maafkan aku bu de 1

Analisis Cerpen Maafkan Aku Bu De,  Kita Serahkan Saja Pada Yang Kuasa Dengan Menggunakan Teori Setrukturalisme Murni

Non Fiksi

 

Unsur intrinsik dalam cerpen berjudul maafkan aku Bu De,  kita serahkan saja pada yang kuasa

PENDAHULUAN

Cerpen merupakan cerita yang begitu banyak di baca karena ceritanya padat dan hanya di baca dalam sekali duduk. Dalam Cerpen yang berjudul “maafkan aku Bu De,  kita serahkan saja pada yang kuasa” mengisahkan seorang anak yang ditinggal orang tuanya merantau entah kemana dan tidak ada kabarnya. Kemudian ia hanya hidup seorang hingga akhirnya ia bertemu dengan perempuan paruh baya( Bu De) dan tinggal bersamanya, dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang menarik di dalam ceritanya.

Unsur intrinsik cerpen maafkan aku Bu De,  kita serahkan saja pada yang kuasa sebai berikut:

  1. Tema

Dari cerpen berjudul maafkan aku Bu De,  kita serahkan saja pada yang kuasa tema tentang semangat juang seorang laki-laki untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik

  1. Tokoh
  2. Aku: seorang anak usianya baru lulus SD yang ditinggal orang tuanya entah kemana dan sekarang tinggal dengan perempuan paruh baya( Bu De) karakternya baik, pintar, tegas, berprestasi, bekerja keras, selalu mau membantu
  3. Bu De: karakternya baik, tegar, hangat, penuh kasih saying, pengertian, selalu sabar dengan segala cobaan yang dihapinya.
  4. Buruh bangunan: jahat, tidak punya perasaan, dan suka menindas rakyat kecil
  5. Seorang pelanggan Bu De: sifatnya baik karena didalam cerita ia menyarankan tokoh si aku melamar menjadi sat-Pol PP
  6. Anggota sat-pol PP: kasar dan tidak mempunyai rasa kemanusiaan.
  7. Latar

Latar waktu dan tempat di sebuah gubuk kecil berukuran 2×3 M, warung kecil, sekolah, siang, malam, pagi buta.

  1. Alur

Di dalam cerpen berjudul “maafkan aku Bu De,  kita serahkan saja pada yang kuasa”alur yang digunakan alur maju karena di dalam ceritanya menceritakan kisah seorang anak yang di tinggal merantau orang tuanya entah kemana, dari dia kecil tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Bu Denya hingga ia menjadi seorang pemimpin regu atau komandan pasukan

  1. Konflik

Dalam cerpen maafkan aku Bu De,  kita serahkan saja pada yang kuasa konflik yang paling besar muncul ketika beberapa anggota sat-pol PP menggedor pintu rumah perempuan paruh baya( Bu De) dengan kasar kemudian terdengar jeritan histeris dari dalam rumah menolak untuk keluar. Kemudian alat berat tiba di lokasi dan mulai mengeruk rumah kecil itu, tanpa peduli, seseorang masih berada di dalam sambil menangis, berteriak, dan menjerit. Akan tetapi tokoh si Aku memalingkan wajah dari rumah mungil itu karena ini semua tugasku menjadi sat-pol PP kemudian Dia bergumam,”Maafkan aku Bu De, kita serahkan saja pada yang kuasa.”

  1. Gaya Bahasa

Gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen berjudul maafkan aku Bu De,  kita serahkan saja pada yang kuasa gaya bahasanya biasa-biasa dan digunakan sehari-hari dalam masyarakat, mundah dimengerti, tidak bertele-tele, dan jelas.

  1. Sudut Pandang

Sudut pandang atau pencitraan adalah teknik yang dipakai oleh penulis dalam memposisikan dirinya selama proses pencitraan. Dalam hal ini apakah pengarang seakan-akan terlibat di dalam cerita itu, yakni dengan menggunakan kata ganti pertama (aku, saya). Vokalisasi ‘kata ganti orang pertama’(aku, saya) yang merupakan kata ganti dari tokoh si Aku( yang usianya baru lulus SD hingga dia besar).

  1. Amanat

Dari cerpen berjudul maafkan aku Bu De,  kita serahkan saja pada yang kuasa banyak pesan-pesan yang dapatkita ambil mulai dari saat tokoh si Aku di tinggal orang tuanya pergi merantau dan ia tidak punya siapa-siapa akan tetapi Ia selalu tegar dan bersemangat dalam menjalani hidup hinggap ia bertemu perempuan paruh baya(Bu DDe) yang selalu Ia anggap sebagai Ibunya sekaligus sebagai Ayahnya. Ia selalu membantu Bu Denya dan menemaninya untuk berjualan ia adalah anak yang baik, ceria, berprestasi,bekerja keras. Tapi ada satu yang tidak patut di tiru dari tokoh si Aku yakni pada saat ia menggusur rumah Bu Denya sendiri dan dia hanya memalingkan wajahnya dan bergumam “maafkan aku Bu De,  kita serahkan saja pada yang kuasa” ia terlalu lemah berbeda pada saat ia belum menjadi sat-pol PP yang sifatnya selalu membantu dan berani dalam menghadapi segala masalah.

PENUTUP

Dalam menjalani hidup yang penuh dengan warna-warni kehidupan kita harus bersyukur dengan apa yang telah kita miliki. Dalam kehidupan ini begitu banyak cobaan yang kita hadapi jadi kita harus selalu tegar dan bersabar, kita ini hanya manusia yang jauh dari kesempurnaan. dari cerpen berjudul maafkan aku Bu De,  kita serahkan saja pada yang kuasa begitu banyak renungan yang bisa kita ambil mulai dari kebaikan, kerja keras, kesetiaan, dll. Jadi mari kita mengubah kita menjadi lebih berarti supaya suatu saat kita bisa dikenang dan selalu di ingat.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *