taman 1

analisis puisi berjudul taman dengan menggunakan lapis strata ingarden

Non Fiksi

Pendahuluan

Pertama dalam banyak pilihan puisi yang diberi, saya terlebih dahulu memilah milah mana yang akan saya analisis. Pada titik akhirnya saya tertarik dengan judul puisi “Taman” ini, karena baru saja saya hanya membaca beberapa baris, saya langsung terinspirasi dengan kata Kupu-Kupu dan Bunga pada yaitu pada bait pertama, hal itu menginspirasikan saya akan seseorang dengan sebuah pekerjaan yang dimana seseorang butuh yang namanya suatu pekerjaan demi memenuhi tuntutan kehidupan. Karena dengan bekerja orang akan dapat melangsungkan hidupnya dengan hasil jerih payahnya entah itu berupa uang atau materi, berbeda dengan yang tidak melakukan maka akan jadi sebaliknya, tidak akan memperoleh apapun.

“Taman”

Oleh : ASHMANSYAH TIMUTIAH

Kupu-Kupu terbang

dari bunga ke bunga

dalam taman menghisap hidup

hisap menghisap

tak ada luka, tak ada duka, tak ada dusta

dalam taman, dalam hutan tak terbatas

kupu-Kupu dan bunga menari menjaga keseimbangan

disini

berlomba membangun taman

menjaga kepentingan

berkecup ludah, berkecap darah, mengumbar syahwat

mendekap kekuasaan

dunia jadi taman sengketa

tuhan dalam ayunan

ditaman belakang

Analisis Berdasarkan Strata Norma Roman Ingarden

Lapis Suara (Sound Stratum)

Pada bait pertama dari baris satu sampai empat terdapat asonansi a dan e. lalu baris ke lima terdapat asonansi a dan u.

Pada bait ke Dua terdapat juga asonansi a,u dan e.

Pada bait ke Tiga sebagian besar berasonansi a dan e. Pola sajak akhiran (an) yang saling berselingan dengan sela satu baris seperti “kepenting-an, kekuasa-an, ayun-an”. Pada umumnya pada lapisan suara ini yang dominan adalah vokal bersuara berat a dan e. Dapat terlihat dari bait satu sampai akhir, namun ada juga vockl u, namun pada puisi ini vokal u, kurang dominan.

Lapis Arti (Units of meaning)

Dalam bait pertama “Kupu-Kupu terbang dari bunga ke bunga dalam taman menghisap hidup tak ada luka, tak ada duka, tak ada dusta” dapat diartikan yaitu orang yang membutuh suatu pekerjaan yang berelalu lalang mencarinya. Ketika ia mendapatkannya dari sanalah ia mendapatkan kebutuhan untuk melangsungkan hidupnya dari hasil pekerjaannya itu, semua ia lakukan tanpa rasa perih, sedih, dan memandang buruk pekerjaannya itu.

Dalam bait kedua “dalam taman, dalam hutan tak terbatas, Kupu-Kupu dan bunga menarimenjaga keseimbangan” dapat diartikan dalam mata pencahariannya itu dalam waktu yang tidak ada batasnya ia menyesuaikan dirinya dan pekerjaannya secara selaras.

Dalam bait terakhir yaitu bait ketiga “ disini, berlomba membangun taman menjaga kepentingan “ dapat diartikan bahwa ia membangun sendi kehidupannya dengan hasil jerih payahnya itu. Selanjutnya baris lanjutannya yaitu “berkecup ludah, berkecup darah, mengumbar syahwat, mendekap kekuasaan” dapat diartikan mengorbankan jiwa dan raga dengan keinginan untuk dapat beralih dari kehidupannya yang lalu. Selanjutnya baris lanjutannya sam pai akhir yaitu “dunia jadi taman sengketa, tuhan dalam ayunan, di taman belakang” dapat diartikan dunianya sendiri bagaikan sebuah perebutan antara keadaannya sendiri dengan waktu yang bergulir atau dengan kata lain melawan waktu, dan tetap dimanapun mahluknya berada tuhan akan selalu mengawasi dalam singgasananya.

Lapis ketiga

Lapis satuan arti menimbulkan lapis yang ke Tiga, berupa objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, dan dunia pengarang.

  1. Objek yang dikemukakan : Kupu-Kupu, bunga, taman, hidup, hisap, luka, hutan, menari, ludah, darah, syahwat, dunia, tuhan, ayunan.
  2. Pelaku / tokoh : Kupu-Kupu
  3. Latar / waktu : Pagi, menjelang siang
  4. Latar tempat : Sebuah tempat berupa taman namun terletak didalam hutan.

 

Dunai pengarang adalah cerita yang merupakan dunia yang diciptakan oleh si pengarang, ini merupakan gabungan dari ke Empat komponen diatas.

Bait 1 :

Kupu-Kupu yang terbang dari bunga ke bunga didalam taman mencari sumber makanan yaitu dengan menghisap sari-sari bunga yang ada. Menghisap  sari bunga dari bunga ke bunga yang lain tidak ada yang saling merugikan antara bunga dan Kupu-Kupu Karena dapat saling menguntungkan dimana bunga dapat mengalami penyerbukan karena Kupu-Kupu dan Kupu-Kupu dapat memperoleh sari-sari juga dari bunga tersebut, semua itu adalah kenyataan dan bukan sesuatu hal kebohongan.

Bait 2 :

Di dalam taman dalam hutan yang tak terbatas oleh pandangan Kupu-Kupu dan bunga saling menjaga keseimbangan alam dalam taman tersebut.

Bait 3 :

Disini di taman saling berlomba saling menjaga kepentingan, Kupu-Kupu berkecup ludah, berkecap  darah, dan saling mengumbar syahwat menguasai keadaan taman seakan-akan dunia taman menjadi dunia sengketa, tuhan pun dalam ayunan yang berada di taman belakang.

Lapis keempat              

Orang yang berlalu lalang untuk sebuah pekerjaan kesana kemari untuk mencari kebutuhan hidup. Dalam kehidupan sendiri terus berusaha tanpa mengenal pedih dan sedih semua menjadi dalam realita alam hidupnya. Dalam pencariannya yang tidak ada batasnya orang dan pekerjaannya harus sesuai. Berusaha membangun sendi-sendi kehidupan mengorbankan jiwa raga untuk menuai hasil, pekerjaan seolah-olah menjadi sebuah perebutan antara keadaan dirinya dengan waktu. Tuhan senang dengan kegigihan yang baik dan akan mendapat balasan pada hari kemudian, karena tuhan memperhatikan kita.

Lapis kelima

Kita dapat menyadari orang susah sekalipun membutuhkan yang namanya suatu pekerjaan. Entah ini kerja ini itu hanya untuk dapat menyambung hidup, terus bekerja tanpa mengenal lelah, sedih, dan semua berjalan apa adanya. Berusaha membangun kesejahteraan hidupnya walaupun harus mengorbankan semuanya demi memetik hasil yang di inginkan. Karena seperti yang kita ketahui saat ini yang namanya pekerjaan seolah-olah menjadi sebuah ajang perebutan. Karena tuhan juga mengawasi kita sekalian.

Penutup

Setelah analisis puisi diatas saya dapat menyimpulkan bahwa yang lebih dominan dari kelima lapis terhadap puisi diatas yaitu semua lapis dominan, karena seperti yang kita ketahui analisis yang tanpa menghubungkan denga setiap penilaian dari tiap lapis ke lapis selanjutnya merupakan kesalahan analisis, alasan ini lebih merujuk ke pendapatnya Wellek (1968:156). Jadi dengan analisi strata norma, akan didapatkan makna sepenuhnya dan dapat dipahami sebagaikarya seni yang bernilai puitis atau estetis.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *