ANALISIS FEMINISME DALAM NOVEL “See You in Uzlifatul Jannah” KARYA FERYANTO HADI (Mobile)

ANALISIS FEMINISME DALAM NOVEL “See You in Uzlifatul Jannah” KARYA FERYANTO HADI

Asal Tulis, Kepenulisan, Non Fiksi

Pendekatan feminisme adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan fokus perhatian pada relasi jender yang timpang dan mempromosikan pada tataran yang seimbang antar laki-laki dan perempuan (Djajanegara, 2000: 27).

Kritik sastra feminis merupakan salah satu disiplin ilmu kritik sastra yang lahir sebagai respon atas berkembangnya feminisme di berbagai penjuru dunia. Kritik sastra feminisme merupakan aliran baru dalam sosiologi sastra. Lahirnya bersamaan dengan kesadaran perempuan akan haknya. Inti tujuan feminisme adalah meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan serta derajat laki-laki. Perjuangan serta usaha feminisme untuk mencapai tujuan ini mencakup berbagai cara. Salah satu caranya adalah memperoleh hak dan peluang yang sama dengan yang dimiliki laki-laki. Berkaitan dengan ini, maka muncullah istilah equal right’s movement atau gerakan persamaan hak. Cara lain adalah membebaskan perempuan dari ikatan lingkungan domestik atau lingkungan keluarga dan rumah tangga. Cara ini sering dinamakan women’s liberation movement, disingkat women’s lib atau women’s emancipation movement, yaitu gerakan pembebasan wanita (Saraswati, 2003: 156).

Kritik sastra feminisme berawal dari hasrat para feminis untuk mengkaji karya penulis-penulis wanita di masa silam dan untuk menunjukkan citra wanita dalam karya penulis-penulis pria yang menampilkan wanita sebagai makhluk yang dengan berbagai cara ditekan, disalahtafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarkal yang dominan (Djajanegara, 2000: 27). Kedua hasrat tersebut menimbulkan berbagai ragam cara mengkritik yang kadang-kadang berpadu. Misalnya, dalam meneliti citra wanita dalam karya sastra penulis wanita, perhatian dipusatkan pada cara-cara yang mengungkapkan tekanan-tekanan yang diderita tokoh wanita. Oleh karena telah menyerap nilai-nilai patriarkal, mungkin saja seorang penulis wanita menciptakan tokoh-tokoh wanita dengan stereotip yang memenuhi persyaratan masyarakat patiarkal. Sebaliknya, kajian tentang wanita dalam tulisan laki-laki dapat saja

menunjukkan tokoh-tokoh wanita yang kuat dan mungkin sekali justru mendukung nilai-nilai feminis. Di samping itu, kedua hasrat pengkritik sastra feminis memiliki kesamaan dalam hal kanon sastra. Kedua-duanya menyangsikan keabsahan kanon sastra lama, bukan saja karena

menyajikan tokoh-tokoh wanita stereotip dan menunjukkan rasa benci dan curiga terhadap wanita, tetapi juga karena diabaikannya tulisan-tulisan mereka.

Adapun jenis-jenis kritik sastra feminis yang berkembang dimasyarakat adalah:

Krtik ideologis.

Krtik yang mengkaji penulis-penulis wanita.

Kritik sastra feminis sosialis.

Kritik sastra feminis-psikoanalistik.

Kritik feminis lesbian.

Kritik feminis ras atau etnik. (Saraswati, 2003: 156).

Dalam bab ini penulis hanya akan membicarakan satu jenis kritik sastra feminis yang berkembang dimasyarakat. Krtik sastra feminis yang akan penulis kaji kali ini adalah kritik ideologis.

yaitu: Kritik sastra feminis ini melibatkan wanita, khususnya kaum feminis, sebagai pembaca. Yang menjadi pusat perhatian pembaca adalah citra serta stereotipe seorang wanita dalam karya sastra. Kritik ini juga meneliti kesalah pahaman tentang wanita dan sebab-sebab mengapa wanita sering tidak diperhitungkan, bahkan nyaris diabaikan.

Pada bab ini penulis akan menganalisis sebuah novel yang berjudul “See You in Uzlifatul Jannah (Sampai Bertemu di Serambi Surga)”  karya Feryanto Hadi yang mengisahkan tentang sebuah perjuangan seorang wanita Mu’allaf. Sebelum penulis menganalisis novel ini dari sudut pandang kritik ideologis, penulis mulai dari indikator feminisme atau feminisme lahir diakibatkan karena wanita itu selalu menjadi indikator seksualitas.

Dalam novel   “See You in Uzlifatul Janah”  ini pengarang menetapkan tokoh wanita sebagai tokoh utamanya, karena para feminis percaya bahwa pembaca wanita biasanya mengidentifikasikan dirinya dengan atau menempatkan dirinya pada si tokoh wanita.

Pada kritik feminis ideologis ini yang menjadi pusat perhatian pembaca adalah citra sorang wanita dalam karya sastera, jika dihubung kaitkan dengan novel di atas tokoh Elisa yang menjadi tokoh utamanya memiliki citra yang baik, dan disegani oleh semua karyawan yang ada dikantornya terlebih ia adalah seorang direktur yang memiliki jiwa seorang pemimpin Islam, sebagai seorang muallaf ia sangat berantusias memperdalam ilmu islam, dan dimata laki-laki sosok Elisa adalah sosok seorang gadis yang nyaris saja sempurna, selain cerdas, bijaksana, memiliki sifat pemimpin ia adalah seorang gadis yang cantik jelita, terlebih ketika dirinya terbalut oleh gaun muslimah yang indah.

Tapi walau bagai mana pun, sosok wanita selalu menjadi indikator seksualitas juga terdapat dalam novel ini, walaupun sosok Elisa adalah seorang muslimah yang selalu menggunakan pakaian tertutup dan sopan, namun sebuah peristiwa perampokan yang ia alami telah merenggut keperawanannya untuk yang kedua kali,sebab sebelum ia masuk islam, banyak peristiwa pahit yang ia alami itu dikarenakan pergaulannya yang salah dan ketidak tahuan akan dimanfaatkan seperti apa hidup didunia yang singkat ini.setelah ia betemu rini sahabat barunya yang kebetulan seorang muslimah yang taat kepada Allah, semakin tertariklah ia mempelajari agama yang paling sempurna dimuka bumi itu.

Pada kritik ideologis ini juga meneliti kesalah pahaman tentang wanita, yang selalu dinomor duakan. Padahal dalam kenyataanya tidak selamnya demikian, dalam novel See You in Uzlifatul Janah sosok perempuanlah yang menjadi inspirasi dan panutan dari para lelaki seperti pada kutipan novel berikut:

“,,,,,anda terlihat berwibawa juga difoto ini. Dan saya sangat salut loh mendengar prestasi-prestasi kerja anda dari Pak Edo. Saya sangat bangga menjadi asisten anda”

“Ahmad yang menjadi asisten Elisa hanya tercengang keheranan.ia tak menyangka , seorang wanita bisa juga melekukan hal ini, memimpin perusaahaan yang sudah hampir bangkrut. Figur wanita yang begitu cedas, tegas serta bijaksana dalam memutuskan suatu hal. Jiwa kepemimpinan benar-benar tampak darinya. Ia jadi ingat dengan sosok Siti Khadijah, istri Rasulullah yang begitu cerdasnya dalam melalukan pekerjaan berdagangnya serta cerdas dalam kehidupan rumah tangganya.”

Pada kutipan diatas jelas sosok permpuan sangat diperhitungkan dan dipandang layak untuk menjadi seorang pemimpin. Bahkan tokoh Elisa dalam novel ini memiliki karakter yang sangat kuat. Ini terbukti ketika begitu banyak cobaan serta siksaan batin maupun fisik yang ia terima tetap membuatnya kuat dan tegar menjalani hidupnya di jalan Islam. Seperti pada kutipan berikut saat ia disiksa oleh para perampok yang merampok mobilnya ketika itu ia disekap, dipukuli serta diperkosa oleh perampok itu.

Masya Allah, ternyata apa yang aku takutkan terjadi juga. Dia benar-benar telah memperkosaku. Dia telah menggunakan tubuhku sebagai pelampiasan nafsu bejatnya. Aku telah kembali kehilangan kehormatanku. Seberat inikah cobaan yang Engkau berikan kepada hamba Ya Allah!!! Bukankah aku maunusia biasa. Bukan seorang nabi yang begitu berat cobaannya?”

Tokoh Elisa adalah sosok yang tegar yang selalu bertawakal ia dalah seorang wanita yang mulia hanya saja nasib yang mengatakan demikian, ia bisa menerima semua cobaan ini tapi ia takut tidak demikian dengan calon suaminya “Sofa”  seperti pada kutipan berikut:

“Mungkin aku masih bisa menerima semua ini. Aku masih bisa bersabar atas kejadiaan yang memalukan ini. Tapi, apakah sofa masih mau menikah denganku? Apakah dia masih mau anak-anaknya kelak mempunyai ibu seperti aku?”

Pada kutipan diatas terlihat betapa tegar dan kuatnya sosok Elisa, ia tak mempermasalhkan tentang dirinya, justru sebaliknya, ia hanya takut calon suamiya akan terluka mengetahui kondisinya saat ini, tapi walau bagaimana pun ia harus tetap mengatakan hal yang sejujurnya tentang keadaannya saat ini. Diluar dugaan ketika Elisa hendak menyampaikan semuanya ternya sofa telah mengetahuainya sejak awal, jauh sebelum rini mengetahuinya. Dan sofa tak mempermasalahkan hal tersebut.

Insya Allah. Jika tidak ada halangan aku akan segera menikahimu. Sebenarnya sudah ada rencana seperti itu dalam diriku. Sudahlah kekasihku, masalah ini jangan lagi dibahas.lupakan dan tinggalkan semua kenangan buruk yang yang telah ada. Jangan jadikan ini sebagai pengganjal dalam engkau menempuh kehidupan yang mulia ini. Pandangan kita harus kedepan, bukan kearah belakang. Allah pasti sedang merencanakan sesuatu yang nikmatnya lebih besar dari yang kita bayangkan.”

“Jadilah wanita yang Shalaihah selamanya. Jangan pernah melalaikan kodratmu  sebagai insan yang mencita-citakan surga sebagai tujuan hidupnya. Itu yang aku inginkan dari kamu. Aku akan mencintai kamu selamanya, sepanjang nafasku masih ada, sepanjang masih kurasakan nadiku berdenyut…”

Dan sebab-sebab wanita sering tidak diperhitungkan. Bahkan nyaris di abaikan, itu sebabkan oleh sebuah kodrad yang menganggap manusia dari golongan seorang wanita terkesan lemah dari segi fisik. Dalam ilmu agama memang yang lebih mendominasi keuasaan adalah sorang lelaki, tapi dalm novel religi ini sosok seorang perempuanlah yang diangkat kepermukaan sebagai seorang yang sungguh mulia. Novel ini mengangkat tokoh wanita dari pandangan islam yang menarik bahwa perempuan didalam agama tidak selalu dinomor duakan, justru perempuan yang lebih banyak tertidas dimata agama adalah perempuan yang dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mulia,jika ia masih tetap bertahan dijalan Islam.

KESIMPULAN

Pada dasarnya apa yang dikehendaki pengkritik sastra feminis adalah hak yang sama untuk mengungkapkan makna-makna baru yang mungkin berbeda dari teks-teks lama selain itu mempertanyakan tolak ukur apa saja yang dipakai pengkritik sastra terdahulu sehingga sastera didominasi penulis laki-laki.

Dalam novel See You in Uzlifatul Jannah ini pengarang mengangkat sisi terkuat dari seorang perempuan, sebuah perjuangan seorang perempuan yang selalu tunduk pada ajaran Allah saat begitu banyak cobaan yang ia hadapi. Tanpa harus membuatnya dinomor duakan dari kaum laki-laki.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *