BIJI AJAIB YANG HILANG

Dongeng, Fiksi

 

dongeng biji ajaib yang hilang

Burung Pipit Kecil kebingungan. Sebutir biji yang dibawanya terjatuh saat ia terbang. Dengan lunglai, ia pun hinggap di tepi danau.

Pohon Akasia menggoyangkan dahannya. “Apa yang terjadi padamu, Burung Kecil?” tanyanya ramah.

“Hari ini  hari pertamaku meninggalkan sarang, tapi bekalku justru hilang di tengah jalan. Padahal kata ibu, bekalku itu adalah biji ajaib.” Keluh Burung Pipit Kecil.

Rumput-rumput liar menghiburnya dengan memainkan embun dan uap air. “Jangan sedih, Sayang. Tinggallah bersama kami. Banyak makanan di sini. Siapa tahu, suatu saat biji ajaib itu bisa kau temukan.”

“Benar… benar…!“  suara-suara lain terdengar bersahutan di tepi danau. Ada pohon-pohon, rumput-rumputan, umbi-umbian, unggas, cacing, bermacam-macam serangga dan binatang-binatang pengerat. “Kami senang kau datang.”

Begitulah, mulai hari itu Burung Pipit kecil tinggal di tepi danau. Ia belajar banyak hal dan menjadi sangat pintar.

***

Pada suatu hari, di tepi danau itu tumbuhlah pohon bunga yang indah. Warnanya kuning dengan daun hijau segar. Mereka kagum pada bunga yang masih kuncup itu. “Wah, hebat! Ia selalu bergerak mengikuti arah matahari!” Puji Kupu-kupu takjub.

Beberapa minggu kemudian, Burung Pipit Kecil mengamati perubahan pada bunga itu. Ia tak lagi mengikuti arah matahari. Kelopaknya telah mekar sepenuhnya. Ukurannya besar sekali. Lama-lama mahkota dan daunnya pun mengering. Lalu, burung pipit Kecil melihatsesuatu yang tidak diduganya.

“Bunga itu sudah mencuri biji ajaibku! Ia adalah pencuri!” teriaknya pada yang lain. Seluruh penghuni tepi danau gempar. Mereka memperhatikan bunga  besar berwarna kuning itu. Sang bunga pun menjadi panik.

 “Ia memiliki biji yang sama persis dengan milikku yang hilang. Lihat saja di bagian tengahnya. Banyak sekali biji yang ia curi.” Oceh Burung Pipit Kecil  marah. “Ayo mengakulah, Bunga Besar. Dari mana saja kamu mencuri biji-biji ajaib itu?”

Sang Bunga tersenyum. Kini ia mengerti permasalahannya. “Aku tidak mencuri biji ajaibmu, Burung Pipit Kecil. Mungkin, akulah biji ajaibmu yang hilang.” Jelasnya membuat Burung Pipit Kecil terdiam.

. “Siapa kamu sebenarnya?”tanya para unggas heran.

“Namaku Bunga Matahari. Dari sebutir biji, aku bisa tumbuh menjadi bunga yang indah. Aku biasa hidup di tempat yang gembur dan sejuk. Mungkin karena Burung Pipit Kecil menjatuhkanku di tepi danau, aku jadi bisa tumbuh dengan baik.” Sang Bunga pun bergoyang senang ke arah Burung Kecil itu. “Terimakasih, Burung Kecil.”

Burung Pipit Kecil merasa sangat menyesal, “Maafkan aku, Bunga Matahari. Aku telah menuduhmu mencuri.

Bunga Matahari memaafkan burung Pipit Kecil. Sambil tertawa, ia kembali menggugurkan mahkota bunganya yang tersisa. Burung Pipit Kecil terkejut, “Apa yang terjadi denganmu, Kawan?”

“Tidak apa-apa. Sudah waktunya aku menua dan mengeringkan biji-bijiku.” Jawab Bunga Matahari lemas. Badannya berubah cokelat dan hampir tumbang. “Biji-bijiku ini bisa dimakan. Sisakanlah juga untuk ditanam. Nanti, akan tubuh bunga-bunga matahari baru setelah aku.”

Sore itu seluruh penghuni tepi danau bersedih. Bunga Matahari yang indah itu tidak bergerak lagi. Penghuni tepi danau segera melaksanakan pesannya. Biji-biji bunga matahari dikeringkan dan disimpan untuk ditanam kembali.

Pada musim bunga berikutnya, biji-biji ajaib telah tumbuh menjadi bunga-bunga matahari yang indah. Seluruh penghuni tepi danau sangat senang. Tak terkecuali Burung Pipit Kecil, ia selalu terbang di sekitarbunga-bunga itu dengan riang.

*** SEKIAN ***


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *