SUPEREGO TOKOH SI BOCAH DALAM CERPEN PAGI BENING SEEKOR KUPU-KUPU KARYA AGUS NOOR: PSIKOLOGI SIGMUND FREUD, OLEH EKA KHAIRUNNISA

Non Fiksi

ANALISIS ASPEK ID, EGO, DAN SUPEREGO TOKOH SI BOCAH DALAM CERPEN PAGI BENING SEEKOR KUPU-KUPU KARYA AGUS NOOR PSIKOLOGI SIGMUND FREUD

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Cerpen Pagi Bening Seekor Kupu-kupu karya Agus Noor merupakan sebuah cerpen yang menceritakan tentang perjalanan seekor kupu-kupu yang diam-diam mempunyai keinginan menjadi manusia dan seorang bocah yang ingin menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu bertemu dengan bocah itu di sebuah taman yang didiaminya. Bocah itu sering memasuki taman itu secara sembunyi-sembuyi karena taman tersebut tidak terbuka untuk gelandangan sepertinya. Ketika suatu hari bocah itu bersembunyi dibalik pohon sambil mengintip ke arah bocah-bocah seusianya yang sedang asyik bermain dengan leluasa di taman tersebut, kupu-kupu memergokinya dan perlahan-lahan mencoba mendekatinya. Hal itu terus berulang. Si Bocah bahkan sudah menghafal bahwa setiap kali dia menyembunyikan diri dibalik pohon di taman itu maka kupu-kupu itu akan datang menghampirinya, begitu pun kupu-kupu itu sudah mengetahui kebiasaan bocah itu.

Terkait dengan teori yang digunakan, dalam analisis ini menggunakan teori psikologi Sigmund Freud. Alasan penggunaan teori tersebut karena di dalam cerpen Pagi Bening Seekor Kupu-kupu ini memiliki tokoh yang memperlihatkan aspek Id, Ego, dan Superego sebagaimana yang dikemukakan oleh Sigmund Freud. Temuan id, ego dan superego tersebut pun hanya difokuskan pada tokoh Bocah.

Aspek Id yang ditampilkan oleh tokoh Bocah tersebut berupa keinginannya untuk menjadi seekor kupu-kupu agar terbebas dari segala tekanan-tekanan yang ia alami dalam hidupnya, aspek ego terlihat pada kesediaannya untuk bertukar tubuh dengan kupu-kupu, dan aspek superego Bocah tersebut terlihat ketika Ia mempertimbangkan apakah Ia bersedia menerima tawaran kupu-kupu itu untuk bertukar tubuh dengannya atau tidak.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk menemukan aspek id, ego dan superego (Psikologi Sigmund Freud) pada tokoh Bocah dalam cerpen Pagi Bening Seekor Kupu-kupu karya Agus Noor.

 

 

BAB II
LANDASAN TEORI

  1. Cerpen

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cerpen adalah cerita pendek. Menurut J.S. Badudu (1975:53) (dalam http://www.pengertianahli.com/2013/10) cerpen adalah cerita yang menjurus dan konsentrasi berpusat pada satu peristiwa, yaitu peristiwa yang menumbuhkan peristiwa itu sendiri. Sejalan dengan pendapat tersebut, cerpen Pagi Bening Seekor Kupu-kupu menggambarkan sepenggal kisah hidup seekor kupu-kupu dan seorang bocah yang sama-sama meiliki keinginan untuk saling bertukar tubuh.

  1. Tokoh dan Penokohan

           Menurut Aminuddin (1984:85) (dalam Sapiin, 2013:261) cerpen adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh disebut penokohan. Tokoh yang berperan penting dalam cerpen Pagi Bening Seekor Kupu-kupu adalah si Bocah dan Kupu-kupu. Si Bocah tampil sebagai bocah yang penyabar, bekerja keras dan mandiri meskipun usianya masih sangat belia. Kesengsaraan dan kemiskinan yang diajalaninya membuatnya memiliki keinginan untuk menjelma sebagai seekor kupu-kupu untuk merasakan kebebasan yang ia bayangkan.

  1. Psikologi Sigmund Freud

Menurut Sigmund Freud, kepribadian manusia dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga unsur atau sistem, yakni id, ego, dan superego. Meskipun ketiga sistem tersebut memiliki fungsi, kelengkapan, prinsip-prinsip operasi, dinamisme, dan mekanismenya masing-masing, ketiga sistem kepribadian ini satu sama lain saling berkaitan serta membentuk suatu totalitas. Dan tingkah laku manusia tidak lain merupakan produk interaksi antara id, ego, dan superego itu (Koswara, 1991:32).

  1. Id

Aspek Id adalah sistem kepribadian yang paling dasar, sistem yang di dalamnya terdapat naluri-naluri bawaan. Untuk dua sistem yang lainnya, id adalah sistem yang bertindak sebagai penyedia atau penyalur energi yang dibutuhkan oleh sistem-sistem tersebut untuk operasi-operasi atau kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Dalam soal energi ini, id tidak bisa mentoleransi penumpukan energi yang bisa menyebabkan meningginya taraf tegangan organisme atau individu secara keseluruhan. Dan bagaimanapun, bagi individu meningginya tegangan itu akan menjadi suatu keadaan yang tidak menyenangkan (Koswara, 1991:32).

Terkait dengan keprribadian si Bocah dalam cerpen Pagi Bening Seekor Kupu-kupu, perilaku tokoh Bocah yang mencerminkan aspek id tersebut terletak pada keinginannya utuk menjelma menjadi seekor kupu-kupu agar terlepas dari kesengsaraan hidup yang dialaminya.

  1. Ego

           Ego adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada dunia objek dari kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan (the reality principle) (Koswara, 1991:33-34). Menurut Freud, ego terbentuk pada struktur kepribadian individu sebagai hasil kontak dengan dunia luar. Adapun proses yang dimiliki dan dijalankan ego sehubungan dengan upaya memuaskan kebutuhan atau mengurangi tegangan oleh individu (Koswara, 1991:34).

Perilaku tokoh Bocah yang mencerminkan aspek ego tersebut terlihat pada saat ia memutuskan untuk menerima tawaran Kupu-kupu bertukar tubuh satu sama lain.

2.2.3.3 Superego

Superego adalah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut baik buruk). Superego terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan oleh individu dari sejumlah figur yang berperan, berpengaruh, atau berarti bagi individu tersebut. Aktivitas superego dalam diri individu, terutama apabila aktivitas ini bertentangan atau konflik dengan ego, menyatakan diri dalam emosi-emosi tertentu seperti perasaan bersalah dan penyesalan. Sikap-sikap tertentu dari individu seperti observasi diri, koreksi atau kritik diri, juga bersumber pada ego (Koswara, 1991: 35).

Perilaku tokoh Bocah yang mencerminkan aspek superego yaitu ketika Ia mempertimbangkan apakah sebaiknya ia mau menerima tawaran si Kupu-kupu atau tidak.

 

 

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Temuan Aspek Id Tokoh Bocah dalam Cerpen Pagi Bening Seekor Kupu-kupu

           Aspek id yang terdapat pada tokoh Bocah dalam cerpen Pagi Bening Seekor Kupu-kupu tergambar pada keinginan si Bocah untuk sekolah dan bermain seperti bocah-bocah yang bermain-main di taman tersebut. Keinginan tersebut merupakan keinginan yang wajar bagi anak-anak seusianya. Ia ingin tahu bagaimana rasanya dapat bermain dengan bebas dan sepuasnya di taman tersebut, menjalani hari-hari sebagaimana yang dilalui bocah-bocah yang Ia perhatikan di taman tersebut. Ia ingin terlepas dari keadaan yang sedang ia lalui, hidup dengan berbagai kesengsaraan, diusianya yang dini ia bekerja keras menjadi buruh, mengamen, dan menjadi sasaran layangan tangan ayahnya ketika ia pulang tanpa membawa uang.

Adapun kutipan dalam cerpen tersebut yang mencerminkan apek Id tokoh Bocah ialah sebagai berikut:

“HERAN nih. Dari tadi kupu-kupu itu terus terbang mengitariku. Kayaknya dia ngeliatin aku. Apa dia ngerti kalau aku lagi sedih? Mestinya aku nggak perlu nangis gini. Malu. Tapi nggak papalah. Nggak ada yang ngeliat. Cuman kupu-kupu itu. Ngapain pula mesti malu ama kupu-kupu?! Dia kan nggak ngerti kalau aku lagi sedih. Aku pingin sekolah. Pingin bermain kayak bocah-bocah itu. Gimana ya rasanya kalau aku bisa kayak mereka?

Pasti seneng. Nggak perlu ngamen. Nggak perlu kepanasan. Nggak perlu kerja di pabrik kalau malem, ngepakin kardus. Nggak pernah digebukin bapak. Kalau ajah ibu nggak mati, dan bapak nggak terus-terusan mabuk, pasti aku bisa sekolah. Pasti aku kayak bocah-bocah itu. Nyanyi. Kejar-kejaran. Nggak perlu takut ketabrak mobil kayak Joned. Hiii, kepalanya remuk, kelindes truk waktu lari rebutan ngamen di perempatan.”

“Kalau ajah aku bebas main di sini. Wah, seneng banget dong! Aku bisa lari kenceng sepuasnya. Loncat-loncat ngejar kupu-kupu. Nggak, nggak! Aku nggak mau nangkepin kupu-kupu. Aku cuman mau main kejar-kejaran ama kupu-kupu. Soalnya aku paling seneng kupu-kupu. Aku sering mengkhayal aku jadi kupu-kupu. Pasti asyik banget. Punya sayap yang indah. Terbang ke sana ke mari. Sering aku bikin kupu-kupu mainan dari plastik sisa bungkus permen yang warna-warni. Aku gunting, terus aku pasang pakai lem. Kadang cuman aku ikat pakai benang aja bagian tengahnya. Persis sayap kupu beneran! Kalau pas ada angin kenceng, aku lemparin ke atas. Wuuss… Kupu-kupuan plastik itu terbang puter-puter kebawa angin. Kalau jumlahnya banyak, pasti tambah seru. Aku kayak ngeliat banyak banget kupu-kupu yang beterbangan…”

“”Iya dong! Pasti senang bisa terbang kayak kamu. Asal tau ajah, aku tuh sebenernya sering berkhayal bisa berubah jadi kupu-kupu…” Lalu bocah itu pun bercerita soal mimpi-mimpi dan keinginannya. Kupu-kupu itu mendengarkan dengan perasaan diluapi kesyahduan, karena tiba-tiba ia juga teringat pada impian yang selama ini diam-diam dipendamnya: betapa inginnya ia suatu hari menjelma menjadi manusia…”

3.2 Temuan Aspek Ego Tokoh Bocah dalam Cerpen Pagi Bening Seekor Kupu-kupu

           Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa Ego merupakan sebuah hasil dari pertimbangan Superego yang berupa tindakan atau upaya yang dilakukan seseorang untuk memenuhi tuntutan Id. Aspek ego yang melingkupi tokoh Bocah tergambar pada keputusannya untuk menerima tawaran Kupu-kupu untuk bertukar tubuh dengan Kupu-kupu tersebut, hal itu mereka lakukan karena si Bocah ingin sekali merasakan bagaimana menjadi seekor kupu-kupu begitupun alasan si Kupu-kupu. Bayangan si Bocah, menjadi kupu-kupu pastilah lebih bahagia daripada menjadi bocah sengsara sepertinya. Setelah bertukar tubuh dengan si Kupu-kupu, si Bocah pun beterbangan ke sana kemari menikmati goresan indah mentari di langit senja. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:

“Si bocah merasa gembira dengan usul kupu-kupu itu. Gagasan yang menakjubkan, teriaknya girang. Lalu ia pun mencopot tubuhnya, agar kupu-kupu itu bisa merasuk ke dalam tubuhnya. Dan kupu-kupu itu pun segera melepaskan diri dari tubuhnya, kemudian menyuruh bocah itu masuk ke dalam tubuhnya. Begitulah, keduanya saling berganti tubuh. Bocah itu begitu senang mendapati dirinya telah berwujud kupu-kupu. Sedangkan kupu-kupu itu merasakan dirinya telah bermetamorfosa menjadi manusia.

WAH enak juga ya jadi kupu-kupu! Bener-bener luar biasa. Lihat, sinar matahari jadi kelihatan berlapis-lapis warna-warni lembut tipis, persis kue lapis. Aku juga ngeliat cahaya itu jadi benang-benang keemasan, berjuntaian di sela-sela dedaunan. Aku jadi ingat benang gelasan yang direntangkan dari satu pohon ke pohon yang lain, setiap kali musim layangan. Aku lihat daun-daun jadi tambah menyala tertimpa cahaya. Semuanya jadi nampak lebih menyenangkan. Dengan riang aku melonjak-lonjak terbang. Terlalu girang sih aku. Jadi terbangku masih oleng dan nyaris nubruk ranting pohon.

“Hati-hati!”

Kudengar teriakan, dan kulihat kupu-kupu yang kini telah merasuk ke dalam tubuh bocahku. Dia kelihatan panik memandangi aku yang terbang jumpalitan. Aku bener-bener gembira. Tak pernah aku segembira ini. Emang nyenengin kok jadi kupu-kupu.

Aku terus terbang dengan riang…”

 

3.3 Temuan Aspek Superego Tokoh Bocah dalam Cerpen Pagi Bening Seekor Kupu-kupu

Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas bahwa superego merupakan sebuah pertimbangan yang dilakukan seseorang sebelum mengambil sebuah tindakan dalam hal memenuhi tekanan Id –nya. Aspek superego yang terlihat pada tokoh Bocah tergambar pada saat Ia mempertimbangkan apakah Ia akan menerima tawaran Kupu-kupu untuk bertukar tubuh dengannya atau tidak. Ia membayangkan sejenak betapa senangnya menjadi seekor kupu-kupu, yang dapat terbang dan bermain dengan bebas dengan sayap indahnya. Si Bocah pun merasa senang dan menerima tawaran yang diusulkan oleh Kupu-kupu kepadanya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:

“Setiap kali bertemu, setiap kali berbicara soal itu, kupu-kupu dan bocah itu semakin saling memahami apa yang selama ini mereka inginkan. Bocah itu ingin berubah jadi kupu-kupu. Dan kupu-kupu itu ingin menjelma jadi si bocah.

“Kenapa kita tak saling tukar saja kalau begitu?” kata kupu-kupu.

“Saling tukar gimana?”

“Aku jadi kamu, dan kamu jadi aku.”

“Apa bisa? Gimana dong caranya?”

“Ya saling tukar saja gitu…”

“Kayak saling tukar baju?” Bocah itu ingat kalau ia sering saling tukar baju dengan temen-temen ngamennya, biar kelihatan punya banyak baju. “Iya, gitu?”

“Hmm, mungkin seperti itu…”

Keduanya saling pandang. Ah, pasti akan menyenangkan kalau semua itu terjadi. Aku akan berubah jadi kupu-kupu, batin bocah itu. Aku akan bahagia sekali kalau aku memang bisa menjelma manusia, desah kupu-kupu itu dengan berdebar hingga sayap-sayapnya bergetaran.

“Bagaimana?” kupu-kupu itu bertanya.

“Bagaimana apa?”

“Jadi nggak kita saling tukar? Sebentar juga nggak apa-apa. Yang penting kamu bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi kupu-kupu. Dan aku bisa merasakan bagaimana kalau jadi bocah seperti kamu. Setelah itu kita bisa kembali lagi jadi diri kita sendiri. Aku kembali jadi kupu-kupu lagi. Dan kamu kembali lagi jadi dirimu. Gimana?””

 

 

BAB VI
SIMPULAN

           Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa aspek Id tokoh Bocah dalam cerpen Pagi Bening Seekor Kupu-kupu terlihat pada keinginannya untuk meninggalkan kehidupannya yang sedang Ia jalani dan ingin bermain dengan bebas seperti bocah-bocah yang ia perhatikan di taman tempatnya bersembunyi. Untuk memenuhi keinginannya tersebut, tokoh Bocah memutuskan untuk bertukar tubuh dengan Kupu-kupu (ego). Sebelum memutuskan atau melakukan hal tersebut, tokoh Nia mempertimbangkan dan membayangkan tawaran itu terlebih dahulu (superego).

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

http://www.pengertianahli.com/2013/10/pengertian-cerpen-menurut-para-ahli.html
diakses pada tanggal 22/06/2014 pukul 10:28 WITA.

Koswara, E. 1991. Teori-teori Kepribadian. Bandung: PT Eresco.

Sapiin. 2013. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Menyimak Bahasa dan Sastra Indonesia. Mataram: FKIP Press.

Siswantoro. 2005. Metode Penelitian Sastra: Analisis Psikologis. Surakarta: Muhammadiyah            University Press.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *