Analisis strata norma Roman Ingarden, puisi “Tembang Pesisir” karya Husnul Khuliqi

Kepenulisan, Non Fiksi, Pendidikan

Latar Belakang

Dalam kumpulan puisi yang terdapat dalam “Madah Kehidupan” saya memilih puisi dengan judul “Tembang Pesisir” karya Husnul Khuliqi. Saya sangat tertarik pada puisi ini untuk dianalaisis menggunakan strata norma Roman Ingarden. Sebelum memulai menganalisis hendaknya kita mnegenal dulu strata norma Roman Ingarden. Roman Ingarden merupakan seorang filsuf Polandia, di dalam bukunya Das Literische Kustwerk (1931) ia menganalisis norma-norma dalam karya sastra menjadi 5 lapis norma. Kelima lapis norma itu meliputi; lapis bunyi (sound stratum), Lapis arti (units of meaning), lapis ketiga (turunan dari lapis arti), lapis “dunia”, dan lapis metafisis.

Pada setiap larik dan bait puisi “Tembang Pesisir” ada lapisan-lapisan yang sangat menarik untuk dianalisis, mulai dari lapis bunyi hingga lapis terakhir yaitu metafisis. Puisi yang akan saya analisis menggunakan strata norma Roman Ingarden ini merupakan puisi yang menceritakan tentang jalan kehidupan, penuh dengan pesan dan amanat pada lapis metafisisnya, dan analisis menggunakan strata norma Roman Ingarden ini sangat tepat unutk mengorek atau mengupas setiap lariknya yang menarik untuk dianalisis.

 

Pembahasan

-Tembang Pesisir-

 

istriku, mendekatlah. mari bernyanyi

merayakan kemiskinan ini. sebentar lagi

mungkin kita akan mati. musim-musim

tak pernah bersahabat dengan kita

dan setiap waktu, kita mesti menghitung

kelu. tanpa jemu

 

lihatlah laut biru yang terbentang, ikan ikan

yang berenang. kita tak lagi dapat mengkapnya

sebab perahu kita tertambat di dermaga

hanya menjadi mainan anak-anak ombak. tak bisa

melancar, tak bisa bergerak

tanpa bahan bakar

 

duhai, nasib kita istriku. serupa

butir-butir pasir sepanjang pesisir, harus

selalu menghadapi amuk gelombang yang datang

sementara dari selat dan tanjung

maut tak berhenti mengintip

siap mendekat

 

istriku, mendekatlah, mari bernyanyi

sebelum maut menjemput. membenamkan

jasad kita yang malang

pada hitam tanah

dan bebatuan

 

  1. Lapis Suara (sound stratum)

Eufoni, kombinasi bunyi yang enak di dengar terdapat pada bait ketiga baris kedua; butir-butir pasir sepanjang pesisir, pada baris ini terdapat asonansi i, dan terdapat juga aliterasi r dan s.

Kakafoni, suara vyang sumbang atau kasar yang mnyakitkan pendengaran, terdapat pada bait ketiga baris kelima; maut tak berhenti mengintip, pada baris ini terdapat asonansi a dan e, dan terdapat pula aliterasi t.

 

  1. Lapis Arti (units of meaning)

Dalam bait pertama ;

istriku mendekatlah. mari bernyanyi

merayakan kemiskinan ini. sebentar lagi

mungkin kita akan mati. musim-musim

tak pernah bersahabat dengan kita

dan setiap waktu, kita mesti menghitung

kelu. tanpa jemu.

Bait pertama diatas mempunyai arti; aku mengajak istrinya untuk bernyanyi, merasakan nasib yang miskin. Karena sebentar lagi si aku dan istrinya akan meninggal. Keadaan alam tak penah mendukung, dan setiap waktunya dihabiskan untuk berkeluh kesah.

Bait kedua :

lihatlah laut biru yang terbentang, ikan ikan

yang berenang. kita tak lagi dapat mengkapnya

sebab perahu kita tertambat di dermaga

hanya menjadi mainan anak-anak ombak. tak bisa

melancar, tak bisa bergerak

tanpa bahan bakar

Bait kedua memiliki arti; coba lihat laut biru yang luas, ada ikan yang berenang di dalamnya, namun tak bisa lagi si aku menangkapnya, sebab perahunya karam di dermaga yang menjadi mainan anak-anak disana. Tak bisa berlayar karena tidak ada bahan bakar.

 

Bait ketiga :

duhai, nasib kita istriku. serupa

butir-butir pasir sepanjang pesisir, harus

selalu menghadapi amuk gelombang yang datang

sementara dari selat dan tanjung

maut tak berhenti mengintip

siap mendekat

Bait ketiga memiliki arti; wahai nasib si aku dan istrinya, bagaikan butir pasir pantai yang selalu tergerus ombak, tak bias bergerak dan tak bia berbuat apa-apa, sementara di hari depan maut sudah menunggu siap menjemput.

 

Bait keempat :

istriku, mendekatlah, mari bernyanyi

sebelum maut menjemput. membenamkan

jasad kita yang malang

pada hitam tanah

dan bebatuan

Bait keempat memiliki arti; si aku dan istrinya kembali bernyanyi sebelum maut menjemput yang mengubur jasadnya pada tanah kehinaan.

 

  1. Lapis Ketiga
  • Objek-objek yang dikemukakan; istriku, anak-anak, laut, ikan-ikan, perahu, dermaga, ombak, bahan bakar, butir-butir pasir, gelombang, jasad, tanah, maut dan bebatuan.
  • Pelaku atau tokoh; si aku dan istriku.
  • Latar waktu; siang hari laut terlihat biru.
  • Latar tempat; dermaga
  • Dunia pengarang :

istriku, istri si aku diajak untuk merasakan derita kemiskinan yang sedang dihadapi, karena musim yang tidak lagi bersahabat dengannya. Saat laut tengah melimpah ikan, perahunya pun tak dapat berlayar karena tidak ada bahan bakar dan hanya diam di dermaga jadi mainan anak-anak. Si aku kembali mengeluh kepada istrinya tentang kehidupannya yang serupa butir-butir pasir yang selalu diamuk oleh gelombang laut, tak bias berbuat apaapa hanya menunggu ajal tiba. Si aku mengajak istrinya untuk meratapi kembali kehidupan ini sebelum maut menjemput, membenamkan jasad si aku dan istrinya pada hitamnya tanah dan bebatuan.

 

  1. Lapis Keempat

Si aku adalah seorang nelayan yang dilanda kemiskinan, dia mempunyai seorang istri yang sabar dengan keadaan yang dialaminya kini. Pekerjaannya tidak lagi mampu mengurus beban kehidupan, alam sudah tidak bersahabat lagi dengan pekerjaannya, hingga tuntutan ekonomi untuk mengerakkan perahunya pun tak mampu lagi dibeli. Si aku membayangkan kehidupannya yang tidak lagi mampu melawan arus perubahan, dan memasrahkan diri pada kenyataan yang ada. Si aku mengajak istrinya yang sangat sabar untuk kembali merenungi nasib sebelum mati.

 

  1. Lapis Kelima

Dari puisi “Tembang Pesisir” saya dapat mengambil renungan bahwa, kehidupan ini ternyata tidaklah mudah untuk dijalankan. Banyak cobaan yang datang silih berganti ketika menjalani hidup ini. Mungkin beberapa cobaan terlalu berat hingga membuat kita putus asa. Dalam kehidupan ini ada kalanya pekerjaan yang kita emban tidak sepihak dan tidak sejalan dengan keadaan sekitar hingga pekerjaan itu pun terasa sia-sia. Oleh karena itu dalam kehidupan ini kita harus selalu berusaha tak kenal putus asa dalam menghadapi segala cobaan yang datang. Karena tidak ada cobaan yang diberikan oleh Tuhan melebihi kemampuan manusia itu sendiri.

 

  1. Simpulan

 

Pada puisi tembang pesisir diatas, lapisan yang paling manarik menurut saya adalah lapis suara. Dimana setiap baitnya banyak terdapat eufoni dan kakafoni. Eufoni dalam setiap barispun memiliki asonansi dan aliterasi yang berurutan, begitu pula dengan kakafoni, memliki asonansi dan aliterasi yang berturut-turut. Namun puisi ini tidak memilki pola sajak, karna keseluruhan bait tidak memiliki pola sajak akhir bait.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *