perempuan mengenakan rok feminim 1

Analisis Cerpen “Perempuan Itu Tasmpak Bersahaja Mengenakan Rok, Terkesan Feminim” Karya Syahrul Qodri Menggunakan Teori Strukturalisme Genetik Goldmann

Non Fiksi

A. Isi Cerita

Aku berteduh dari gerimis yang panjang di sebuah pinggiran toko. Udara malam terasa dingin dan begitu lama. Berbatang-batang rokok telah kuhabiskan sebagai pengisi waktu, namun, “… gerimis sialan ini belum juga reda!” gumamku. Untung saja ada toko yang masih buka dan menjual berbagai minuman kaleng, sehingga mulutku tidak terlalu sumpek dengan asap rokok.

Sebuah sepeda motor mendekat. Pakaian mereka tampak basah meski mengenakan jas hujan. Aku mencoba tersenyum kepada mereka, sekedar menyapa, atau mempersilahkan mereka untuk ikut berteduh. Tapi sepasang remaja itu tak acuh. Ia langsung mengambil tempat di sebelahku tanpa permisi. “…Anak muda zaman sekarang!” gumamku lagi.

Namun kuakui, sepsang kekasih remaja itu cukup serasi. Laki-laki memiliki tampang cukup macho, sementara yang perempuan cantik dan sexy. Ah, ya sexy. Ia mengenakan kaos ketat dengan celana sangat pendek. Pahanya terlihat putih mulus, apalagi ketika terkena sorot lampu kendaraan yang masih lalu lalang. Owh, mungkin itu sebabnya banyak perempuan yang suka menggunakan celana pendek di malam hari, biar pahanya terlihat putih ketika disorot lampu kendaraan. Sementara kalo di siang hari, sangat jarang ditemui perempuan yang menggunakan celana pendek.

Bagiku itu cukup aneh. Dalam kondisi cuaca yang panas menyengat , mereka menggunakan jaket tebal, dan celana jeans yang ketat. Sementara di malam hari, yang udaranya begitu dingin, mereka dengan suka rela mengenakan celana pendek dan kaos kecil. Apa mereka tidak merasa kedinginan dengan pakaian seperti itu? Tentu saja tidak, karena dengan serta merta akan mendekap kekasihnya, dan kehangatan pun akan menjalar di seluruh tubuh mereka.

“…..Ah, anak muda zaman sekarang!” gumamku lagi. Entah apakah itu wujud protesku terhadap perkembangan zaman, atau karena kecemburuanku yang hingga saat ini masih saja menikmati kesendirian.

Gerimis mulai sedikit mereda. Aku mencoba menata diri, bersiap hendak pergi meninggalkan emperan toko itu. Seorang pelayan toko tersenyum padaku, seraya menutup tokonya. Jarum jam ternyata sudah menunjuk pukul 10 malam. Sepasang kekasih di dekatku kian bercumbu sambil tertawa ringkih. Aku menjadi risih. Aneh memang, kenapa justru aku yang merasa risih melihat orang bercumbu di tempat umum? Bukankah seharusnya mereka yang risih ketika banyak pasang mata melihat tingkah polah mereka yang tengah kasmaran.

Aku nyalakan sepeda motor. Dan tepat saat itu, seorang gadis lewat di depanku. Aku melihatnya takjub. Kususun keberanianku, dan aku menawarkan diri untuk mengantarnya.

“Boleh aku antar?” sapaku malu-malu. Entah dari mana kebernaianku seperti itu. tidak biasanya aku melakukannya.

“Nggak usah, Mas. Deket kok.” Jawabnya singkat sambil melihatku aneh. Mungkin di dalam hatinya  ia protes. Kenal juga nggak. Sok-sok nawarin ngantar.

“Santai aja mbak. Aku ikhlas kok” tawarku serius. Dadaku serasa berdebar kencang. Ada perasaan takut ditolak mentah-mentah. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, jika tawaranku itu ditolak, sepasang remaja tadi tentu akan mengolokku habis-habisan, meski cuma dalam hati mereka.

“Nggak usah dech, Mas. Lagian aku bawa payung kok.” Katanya.
Benar juga…, ia membawa payung sambil melindungi dirinya dari gerimis yang kejam.

Aku tersenyum kepadanya, sambil mantap lekat ke dalam matanya. Kuberharap ia dapat membaca permohonanku melalui pandangan mata kuyuku.

“Baiklah.” Katanya tiba-tiba.

Perasaan senang bercampur gembira menelusup hangatkan nadiku yang beku. Namun sayang sekali…, hanya beberapa meter ke depan, belok kiri sedikit, lalu masuk ke gang, dan ia meminta untuk berhenti.

“Stop di sini Mas. Di sini kostku” katanya lembut.

“Oke dech…, terima kasih sudah sudi menemaniku.” Ucapku lirih.

“Ah, semestinya aku yang berterima kasih” katanya membantah. “Tapi mengapa mas mau mengantarku? Padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya. Aku merasa tidak mengenal…”

“Mau jawaban jujur atau bohong?” tanyaku memotong pertanyaannya.

“Hahahaha …. Mas ini lucu. Yang jujur saja dah… eh yang bohong aja duluan.”

“Kalo jawaban bohongnya, karena aku mengagumimu, kataku menggoda seraya melihat tubuh rampingnya yang sederhana tanpa rias molek. Wajahnya memang manis, dengan alis tebal, meski matanya tampak lesu, mungkin karena lelah setelah seharian bekerja.

“Hahahaha….” Ia tertawa semakin keras. “Kalau jawaban jujurnya?”

“Karena kau mengenakan rok.” Jawabku singkat.

“Loh, kok? Apa hubungannya dengan rok?” Tanyanya keheranan.

“Entahlah…, aku cuma merasa bangga melihat gadis yang masih menjaga ke-feminimannya” jawabku sambil melaju.

Ya. Aku tidak sempat mengenal namanya. Aku tidak sempat bertanya tentang hidupnya. Aku juga tidak sempat meminta nomor HP atau sejenisnya agar bisa bertemu kembali atau mengenalnya lebih dekat. Tapi sudahlah.

Malam ini aku bertemu dengan seorang perempuan yang kuanggap luar biasa. Ia mengenakan rok selutut. Bagiku, perempuan itu tampak bersahaja, namun terkesan begitu feminim. Gerimis pun mereda. Aku tersenyum dalam lelapku.

 B. Analisis

Sebuah cerpen yang sangat menarik untuk dibaca, memiliki nilai-nilai sosial yang luhur. Pengarang sangat lihai dalam hal diksi, bahasanya ringan dan mudah dipahami. Dan menurut saya cerpen ini sangat cocok dianalisis mengunakan teori strukturalisme genetik. Empat konsep dalam strukturalisme genetik yakni: konsep fakta kemanusiaan, subjek kolektif, pandangan dunia dan konsep “pemahaman penjelasan, sudah sangat cukup untuk membedah cerpen ini dari berbagai sisi.

  1. Analisis dari Segi Strukturalisme Genetik

Memang cerpen yang sangat mengagumkan, dan sangat cocok untuk dibaca bagi semua kalangan. Cerpen ini memberikan nuansa yang berbeda, ceritanya singkat, tetapi nilai filosofis yang terkandung di dalamnya cukup mengesankan. Cerpen Perempuan itu tampak bersahaja mengenakan rok, terkesan feminim, merupakan sebuah cerminan prilaku individual dan kolektif. Hal-hal yang berupa tingkah laku dan kebiasaan individu di masyarakat merupakan konflik yang disuguhkan oleh pengarang yang seyogianya adalah gambaran kehidupan di zaman modern. Untuk lebih jelasnya kita dapat melihat hal-al yang terkandung dalam cerpen ini melalui konsep-konsep strukturalisme genetik, di antaranya:

1. Konsep Fakta Kemanusian

Fakta kemanusian yang dimuncukan pada cerpen ini berupa kontardiksi prilaku individual di zaman modern. pada cerpen tersebut terdapat sesuatu yang dipertentangkan oleh pengarang yakni berupa cara berpakaian dan cara begaul yang sudah tidak sesuai dengan aturan-aturan yang umumnya ada di masyarakat. Sebagaimana yang terdapat pada kutipan cerpen berikut ini, “Aku mencoba tersenyum kepada mereka, sekedar menyapa, atau mempersilahkan mereka untuk ikut berteduh. Tapi sepasang remaja itu tak acuh. Ia langsung mengambil tempat di sebelahku tanpa permisi. “…Anak muda zaman sekarang!” gumamku lagi.” Pada kutipan tersebut digambarkan betapa prilaku muda-mudi zaman sekarang sudah jauh dari kesopanan, tidak peduli akan teguran orang lain, yang penting mereka nyaman dan senang, persetan dengan orang lain. Hal inilah yang hendak dipaparkan oleh pengarang kepada kita selaku pembaca supaya kita tahu betapa nilai-nilai keramahan sudah pupus di zaman modern ini.

Selanjutnya pada kutipan “Ia mengenakan kaos ketat dengan celana sangat pendek. Pahanya terlihat putih mulus, apalagi ketika terkena sorot lampu kendaraan yang masih lalu lalang. Owh, mungkin itu sebabnya banyak perempuan yang suka menggunakan celana pendek di malam hari, biar pahanya terlihat putih ketika disorot lampu kendaraan. Sementara kalo di siang hari, sangat jarang ditemui perempuan yang menggunakan celana pendek.

Bagiku itu cukup aneh. Dalam kondisi cuaca yang panas menyengat, mereka menggunakan jaket tebal, dan celana jeans yang ketat. Sementara di malam hari, yang udaranya begitu dingin, mereka dengan suka rela mengenakan celana pendek dan kaos kecil. Apa mereka tidak merasa kedinginan dengan pakaian seperti itu? Tentu saja tidak, karena dengan serta merta akan mendekap kekasihnya, dan kehangatan pun akan menjalar di seluruh tubuh mereka.

“…..Ah, anak muda zaman sekarang!” gumamku lagi. Entah apakah itu wujud protesku terhadap perkembangan zaman, atau karena kecemburuanku yang hingga saat ini masih saja menikmati kesendirian.”

Pada kutipan di atas pengarang memamaparkan secara gamblang kepada kita tingkah laku anak muda zaman sekarang, kelakuan yang dipaparkan tersebut berupa fakta individual yang mana terdapat seorang cewek yang menggunakan pakaian yang sangat minim, baju ketat dan celana pendek hingga pahanya terihat. Selanjutnya pengarang meberikan sedikit sentilan humor dengan melakukan sebuah generalisasi dengan mengatakan “Owh, mungkin itu sebabnya banyak perempuan yang suka menggunakan celana pendek di malam hari, biar pahanya terlihat putih ketika disorot lampu kendaraan”. Penulis memberikan sidiran dengan ungkapan seperti ini, karena hal tersebut sudah merupakan fakta sosial yang terdapat pada masyarakat. Kemanapun kita pergi kita pasti menjumpai hal yang demikian.

“Sepasang kekasih di dekatku kian bercumbu sambil tertawa ringkih. Aku menjadi risih. Aneh memang, kenapa justru aku yang merasa risih melihat orang bercumbu di tempat umum? Bukankah seharusnya mereka yang risih ketika banyak pasang mata melihat tingkah polah mereka yang tengah kasmaran.” Pada kutipan ini memperlihatkan betapa anak muda tersebut sudah tidak menghiraukan orang-orang yang ada di sekitarnya, dengan asyiknya mereka bercumbu tanpa rasa malu. Kejadian seperti ini sangatlah sering kita jumpai di sekitar kita. Betapa banyak anak muda yang berbuat demikian di depan kita, tanpa rasa malu, malahan mereka secara sengaja dan terang-terangan mempertontonkan kemesraannya di depan khalayak ramai. Hal inilah di dalam strukturalisme genetik yang dinamakan dengan fakta sosial.

2. Konsep Subjek Kolektif

Subjek kolektif merupakan bagian dari fakta kemanusiaan selain subjek individual. Fakta kemanusiaan muncul karena aktivitas manusia sebagai subjek. Pengarang adalah subjek yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Oleh karenanya di dalam masyarakat terdapat fakta kemanusiaan. Karya sastra diciptakan oleh pengarang. Dengan demikian karya sastra lebih merupakan duplikasi fakta kemanusiaan yang telah diramu oleh pengarang.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa cerpen Perempuan itu tampak bersahaja mengenakan rok, terkesan feminim, lebih merupakan kritik sosial atas tingkah laku kaula muda yang mengalami degradasi moral, kritik sosial ini terutama ditujukan pada kaum wanita yang meninggalkan sifat-sifat keanggunan wanita (feminimisme). Pengarang dengan tegas memberikan apresiasi kepada wanita yang senantiasa menjaga keanggunan, kesopanan, dan martabatnya sebagai kaum wanita. Hal ini tampak jelas pada judul cerpen tersebut.

Subjek kolektif dikatakan juga sebagai kumpulan individu-individu yang membentuk satu kesatuan beserta aktivitasnya. Berdasarkan pengertian ini dapat diketahui bahwa pada cerpen ini terdapat beberapa individu yang membentuk satu kesatuan. Tokoh “si aku” yang merupakan tokoh utama sebagai pencerita memberikan sentilan kepada tokoh “dua orang remaja yang tengah bercinta” yang sibuk dengan urusan asmara mereka tanpa menghiraukan sekitarnya, ditambah dengan tokoh “perempuan yang mengenakan rok” yang senantiasa menjaga kefeminimannya sebagai seorang wanita. Sosok wanita yang bersahaja yang mempertahankan nilai-nilai budaya wanita timur, yang tidak serta-merta menerima tawaran dari tokoh “aku” yang mau mengantarnya, memang di zaman modern ini sangat jarang ditemukan sosok wanita seperti ini yang senantiasa menjaga harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita.

3. Konsep Pandangan Dunia

Goldmann (dalam Satoto, 1986:176) menyatakan bahwa pandangan dunia ini  disebut sebagai suatu bentuk kesadaran kelompok kolektif yang menyatukan individu-individu menjadi suatu kelompok yang memiliki identitas kolektif. Pandangan dunia bukan merupakan fakta empiris yang langsung, tetapi lebih merupakan struktur gagasan, aspirasi dan perasaan yang dapat menyatukan suatu kelompok sosial masyarakat.

Berangkat dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa cerpen tersebut memberikan dua pandangan besar yang sangat berbeda, yakni pandangan westernisasi yang lebih menekankan pada liberalisme baik dari segi pemikiran maupun tingkah laku sebagaimana yang tercermin pada tingkah laku kedua remaja yang tengah bercinta, ceweknya berpakaian seksi dan becumbu tanpa rasa canggung di depan orang banyak. Hal tersebut tentu bertentangan dan dianggap tidak baik pada pandangan dunia timur, kendati di dunia barat hal tersebut sangatlah lumrah.

Sementara itu, pandangan kedua yang ditekankan oleh pengarang ialah sikap feminisme, yang mana wanita harus sentiasa menjaga identitas dirinya, harkat dan martabatnya. Sehingga tidak bertentang dengan pandangan dunia timur yang masih menjaga nilai-nilai kesopanan. Sebagaimana tokoh wanita yang mengenakan rok pada cerpen tersebut yang terlihat anggun dan sangat sopan, sehingga membuat tokoh “si aku” kagum akan keanggunan dan wibawanya.

4. Konsep “Pemahaman-Penjelasan”

Metode dialektik mengembangkan dua konsep, yaitu “Pemahaman-penjelasan” dan “Keseluruhan-bagian.” Pemahaman adalah pendeskripsian struktur objek yang dipelajari, sedangkan penjelasan adalah usaha menggabungkan ke dalam struktur yang lebih besar (Goldmann dalam Faruk, 1999b:21). Pada dasarnya pengertian konsep “pemahaman-penjelasan” sangat berkaitan dengan konsep keseluruhan bagian.

Berangkat dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa cerpen Perempuan itu tampak bersahaja mengenakan rok, terkesan feminim, memberikan penjelasan kepada kita bahwa kebersahajaan itu lahir dari kesederhanaan sebagaimana tokoh wanita yang mengenakan rok. Dalam hal ini pengarang berupaya menggabungkan pemahaman atau persepsi individu dengan paradigma yang lebih luas. Pengarang memiliki persepsi bahwa wanita tidak harus seksi, memamerkan auratnya untuk bisa dianggap modern, tetapi dengan penampilan yang sederhana wanita bisa menjadi luar biasa, sebagimana sosok wanita yang mengenakan rok yang terlihat bersahaja dan lebih anggun. Pemahaman yang demikianlah yang hendak dikedepankan oleh pengarang di tengan zaman sekarang ini, yang penuh dengan westernisasi dan modernisasi guna meminimalisasi pemahaman masyarakat yang sudah terlanjur menganggap bahwa indikasi kemajuan ialah “wanitanya tampil sexy”, padahal bukanlah demikian.

  1. Analisis dari Segi Nilai Yang Terkandung di Dalamnya

Setiap cerita tentu terinspirasi dari pengalaman nyata pengarangnya di masyarakat, karena pada dasarnya karya sastra merupakan bentuk tiruan dari pola tingkah laku alam (manusia dan lingkungannya), dalam karya sastra dikenal dengan istilah mimesis. Biasanya pengarang memasukkan nilai-nilai kehidupan ke dalam karyanya secara implisit yang membutuhkan pengkajian yang mendalam. Adapun pada cerpen “Perempuan itu tampak bersahaja mengenakan rok, terkesan feminim” nilai-nilai yang terandung berupa:

  1. Nilai moral: hal ini terlihat dari sentilan yang dilontarkan pengarang kepada tokoh remaja yang tengah bercinta, yang acuh tak acuh dan tidak memiliki rasa malu bercumbu di depan orang banyak. Tidak seharusnya kita berprilaku seperti itu. Kerena selain bertentangan dengan budaya timur, juga bertentangan dengan norma agama.
  2. Nilai kesopanan: kesopanan yang terutama disoroti oleh pengarang ialah kesopanan dalam hal berpakaian. Pengarang menampilkan dua hal yang kontradiksi, yakni wanita yang berpakain seksi dan wanita yang mengenakan rok, yang tampak bersahaja dan anggun sehingga memberikan kesan feminim.
  3. Nilai sosial: nilai sosial yang ditekankan pada cerpen tersebut berupa kesederhanaan. Sesorang tidak mesti berpenampilan mewah dan seksi baru dikatakan modern, dengan berpenampilan sederhana justru lebih memberikan kesan yang positif, sebagaimana tokoh wanita yang mengenakan rok yang terlihat bersahaja dan terkesan feminim.
  4. Analisis dari Segi Keunikan
  5. Dari segi judul: judul yang cukup panjang menjadi pusat perhatian pembaca, judul yang langsung mencerminkan isi cerita, sungguh membuat pembaca ingin segera membaca cepen ini. Selain itu, nilai moral yang sangat kental justru terdapat pada judul ini. Benar-benar daya tarik yang istimewa.
  6. Dari segi diksi: pilihan bahasa yang digunakan ringan dan mudah dipahami, sehingga sangat pantas dibaca oleh semua kalangan.
  7. Dari segi setting: setting atau latar yang dilukiskan memberikan nuansa tersendiri bagi pembaca. Baik dari segi waktu, tempat maupun suasana. Benar-benar seting yang sangat apik dan alami.
  8. Dari segi amanat: amanat yang disampaikan simpel, khususnya bagi kaum wanita supaya lebih bisa menganggunkan dirinya dengan berpakain sopan, sederhana dan menjaga kefeminimannya.

Demikianlah anlisis cerpen “Perempuan itu tampak bersahaja mengenakan rok, terkesan feminim” dari segi strukturalisme genetik, semoga memberikan pemahaman dan tambahan ilmu bagi kita semua.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *