ANALISIS NOVEL GURU DANE KARYA ”SALMAN FARIS” DENGAN PENDEKATAN STRUKTURALISME GENETIK Oleh: Fitri Al-Azhara (E1C011011)

Artikel

ANALISIS NOVEL GURU DANE KARYA SALMAN FARIS DENGAN PENDEKATAN STRUKTURALISME GENETIK Oleh Fitri Al-Azhara E1C011011

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Pada hakikatnya sastra selalu berkaitan dengan masyarakat dan sejarah yang melingkupi penciptaan karya tersebut. Karya sastra seperti novel merupakan hasil pikiran atau kumpulan ide-ide yang menjadikan masyarakat atau keadaan sosial sebagai inspirasi, kemudian dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Sebagai penikmat sastra khususnya novel, untuk dapat memahami, menggali, dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra itu sendiri adalah dengan mengapresiasi karya sastra tersebut. Banyak hal yang dapat kita lakukan sebagai wujud apresiasi kita terhadap karya sastra. Salah satunya dengan membaca kemudian menilai atau mengkritik sebuah karya sastra. Dalam upaya menilai atau mengkritik sebuah karya sastra, kita harus memahami karya sastra itu sendiri dan harus mengacu kepada nilai yang terkandung dalam teks karya sastra dengan cara menyesuaikannya berdasarkan teori yang ada.

Salah satu teori yang dapat kita jadikan pisau bedah dalam menilai atau mengkritik sebuah karya sastra yaitu dengan menggunakan teori strukturalisme genetik. Strukturalisme genetik dikembangkan oleh Lucien Goldman (1975) yang merupakan seorang marksis. Pada dasarnya strukturalisme genetik melengkapi sutrukturalisme murni yang hanya menganalisis karya sastra dari aspek intrinsiknya saja dan memakai peranan bahasa sastra sebagai bahasa yang khas. Pendekatan ini dianggap sebagai satu-satunya pendekatan yang mampu merekonstruksikan pandangan dunia pengarang. Genetik diartikan sebagai asal-usul karya sastra yang meliputi pengarang dan realita sejarah yang turut mendukung penciptaan karya sastra tersebut.

Guru Dane adalah sebuah novel karya penulis Lombok yaitu Salman Faris yang juga seorang seniman teater. Novel ini menceritakan kehidupan masyarakat Sasak pada masa Penjajahan oleh Bali dan Belanda. Guru Dane adalah tokoh laki-laki yang memilik kekuatan sakti dan dianggap sebagai keturunan dari kerajaan Selaparang. Guru Dane berambisi untuk menjadi raja agar dapat mempersatukan masyarakat Sasak, dibantu oleh Sumar, Made Sudase, dan ketut kolang. Dalam menganalisis novel Guru Dane ini, teori strukturalisme genetik akan digunakan untuk menguak sisi Salman Faris secara lebih mendalam. Yaitu dengan mencari asal-usul pembentukan novel Guru Dane tersebut, tanpa mengabaikan struktur yang terdapat dalam novel itu sendiri.

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini yaitu bagaimanakah struktur dalam novel Guru Dane karya Salman Faris, pandangan sosial yang terdapat di dalamnya Salman Faris, serta struktur sosial pada sekitar waktu terciptanya novel Guru Dane?

  • Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui struktur dalam novel Guru Dane karya Salman Faris, pandangan sosial yang terdapat di dalamnya Salman Faris, serta struktur sosial pada sekitar waktu terciptanya novel Guru Dane.

  • Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini yaitu, agar kita mengetahui struktur dalam novel Guru Dane karya Salman Faris, pandangan sosial yang terdapat di dalamnya Salman Faris, serta struktur sosial pada sekitar waktu terciptanya novel Guru Dane.

BAB II

KAJIAN TEORI

2.1. Definisi Istilah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, genetika berarti cabang ilmu hayat yang menerangkan sifat turun-temurun;  ajaran tentang pewarisan. Secara etimologi, genetika berasal dari bahasa Yunani  atau genno yang berarti “melahirkan” merupakan cabang biologi yang penting saat ini. Ilmu ini mempelajari berbagai aspek yang menyangkut pewarisan sifat dan variasi sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion). Ada pula yang dengan singkat mengatakan, genetika adalah ilmu tentang gen. Nama “genetika” diperkenalkan oleh William Beteson pada suatu surat pribadi kepada Adam Chadwick dan ia menggunakannya pada Konferensi Internasional tentang Genetika ke-3 pada tahun 1906. Berdasarkan ilmu biologi gen adalah sifat yang diwariskan atau diturunkan dari orang tua, sedangkan kaitannya dengan dunia sastra adalah bagaimana pengaruh genetika atau latar belakang pegarang dalam menciptakan karya sastra.

Sedangkan secara epistemologis, strukturalisme genetik dapat diartikan sebagai sebuah analisis struktur dengan memberikan perhatian terhadap asal-usul karya dan terhadap analisis intrinsik dan ekstrinsik. Strukturalisme genetik pula sebuah pendekatan di dalam penelitian sastra yang lahir sebagai reaksi pendekatan strukturalisme murni yang anti-historis dan kausal. Pendekatan strukturalisme juga dinamakan sebagai pendekatan objektif. Pendekatan ini dianggap sebagai satu-satunya pendekatan yang mampu merekonstruksikan pandangan dunia pengarang. Genetik diartikan sebagai asal-usul karya sastra yang meliputi pengarang dan realita sejarah yang turut mendukung penciptaan karya sastra tersebut.

Strukturalisme genetik ini merupakan gerakan penolakan strukturalisme murni, yang hanya menganalisis unsur-unsur intrinsik saja tanpa mengindahkan hal-hal di luar teks sastra itu sendiri. Gerakan ini juga menolak peranan bahasa sastra sebagai bahasa yang khas, bahasa sastra. (Ratna, 2006: 121). Secara definitif, Ratna (2006: 123) menjelaskan lebih lanjut bahwa strukturalisme genetik adalah analisis struktur dengan memberikan perhatian terhadap asal-usul teks sastra. Meskipun demikian, sebagai teori yang sudah teruji validitasnya, strukturalisme genetik masih ditopang oleh beberapa konsep teori sosial lainnya; fakta kemanusiaan (Faruk, 1999: 12), simetri atau homologi, kelas-kelas sosial, subjek transindividual, dan pandangan dunia (Ratna, 2006: 123). Konsep-konsep inilah yang membawa strukturalisme genetik pada masa kejayaannya sekitar tahun 1980 hingga 1990.

2.2 Tokoh-Tokoh Pembangun

Historitas teori strukturalisme genetik. Orang yang dianggap sebagai peletak dasar madzhab genetik adalah Hippolyte Taine (1766-1817) seorang kritikus dan sejarawan Francis. Ia mencoba menelaah sastra dari presfektif sosiologis dan mencoba mengebangkan wawasan sepenuhnya ilmiah dalam pendekatan sastra seperti halnya ilmu scientific dan exacta. Menurutnya bahwa satra tidak hanya karya yang bersifat imajinatif dan pribadi melainkan suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya itu lahir. Ini merupakan konsep ginetik pertama tetapi metode yang digunakan berbeda, setiap tokoh mempunyai metodenya masing-masing. Tetapi kesamaan konsep setruktur hanya pada konteks hubungan phenomena konsep. Lucien Goldman (1975) seorang Marksis adalah orang yang kemudian mengembangkan fenomena hubungan tersebut dengan teorinya yang dikenal dengan strukturalisme genetic. Pada prinsifnya teori ini melengkapi sutrukturaisme murni yang yang hanya menganalisis karya sastra dari aspek intristiknya saja dan memakai peranan bahasa sastra sebagai bahasa yang khas. Strukturaisme genetic memasukan faktor genetik dalam karya sastra, genetik sastra artinya asal usul karya sastra. Adapun faktor yang terkait dalam asal muasal karya sastra adalah pengarang dan kenyataan sejarah yang turut mengkondisikan saat karya sastra iu diciptakan. Ditambah lagi ia memasuki struktur sosial dalam kajiaannya yang membuat teori ini dominan pada priode tertentu terutama di Barat dan Indonesia.

2.3 Metode Analisis

Langkah-langkah penerapan dengan metode strukturalisme genetik yang ditawarkan oleh Laurenson dan Swingewood yang disetujui oleh Goldman:

  1. Penelitian sastra itu dapat kita ikuti sendiri. Mula-mula diteliti strukturnya untuk membuktikan bagian-bagiannya sehingga terjadi keseluruhan yang padu dan holistik,
  2. Penghubungan dengan sosial budaya. Unsur-unsur kesatuan karya sastra yang dihubungkan dengan sosio budaya dan sejarahnya, kemudian dihubungkan dengan struktur mental yang dihubungkan dengan dunia pengarang,
  3. Untuk mencapai solusi atau kesimpulan digunakan metode induktif, yaitu metode pencarian kesimpulan dengan jalan melihat premis-premis yang sifatnya spesifik.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Struktur dalam Novel Guru Dane

Tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Guru Dane karya Salman Faris antara lain: Guru Dane, Sumar, Made Sudase, Lehok, Ketut Kolang, dan lain-lain dengan latar waktu berhubungan dengan keadaan masyarakat sasak pada masa penjajahan (1895-1920). Latar tempat yaitu di wilayah Pulau Lombok dan sekitarnya. Lingkungan kultural yang terdapat dalam novel tersebut berupa gubuk, pasar, agama Islam, agama Hindu, perdagangan, pengobatan, penjajahan, tarekat dan sebagainya. Kemudian lingkungan sosial berupa rakyat miskin, orang sakit, penjajah, perempuan-perempuan desa, dan lain-lain. Relasi oposisional yang terbentuk dari semesta imajiner di atas sebagai berikut.

  1. Oposisi kultural: aliran duniawi dengan tarekat, kerja ataupun mengemis dan akhirnya menjadi gila karena kemiskinan (menjadikan makanan dan harta benda sebagai pemuas nafsu) ataupun menjadi penjilat penjajah Belanda dan menghianati pribumi beroposisi dengan menjadikan harta benda sekedar sebagai penyambung hidup bahkan menjadi sesuatu yang tidak berharga.
  2. Oposisi alamiah: dunia sebagai pemuas nafsu dan dunia sebagai alat untuk mendapatkan kebahagiaan sejati di akhirat.
  3. Oposisi sosial: penjajah belanda dengan warga pribumi, Guru Dane dan penjajah.
  4. Oposisi manusia: Guru Dane dan Sumar pada akhir-akhir kisah dan yang berada di antara kedua kutub itu adalah Made Sudase dan Lehok.

3.2 Pandangan Dunia

Struktur yang terdapat dalam novel Guru Dane sebagaimana dalam pemaparan di atas mengekspresikan pandangan dunia yang “nasionalis-tragedis” dan “humanisme-religius” yang terangkum dalam sebuah ideologi besar bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Ideologi ini meyakini akan keberadaan Tuhan, akan tetapi Tuhan memberikan keleluasaan dan kebebasan manusia untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, tetapi bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga untuk kebahagiaan orang lain.

Sebenarnya pandangan tersebut sangat khas menjadi pandangan milik kaum kelas menengah yang menjadi perantara kelas bawah dan kaum bangsawan. Sebuah lingkungan kelas sosial yang identik terjadi pada masa orde lama maupun orde baru. Padahal novel Guru Dane diciptakan pada era globalisasi. Sebuah lingkungan sosial yang menjadikan benang pemisah antara strata sosial kabur dan tidak jelas. Isi-isu kesetaraan dan hak asasi menjadikan lingkungan sosial yang mendewakan perbedaan strata sosial menjadi hilang. Akan tetapi kita tidak bisa dipungkiri, meski Guru Dane lahir pada era globalisasi, sang pengarang yakni Salman Faris lahir dan menghabiskan masa kanak-kanaknya pada masa orde baru.

Selanjutnya mengenai motivasi penciptaan novel Guru Dane, sebagaimana yang dikatakan langsung oleh Salman Faris ketika menghadiri acara bedah karya novel Guru Dane yang diadakan BEM FKIP UNRAM tanggal 8 oktober 2011 di aula gedung A FKIP UNRAM, ialah sebagai upaya untuk menghadirkan sosok yang ditokohkan oleh masyarakat Sasak. Karena menurut penulis ( Salman Faris), suku Sasak adalah suku yang yatim, suku yang tidak memiliki pahlawan yang disepakati bersama, yang menjadi simbol kebanggaan kesukuan. Untuk itulah kehadiran Guru Dane diharapkan sebagai alternatif menghadirkan tokoh tersebut.

3.3 Struktur Sosial

Novel Guru Dane diciptakan ketika struktur sosial masyarakat Indonesia yang menekankan kesetaraan di segala lini. Sedangkan lingkungan sosial dalam novel masa sekitar penjajahan Belanda yang sangat menindas dan merugikan warga pribumi. Posisi penulis ialah sebagai pendongeng, pencerita atau pengisah ulang sejarah yang memang benar-benar telah terjadi sehingga sebagai bahan refleksi bagi pembaca.

BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan

Novel Guru Dane karya Salman Faris berisi tokoh-tokoh antara lain Guru Dane, Sumar, Lehok dan lain-lain yang pada masa penjajahan Belanda di Pulau Lombok mengalami berbagai macam konflik. Novel tersebut mengekspresikan pandangan dunia yang “nasionalis-tragedis” dan “humanisme-religius” dan diciptakan ketika struktur sosial masyarakat Indonesia yang menekankan kesetaraan di segala lini.

4.2 Saran

Setelah kita membaca dan mempelajari makalah ini, tentu akan menemukan banyak kekurangan, baik dari segi teori, metode maupun hasilnya. Untuk itu diharapkan kepada pembaca yang bergelut ataupun berminat pada dunia sastra untuk mengkaji kembali novel Guru Dane Karya Salman Faris tentunya dengan lebih mendalam dan menyeluruh.

DAFTAR PUSTAKA

Faris Salman. 2011. Guru Dane. Lombok: STKIP HAMZANWADI PRESS

Faruk. 2012. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Kutha Ratna, Nyoman. 2011. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta:Pustaka Pelajar

Arif. 2007. “Strukturalisme Genetik” (online), (http://arif-irfan-fauzi.blogspot.com, diakses tanggal 19 September 2013)

LAMPIRAN

Latar Belakang Pengarang

Salman Faris lahir di Rensing, Lombok Timur. Ia dilahirkan oleh perempuan Sasak yang miskin dan buta huruf. Tetapi dari ibunya ia banyak belajar hitam putihnya hidup. Dalam usia belia, ibunya memasukkannya ke pesantren untuk belajar membaca al-Qur’an. Hingga ia sampai di Ma’had Darul Qur’an wal Hadits (MDQH) NW Pancor. Hidup dalam kemiskinan selama nyantri di Pancor memicunnya bersentuhan dengan dunia seni karena menurutnya, melalui media inilah ia bisa mempertahankan jati dirinya di tengah ajaran pesantren yang ketat.

Setelah lulus dari Pancor, ia pergi ke Yogyakarta, dan belajar drama dan film di Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) Yogyakarta. Setelah itu, ia memelajari dramaturgi di jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Atas dorongan ibunya pula, ia melanjutkan ke program pascasarjana ISI Yogyakarta untuk mendalami pengkajian seni pertunjukan. Dalam banyak kesempatan ia sering mengungkapkan penghargaan dan kerinduannya pada masa lalu, seperti rindu kepada anak-anak didiknya sewaktu menjadi kepala sekolah TK dan SD swasta di Batu Aji Batam pada akhir tahun 90-an.

Salman Faris telah menulis beberapa novel. Novel kontroversinya “Tuan Guru” (2007), novel Best seller yang ia tulis bersama penulis perempuan Sasak Eva Nourma yakni “Perempuan Rusuk Dua” (2009), dan yang ketiga novel “Guru Dane” (2011). Pernah menjadi direktur Lombok Inti Media, dan kini aktif sebagai penulis, pengkaji kebudayaan, dan pendidik di jurusan Bahasa dan Seni STKIP HAMZANWADI SELONG.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *