ANALISIS STRATA NORMA ROMAN INGARDEN PUISI RUMAH BERATAP UNGU

ANALISIS STRATA NORMA ROMAN INGARDEN PUISI RUMAH BERATAP UNGU

Non Fiksi

RUMAH BERATAP UNGU

Ya,begitulah.Setelah aku menjauh bertahun-tahun dari
Lembah yang hanya didiami rumah beratap ungu,akhinya
tanpa disangka aku mengingatnya kembali

Lembah itu,penuh makhluk-makhluk gaib,serupa jin,beberapa
diantanya menjelma sosok bidadari,tatkala bertingkah laku
seperti iblis,malaikat,peri-peri,kurcaci bahkan laiknya arwah
gentayangan yang meramaikan sekaligus menakutkan.Sunyi
dan gelap bergelantungan di pohon-pohon yang mengelilingi
rumah beratap ungu.

Entahlah,meskipun akupun berasal dari lembah itu,tapi bagiku
tetap menjadi tempat pulang teramat menakutkan

Kapankah kiranya aku bisa sedemikian berani kembali ke
lembah itu? Memasuki rumah beratap ungu,tempatku dahulu
mengenalmu

Lupita Lukmana

Lapis Bunyi (Sound Stratum)

Dalam puisi pembicaraan lapis bunyi haruslah ditujukan pada bunyi-bunyi atau pola bunyi yang bersifat istimewa atau khusus, yaitu yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni.
Pada bait ke-1 ada asonansi u dan a ; pada bait ke-2 ada asonansi i ;pada bait ke-3 ada asonansi u ; dan pada bait ke-4 ada asonansi a , i dan u .
Jadi yang paling dominan dalam puisi “Rumah Beratap Ungu” asonansinya adalah u

Lapis Arti (Units of Meaning )

Satuan terkecil berupa fonem. Satuan fonem berupa suku kata dan kata. Kata bergabung menjadi kelompok kata, kalimat, alinea, bait, bab, dan seluruh cerita. Itu semua merupakan satuan arti.
Pada bait kedua “Rumah Beratap Ungu” Di lembah itu banyak sekali dihuni oleh makhluk-makhluk gaib berupa jin.Beberapa diantara jin itu menjelma menjadi sosok bidadari,tatkala bertingkah laku seperti iblis,malaikat,peri-peri,kurcaci atau bahkan mereka juga bergentayangan yang membuat lembah itu menjadi ramai sekaligus menakutkan.Suasana sunyi,sepi dan gelap sangat terasa dilembah yang hanya didiami rumah beratap ungu itu

Lapis Ketiga

Dunia pengarang adalah ceritanya, yang merupakan dunia yang diciptakan oleh si pengarang. Ini merupakan gabungan dan jalinan antara objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, serta struktur ceritanya (alur); seperti berikut.
Seseorang yang mencoba untuk menjauh dan melupakan sebuah lembah yang hanya didiami rumah beratap ungu.karena disana banyak sekali makhluk-makhluk gaib serupa bidadari,iblis,malaikat,peri-peri dan kurcaci.Lembah itu juga suasananya sangat sepi,sunyi dan menakutkan.Walapun ia berasal dan pernah tinggal disana,tetapi baginya tempat itu merupakan tampat yang teramat menakutkan dan tak pantas untuk ditinggali.Ia juga mencoba untuk menanyakan kepada dirinya kapankah ia akan berani kembali kelembah dan memasuki rumah yang beratap ungu itu,tempat dimana dahulu ia pernah berkenalan dengan seseorang.

Lapis Keempat

Lapis “dunia” yang tak usah dinyatakan, tetapi sudah implisit, tampak sebagai berikut:
Dipandang dari susut pandang tertentu dimana Rumah Beratap Ungu merupakan kenangan seseorang dimasa lalu.Seperti yang terdapat dalam puisi “Lembah itu penuh dengan makhluk-makhluk gaib berupa jin,malaikat,iblis,peri-peri,dan kurcaci”.Sebuah kenangan yang menyedihkan dan juga membahagiakan,tetapi ia berusaha untuk melupakanya.Tanpa disangka walaupun sudah bertahun-tahun ia melupakan kenagan itu,ia tetap mengingatnya karena salah-satu dari kenangan itu ia pernah bertemu dan mengenal seseorang.

Lapis Kelima

Lapis kelima adalah lapis metafisis yang menyebabkan pembaca berkontemplasi.Dalam puisi tersebut “Sekeras apapun kita melupakan kenangan dimasa lalu,baik itu kenangan yang meneyedihkan atau membahagiakan,kenangan itu akan selalu kita ingat.karena kenagan di masa lalu tetap akan menjadi bagian hidup kita dan tak akan pernah bisa kita lupakan walaupun sudah bertahun-tahun”


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *