Analisis Puisi “Jalan Pintas” Karya Dian Hartati

Kepenulisan, Non Fiksi, Teori Sastra

jalan

 Dian Hartati

 JALAN PINTAS

 

hanya ada gelisah purnama saat ini

ketika rekah cahaya membelah langit

menurunkan hujan yang lama beku

 

gelegar petir membawa silau cahaya

ada malaikat di sana

menatap langit dan meninggalkan lubang

jalan menuju akhirat

 

Sudut Bumi, 2 Maret 2005

 

  1. LATAR BELAKANG

 

“Puisi adalah catatan yang terbaik dan saat-saat paling bahagia dari bahagia dan pikiran terbaik.”

 

Ungkapan di atas adalah pengertian puisi menurut Percy Bysshe Shelley. Saya memiliki perspektif lain tentang hal ini. Menurut saya, puisi adalah rektoverso dari keindahan dan ketidakindahan. Puisi adalah tentang bagaimana dua hal yang dianggap berbeda bisa menjadi satu. ini seperti sabun yang menjadi katalis antara minyak dan air, puisi dapat menunjukkan kejelasan atas sesuatu yang tidak jelas atau sebaliknya, mengaburkan sesuatu yang sudah jelas. Karena hakekatnya semua hal itu memang adalah satu.

Menurut saya keindahan sebuah puisi tergantung pada kejelasan konsep, ide, dan perenungan penulisnya, ini dapat berhubungan dengan rasa yang dapat ditunjukkan orang lain saat membaca puisi karianya. Penulis yang menulis puisi yang berasal dari konsep, ide, dan perenungan yang jelas cenderung menunjukkan pengaburan pemikiran pada puisi-puisinya. Berbeda dengan penulis yang berasal dari konsep, ide, dan perenungan yang belum jelas, tulisan-tulisannya akan menunjukkan usaha untuk menjelaskan itu semua dengan kalimat-kalimat yang indah.

Puisi berjudul “Jalan Pintas” karya Dian Hartati merupakan puisi yang berasal dari kejelasan pemikiran penulisnya. Menceritakan bagaimana konsep “akhir” yang sesungguhnya, bukannya mengaburkan. Inilah yang membuat saya memilih puisi ini untuk kemudian dinikmati setiap lapisnya menggunakan strata norma Roman Ingarden.

Sebelum membahas lebih lanjut ada baiknya kita sama-sama mengetahui apa itu strata norma dalam puisi. Strata norma dalam puisi digunakan untuk mengetahui semua unsur (fenomena) yang terkandung dalam karya sastra. Sebuah karya sastra terdiri dari berbagai strata (lapis) norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma dibawahnya. Rene Welek (1968: 151), mengemukakan analisis Roman Ingarden, seorang filsuf Polandia,  dibukunya Das Literarische Kunstwerk (1931). Ia menganalisis norma-norma sebagai berikut:

  1. Lapis bunyi (sound stratum), dalam lapis ini yang terkandung merupakan rangkaian bunyi yang dibatasi jeda, tekanan nada, tempo dll.
  2. Lapis arti (unitsof meaning), yang berupa rangkaian fonem, suku kata, frase dan kalimat. Kalimat membentuk alinea, bab, dan keseluruhan cerita.
  3. Lapis ketiga:
  4. Latar (tempat, waktu, dan suasana),
  5. Pelaku,
  6. Objek yang dikemukakan,
  7. Dunia pengarang yang berupa lukisan atau cerita pengarang.
  8. Lapis keempat, lapis dunia yang tak usah dinyatakan atau dikemukakan, tetapi sudah implicit.
  9. Lapis kelima, lapis metafisis yang menyebabkan pembaca berkontemplasi.

 

Roman Ingarden meninggalkan dua lapis norma, yang menurut Welek dapat dimasukkan kedalam lapis yang ketiga, adapun dua lapis norma tersebut adalah sebagai berikut:

 

  1. Lapis dunia, yang terkandung didalamnya implied, artinya sebuah peristiwa dalam sastra dapat dikemukakan atau dinyatakan terdengar atau terlihat.
  2. Lapis metafisis, yang berupa sifat metafisis yang sublim (tragis, menakutkan dan mengerikan, dan yang suci)

 

  1. PEMBAHASAN

 Sesuai dengan strata norma menurut Roman Ingarden, pertama-tama saya akan membahas lapis paling luar dari puisi Jalan Pintas karya Dian Hartati, dilanjutkan dengan lapis-lapis berikutnya.

 

LAPIS BUNYI

Menurut saya puisi karya Dian Hartati ini tidak terlalu memperhatikan aspek bunyi. Saya tidak dapat merasakan kesan magis kesengajaan penggunaan bunyi-bunyi kakofoni atapun eufoni. Hanya ada beberapa hal saja yang mungkin dapat mewakili penggunaan bunyi-bunyi khusus dengan sengaja. Seperti pada bait pertama hanya ada gelisah purnama saat ini, terdapat asonansi vokal a di sini, mungkin mewakili puncak atau perasaan yang benar-benar sudah bulat, perasaan yang pasti. Dan yang menarik adalah bait akhir dari puisi ini yang ditutup dengan bunyi kakofoni t pada jalan menuju akhirat. Entah ini merupakan kesengajaan atau tidak puisi ini ditutup dengan bunyi kakofoni, tapi bagi saya bunyi t di akhir bait puisi ini menimbulkan kesan yang berat dan bukan menunjukkan kebahagiaan, tentang akhir yang masih memiliki perjalannya untuk benar-benar berakhir.

 

LAPIS ARTI

Keseluruhan cerita pada puisi ini banyak menggunakan diksi yang menggambarkan kesiapan, kepastian, kebesaran (ini akan saya bahas pada lapis dunia). Misalnya pada bait pertama dikatakan hanya ada gelisah purnama saat ini, maksudnya adalah pada saat ini aku lirik dalam puisi ini hanya memiliki gelisah yang seperti purnama. Atau menurunkan hujan yang lama beku yang berarti hujan yang turun setelah lama beku atau tidak turun.

 

LAPIS DUNIA PENGARANG

Dalam puisi ini digambarkan suasana yang bergejolak namun tenang, hujan. Dengan objek-objek seperti hujan, petir, kilat cahaya, mendung, penulis menggambarkan bagaimana riuhnya saat hujan yang disertai petir namun dengan ketenangannya aku lirik dalam puisi ini menikmati itu semua.

Ada beberapa hal yang dapat kita tarik sebagai kesimpulan dalam puisi ini, misalnya latar waktu dapat kita katakana saat malam hari karena menyebutkan purnama di sana, atau bukan malam jika kita hanya menganggap purnama sebagai majas saja dan bukan menjadi objek. Yang dapat dipastikan adalah latar suasana dimana digambarkan suasana mendung yang kemudian turun hujan disertai suara petir. Semua itu menggambarkan suasana yang bergejolak namun dihadapi dengan tenang, menurut saya seperti itu.

 

LAPIS DUNIA

            Pemahaman awal saya tentang puisi ini sejak awal adalah tentang penantian yang pasrah seseorang. Ini karena pada setiap lariknya ada pengertian-pengertian yang menuju ke arah pemikiran tersebut. Misalnya: hanya ada gelisah purnama saat ini, kata purnama menjadi objek dalam larik ini. Mengapa purnama? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia purnama berarti saat bulan bersinar penuh atau penghabisan bulan tanggal 30 atau 31, purnama dapat berarti akhir. Pertanyaannya akhir yang seperti apa? Pengetahuan umum menuntun purnama bermakna saat bulan bersinar penuh, terlihat indah, besar, di atas langit, mengisyaratkan bahwa sebentar lagi adalah penanggalan bulan baru. Untuk pengetahuan itu dapat kita artikan gelisah purnama sebagai rasa gelisah yang memuncak untuk mengakhiri sesuatu karena mengetahui akan ada waktu untuk memulai lagi.

 

LAPIS METAFISIK

Banyak orang yang tidak mengerti apa yang mereka rasakan saat di akhir perjalanan. Padahal akhir bukanlah akhir. Dia adalah kesempatan, kesempatan untuk memulai lagi. Karena pada hakikatnya, awal dan akhir hanyalah sekeping uang logam.

 

  1. BAGIAN TERSULIT DARI MENGAKHIRI

 

Akhir? Kadang ini menjadi momok yang menakutkan. Tentang alasan akan terlalu banyak untuk disebutkan di sini. Mulai dari ketidakikhlasan, rasa iri, kenyamanan berlebih pada apa yang sudah ada, dan lain-lain.

Banyak orang yang mengalami itu karena ketidak mengertian mereka. Tentang bagaimana ketegangan selalu memiliki ketenangan di baliknya. Tentang rasa was-was yang selalu memiliki kedamaian di dalamnya. Tentang gelisah sebesar purnama yang tidak mengerti betapa indahnya purnama itu sendiri. Tentang akhir yang selalu memiliki awal pada dirinya sendiri.

Hal yang tidak dimengerti banyak orang adalah kapan harus memutar uang logam mereka sendiri. Kadang kita hanya tidak mengerti, bagian tersulit dari mengakhiri adalah memulai lagi –bagian lucunya adalah ini juga merupakan bagian terindah dari sesuatu yang mungkin memang harus berakhir.

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *