Analisis Cerpen “Pemetik Air Mata” Karya Agus Noor dengan Psikologi Carl Gustav Jung

Kepenulisan, Non Fiksi

agus noor

BAB I PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Karya sastra merupakan hasil ciptaan dari seorang sastrawan. Karya sastra berisi tentang pemikiran seorang sastrawan. Pemikiran seorang sastrawan mengenai kehidupan manusia secara kompleks yakni kehidupan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Ada banyak hal mengenai kehidupan manusia yang tertuang dalam sebuah karya sastra. Untuk mengetahui hal-hal tersebut, maka kita harus menelaah suatu karya sastra secara mendalam dengan menggunakan berbagai macam pendekatan. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah pendekatan psikologi Carl Gustav Jung.

Psikologi Carl Gustav Jung adalah salah satu pendekatan yang mengungkapkan bagaimana psykhe seseorang. Psykhe berkaitan dengan kehidupan manusia yang mencakup alam sadar dan alam bawah sadar. Alam sadar adalah penyesuaian seseorang dengan dunia luarnya. Sedangkan alam bawah sadar adalah penyesuaian seseorang dengan dirinya sendiri. Alam sadar mencangkup fungsi jiwa dan sikap jiwa, sementara alam tidak sadar mencangkup alam ketidaksadaran pribadi dan alam ketidaksadaran kolektif.

Cerpen adalah salah satu karya sastra yang menceritakan kehidupan manusia. Termasuk kaitannya dengan pribadi manusia baik yang berhubungan dengan alam sadarnya, maupun dengan alam bawah sadarnya. Sehingga dengan demikian karya sastra yang berupa cerpen dapat kita analisis dengan pendekatan psikologi Carl Gustav Jung.

Pemetik air mata karya Agus Noor merupakan cerpen yang menceritakan kehidupan tokoh utama Sandra yang hidup hanya dengan ibunya tanpa seorang ayah. Ia tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Ibunya adalah seorang pelacur. Sandra hidup dengan penuh kesedihan. Ketika ia besar ia juga menjadi istri simpanan dan mempunyai anak yang bernama Binta. Namun ia selalu menyimpan hal tersebut dari anaknya. Kehidupan Sandra sejak kecil mempengaruhi keperibadian Sandra. Sandra menjadi pribadi yang tertutup dan lebih banyak bergaul dengan dunia subjektifnya.

Dari paparan di atas dapat kita lihat bahwa tokoh utama Sandra dalam cerpen pemetik air mata karya Agus Noor ini sangat cocok untuk dianalisis dengan pendekatan psikologi Carl Gustav Jung. Oleh karena itu, dalam hal ini penulis akan menguraikan mengenai keperibadian tokoh utama Sandra dalam cerpen pemetik air mata karya Agus Noor dengan pendekatan psikologi Carl Gustav Jung.

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan dari latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok bahasan penulis dalam penelitian ini adalah bagaimanakah keperibadian tokoh utama Sandra dalam cerpen pemetik air mata karya Agus Noor dengan pendekatan psikologi Carl Gustav Jung.

  • Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah agar kita mengetahui bagaimana keperibadian tokoh utama Sandra dalam cerpen pemetik air mata karya Agus Noor apabila kita analisis dengan pendekatan psikologi Carl Gustav Jung.

  • Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik manfaat secara teoritis maupun manfaat secara praktis. Manfaat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah dan memperkaya khazanah penelitian sastra Indonesia, khususnya penelitian yang berkaitan dengan studi psikologi Carl Gustav Jung dalam cerpen.

  • Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat membantu para pembaca agar dapat mengetahui bagaimana psikologi tokoh Sandra dalam cerpen Pemetik Air Mata karya Agus Noor dan dapat dijadikan refresi untuk penyempurnaan penelitian mengenai psikologi selanjutnya, khususnya yang berkaitan dengan psikologi Carl Gustav Jung dalam cerpen.

BAB II

LANDASAN TEORI

 

  • Psikologi Sastra

 

Psikologi berasal dari kata Yunani psykhe, yang berarti jiwa, dan logos yang berarti ilmu. Jadi psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang menyelidiki dan mempelajari tingkah laku manusia (Atkinson dalam Minderop, 2010:3). Menurut Kartono psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang tingkah laku dan kehidupan psikis (jiwani) manusia (1990: 1). Sedangkan Agus Sujanto dkk. membagi psikologi keperibadian berdasarkan kedudukannya menjadi psikologi yang khusus membahas keperibadian yang utuh, artinya yang dipelajari adalah seluruh pribadinya, bukan hanya pikirannya, perasaannya, dan sebagainya, melainkan secara keseluruhannya, sebagai paduan antara kehidupan jasmani dan rohani; komplek, oleh karena didalam proses pertumbuhannya terpengaruh oleh faktor dari dalam yang terdiri atas bermacam-macam disposisi yang dibawa sejak lahir dengan faktor-faktor dari lingkungannya yang terdiri atas bermacam-macam hal; unik, oleh karena merupakan kehidupan yang tiada duanya diseluruh dunia ini (2009: 2)

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli mengenai psikologi di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan manusia yang berkaitan dengan jiwa atau tingkah laku manusia.

  • Struktur Psykhe atau Keperibadian dari C. G. Jung

Jung tidak berbicara tentang keperibadian melainkan tentang psykhe. Adapun yang dimaksud dengan psykhe ialah totalitas segala peristiwa psikhis baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Jadi jiwa manusia terdiri dari dua alam, yaitu:

  1. Alam sadar (kesadaran), dan
  2. Alam tak sadar (ketidak sadaran)

Kedua alam itu tidak hanya saling mengisi, tetapi berhubungan secara kompensatoris. Adapun fungsinya kedua-duanya adalah penyesuaian, yaitu:

  1. Alam sadar : penyesuaian terhadap dunia luar
  2. Alam tak sadar : penyesuaian terhadap dunia dalam

Batas antara kedua alam itu tidak tetap, melainkan dapat berubah-ubah, artinya luas daerah kesadaran atau ketidak sadaran itu dapat bertambah atau berkurang.

  • Struktur Kesadaran

Kesadaran mempunyai dua komponen pokok, yaitu fungsi jiwa dan sikap jiwa, yang masing-masing mempunyai peranan penting dalam orientasi manusia dalam dunianya.

  1. Fungsi Jiwa

Menurut Jung fungsi jiwa ialah suatu bentuk aktivitas kejiwaan yang secara teoritis tiada berubah dalam lingkungan yang berbeda-beda.

Jung membedakan empat fungsi pokok, yang dua rasional, yaitu pikiran dan perasaan, sedangkan yang dua lagi irrasional, yaitu :pendirian dan intuisi. Dalam berfungsinya, fungsi-fungsi rasional bekerja dengan penilaian: pikiran menilai atas dasar benar atau salah, seangkan perasaan menilai atas dasar menyenangkan dan tak menyenangkan. Kedua fungsi yang irrasional dalam berfungsinya tidak memberikan penilaian, melainkan hanya semata-mata mendapatkan pengamatan : pendirian mendapatkan pengamatan dengan sadar indriah, sedangkan intuisi mendapatkan pengamatan secara tak sadar naluriah.

Table : 1 FUNGSI JIWA MENURUT JUNG

FUNGSI JIWA SIFATNYA CARA BEKERJANYA
Pikiran Rasional Dengan penilaian : benar-salah
Perasaan Rasional Dengan penilaian : senang-tak senang
Pendirian Irrasional Tanpa penilaian : sadar indriah
Intuisi Irrasional Tanpa penilaian : sadar naluriah

  1. Sikap Jiwa

Yang dmaksud dengan sikap jiwa ialah arah dari pada enersi psikhis umum atau libido yang menjelma dalam bentuk orientasi manusia terhadap dunianya. Arah aktivitas enersi psikhis itu dapat keluar ataupun kedalam, dan demikian pula arah orientasi manusia terhadap dunianya, dapat keluar ataupun kedalam.

Tiap orang mengadakan orientasi terhadap dunia sekitarnya, namun dalam caranya mengadakan orientasi itu orang yang satu berbeda dari lainnya. Misalnya ada orang yang lekas menutup dirinya atau menutup jendela kalau dirasakan hawa dingin, tetapi ada yang acuh tak acuh saja; ada orang yang lekas mengagumi orang-orang yang baru naik bintangnya karena kebanyakan orang menyanjungnya, tetapi sebaliknya ada yang tidak, karena ia berpendapat bahwa tidak semua yang dikagumi oleh orang banyak itu pantas untuk dikagumi. Apabila orientasi terhadap segala sesuatu itu sedemikian rupa sehingga putusan-putusan atau tindakan-tindakannya kebanyakan dan terutama tidak dikuasai oleh pendapat-pendapat subyektifnya, maka individu yang demikian itu dikatakan mempunyai orientasi ekstravers. Dan apabila orientasi ekstravers ini menjadi kebiasaan, maka individu yang bersangkutan mempunyai type ekstravers.

Jadi berdasarkan sikap jiwanya manusia dapat digolongkan menjadi dua type yaitu:

  1. Manusia-manusia yang bertype ekstravers
  2. Manusia-manusia yang bertype intravers

Orang yang ekstravert terutama dipengaruhi oleh dunia obyektif, yaitu dunia di luar dirinya. Orientasinya terutama tertuju ke luar: pikiran, perasaan serta tindakan-tindakannya terutama ditentukan oleh lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan non sosial. Dia bersikap positif terhadap masyarakat : hatinya terbuka, mudah bergaul, hubungan dengan orang lain lancar. Bahaya bagi type ekstravert ini ialah apabila ikatan antara dunia luar terlampau kuat, sehingga ia tenggelam di dalam dunia obyektif, kehilangan dirinya atau asing terhadap dunia subyektifnya sendiri.

Orang yang introvert terutama dipengaruhi oleh dunia subyektif, yaitu dunia di dalam dirinya sendiri. Orientasinya terutama tertuju ke dalam pikiran, perasaan serta tindakan-tindakannya terutama ditentukan oleh faktor-faktor subyektif. Penyesuaian dengan dunia luar kurang baik; jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan orang lain, kurang dapat menari hati orang lain. Penyesuaian dengan hatinya sendiri baik. Bahaya bagi type introvert ini ialah kalau jarak dengan dunia obyktif terlalu jauh, sehingga orang lepas dari dunia obyektifnya.

Juga antara ekstravert dan introvert itu terdapat hubungan yang kompensatoris.

  1. Typology JUNG

Dengan mendasarkan pada dua komponen pokok dari pada kesadaran itu sampailah JUNG pada empat kali dua atau delapan type, empat type ekstravert dan empatlagi introvert. Dalam membuat penyandraan mengenai type-type tersebut selalu dikupasnya juga alam tak sadar, yang baginya merupakan realita yang sama pentingnya dengan kehidupan alam sadar. Kehidupan alam tak sadar itu berlawanan dengan kehidupan alam sadar. Jadi orang yang kesadarannya bertype pemikir maka ketidaksadarannya adalah perasa, orang yang kesadarannya ekstravert, begitu selanjutnya.

Dengan pembicaraan ini teranglah kiranya typology JUNG itu, yang dapat diikhtisarkan sebagai table berikut (Sujanto dkk, 2009: 71)

TYPOLOGI JUNG

SIKAP JIWA FUNGSI JIWA TYPE KETIDAK SADARAN
Ekstravert Pikiran Pemikir Ekstravert Perasa Introvert
Ekstravert Perasaan Perasaan Ekstravert Pemikir Introvert
Ekstravert Pendriaan Pendria Ekstravert Intuitif Introvert
Ekstravert Intuisi Intuitif Ekstravert Pendria Introvert
Introvert Pikiran Pemikir Introvert Perasa Ekstravert
Introvert Perasaan Perasa Introvert Pemikir Ekstravert
Introvert Pendriaan Pendria Introvert Intuisi Ekstravert
Introvert Intuisi Intuitif Introvert Pendria Ekstravert

 

  • Cerpen

2.4.1 Pengertian Cerpen

Cerpen  (cerita  pendek)  adalah  karangan  pendek  yang  berbentuk  prosa. Sebuah cerpen mengisahkan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian, peristiwa,  dan  pengalaman.  Tokoh  dalam  cerpen  tidak  mengalami  perubahan nasib

(dalam http://koffieenco.blogspot.com/2013/02/pengertian-dan-ciri-ciri-cerpen.html (diakses pada 20 juni 2014 pukul 09.00 WIB))

2.4.2 Ciri-ciri Cerpen

Adapun ciri-ciri cerpen adalah sebagai berikut:

  1. Bentuk tulisannya singkat, padat, dan lebih pendek daripada novel.
  2. Terdiri kurang dari 10.000 kata.
  3. Sumber ceritanya dari kehidupan sehari-hari, baik dari pengalaman sendiri maupun orang lain.
  4. Tidak melukiskan seluruh kehidupan pelakunya karena mengangkat masalah tunggal atau sarinya saja.
  5. Habis dibaca hanya sekali duduk dan hanya mengisahkan sesuatu yang berarti bagi pelakunya saja.
  6. Tokoh-tokohnya dilukiskan mengalami konflik sampai pada penyelesaiannya.
  7. Penggunaan kata-katanya sangat ekonomis dan mudah dikenal masyarakat.
  8. Sanggup meninggalkan kesan mendalam dan mampu meninggalkan efek pada perasaan pembaca.
  9. Menceritakan satu kejadian, dari terjadinya perkembangan jiwa dan krisis,tetapi tidak sampai   menimbulkan perubahan nasib.
  10. Beralur tunggal dan lurus
  11. Penokohan sangat sederhana, singkat, dan tidak mendalam (dalam http://koffieenco.blogspot.com/2013/02/pengertian-dan-ciri-ciri-cerpen.html (diakses pada 20 juni 2014 pukul 09.00 WIB))

2.4.3 Unsur Intrinsik Cerpen

  1. Tema cerita

Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra. Tema disaring dari motif- motif yang terdapat dalam karya yang bersangkutan yang menentukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik, dan situasi tertentu. Tema dalam banyak hal bersifat ”mengikat” kehadiran atau ketidakhadiran peristiwa, konflik serta situasi tertentu termasuk berbagai unsur intrinsik yang lain. Tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka tema pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu. Tema mempunyai generalisasi yang umum, lebih luas dan abstrak.

  1. Alur Cerita

Sebuah cerpen menyajikan sebuah cerita kepada pembacanya. Alur cerita ialah peristiwa yang jalin-menjalin berdasar atas urutan atau hubungan tertentu. Sebuah rangkaian peristiwa dapat terjalin berdasar atas urutan waktu, urutan kejadian, atau hubungan sebab-akibat. Jalin-menjalinnya berbagai peristiwa, baik secara linear atau lurus maupun secara kausalitas, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh, padu, dan bulat dalam suatu prosa fiksi.

Plot ialah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.Plot ialah peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab-akibat bahwa alur cerita ialah jalinan peristiwa yang melatari sebuah prosa fiksi yang dihubungkan secara sebab-akibat.

  1. Penokohan

Dalam pembicaraan sebuah cerita pendek sering dipergunakan istilah-istilah seperti tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisasi secara bergantian dengan menunjuk pengertian yang hampir sama. Tokoh cerita ialah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama , yang oleh pembaca ditafsirkan memilki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diespresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Sedangkan penokohan ialah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.

Penokohan sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menunjuk pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita.

  1. Latar

Sebuah cerita pada hakikatnya ialah peristiwa atau kejadian yang menimpa atau dilakukan oleh satu atau beberapa orang tokoh pada suatu waktu tertentu dan pada tempat tertentu. Latar ialah penempatan waktu dan tempat beserta lingkungannya dalam prosa fiksi

  1. Latar Tempat

Latar tempat mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu serta inisial tertentu.

  1. Latar Waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah ” kapan ” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah ”kapan” teersebut biasanya dihubungkan dengan waktu

  1. Latar Suasana

latar suasana merupakan penjelasan mengenai suasana pada saat peristiwa terjadi. Suasana dalam cerita atau dongeng misalnya suasana menyedihkan, suasana menggembirakan, suasana mengharukan, dan lain-lain

  1. Sudut Pandang

Sudut pandang merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun kesemuanya itu dalam karya fiksi disalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi terten (dalam http://riniintama.wordpress.com/unsur-unsur-intrinsik-cerpen/( diakses pada 20 juni 2014 pukul 09.00 WIB))

 

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Analisis Struktur (Tema, Perwatakan/ penokohan, Latar/ setting, dan sudut Pandang) cerpen “Pemetik Air Mata” karya Agus Noor

  1. Tema

Cerpen Pemetik Air Mata karya Agus Noor ini menceritakan tentang gambaran hidup wanita PSK dan wanita yang dijadikan seorang istri simpanan.

  1. Perwatakan atau Penokohan
  • Sandra

Sandra adalah tokoh utama dari cerpen ini. Sandra berwatakan penyayang. Ia selalu menyangi anak semata wayangnya yang bernama Bita. Watak Sandra sebagai seseorang yang penyayang terlihat dari kutipan cerpen berikut ini:

“Sekarang tidurlah,” Sandra berusaha menghentikan percakapan, kemudian dengan lembut menyelimuti dan mencium keningnya. Baru saja beranjak hendak keluar kamar, terdengar suara Bita,

Sandra memiliki hidup yang lebih baik dari ibunya, ia adalah istri simpanan. Ini terlihat dari kutipan cerpen berikut ini:

Sungguh, ia tak ingin Bita tahu, kalau ibunya hanya istri simpanan.

  • Ibunya Sandra

Ibunya Sandra adalah seseorang yang berwatak keras. Ia sering berkata-kata kotor kepada anaknya Sandra. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan cerpen berikut ini:

Tapi Sandra berusaha menahan tangisnya karena Mamanya pasti akan langsung membentak bila tahu ia menangis. ”Jangan cengeng anak setan!” Kadang teriakan itu disertai lembaran kaleng bir yang segera bergemerontangan di lantai yang penuh puntung dan debu rokok.

Suara Mama memang nyaris selalu membentak. Pernah sekali Sastra bertanya soal Papanya, tetapi ia langsung disemprot mulutnya yang berbau alkohol, ”Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”

Dari kutipan cerita di atas, dapat kita lihat bahwa ibunya Sandra selalu berprilaku keras terhadap anaknya dengan mengumpat anaknya sendiri dengan kata-kata kotor seperti jangan cengeng anak setan, taik kucing dengan papa dll. Namun demikian ia adalah seorang ibu yang baik dan perhatian terhadap anaknya. Hal ini dapat kita lihat darikutipan cerpen berikut ini:

Meski begitu Sandra tahu kalau sesungguhnya perempuan itu menyayanginya. Bila pulang setelah pergi berhari-hari—Mamanya memang selalu pergi berhari-hari keluar kota atau entah ke mana, kadang mendadak pergi terburu-buru begitu saja malam-malam setelah menerima pager—selalu ada oleh-oleh menyenangkan untuk Sandra. Sering boneka. Tapi Sandra lebih senang bila ia dioleh-olehi buku cerita.

Sering, bila hari Minggu, Mamanya juga mengajaknya jalan-jalan. Membelikannya baju, mengajak makan kentang goreng atau ayam goreng. Saat Sandra menikmati es krim, perempuan itu tampak selalu menatap dengan mata penuh cinta. Tanpa sadar ia akan bergumam, ”Sandra, Sandra….” Sambil membersihkan mulut Sandra yang belepotan.

Selain itu ibunya Sandra adalah wanita pemabuk dan bekerja sebagai pelacur. Kutipan yang menggambarkan bahwa ia adalah pemabuk terlihat dari kutipan cerpen berikut ini:

Rumahnya memang selalu berantakan. Selalu ada pakaian dalam Mamanya yang berceceran begitu saja di lantai. Tumpahan bir di meja, bercak-bercak sisa muntahan di pojokan, botol-botol minuman yang menggelinding ke mana-mana. Kasur yang selalu melorot seprainya. Bantal- bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus- menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah

Sedangkan ia adalah seorang pelacur terlihat dalam kutipan cerpen berikut ini:

Sandra tak pernah lupa ketika suatu malam Mamanya pelan-pelan memindahkannya ke kolong ranjang dan mengira ia sudah tertidur, padahal ia bisa mendengar suara lenguh Mamanya dan laki-laki itu di atas ranjang. Juga suara dengus sebal Mamanya ketika akhirnya laki-laki itu mendengkur keras sekali. Di kolong ranjang Sandra terisak pelan, ”Mama… Mama….” Pipinya basah air mata.

Sandra kembali merasakan saat-saat paling sedih masa kanak-kanaknya, saat ia tahu kalau ibunya pelacur

  • Suaminya Sandra

Suaminya Sandra berwatak perhatian. Ia sangat perhatian kepada Sandra. Ia selalu memenuhisetiap kebutuhan Sandra dan anaknya. Hal ini dapat ita lihat dari kutipan cerpen berikut ini:

Sandra merasa hidupnya jauh lebih beruntung dari hidup Mamanya karena punya suami yang mencukupi hidupnya. Bagaimana pun suaminya memang laki-laki penuh perhatian yang pernah dikenalnya. Setidaknya dibanding puluhan laki-laki yang hanya iseng terhadapnya.

  • Bita

Bita adalah anak semata wayang dari Sandra. Ia anak kecil yang polos, ia tidak mengetahui kalau ibunya adalah seorang istri simpanan. Ini terliha dari kutipan cerpen berikut ini:

Sandra ingin semua ini akan berjalan baik seterusnya. Ia berusaha serapi mungkin menyembunyikan. Ia tak ingin Bita sedih. Ia ingin Bita menikmati masa-masa sekolahnya dengan nyaman dan tak cemas menghadapi pelajaran mengarang. Sandra kembali merasakan saat-saat paling sedih masa kanak-kanaknya, saat ia tahu kalau ibunya pelacur. Sungguh, ia tak ingin Bita tahu, kalau ibunya hanya istri simpanan.

 

  1. Latar / Setting
  • Tempat
  1. Rumahnya Sandra dan ibunya

Rumah ini adalah sebuah losmen kumuh tempat tinggal Sandra dan ibunya ketika ia masih kecil. Rumah yang selalu kotor dan berantakan. Pakaian ibunya Sandra selalu berceceran di mana-mana. Selain itu di lantai rumah ini selalu terdepat punting rokok, bercak bir, dan botol bir yang berserakan dimana-mana. Berikut ini kutipan yang menjelaskannya:

Kadang teriakan itu disertai lembaran kaleng bir yang segera bergemerontangan di lantai yang penuh puntung dan debu rokok. Rumahnya memang selalu berantakan. Selalu ada pakaian dalam Mamanya yang berceceran begitu saja di lantai. Tumpahan bir di meja, bercak-bercak sisa muntahan di pojokan, botol-botol minuman yang menggelinding ke mana-mana. Kasur yang selalu melorot seprainya. Bantal- bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus- menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.

  1. Rumahnya Sandra dan anaknya

Rumah ini adalah tempat tinggal Sandra dan anak semata wayangnya Bita. Rumah pemberian suaminya, karena ia adalah seorang istri simpanan.

  1. Ranjang

Ranjang tempat Sandra melayani suaminya apabila suaminya datang menjenguknya. Walaupun perteuannya dengan suaminya sangat sebentar dan singkat. Ia selalu ingin membuat suaminya selalu betah bersamanya. Berikut ini kutipan cerpen yang menjelaskan hal tersebut:

Berbaring di ranjang, hanya dengan selimut di bawah pinggang, suaminya terlihat segar. Hmm, pasti habis mandi air hangat, batin Sandra. Itu berarti laki-laki itu memang menginginkannya malam ini. Sandra segera meredupkan lampu, membuka gaunnya, dan bersijengkat naik ke ranjang. Bau harum tubuh laki-laki itu merangsanya untuk menciuminya. Ia hafal dengan denyut otot laki-laki itu yang perlahan meregang. Sandra ingin selalu membuat laki-laki itu betah bersamanya.

 

  1. Kafe

Kafe ini adalah tempat Sandra dulu ketika ia masih muda. Sandra adalah seorang penyanyi di sebuah kafe. Dan di kafe ini pula ia bertemu dengan suaminya sehingga ia menjadi seorang istri simpanan. Berikut mengenai kutipan yang menjelaskan hal tersebut:

Senyumnya masih tetap memikat seperti saat pertama kali Sandra melihatnya, ketika suatu malam ia menyanyi di sebuah kafe. Senyum yang membuatnya jatuh cinta. Ia bukannya tak berdaya oleh senyum itu. Namun senyum itu sejak mula memang telah membuatnya percaya, bahwa ia akan menemukan hidup yang lebih baik.

  • Waktu

Dalam cerpen ini terdapat beberapa latar waktu yaitu malam hari, hari minggu, dan jam 2 dini hari. Latar waktu malam hari dapat kita lihat pada kutipan cerpen berikut ini:

Setiap malam Sandra memang selalu pura-pura bisa tertidur lelap, terutama bila ada laki-laki entah siapa datang ke rumahnya. Sandra tak pernah lupa ketika suatu malam Mamanya pelan-pelan memindahkannya ke kolong ranjang dan mengira ia sudah tertidur, padahal ia bisa mendengar suara lenguh Mamanya dan laki-laki itu di atas ranjang.

Latar waktu hari minggu dapat kita lihat pada kutipan cerpen berikut ini:

Sering, bila hari Minggu, Mamanya juga mengajaknya jalan-jalan.

Latar waktu jam 2 dini hari dapat kita lihat pada kutipan cerpen berikut ini:

Tapi ketika selepas jam 2 dini hari Sandra mendengar derum mobil laki-laki itu keluar rumahnya, ia benar-benar tak kuasa menahan air matanya. Dulu, saat ia seusia Bita, Sandra selalu pura-pura tertidur ketika ada laki-laki keluar masuk rumahnya

 

  • Suasana

Latar suasana dalam cerpen ini yaitu sedih, tegang, dan riang. Latar suasana sedih dalam cerpen ini terlihat ketika Sandra selalu menangis melihat ibunya melayani para lelaki yang datang kerumahnya setiap hari dan mendengkur bersama ibunya. Suasana sedih juga terlihat ketika Sandra saat Sandra menangis karena takut anaknya Bita mengetahui bahwa ia adalah seorang istri simpanan. Suasana tegang yaitu pada saat Sandra mendapat bentakan dari ibunya ketika ia menanyakan tentang keberadaan papanya. Sedangkan suasana riang adalah ketika Sandra selalu mendapatkan oleh-oleh berupa boneka dan buku cerita apabila ibunya pulang dari luar kota.

  1. Sudut Pandang

Pada cerpen Pemetik Air Mata ini, pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Hal ini terbukti karena dalam cerpen ini pengarang selalu menggunakan kata ganti orang ketiga dengan menyebut nama dan status social dari para tokoh misalnya: Sandra, mamanya, suaminya, dan Bita.

  • Analisis Keperibadian Tokoh Utama Sandra dalam Cerpen Pemetik Air Mata Karya Agus Noor dengan Pendekatan Psikologi Carl Gustav Jung
  • Fungsi Jiwa

Pikiran dan perasaan Sandra berjalan secara rasional. Ia bisa menilai kalau apa yang dilakukan oleh ibunya adalah perbuatan yang tidak baik. Menjadi seorang pelacur adalah profesi yang paling rendah dan bertentangan dengan norma agama yang telah diajarkan kepada kita. Ketika ia kecil ia selalu berharap agar ia menjadi lebih baik dari ibunya. Saat ia telah besar ia menjadi seorang istri simpanan. Ia merasa senang dengan apa yang telah dilakukannya saat ini, karena menjadi istri simpanan tentu lebih baik dibandingkan dengan menjadi seorang pelacur. Ia merasa bahwa nasibnya lebih baik dari nasib ibunya yang berakhir tragis yaitu digerogoti enyakit kelamin saat ia tua dan mati tergorok di losmen murahan. Hal ini terlihat dari kutipan cerpen berikut ini:

Namun senyum itu sejak mula memang telah membuatnya percaya, bahwa ia akan menemukan hidup yang lebih baik. Sandra memang tak ingin nasibnya berakhir celaka seperti Mamanya: digeroti penyakit kelamin saat tua dan ditemukan mati tergorok di losmen murahan.

 

Pendriaan dalam jiwa Sandra didasarkan pada pengamatannya terhadap lingkungan sekitarnya. Fungsi jiwa Sandra dalam bentuk pendriaan terlihat pada saat Sandra bertemu dengan suaminya di sebuah kafe. Senyum suaminya yang dapat memikatnya sehingga ia jatuh cinta dan tak berdaya dengan senyuman itu. Hal ini terlihat dari kutipan cerpen berikut ini:

Senyumnya masih tetap memikat seperti saat pertama kali Sandra melihatnya, ketika suatu malam ia menyanyi di sebuah kafe. Senyum yang membuatnya jatuh cinta. Ia bukannya tak berdaya oleh senyum itu.

 

Intuisi Sandra dalam cerpen ini didasarkan pada nalurinya. Naluri seorang istri yang harus melayani suaminya. Walaupun ia hanya seorang istri simpanan tetapi ia selalu ingin suaminya tetap merasa betah untuk bersamanya. Hal ini tercermin dari kutipan cerpen berikut ini:

Berbaring di ranjang, hanya dengan selimut di bawah pinggang, suaminya terlihat segar. Hmm, pasti habis mandi air hangat, batin Sandra. Itu berarti laki-laki itu memang menginginkannya malam ini. Sandra segera meredupkan lampu, membuka gaunnya, dan bersijengkat naik ke ranjang. Bau harum tubuh laki-laki itu merangsanya untuk menciuminya. Ia hafal dengan denyut otot laki-laki itu yang perlahan meregang. Sandra ingin selalu membuat laki-laki itu betah bersamanya.

  • Sikap Jiwa

Sandra memiliki keperibadian dengan tipe introvert atau tertutup. Orang yang introvert dipengaruhi oleh dunia subjektif, yaitu dunia si dalam dirinya sendiri. Pikiran, perasaan dan tindakan dalam dirinya ditentukan oleh factor subjektif. Orang yang introvert suka menyendiri, jiwanya tertutup, sukar bergaul, dan sukar berhubungan dengan orang lain, dan kurang mampu menarik perhatian orang lain. Semua ciri-ciri sikap yang bertipe introvert ini ada pada jiwa Sandra dalam cerpen Pemetik Air Mata karya Agus Noor. Sikap Sandra yang tertutup terlihat dari perilakunya terhadap mamanya. Ia selalu berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya melihat mamanya menjadi seorang pelacur dari mamanya. Selain itu juga, sikap Sandra yang tertutup terlihat dari sikapnya terhadap anaknya Bita. Ia selalu menyembunyikan masalah bahwa ia adalah istri simpanan dari anaknya. Hal itu dilakukan karena ia tidak mau melihat anaknya sedih dan mengalami nasib yang sama dengan dirinya dulu.

Tapi Sandra tak pernah melihat peri itu muncul, dan Mamanya terus terisak menahan tangis, sembari kadang-kadang memeluk dan dengan lembut menciumi Sandra yang pura-pura tertidur pulas. Setiap malam Sandra memang selalu pura-pura bisa tertidur lelap, terutama bila ada laki-laki entah siapa datang ke rumahnya. Sandra tak pernah lupa ketika suatu malam Mamanya pelan-pelan memindahkannya ke kolong ranjang dan mengira ia sudah tertidur, padahal ia bisa mendengar suara lenguh Mamanya dan laki-laki itu di atas ranjang. Juga suara dengus sebal Mamanya ketika akhirnya laki-laki itu mendengkur keras sekali. Di kolong ranjang Sandra terisak pelan, ”Mama… Mama….” Pipinya basah air mata.

 

Sandra ingin semua ini akan berjalan baik seterusnya. Ia berusaha serapi mungkin menyembunyikan. Ia tak ingin Bita sedih. Ia ingin Bita menikmati masa-masa sekolahnya dengan nyaman dan tak cemas menghadapi pelajaran mengarang. Sandra kembali merasakan saat-saat paling sedih masa kanak-kanaknya, saat ia tahu kalau ibunya pelacur. Sungguh, ia tak ingin Bita tahu, kalau ibunya hanya istri simpanan.

 

Keperibadian Sandra yang introvert dikarenakan ketidakhadiran seorang ayah dalam hidupnya. Keluarga yang lengkap dan harmonis mempengaruhi kondisis psikologis dan kepribadian seseorang. Seperti yang dikemukakan Dagun, jika seorang anak yang tidak mendapat asuhan dan perhatian dari ayahnya, akan memiliki perkembangan yang berbeda dibandingkan anak yang mendapat asuhan dan perhatian dari ayahnya (dalam Ratih, 2010: 81). Sandra hanya dibesarkan oleh seorang ibu. Ia tidak mengetahui keberadaan ayahnya karena ibunya selalu menyembunyikan semua tentang ayahnya. Hal inilah yang membuat Sandra menjadi orang yang tertutup.

Suara Mama memang nyaris selalu membentak. Pernah sekali Sastra bertanya soal Papanya, tetapi ia langsung disemprot mulutnya yang berbau alkohol, ”Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”

 

BAB IV PENUTUP

Berdasarkan hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tokoh Sandra dalam cerpen pemetik air mata karya Agus Noor memiliki keperibadian introvert. Mengapa demikian, karena apabila tokoh Sandra dianalisis dengan pendekatan psikologi Jung, sikap Sandra sangat sesuai dengan ciri-ciri keperibadian yang bertype introvert yaitu penyesuaian dengan dunia luar kurang baik; jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan orang lain, kurang dapat menari hati orang lain. Penyesuaian dengan hatinya sendiri baik.

DAFTAR PUSTAKA

Andani, Ratih Dwi. 2010. Homoseksual Tokoh Rafky dan Valent dalam Novel Lelaki Terindah Karya Andrei Aksana: Suatu Tinjauan Psikologi. Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra Indonesia Universitas Diponegoro Semarang

Kartono, Kartini. 1990. Psikologi Umum. Yogyakarta : Mandar Maju

Minderop, Albertine. 2010. Psikologi Sastra. Jakarta : Pustaka Obor Indonesia

Sujanto, Agus dkk. 2009. Psikologi Keperibadian. Jakarta : PT Bumi Aksara

Ratna, Kutha. 2012. Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

http://koffieenco.blogspot.com/2013/02/pengertian-dan-ciri-ciri-cerpen.html (diakses pada 20 juni 2014 pukul 09.00 WIB)

http://riniintama.wordpress.com/unsur-unsur-intrinsik-cerpen/( diakses pada 20 juni 2014 pukul 09.00 WIB)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *