jalan sunyi 1

ANALISIS PUISI JALAN SUNYI KARYA M. MUS’AB DENGAN STRATA NORMA ROMAN INGGARDEN

Non Fiksi

JALAN SUNYI

jalan sunyi membaca jejak hidupku

tapi pengembaraanku tak mengenal waktu

sebab perahu jiwaku selalu tegar berlayar

dan tak pernah pecah oleh haluan

 

jalan sunyi membaca desah napasku

namun petualanganku tak terseret nasib

karena kata-kata dalam hatiku selalu lantang

dan tak pernah bisu tertutup ruang

 

jalan sunyi membaca detak jantungku

lalu kemanakah mengalir darahku.?

di manakah letaknya keping hatiku.?

dan apakah wajahku misteri seribu rupa.?

 

jalan sunyi jalan menuju

jalan rumah-Mu jalan yang senyap

jalan yang satu jalan yang lurus

 

 A. Analisis strata norma Roman Inggarden

  1. Lapis bunyi (sound stratum): Sajak tersebut berupa satuan-satuan suara: suara suku kata, kata, dan barangkali merupakan seluruh bunyi (suara) sajak itu: suara frase dan suara kalimat. Jadi lapis bunyi dalam sajak itu ialah semua satuan bunyi  yang berdasarkan konvensi bahasa tertentu, disini bahasa Indonesia. Hanya saja dalam puisi pembicaraan lapis bunyi haruslah ditujukan pada bunyi-bunyi atau pola bunyi yang bersifat istimewa atau khusus, yaitu yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni.
  2. Lapis arti (unit of meaning): Satuan terkecil berupa fonem. Satuan fonem berupa suku kata dan kata. Kata bergabung menjadi kelompok kata, kalimat, alinea, bait, bab, dan seluruh cerita. Itu semua merupakan satuan arti.
  3. Lapis Ketiga: Lapis satuan arti menimbulkan lapis ketiga, berupa objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, dan dunia pengarang.
  4. Lapis Keempat: Lapis “dunia” yang tak usah dinyatakan, tetapi sudah implisit
  5. Lapis Kelima: Lapis kelima adalah lapis metafisis yang menyebabkan pembaca berkontemplasi.                                                                         B.Pembahasan                                                                                       1. Analisis lapis bunyi puisi “jalan Sunyi”

Pada bait pertama baris pertama terdapat penekanan asonansi bunyi a dan u begitu pula pada baris kedua, baris pertama dan kedua bersajak a-a yang menekankan pada asonansi bunyi u. Pada baris ketiga terdapat aliterasi r secara selang-seling: sebab perahu jiwaku selalu tegar berlayar. Baris keempat terdapat aliterasi h secara berurutan: dan tak pernah pecah oleh haluan.

Pada bait kedua juga diawali dengan jalan sunyi sebagaimana pada bait pertama baris pertama, bait ketiga dan bait keempat, yang selalu menekankan asonansi bunyi a dan u. pada baris kedua terdapat aliterasi n dan t secara selang-seling: namun petualanganku tak terseret nasib. Pada baris ketiga terdapat asonansi bunyi a yang dominan: karena kata-kata dalam hatiku selalu lantang. Pada baris keempat terdapat asonansi bunyi u: dan tak pernah bisu tertutup ruang. Pada baris ketiga dan keempat terdapat pola persajakan a-a yang diakhiri oleh bunyi ng.

Pada bait ketiga terdapat penekakan asonansi bunyi a dan u, pada baris pertama sampai baris ketiga selalu diakhiri dengan bunyi vokal u dengan pola persajakan a-a-a yang menambah kehalusan bunyi. Sedangkan dari baris kedua sampai keempat selalu diakhiri dengan tanda tanya (?) yang menambah penekanan pada bunyi vokal /u/, /u/, dan /a/.

Pada bait keempat terdapat aliterasi j dan asonansi bunyi u, konsonan /j/ selalu terdapat pada awal baris yang menambah keindahan pelafalan:

jalan sunyi jalan menuju

jalan rumah-Mu jalan yang senyap

jalan yang satu jalan yang lurus

2. Lapis arti (unit of meaning)

Pada bait pertama: ‘jalan sunyi membaca jejak hidupku’ berarti: perjalanan hidupku selalu diiringi oleh kesepian dan kesendirian. ‘tapi pengembaraanku tak mengenal waktu’ berarti: perjuanganku dalam hidup ini tidak akan terhenti hingga maut tiba. ‘sebab perahu jiwaku selalu tegar berlayar’ berarti: aku selalu teguh pendirian dan tak gentar dalam mengahadapi kehidupan yang keras ini. ‘dan tak pernah pecah oleh haluan’ berarti: hidupku tidak akan berakhir dengan sia-sia karena aku berusaha lebih kuat daripada masalah.

Bait kedua: desah napas si aku selalu diselimuti oleh kesunyian namun perjalan hidupnya tak terbawa oleh nasib yang tidak baik, karena kata-kata dalam hatinya selalu lantang dan tak pernah bisu tertutup oleh ruang. ‘ruang’ berarti dunia sekitar yang memberikan pengaruh besar dalam kehidupan.

Bait ketiga: pada bait ini si aku mulai menanyakan eksistensi dirinya sendiri atau hakikat keberadaannya di dunia ini. ‘jalan sunyi membaca detak jantungku’, ‘lalu kemanakah mengalir darahku.?’ Berarti: si aku menanyakan bagimanakah tujuan hidupnya, ‘dimanakah letaknya keping hatiku’ berarti: si aku masih kebingungan menemukan arah hatinya dengan kata lain ia masih dalam kebimbangan dan keraguan sehingga ia bertanya ‘dan apakah wajahku misteri seribu rupa’ artinya: ia bertanya apakah ia memiliki banyak karakter dan perbuatan yang berlainan yang justru akan membawa kepada kehinaan.

Pada bait keempat si aku sudah menemukan jawaban atas perenunganya, sehingga ia mendapatan jawaban yang begitu mantap ‘jalan sunyi jalan menuju jalan rumah-Mu jalan yang senyap jalan yang satu jalan yang lurus’ berarti: si aku menyadari dengan sepenuhnya bahwa jalan sunyi itulah jalan menuju Tuhan, jalan yang satu dan jalan yang lurus.

3. Lapis ketiga

Lapis satuan arti menimbulkan lapis ketiga, berupa objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, dan dunia pengarang.

Objek-objek yang dikemukakan: jalan sunyi, jejak hidupku, pengembaraanku, desah napasku, detak jantungku, wajahku, dan rumah-Mu. Latar waktu: waktu malam yang gelap, hening dan sunyi. Latar tempat: jalan yang sunyi menuju jalan rumah-Mu, yang senyap yang satu dan yang lurus.

Dunia pengarang ialah ceritanya yang merupakan dunia yang diciptakan oleh pengarang. Ini merupakan gabungan dan jalinan antara objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, serta struktur ceritanya (alur); sebagai berikut:

Mengisahkan tentang tokoh si Aku yang menempuh jalan kesunyian dalam hidupnya, yang dihadapi dengan tegar dan lantang tanpa terseret oleh nasib hidupnya yang tidak menentu. Tokoh si Aku selalu berani dan hati-hati dalam menjalani hidupnya, ia pun bertanya kepada dirinya sendiri menganai hakikat dan keberadaannya di dunia selama ini. Namun, pada akhirnya ia menemukan jawaban atas pertanyaan itu dengan mantapnya ia meyakini jalan sunyi itu jalan menuju Tuhan, jalan yang sepi karena jarang ada orang yang mau menempuhnya, jalan yang satu karena hanya jalan itulah satu-satunya yang membawa kepada kebenaran, dan jalan yang lurus karena membawa kepada kebaikan dan tidak menyimpang ke jalan yang menyesatkan.

4. Lapis keempat

Lapis “dunia” yang tak usah dinyatakan, tetapi sudah implisit, tampak sebagai berikut.

Pada bait pertama dan kedua tokoh si Aku menunjukkan sikapnya dalam menempuh hidup dengan ketegaran dan kesabaran walaupun ujian dan cobaan menghadang bak batu karang, namun ia tak mau terbawa oleh nasib yang tidak menentu. Ia bertekad mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

Pada bait ketiga tampak bahwa tokoh si Aku menanyakan eksistensi dan hakikat hidupnya di dunia ini. Selain itu, pada bait ini tokoh si Aku mencari tujuan hidup yang sesungguhnya dengan bertanya kepada diri sendiri (merenung).

Pada bait keempat tokoh si Aku sudah menemukan hasil perenungannya selama ini. Ia mendapat jawaban atas pertanyaannya selama ini, bahwa jalan yang benar itu hanyalah jalan menuju Tuhan, bukan jalan yang lain.

5. Lapis kelima

Lapis kelima adalah lapis metafisis yang menyebabkan pembaca berkontemplasi, dalam sajak jalan sunyi ini pembaca mendapatkan inspirasi dan pelajaran yang sangat berharga yakni kesunyian bukan berarti kesendirian, karena dalam kesunyian itu kita bisa mendapakan kebenaran yang datang dari Tuhan. Kebanyakan dari kita terkadang terlalu sibuk dengan keramaian dan rutinitas, sehingga kita lupa akan kesunyian yang mampu mengantarkan pada Tuhan. Dan satu hal lagi puisi ini memberikan pemahaman bahwa jalan sunyi itu bukanlah ketika kita berada dalam kesendirian dan ditinggalkan oleh orang-orang di sekitar kita, namun jalan sunyi itu ialah ketika orang lain sibuk dengan keramaian duniawi sedangkan kita larut dalam kesunyian berdua bercengkerama dengan Tuhan.

Hasil kontemplasi terhadap puisi ini pada dasarnya memberikan pelajaran kepada pembaca berupa nilai-nilai positif yang mesti diteladani dan diaplikasikan dalam kehidupan sebagai makhluk Tuhan sekaligus sebagai makhluk sosial. Secara spesifik pelajaran yang hendak disampaikan penyair melalui puisinya sebagai berikut:

  1. Hendaknya kita memiliki tekad dan keinginan yang teguh, tegar, dan istiqomah dalam mengarungi bahtera hidup ini, kendati ujian dan cobaan menghadang bak batu karang dan ombak besar yang setiap waktu siap menggulung menenggelamkan kita.
  2. Hendaknya kita memiliki pandangan dan sikap yang pasti, tidak goyah oleh omongan dan perbuatan orang lain yang melemahkan perjuangan, berani menyuarakan pemikiran dan pendapat dalam situasi yang bagaimanpun.
  3. Hendaknya sikap dan perbuatan dijiwai oleh kemauan dan kemampuan mengitrospeksi diri, bertanya pada diri sendiri kemanakah angan dan cita-cita harus diarahkan sambil berusaha memahami karakter pribadi.
  4. Bagaimanapun luasnya pemikiran dan pandangan itu, hendaknya mengarah pada satu haluan dan jalan, yakni jalan yang lurus, jalan menuju kehendak dan keridaan Sang Pencipta.                                                                     C. Simpulan

Membaca puisi jalan sunyi sangat berbeda dengan puisi-puisi lain, nilai religi yang sangat kental dan ambisi perjuangan sang penyair yang sangat kuat memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap pembaca puisi ini. Semangat terasa berkobar dan hati menggebu-gebu seolah-olah jiwa menjadi memberontak dengan keadaan diri yang tidak sesuai dengan tuntunan kebenaran. Sungguh puisi yang sangat apik dan pantas dibaca oleh siapa saja yang memerlukan pencerahan dan penyemangat hidup.

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *