Analisis Drama dan Teater ”Pinangan” Karya Anton Chekov Saduran Jim Lim Suyatna Anirun

Analisis Drama dan Teater ”Pinangan” Karya Anton Chekov Saduran Jim Lim Suyatna Anirun

Kepenulisan, Non Fiksi

BAB I

PENDAHULUAN

  1. PENGANTAR

Pinangan merupakan naskah drama komedi satu babak yang menceritakan tentang kisah agus yang ingin melamar ratna yaitu anak dari rukmana kholil. Alasan saya memilih naskah ini karena isinya cukup menarik, perseteruan yang terjadi didalam cerita juga dikemas dengan baik sehingga sangat lucu jika seseorang yang ingin datang melamar tetapi malah justru berseteru memperebutkan sebidang tanah dan mempermasalahkan hewan peliharaan mereka masing-masing. Didalam naskah ini terdapat tiga tokoh sentral yaitu, Agus Tubagus, Ratna dan Rukmana Kholil. Tetapi didalam pementasan kemarin tokohnya ditambahkan begitu juga alur ceritanya menjadi sedikit berbeda dengan naskah aslinya, namun tidak terlepas dari cerita intinya bahkan pementasan tersebut di rasa menjadi semakin menarik dan menambah kesan komedi karena ada empat tokoh yang ditambahkan antara lain : ibu rukmana ( istri rukmana kholil ), adik ratna, dokter, perawat. Dalam naskah aslinya tokoh rukmana kholil menjadi pembuka dalam pementasan tetapi karena ada perubahan dan penambahan tokoh maka yang istri rukmana kholil ( ibu rumana ) merekalah yang menjadi pembuka dalam babak pertama pementasan bersama dengan agus.

Dipertengahan cerita adik ratna muncul mengganggu agus, disini adik ratna digambarkan sebagai anak-anak yang centil dan suka mengadu. Dan yang menjadi inti dari cerita ini adalah ketika agus menyatakan keinginannya kepada ibu rukmana untuk meminang putrinya yaitu ratna, terkesan agak sinis di awal namun ketika agus menyatakan keinginanya untuk meminang putrinya betapa bahagianya ibu rukmana dan langsung memanggil anaknya.

Dalam naskah kali ini peneliti akan menggunakan aliran strukturalisme Ferdinand De Saussure untuk menganalisis unsur intrinsik yang ada didalam naskah “ Pinangan”.

  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana cara menganalisis naskah drama “ pinangan “ dengan menggunakan aliran strukturalisme ?
  2. Bagaimana cara menentukan tema dan tokoh dalam naskah drama ‘ pinangan “?
  1. Tujuan
  1. Untuk menganalisis naskah drama “ pinangan “ dengan menggunakan aliran strukturalisme.
  2. Untuk menentukan tema dan tokoh dalam naskah drama “ pinangan “.

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Landasan Teori

Strukturlisme dalam bahasa Inggris dari latin Struere dengan arti membangun. Struktura berarti bentuk bangunan. Jadi strukturalisme merupakan aliran yang lebih mementingkan sebuah sistem yang menjadi latar belakang adanya Linguistik Sausure Prancis. Yang menjadi ajaran pokoknya adalah masyarakat dan kebudayaan memiliki suatu struktur yang sama dan tetap. Ferdinan de. Sausure yang mendominasi munculnya strukturalisme dengan beberapa penemuan-penemuan (pengkajian) diantaranya mengenai Sigbifiant (penanda) dan segnifie (yang ditandakan), Langue (bahasa milik bersama) dan Parol (bahasa individual), serta sinkroni (peninjauan ahistoris) dan diakroni (peninjauan historis).

Didalam analisi kali ini peneliti akan meneliti unsur-unsur intrinsik yang terdapat didalam naskah drama dan teater “ pinangan “ yang terdiri dari tema, amanat, alur, sudut pandang, penokohan, setting, dll. Namun didalam analisi kali ini peneliti hanya akan memfokuskan penelitian hanya pada tema dan penokohannya saja.

  1. TEMA

Tema adalah suatu unsur yang memandu seorang pengarang sebagai ide utama atau pemikiran pokok, ke mana sebuah cerita akan diarahkan. Robert Stanton menempatkan tema sebagai sebuah arti pusat dalam cerita, yang disebut juga sebagai ide pusat dan Stanton juga menyatakan bahwa tema cerita berhubungan dengan makna pengalaman hidupnya.

Tema adalah suatu (hal) yang berkaitan dengan pandangan, pendapat, ataupun sikap pengarang tentang suatu masalah, sedangkan masalah adalah sesuatu hal yang haarus diselesaikan. Sebuah tema pada dasarnya merupakan abstraksi dari suatu masalah. Oleh karena itu, tema sebuah karya sastra haruslah diabstraksikan dari masalah utama yang diungkapkan pengarang dalam karyanya.

  1. ALUR

Alur adalah jalan cerita dalam sebuah cerpen dengan pengertian bagaimana cara pengarang menyuguhkan cerpen atau novelnya kepada pembaca, bagaimana suatu cerita dirangkaikan antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain dalam hubungan kausalitas. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, tetapi yang lebih penting menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Hubungan sebab-akibat dalam alur selalu menuntut kemampuan daya ingat dan kecerdasan berpikir pembaca agar dapat memahami sebuah cerita rekaan maupun cerita nyata.Alur disebut juga plot, yaitu rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat sehingga menjadi satu kesatuan yang padu bulat dan utuh. Alur terdiri atas beberapa bagian antara lain :

  1. Awal, yaitu pengarang mulai memperkenalkan tokoh-tokohnya.
  2. Tikaian, yaitu terjadi konflik di antara tokoh-tokoh pelaku.
  3. Gawatan atau rumitan, yaitu konflik tokoh-tokoh semakin seru.
  4. Puncak, yaitu saat puncak konflik di antara tokoh-tokohnya.
  5. Leraian, yaitu saat peristiwa konflik semakin reda dan perkembangan alur mulai terungkap.
  6. Akhir, yaitu seluruh peristiwa atau konflik telah terselesaikan.

Pengaluran, yaitu teknik atau cara-cara menampilkan alur. Menurut kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur erat dan alur longggar. Alur erat ialah alur yang tidak memungkinkan adanya pencabangan cerita.Alur longgar adalah alur yang memungkinkan adanya pencabangan cerita. Menurut kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur tunggal dan alur ganda. Alur tunggal ialah alur yang hanya satu dalam karya sastra. Alur ganda ialah alur yang lebih dari satu dalam karya sastra. Dari segi urutan waktu, pengaluran dibedakan kedalam alur lurus dan tidak lurus. Alur lurus ialah alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa berurutan dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus ialah alur yang melukiskan tidak urut dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus bisa menggunakan gerak balik (backtracking), sorot balik (flashback), atau campauran keduanya.

  1. SETTING

Pada dasarnya, latar adalah tempat terjadinya peristiwa dalam cerita pada suatu waktu tertentu. Dengan cara yang lebih luas, dapat dikatakan bahwa latar adalah lingkungan di sekeliling pelaku cerita, mungkin berupa sebuah kamar, lingkungan kehidupan sebuah rumah tangga, bahkan di dalamnya termasuk pula pekerjaan dan lingkungan pekerjaan para pelaku, alat-alat yang digunakan dan berhubungan dengan pekerjaan tokoh, dan sebagainya.

  1. PENOKOHAN

Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra. Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan tokoh bulat (round character). Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalnya baik saja atau buruk saja. Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini. Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovert. Tokoh introvert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Tokoh ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya. Dalam karya sastra dikenal pula tokoh protagonis dan antagonis. Protagonis ialah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Antagonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.

  1. AMANAT

Amanat ialah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan di dalam karya sastra. Amanat biasa disebut makna. Makna dibedakan menjadi makna niatan dan makna muatan. Makna niatan ialah makna yang diniatkan oleh pengarang bagi karya sastra yang ditulisnya. Makna muatan ialah makana yang termuat dalam karya sastra tersebut.

  1. SUDUT PANDANG

Sudut pandang ialah dari mana suatu cerita dikisahkan oleh pencerita. Pencerita di sini adalah privbadi yang diciptakan pengarang untuk menyampaikan cerita. Paling tidak ada dua pusat pengisahan yaitu pencerita sebagai orang pertama dan pencerita sebagai orang ketiga. Sebagai orang pertama, pencerita duduk dan terlibat dalam cerita tersebut, biasanya sebagai aku dalam tokoh cerita. Sebagai orang ketiga, pencerita tidak terlibat dalam cerita tersebut tetapi ia duduk sebagai seorang pengamat atau dalang yang serba tahu.

  1. ANALISIS NASKAH

Didalam naskah ini pengarang menyuguhkan sebuah cerita drama komedi satu babak yang mengisahkan tentang Agus Tubagus yang ingin meminang putri dari Rukmana Kholil awalnya keinginan dari agus untuk meminang putrid rukmana disambut gembira oleh rukmana namun, setelah kemunculan ratna dalam naskah suasana menjadi memanas dan akhirnya berubah menjadi pertikaian yang menyebabkan kesalahpahaman sehingga niat agus untuk melamar ratna diurungkan karena agus diusir oleh ratna hanya karena perselisihan hak milik dari lapangan Sari gading. Sekilas tentang cerita yang sudah dipaparkan diatas maka sesuai dengan isi cerita maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa temanya adalah “ Pinangan” yang mana dalam artian yang lain pinangan berarti lamaran, niat atau keinginan dari pihak laki-laki untuk meminta kepada orang tua perempuan untuk merestui atau meminta izin untuk menikahi anaknya.

Dalam analisis kali ini peneliti akan lebih memfokuskan pada tokoh atau penokohannya. Didalam naskah pinangan ini yang menjadi tokoh sentralnya hanya berjumlah tiga orang saja, yaitu Agus tubagus, Rukmana kholil, dan ratna, namun pada pementasan kemarin ada berbagai macam perubahan terutama di jumlah pemain atau tokohnya serta alur ceritannya, namun semua itu tidak membuat ceritanya berubah tetapi justru membuat cerita semakin menarik dan kesan komedinyapun bertambah kuat berkat hadirnya empat tokoh tambahan dalam drama, antara lain : ibu Rukmana kholil ( istri pak rukmana ), adik ratna, dokter dan perawat.

Dalam penokohan dikenal ada tiga jenis penokohan yaitu : protagonis atau tokoh yang digemari oleh pembaca karena bersifat baik. Tokoh antagonis tokoh yang pemarah atau bersifat jahat. Dan yang terakhir adalah tokoh tritagonis yang biasanya menjadi penengah didalam permasalahan yang muncul.

Didalam naskah pinangan ini semua pemain atau tokoh-tokohnya bersifat netral, kadang bisa baik kadang bisa jadi pemarah, atau biasa juga disebut dengan istilah tokoh bulat yaitu bersifat tidak tetap dan berkembang sesuai dengan jalannya cerita. Untuk itu dalam analisi ini peneliti akan membahas satu demi satu tokoh yang ada didalam naskah pinangan ini dengan menggunakan aliran strukturalisme yang dikemukakakn oleh Ferdinand De Saussure.

  1. Agus tubagus

Didalam naskah ini agus digambarkan sebagai orang yang penyakitan, dia mempunyai penyakit jantung dan sulit sekali mengungkapkan keinginannya untuk meminang putri dari rukmana kholil karena ia selalu gemetar dan bicaranyapun agak terbatah-batah. Namun ada kalanya dia bersifat pemarah dan agak sedikit ngotot ketika ia berselisih dengan ratna dan pak rukmana kholil tentang kepemilikan dari lapangan Sari gading sehingga niat utama untuk meminang ratna diurungkan akibat perselisihan yang terjadi.

Terima kasih, Pak Rukmana … Maaf … Pak Rukmana Kholil yang baik, aku begitu gugup. Pendeknya, tak seorang pun yang bisa menolong saya, kecuali Bapak. Meskipun aku tidak patut untuk menerimanya, dan aku tidak berhak mendapatkan pertolongan dari Bapak

Aku kedinginan, aku gemetar seperti hendak menempuh ujian penghabisan, tapi sebaiknya memutuskan sesuatu sekarang juga. Kalau orang berpikir terlalu lama, aku ragu untuk membicarakannya. Menunggu kekasih yang cinta sehidup-semati akhirnya dia tak kawin-kawin … Brrr … Aku kedinginan, Ratna Rukmana gadis yang baik. Pandai memimpin rumah tangga, tidak jelek, terpelajar, tamatan SKP … Apalagi yang aku inginkan? Tetapi aku sudah begitu pening. Aku gugup. (MINUM) Chh … aku harus kawin. Pertama, aku sudah berumur tiga puluh tahun. Boleh dikatakan umur yang kritis juga. Aku butuh hidup yang teratur dan tidak tegang. Karena aku punya penyakit jantung. Selalu berdebar-debar, aku selalu terburu-buru. Bibirku gemetar dan mataku yang kanan selalu berkerinyut-kerinyut. Kalau aku baru saja naik ranjang dan mulai terbaring … oh … pinggang kiriku sakit, aku bangun, meloncat seperti orang kalap. Aku berjalan sendiri dan pergi tidur lagi. Tapi kalau aku hampir mengantuk, datang lagi penyakit itu. Dan ini berulang sampai dua puluh kali ”. (RATNA MASUK)  

Dari dua dialog ini dapat disimpulkan bahwa betapa gugupnya agus, ini dibuktikan dari dialognya yang pertama yang mengatakan bahwa ” aku begitu gugup. Pendeknya, tak seorang pun yang bisa menolong saya, kecuali Bapak”. Kemudian dalam dialog yang kedua juga sama mengemukakan bahwa gus yang begitu gugup serta sangat gelisah tentang keinginannya untuk meminang putri pak rukmana.

Kalau begitu menurut anggapanmu aku ini lintah darat? Chh, aku belum pernah merampas tanah orang lain, nona. Dan aku tidak bisa membiarkan siapapun juga menghina aku dengan cara yang demikian! (MINUM) Lapangan “Sari Gading“ adalah milik kami.

Tentu saja bisa! (TEGAS BERTERIAK NGOTOT)

Didalam dialog diatas agus digambarkan sebagai orang yang pemarah namun kadang juga kembali netral bersikap biasanya,namun setelah berselisih dengan ratna diapun melupakan niat awalnya untuk meminang bahkan perseteruan itu semakin memanas setelah mereka saling memperebutkan lapangan sari gading yang dianggap sebagai milik mereka yang sah.

  1. Ibu Rukmana ( Isrti pak rukmana kholil )

Sebenarnya tokoh istri dalam naskah ini tidak ada namun tokoh ini ditambahkan namun ceritannya tidak berubah hanya saja tokoh istri ini muncul diawal pementasan menggantikan dialog pak rukmana dalam adegan pertama, wataknyapun tidak jauh berbeda dari pak rukmana kholil yang selalu menggunakan kalimat “ Dan seterusnya “ ketika hendak mengakhiri obrolan dan itulah yang menjadi energy untuk membuat penonton tertawa dengan celotehan-celotehan kecil pak rukmana dan ibu rukmana dalam adegannya.

  1. Rukmana kholil

Pak rukmana kholil memiliki watak yang tidak jauh berbeda dari istrinya hanya saja ada dialog-dialog yang menunjujkkan pak rukmana kholil sebagai seorang yang pemarah tetapi kadang sebagai penengah antara perseteruan ratna dan agus.

Di depan pengadilan boleh saja, Juragan Muda, dan seterusnya … Boleh saja … Kamu memang telah lama menunggu-nunggu kemungkinan untuk membawa persoalan ini ke pengadilan adat, yang menggunakan undang-undang pengadilan secara licik! Memang semua keluargamu suka bertindak licik!… semuanya … !

Aduh … segera, jangan menangis. Apa yang akan kita lakukan? … Baiklah … ! (LARI KELUAR)

(MASUK LAGI) Dia akan segera datang, katanya. Oh … alangkah sulitnya menjadi ayah seorang gadis yang sudah besar dan sudah kepingin kawin. Akan kupotong leherku, kami hina orang itu, mempermainkannya, mengusir dia, karena salahmu … karena kau.”

  1. Ratna

Ratna adalah tokoh yang digambarkan selalu marah-marah dan berseteru dengan agus tanpa mengetahui maksud dan tujuan sebenarnya agus datang mencarinya.

Maaf, saya memotong. Kau katakan Lapangan “Sari Gading“ apa benar itu milikmu?

Jangan keliru. Lapangan “Sari Gading“ adalah milik kami. Bukan milikmu.

Melamar aku? … Melamar? … (JATUH KE KURSI) … Bawa dia kembali … Oh, bawa dia kembali lagi.

  1. Adik ratna

Dalam naskah ini adik ratna merupakan tokoh tambahan yang memiliki karakter cerewet.

  1. Bibik ( pembantu rukmana kholil )

Seorang wanita berusia paruh baya bibik juga merupakan tokoh tambahan dengan karakter centil.

  1. Dokter dan perawat

Dua tokoh ini juga merupakan tokoh tambahan karakternya yang lucu membuat cerita semakin menarik, cerita sebenarnya akan berakhir ketika agus pingsan kemudian bangun kembali setelah dipercikkan air oleh pak rukmana namun karena ditambahkan dua tokoh ini sehingga cerita menjadi sedikit berubah, ketika agus pingsan maka ratna memanggil dokter dan perawat.

 

BAB III

PENUTUP

  1. Simpulan

Dalam naskah drama komedi yang berjudul “ pinangan “ kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita harus bersikap baik kepada tamu dan tidak boleh menuduh yang macam-macam tanpa tahu maksud dan tujuannya datang berkunjung sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman seperti yang digambarkan dalam naskah pinangan, namun terlepas dari itu semua semuanya hanya bersifat fiktif belaka untuk menghibur penonton tetapi dalam naskah komedi tersebut hendaknya kita dapat mengambil hikmah atau pesan yang ingin disampaikan dalam pementasan.

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *