“Analisis Semiotik Novel Sanggarguri ‘Kembang Gadung’ Menggunakan Teori Semiotika Charles Pierce”

Resensi

A. Pengantar

Karya sastra selalu mempunyai banyak hal yang menarik sehingga memiliki dunia tersendiri yang menarik untuk di bahas. Keunikannya yang bisa di masuki oleh siapa pun atau apapun meski tak memiliki latar yang sama. Sastra lahir bukan dari alam kekosongan sangatlah tepat menggambarkan kesaktian sastra yang terus berkembang tiap zaman. Novel, bagian dari sastra juga memiliki daya magis tersendiri yang mampu menarik siapapun walau hanya dengan judulnya. Karena keunikan magisnya, sehingga memiliki daya tarik tersendiri untuk teliti dengan metode-metode tertentu walaupun hanya untuk mengetahui makna tersirat dalam sebuah novel.

Salah satu Novel yang sedang menjadi primadona di kalangan Sastra Lombok adalah Novel Sanggarguri yang merupakan salah satu karya sastra fenomenal asli dari Lombok. Untuk memahami makna yang tersirat dalam novel tersebut ada beberapa cara untuk mengkajinya salah satunya dengan teori semiotika, alasan dipilihnya analisis semiotika dikarenakan dalam novel ini banyak menggunakan tanda-tanda yang menjadikannya multitafsir sehingga sangat cocok dengan teori semiotika yang mampu menguraikan tanda-tanda tersebut, khusus teori semiotika Charles Pierce.

Dalam pembahasan yang menjadi kajian kelompok kami adalah pada bab ‘Kembang Gadung’. Sesuai dengan namanya, dalam bab ini membahas isi novel tentang tanaman yang disebut Kembang Gadung yang merupakan tanaman yang di berikan oleh Guru Sanggarguri sang musafir kelana. Pencarian jati diri dan kebenaran yang di ibaratkan sebagai tanaman langka Kembang Gadung yang bisa interpretatifkan sebagai Guru Sanggarguri, Guru Mesrah sosok yang aneh yang memberikan fana jawaban, serta Fana seseorang yang sedang mencari guru spiritual untuk dirinya. Berdasarkan Hal-hal tersebut kami sepakat menggunakan kajian teori semiotika.

B. Rumusan Masalah

Dari pengantar diatas kami mengambil sebuah rumusan masalah:

Bagaimanakah Sistem Tanda Pada Novel Sanggarguri, Bab ‘Kembang Gadung’ Menggunakan Analisis Semiotika Charles Pierce?

C. Tujuan

Dari rumusan masalah diatas, tujuan analisis yang kami lakukan adalah sebagai beriku:

 Mengetahui apa sajakah yang menjadi sistem tanda yang terdapat pada novel
 Mengetahui bagaimanakah hubungan/keterkaitan sistem tanda tersebut
 Mengetahui makna tanda-tanda tersebut

D. Landasan Teori

Teori Tanda (Charles Sanders Pierce)

Aart Van Zoezt menuturkan Charles Sanders Pierce adalah salah seorang tokoh filsuf yang paling original dan multidimensional, begitupun komentar Paul Cobley dan Litza Jansz, Pirce adalah seorang pemikir yang argumentatif.[1]

Pierce terkenal dengan teori tandanya. Di dalam lingkup semiotika, Pierce, sebagaimana dipaparkan Lechte, seringkali mengulang-ulang bahwa secara umum tanda adalah yang mewakili sesuatu bagi seseorang.[2]

Charles Sanders Pierce menjelaskan bahwasanya kita hanya dapat berfikir dengan medium tanda, manusia hanya dapat berkomunikasi lewat saran tanda.[3] Sedangkan pengertian tanda itu sendiri ialah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain dalam satu kapasitas tertentu.[4]

Pada saat yang nyaris bersamaan dengan saat ketika F. Saussure mengungkapkan teori tentang tanda menurut versinya, Charles Sanders Pierce juga mengungkapkan hal yang kurang lebih sama. Ia mendefinisikan tanda sebagai yang terdiri atas representamen (seecara harfiah bearti: sesuatu yang melakukan representasi) yang merujuk ke objek (yang menjadi perhatian representamen).[5]

Pierce mendefinisikan ’qulisign’ sebagai tanda yang mengarahkan perhatian, atau menonjolkan, kualitas tertentu yang ada pada yang menjadi referennya. Di dalam bahasa, sebuah ajektif adalah qualisgn karena menarik perhatian kita ke kualitas (warna, bentuk, ukuran, dan sebagainya) yang ada pada objek yang menjadi referennya. Di dalam lingkup nonverbal, yang termasuk qualisgn adalah warna-warna yang dipakai pelukis atau harmoni nada-nada yang dipakai para komponis.[6]

Beberapa klasifikasi tanda telah diuraikan sejak zaman Aristoteles dan Santo Agustinus. Dari semua ini, yang paling komprehensif adalah Taksonomi yang dikembangkan oleh Charles Sanders Pierce. Dari 66 jenis yang diidentifikasikannya, ada 3 (tiga) jenis, yaitu: Ikon, Indeks, dan Simbol, yang ternyata sangat berguna dalam telaah tentang pelbagai gejala budaya, seperti produk-produk media.

Ikon adalah tanda hubungan dengan antara penanda dan petandanya bersifat persamaan bentuk alamiah[7] atau tanda yang mirip dengan referennya dengan cara tertentu. Lukisan potret seseorang adalah ikon visual yang menunjukan wajah orang yang sebenarnya dari prespektif seseorang seniman.[8] Indeks adalah tanda yang menunjukan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau huungan sebab-akibat[9] atau ikon yang menggantikan atau menunjukan ke sesuatu dalam hubungannya dengan sesuatu yang lain. Tidak sama dengan ikon, indeks tidak sama dengan yang ditunjukannya; indeks hanya mengidentifikasinnya atau menunjukan di mana mereka beada.[10]Simbol adalah tanda yang tidak menunjukan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya, hubungan keduanya bersifat arbiter dan berdsarkan konvensi (perjanjian masyarakat,misalnya: warna merah menandakan berrhenti pada rambu-rambu lalu lintas)[11] atau tanda yang mewakili sesuatu yang proses penentuan simbol itu tidak mengikuti aturan tertentu.[12]
Maka dengan demikian, semiotika dari Charles Sanders Pierce dengan mengedepankan teori ikon, indeks, dan simbol yang dapat penulis uraikan bahwasanya;

Ikon, adalah tanda yang dicirikan oleh persamaannya dengan objek yang digambarkan. Tanda visual seperti fotografi adalah ikon, karena tanda yang ditampilkan mengacu pada persamaannya dengan objek. Misalnya; Sebuah foto seseorang adalah ikon dari objek seseorang tersebut, karena foto seseorang (manusia) tersebut menyerupai dengan objek yang diacunya. Karena bentuknya yang sama atau mirip dengan objek, ikon dapat diamati dengan cara melihatnya.

Indeks, adalah hubungan langsung antara sebuah tanda dan objek yang kedua-duanya dihubungkan. Indeks merupakan tanda yang hubungan eksisitensial-nya langsung dengan objeknya.Misalnya; Runtuhnya rumah-rumah adalah indeks dari gempa. Terendamnya bangunan adalah indeks dari banjir. Sebuah indeks dapat dikenali bukan hanya dengan melihat seperti halnya dalam ikon, tetapi juga perlu dipikirkan hubungan antara dua objek tersebut.

Simbol, adalah tanda yang memiliki hubungan dengan objeknya berdasarkan konvensi, kesepakatan, atau aturan. Makna dari suatu simbol ditentukan oleh suatu persetujuan bersama, atau diterima oleh umum sebagai suatu kebenaran. Lampu lalu lintas adalah simbol, warna merah berhenti, hujau berarti jalan, palang merah adalah simbol yang maknanya diterima sebagai suatu kebenaraan melalui konvensi atau aturan dalam kebudayaan yang telah disepakati. Katagori-katagori tersebut tidaklah terpisah dan berbeda. Satu tanda bisa saja kumpulan dari berbagai tipe tanda.

E. Analisis

1. Tanda dan Hubungan Tanda

Semiotika Charles Pierce dalam Novel Sanggarguri “Kembang Gadung”
Dalam Novel Sanggarguri Bab ‘Kembang Gadung’ ada beberapa hal yang menarik yang ditampilkan oleh pengarang yaitu Tokoh Fana, Guru Sanggar Guri (Sosok Misterius), Datoq Mesrah dan Kembang Gadung yang menjadi pusat cerita, yang berfungsi menjalankan alur pembuka cerita yang nantinya menjadi cerita-cerita yang lebih kompleks pada bab-bab berikutnya. Analisis kami disini mencoba menghubungkan beberapa hal yang menarik tersebut, yang merupakan sistem-sistem tanda yang saling terkait satu dengan yang lainnya dalam membangun alur cerita.
Beberapa hal tersebut diatas memiliki sistem tanda yang menarik untuk dianalisis yakni sebagai berikut :
‘Kembang Gadung’
Simbol (Penanda)

‘Sosok Misterius’ ‘Guruh Sanggar Guri’
Indeks (Tanda I) Icon (Petanda I)

‘Datoq Mesrah’ ‘Fana’
Indeks (Tanda II) Icon (Petanda II)

Skema Alur Novel Sanggarguri ‘Kembang Gadung’ berdasarkan Analisis Semiotika (Triatik) Charles Pierce.

Kembang Gadung, Guru Sanggar Guri, Fana dan Datoq Mesrah merupakan sistem-sistem tanda yang tampilkan oleh pengarang untuk mengembangkan alur pembuka cerita yang nantinya akan menjadi cerita yang lebih kompleks pada bab-bab berikutnya. Alur cerita yang tersusun oleh sistem-sistem tanda tersebut akan dijabarkan sebagai berikut :
 Kembang Gadung, Simbol (Penanda)

Kembang Gadung adalah tumbuhan melilit, umbinya memabukkan kalau dimakan langsung, tetapi jika direndam dahulu, racunnya akan hilang atau menjadi berkurang; Dioscorea hispida.(KBBI, 2008:429)
“Namanya Kembang Gadung, tanaman yang umbinya dibawah oleh Sanggar Guri…… Dia menanamnya…… Musim tertentu ia akan mati dan musim tertentu ia akan tumbuh tunasnya lagi………” (Hal. 17)
Dalam Novel Sanggarguri, Bab ‘Kembang Gadung’, Kembang Gadung dijadikan judul bab ke 2 dari novel ini. Tentunya pengarang dalam hal ini sudah mempertimbangkan hal-hal yang menarik dari sebuah tanaman ini seperti yang tergambar pada penggalan dialog diatas.

Jadi menurut kami pengarang, jika disesuaikan dengan teori semiotika Charles Pierce pengarang menjadikan ‘Kembang Gadung’ menjadi sebuah simbol (Penanda) yang terdapat dalam bab ini yang akan sangat terkait dengan hal-hal menarik lainnya, terutama kembang gadung ini sangat erat hubungannya dengan pencitraan sosok Guru Sanggar Guri (Petanda I)

 Guru Sanggar Guri, Icon (Petanda I)

“Tapi saya juga mengingatkan jika mau berkenalan dengan guru Sanggar Guri, ia juga seperti kembang gadung………” (Hal. 18)

Dari penggalan dialog diatas sudah jelas bahwa ‘Guru Sanggar Guri’ adalah Icon (Petanda) dari ‘Kembang Gadung’. Dan selanjutnya keterkaitan antara Kembang Gadung dengan Guru Sanggar Guri Menghasilkan Sosok Misterius, Indeks ( tanda I)

 Sosok Misterius, Indeks (Tanda I)

“Menurut para muridnya, beliau adalah seorang guru spiritual yang juga seorang intelektual. Orang bisa berdiskusi tentang apa saja,………permasalahan keluarga, manajemen, pendidikan, budaya, sampai persoalan politik dan filsafat. Tapi aneh, ia juga sosok yang sulit dipahami ketika bicara tentang soal pribadinya. Sang Guru tidak tinggal di kampung ini, beliau tinggal di kota, dan mengunjungi kampung ini dua kalin sebulan, kadang-kadang sekali sebulan. Tak jelas apa yang ia cari. Tapi katanya, ia telah menemukannya di kampung ini……” (Hal. 8)

“Tapi saya juga mengingatkan jika mau berkenalan dengan guru Sanggar Guri, ia juga seperti Kembang Gadung……… Mungkin berita yang sudah Anda dapat tentang dirinya soal harumnya, tapi hati-hatilah dengan isinya. Ia beracun jika salah memahaminya” (Hal. 18)

Dari dua penggalan dialog diatas indeks yang ditampilkan oleh pengarang yakni sosok misterius dari ‘Guru Sanggar Guri’, yang persis sama seperti ‘Kembang Gadung, yang harum namun beracun. Oleh karena sosok Guru Sanggar Guri yang misterius tersebut, seseorang yang bernama Fana ingin menemui guru sanggar Guri menjadi guru spritualnya. Dan selain itu juga dia sudah mendengar kabar dari teman-temannya.

Tokoh Fana adalah seseorang yang berkepentingan yang ingin bertemu dengan Guru Sanggar Guri, sehingga dalam pengembangan Alur cerita dalam novel ini Fana akan Menjadi Icon (Penanda II) dari Guru Sanggar Guri.

 Fana, Icon (Petanda II)

“Beliau baru saja mulai, itu artinya Anda harus menunggu sampai menjelang subuh,……Aku mengguk………..” (Hal. 6)

“Maaf Datuq, sebenarnya saya ingin menemui guru sanggar Guri……..” (Hal. 14)

Dari penggalan dialog diatas dan dialog-dialog lainnya yang sudah disebutkan sebelumnua Tokoh Fana adalah orang yang berkepentingan, yang ingin secara langsung bertemu dengan Guru Sanggar Guri, untuk ditanyakan tentang masalah psikologi dan sekaligus ingin dijadikan guru spiritual. oleh karena itu dalam pengembangan alur cerita novel ini Fana Menjadi Icon (Petanda II) dari Guru sanggar Guri.

Namun dalam pengembangan alur cerita novel ini Fana Gagal-gagal bertemu Guru Sanggar Guri. Malahan ia berhasil berbincang-bincang dengan datuq Mesrah, Indeks (Tanda II)

 Datuq Mesrah, Indeks (Tanda II)

“Hari ini saya harus menelan kekecewaan karena keinginan berbincang-bincang dengan Sang Guru gagal. Habis Subuh ia langsung meninggalkan kampung ini”….. (Hal. 12)

“Saya Fana ,Datoq. Jika datoq punya waktu, saya ingin menyampaikan hajat”…. (hal. 12)

“Tapi saya juga mengingatkan jika mau berkenalan dengan guru Sanggar Guri, ia juga seperti Kembang Gadung……… Mungkin berita yang sudah Anda dapat tentang dirinya soal harumnya, tapi hati-hatilah dengan isinya. Ia beracun jika salah memahaminya” (Hal. 18)

Dari tiga penggalan dialog diatas terlihat bahwa Fana gagal bertemu dengan Guru Sanggar Guri. Namun berhasil berbincang dengan Datoq Mesrah yang memberikan informasi-informasi penting kepadanya tentang Guru sanggar Guri. Datoq Mesrah juga memiliki hubungan yang cukup erat dengan Guru Sanggar Guri. Sehingga Datoq Mesrah dalam pengembangan alur Cerita ini sebagai indeks (Tanda II) dari Fana seorang Musafir yang ingin bertemu dengan Guru Sanggar Guri.

2. Pemaknaan Tanda

 Kembang Gadung (Simbol), Tumbuhan melilit, umbinya memabukkan kalau dimakan langsung, tetapi jika direndam dahulu, racunnya akan hilang atau menjadi berkurang, tumbuhan langkah

 Guru Sanggar Guri (Icon), seorang musafir pengkelana yang mencari jati yang di ibaratkan seperti “Kembang Gadung”. seorang guru spiritual yang juga seorang intelektual. Orang bisa berdiskusi tentang apa saja, permasalahan keluarga, manajemen, pendidikan, budaya, sampai persoalan politik dan filsafat. Tapi aneh, ia juga sosok yang sulit dipahami ketika bicara tentang soal pribadinya Sosok yang misterius (Indeks)

 Fana (Icon), seorang yang juga bisa di ibaratkan sebagai Kembang Gadung, seseorang yang mencari seorang guru spiritual, sosok yang sangat langkah (Indeks)

 Datoq Mesrah (Icon), sosok seorang laki-laki yang berumur 70 tahun, yang juga aneh, yang sebenarnya sosok intelektual yang mengerti ilmu sufi (Indeks)

 Datoq Mesrah juga merupakan indeks untuk Fana, karena telah memberikan info tentang Guru Sanggar Guri, dan memberikan jalan untuk fana kemana harus mencari Guru sanggar Guri selanjutnya.

F. Penutup

1. Keimpulan

Dari hasil analisis diatas dapat disimpulkan dalam Novel Sanggarguri bab “Kembang Gadung” terdapat berbagai tanda yaitu Kembang Gadung, Guru Sanggar Guri, Fana, dan Datoq Mesrah. Tanda-tanda ini merupakan sebuah sistem yang saling terkait satu dengan yang lainnya disusun oleh pengarang untuk membangun alur novel ini. Dan tanda-tanda ini memiliki pemaknaan yang bervariasi yang merupakan interpretasi dari sebuah tanaman yang bernama Kembang Gadung, tanaman harum beracun yang mulai langkah.

Daftar Pustaka
[1] Alex Sobur, “Semiotika Komunikasi”, Remaja Rosdakarya,, h.39.
[2] Alex Sobur, “Semiotika Komunikasi”, Remaja Rosdakarya.
[3] Sumbo Tinarbuko, “Semiotika Komunikasi Visua´, Jalasutra, Yogyakarta, 2008, h.118.
[4] Marcel Danesi, “Pengantar Memahami Semiotika Media”, Jalasutra, Yogyakarta, 2010, h.282.
[5] Marcel Danesi, “Pengantar Memahami Semiotika Media”, Jalasutra, h.36.
[6] Marcel Danesi, “Pengantar Memahami Semiotika Media”, Jalasutra, h.36-37.
[7] Sumbo Tinarbuko, “Semiotika Komunikasi Visual”, Jalasutra, Yogyakarta, 2008, h.120.
[8] Marcel Danesi, “Pengantar Memahami Semiotika Media”, Jalasutra, h.47-48.
[9] Sumbo Tinarbuko, “Semiotika Komunikasi Visual”, Jalasutra, Yogyakarta, 2008.
[10] Marcel Danesi, “Pengantar Memahami Semiotika Media”, Jalasutra.48.
[11] Sumbo Tinarbuko, “Semiotika Komunikasi Visual”, Jalasutra, Yogyakarta, 2008.
[12] Marcel Danesi, “Pengantar Memahami Semiotika Media”, Jalasutra.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *