MAAFKAN AKU BU DE KITA SERAHKAN SAJA PADA YANG KUASA 1

ANALISIS CERPEN “ MAAFKAN AKU BU DE KITA SERAHKAN SAJA PADA YANG KUASA ” DILIHAT DARI SUDUT STRUKTURALISME

Non Fiksi

Secara Etimologis struktur berasal Dari kata Structure, bahasa latin yang berarti bentuk atau bangunan. Struktur berasal dari kata Structura (Latin) = bentuk, bangunan (kata benda). System (Latin) = cara (kata kerja). asal usul strukturalis dapat dilacak dengan Poetica Aristoteles, dalam kaitannya dengan tragedi, lebih khusus lagi dalam pembicaraannya mengenai plot. Plot memiliki ciri-ciri: kesatuan, keseluruhan, kebulatan, dan keterjalinan (Teeuw, 1988: 121-134). Menurut Yoseph (1997:38) menjelaskan bahwa teori strukturalisme sastra merupakan sebuh teori pendekatan terhadap teks-teks sastra yang menekankan keseluruhan relasi antara berbagai unsur teks.

Cerpen Maafkan Aku Bude Kita Serahkan Saja Pada Yang Kuasa mengingatkan dan seolah membuka mata tentang keadaan sekitar yang banyak atau memiliki kesamaan dengan cerpen diatas, tentang rakyat yang tertindas oleh kesewenangan dan kekuasaan yang lebih tinggi. sebuah cerpen yang mengangkat tema rakyat yang termarginalkan. cerpen ini bisa membuat kita bertanya-tanya tentang sesuatu hal di dalam nurani tentang arti kesetiakawanan sosial. adakah rasa itu masih ada dalm benak sanubari masyarakat Indonesia dewasa kini.
Dilihat dari sudut pandang strukturalisme, cerpen ini gambaran hubungan antar unsur kehidupan saat ini bagaimana sebuah realita masyarakat bawah yang lemah. bahwa ketika seseorang tidak memiliki akses kepada kekuasaan yang dinafikan dengan using, materi maupun jabatan maka yang terjadi adalah tindak kekerasan baik secara psikis maupun fisik.
1. Tokoh
Tokoh “ Aku “ adalah cerminan dan contoh aku- aku yang lain di luar sana yang jumlahnya jutaan, cerminan anak bangsa yang menjadi korban dari keadaan masyarakat bawah, betapa tokoh aku mengalami berbagai tekanan mulai dari ketiadaan keberadaan orang tua, hanya di asuh oleh bu de seorang penjual di warung yang kecil dan menjadi korban kekerasan para preman pasar, bahkan tokoh aku menjadi korban pelecehan seksual karena ingin membela bu de. semuanya tetap berlanjut hingga tokoh aku besar dan ingin melamar sebgai polisi maupun tentara. tapi lagi- lagi tokoh aku mengalami ketidakberdayaan di sebabkan oleh tidak adanya materi untuk membeli jabatan.dan ketika pun akhirnya tokoh aku menjadi satpol PP, tokoh ini lagi-lagi dan lagi menjadi saksi bahkan pelaku yang ridak bisa membela bu de yang menjadi korban penggusuran paksa. tokoh aku hanya terdiam dan ingat ucapan bu de ketika masih kecil yakni “kita serahkan saja pada yang maha kuasa”. sebuah ucapan yang menandakan kepasrahan pada Tuhan yang maha Kuasa atas segala coba dan siksa di dunia.
Sementara tokoh Bu de digambarkan sebagai seorang yang memiliki kesabaran yang luar biasa mulai dari menghadapi preman yang selalu makan gratis dan berlanjut hingga tokoh aku besar dan pasrah serta hanya bisa menangis dan menjerit ketika gubuk atau warungnya dibongkar satpol PP. secara tidak langsung merupakan gambaran banyak perempuan di Indonesia yang masih lemah dan selalu menjadi korban penindasan dari kekuasaan, perempuan malang yang hanya bisa meratap karena tidak memiliki apapun untuk membela diri atau karena keterbatasan pendidikanlah yang menjadi batu ganjalan utama untuk perempuan Indonesia yang mandiri.
2. Alur
Alur yang dipakai dalam cerpen ini adalah alur maju dimana semua kejadian dimulai dari saat tokoh aku kecil bersama bu de yakni masa sekolah SD hingga di akhir cerita tokoh aku menjadi satpol PP. selain itu alur cerita cerpen susah ditebak dan hal itu membuat semakin menarik yakni ketika tokoh aku diceritakan saat kecil menderita dengan Bu De, hidup susah bahkan menjadi korban kekerasan seksual namun berprestasi di sekolahnya, saya kira setelah dewasa akan mengalir cerita seperti yang biasa kita saksikan dalm sinetron-sinetron kacangan, ternyata justru tokoh aku tetaplah tiada berdaya membela tokoh Bu De yang dari awal selalu menderita. tokoh aku menjadi korban kembali yakni korban dari peraturan pemerintah. sehingga cerpen ini justru member kejutan sengatan moral yang unik untuk menyentil hati nurani kita.
3. Tema
Tema yang dibahas dalam cerpen ini adalah ketidakberdayaan masyarakat kelas bawah atau masyarakat yang termarginalkan dalam menghadapi kekuasaan baik kekuasaan uang maupun kekuasaan kebijakan ( pemerintah ).
4. Latar Waktu Maupun Tempat
Latar cerpen adalah daerah perkotaan dengan gubuk atau warung kecil yang berada dekat pusat pembangunan bangunan, yang bisa saja berupa mall, perkantoran ataupun apartemen. dan biasanya tempat demikian memang rawan pelecehan seksual seperti yang di alami oleh tokoh aku. dan bisa dibayangkan efek yang ditimbulkan oleh hal tersebut akan selalu menjadi momok dan noda hitam dalam kehidupan tokoh aku.
5. Amanat
Bahwasanya kehidupan di dunia ini snagat keras, ketika tidak memiliki kekuasaan ataupun materi kita cenderung diremehkan dan dijadikan komoditi oleh pihak yang berkuasa. oleh karena itu memiliki pengetahuan, ilmu dan wawasan yang utama adalah untuk membentengi diri agar tidak mudah tertipu dan tegilas zaman. pendidikan adalah salah satu jalan untuk membuka jalan menuju derajat yang lebih tingi.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *