California Bleed

Cerpen, Fiksi, Horor

 5693029-522152-halloween-concept-bloody-knife-with-blood-splatter

            Gelap. Aku tidak bisa melihat apapun sejauh mata memandang. Kepalaku sakit dan aku merasakan badanku kaku. Aku tahu aku duduk di sebuah kursi kayu, iya, aku merasakan pegangan dan sandaran kayunya yang terasa dingin. Ruangan ini pun terasa dingin, lebih dingin dari yang aku ingat tadi.

            Aku mengerjap-ngerjapkan mata mencoba beradaptasi dengan ruangan tanpa sumber cahaya sedikitpun. Seingatku terakhir, aku duduk bersama Crish di kamar hotel dan sedang memperdebatkan tujuan bulan madu kami.

            California adalah pilihan Crish dan bukan pilihanku. Aku memang membiarkan dia memilih. Maksudku, aku ingin ia memberikanku kejutan untuk bulan madu kami yang tertunda setahun. Ini adalah perjalanan pertama kami sebagai sepasang suami istri dan aku menuntut meski aku tidak mengatakannya untuk sebuah perjalanan yang tidak akan aku lupakan seumur hidup. Setiap wanita tentu ingin bulan madu yang indah bukan? Jadi seharusnya setiap lelaki mengerti akan hal itu.

            Ia sibuk bekerja selama ini meski aku tidak pernah tahu apa yang dia kerjakan. Itu privasinya, ia tidak menjawab ketika aku tanya dan aku tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi tentang apa profesinya—aku menghargai privasi oranglain meski bagiku Crish sama sekali bukan oranglain. Namun, setelah setahun menunggu untuk perjalanan ini, ia malah membawaku ke California dan menginap di sebuah hotel bernama Queen Mary, hotel yang terkenal dengan cerita mistisnya. Aku ingin bulan madu yang lebih romantis bukannya penuh dengan cerita mistis, kau tentu akan tahu jika kau adalah seorang wanita.

            Bukan berarti aku tidak menyukai California, aku akan senang jika  seseorang mengajakku sebelum aku bertemu dengan Crish. Lelaki itu berasal dari California, aku tahu itu karena ia pernah secara tidak sengaja bercerita tentang masa lalunya. Crish tidak senang aku mengungkit masa lalunya dan aku menghargai itu sebagai privasinya—lagi-lagi.

            Aku dapat merasakan perasaan tidak nyaman Crish dari setibanya kami di Bandara setelah menempuh perjalanan melelahkan dari Adelaide. Tapi dia mengelak untuk dikatakan tidak nyaman. Tapi aku yakin sekali, aku merasakannya.

            Mataku sudah bisa beradaptasi dengan ruangan sekitar. Cahaya bulan masuk dari bagian jendela yang tidak tertutup tirai. Tapi…

Aku menutup mulutku. Tanganku bergetar di wajah, seluruh tubuhku gemetaran. Sebuah lukisan yang tidak kukenal, seorang wanita berwajah keras dengan rahang yang datar dengan kantung mata yang jelas terlukis dengan sangat mengerikan di balik pose anggunnya.

            Ini bukan suite bergaya Victoria dengan nomor 410 yang aku tempati. Bukan!

            Aku merasakan seseorang berdiri di belakangku. Meletakkan dagunya di pundakku. Ini bukan Crish. Sama sekali bukan.

            Siapapun yang di belakangku, menyakiti pundakku dengan dagu runcingnya terasa tidak  bernapas. Aku tidak bisa merasakan napasnya dan pundakku rasanya sakit sekali.

            Oh pasti mimpi!

            Bau busuk, lebih busuk dari apapun yang pernah aku cium sebelumnya memenuhi rongga pernapasanku tiba-tiba. Darah. Hanya itu yang terpikirkan di otakku. Ini bau darah!

            Aku merasakan badanku benar-benar kaku, tidak bisa digerakkan. Menutup matapun aku tidak bisa.

            Tidak!

            Siapapun itu, bernapas atau tidak, ia sedang menggenggam tanganku. Ini bukan tangan Crish, tangan ini terlalu kecil dan terlalu kasar untuk Crishku.

            “Aaaahhh!!!”

            Tanganku serasa akan retak. Genggaman itu terlalu keras dan…

            Ruangan terlihat terang seketika, aku melihat lilin berwarna putih tulang, ada banyak darah dalam wadah-wadah, altar batu berwarna merah, dan sebuah bingkai foto dengan seorang gadis…

            “Anna!”

            Crish di hadapanku, wajahnya tegang dan pandangan matanya sulit untukku jelaskan. Perasaan tenang menyusupi hatiku menyadari bahwa tangannyalah yang menggenggam tangan kiriku dengan sikap protektif yang kentara. Tenang bahwa aku masih di atas ranjang empuk dan apapun yang terjadi tadi bukan hal yang nyata.

            “Aku sepertinya mimpi buruk.” Kataku, membuat Crish mendapatkan ketenangannya kembali dan kembali ke kursinya, di sebelah ranjang kami.

            Lelaki itu masih terlihat tegang ketika ia menyalakan cerutu kesukaannya yang terlihat selalu menyebalkan bagiku.

            “Jangan buka pintu untuk siapapun malam ini.” Katanya sembari menghembuskan gumpalan asap abu-abu bau yang menyebalkan.

            “Sebentar, kau tidak akan ada di sini malam ini?” Dahiku mengerut, belum juga keringatku sehabis mimpi buruk ganjil itu kering dan Crish—suamiku—yang datang kesini untuk bulan madu kami berkata bahwa ia tidak ada disini malam ini.

            “Ada klien penting.” Kata Crish lalu menekankan cerutunya yang masih panjang ke asbak dan kemudian pergi.

            “Kau ingin membunuhku Crish!” Teriakku kesal. “Jadi kau membawaku ke sini untuk pekerjaan?!”

*****

            Seingatku, aku hanya menengguk segelas kecil wine dan langsung ke kamar. Dan aku menemukan diriku lagi di kamar gelap secara tiba-tiba. Aku berani bersumpah bahwa aku tidak mematikan lampu, dan aku juga bersumpah terakhir yang aku ingat aku sedang membongkar koper besar bukannya tertidur.

            Aku ada di kamar yang tadi, tapi bukan kamar yang aku tempati. Udara dingin masuk dengan tiba-tiba dan membuat tubuhku menggigil, bukan hanya menggigil, udara ini membuatku ketakutan.

            Lampu, aku butuh lampu dan semua halusinasi ini, atau mungkin mimpi buruk ini pasti hilang.

            Tidak ada.

            Aku ingat jelas dimana tombol lampu, aku bukan seorang pelupa, ingatanku cukup kuat hanya untuk mengingat dimana tombol lampu. Tapi percuma, aku tidak menemukannya.

            Cahaya bulan purnama cukup terang untuk membuatku dapat tahu bahwa aku bukan di kamarku seharusnya. Lukisan yang tadi masih tersenyum dengan anggun dan memberikanku bayangan yang mengerikan atasnya.

            Tanganku gemetaran, aku merasakan angin pelan yang membekukan dan seseorang duduk di depanku, di depan altar berwarna merah yang gelap.

            Lilin dinyalakan.

            Aku melihatnya dengan jelas, aku merasakan aura mengerikan yang tidak biasa kemudian.

            Seseorang di depanku, tubuhnya kurus terbalut terusan sangat panjang yang membuatnya seperti tulang yang terbungkus kain. Memunggungiku, meski begitu aku merasa sangat terintimidasi dan ketakutan memenuhi otakku.

            “K..kau siapa?” Tanyaku. Aku harus bertanya, aku tidak tahu siapa wanita itu dan aku juga tidak tahu mengapa aku bisa ada di ruangan ini.

            Tidak ada jawaban. Lilin yang lain dinyalakan sehingga aku bisa melihat lebih jelas ruangan ini. Bukan hanya seisi ruangan yang bisa aku lihat, bau busuk—darah—tercium lagi dengan begitu kentara.

            Seseorang mengetuk pintu. Aku dapat mendengarnya dengan jelas namun wanita itu tidak juga bangkit atau bahkan bergeming.

            Aku harus pergi.

            Baru saja aku akan berdiri dan melangkahkan kakiku keluar, apapun itu ada yang menarik tubuhku hingga tubuh kurusku terbanting ke lantai marmer yang dingin dan keras.

            Bau busuk semakin kuat, dan tubuhku tidak bisa digerakkan ada yang menahan tangan dan kakiku masing-masing kiri dan kanan. Dadaku sesak dan aku tidak peduli ini mimpi buruk atau tidak, namun aku akan mati jika terus begini!

            Suara ketukan pintu terdengar lebih keras dan wanita di depan altar tidak juga bergeming. Dadaku sesak. Sial! Wajahku basah karena menangis, entah karena apa. Aku meronta-ronta namun setiap kali aku melawan apapun yang memegangi tangan dan kakiku itu memegangiku dengan lebih kencang.

            Sepertinya lilin lain dinyalakan dan aku dapat melihat bangkai kambing dan ayam terpancang di dinding dengan belatung yang begitu mengerikan. Aku tidak peduli. Dan saat sepertinya lilin lain dinyalakan lagi, aku melihat fotoku. Foto dengan gaun pengantin berwarna putih, sendirian tanpa Crish di dalamnya.

            Napasku tercekat.

            Aku melihat beberapa rempah-rempah dan simbol yang tidak asing bagiku sebagai orang yang menggemari hal mistik. Aku tahu akan mati.

            Aku mempelajari voodoo dan aku yakin simbol-simbol itu…

            Wanita di depanku, menyeringai sekarang. Ia berdiri dan memandang ke arahku, ia sepenuhnya sadar bahwa aku ada. Rahangnya tegas dengan hidung runcing yang mengerikan, sosok nenek sihir yang selalu kuejek di tiap dongeng yang aku tahu.

            Jantungku akan lepas tidak lama lagi melihat bagaimana ia melihatku. Ini pertama kalinya seseorang melihatku dengan pandangan seperti itu, pandangan pemangsa ke korbannya. Aku pasti akan mati.

            Suara ketukan itu lebih keras lagi, sebentar lagi siapapun di luar sana sepertinya akan mendobrak. Wanita itu tidak berpaling sedikitpun, pandangannya padaku sama sekali tidak berubah.

            “Apa yang ingin kau lakukan?” Tubuhku basah oleh keringat karena ketegangan ini.

            Aku akan mati, itu saja yang aku pikirkan terlebih setelah melihat mata menyeramkan itu. Tentu, aku tidak akan selamat.

            Suara ketukan pintu terdengar lebih keras namun wanita itu tidak bergeming seolah hanya aku saja yang dapat  mendengarnya.

            Marry Ellen Pleasant. Hanya itu yang ada dipikiranku. Oh tidak, aku akan mati.

            Aku melihat gambar wanita itu beberapa kali, aku mempelajarinya namun aku tahu wanita di depanku bukan dia, hanya mirip, tapi bukan. Hanya saja perasaanku berkata ada hubungannya dengan ratu voodoo itu.

            Aku ingat sejarah voodoo tentang tempat ini meski tidak begitu menonjol. Aku ingat saat aku mencari tahu tentang masa lalu Crish, tapi… ah! Siapapun wanita itu, ia lebih buruk dari yang aku pelajari di buku sejarah. Aku pasti mati.

            Wanita itu membungkuk, membuat tubuhku lebih gemetaran jantungku mungkin akan lepas, ia mendekatkan wajahnya ke wajahku sehingga aku bisa mencium aromanya yang busuk. Tidak ada hembusan napas, aku yakin sekali.

            Aku akan berakhir di sini.

            Wanita itu, tangannya memegang wajahku, aku dapat merasakan betapa kering dan kasarnya permukaan tangannya. Aku akan dibuatnya berhenti bernapas kalau begini. Tolong aku…

            Suara di pintu  terdengar lebih keras dan aku dapat melihat dari mata menyeramkan wanita itu kalau ia sedikit terganggu. Namun ia tidak peduli. Tolong aku…

            Dari tangan kanannya, sebuah pisau kecil berkarat sepertinya akan menjadi akhir hidupku. Tolong aku… mataku perih karena air mata yang keluar karena tekanan ini. Tolong aku…

            Aku meronta namun rasa sakit ditangan dan kakiku tambah parah setiap aku melakukan pergerakan. Wanita itu tersenyum—menyeringai. Dadaku sesak.

            “Tolong…”

            Wanita itu meletakkan pisau kecilnya di atas pipiku sehingga aku merasakan permukaannya yang kasar dan dingin.

            “Tidak…”
Ia menyeringai lebih lebar. Matilah aku!

            Ah! Darah mengalir dari wajahku, wanita itu mengumpulkannya ditangan lalu meletakkannya di sebuah wadah. Wajahku mati rasa, aku tidak merasakan apapun, tidak juga sayatan di pipiku.

            Tapi aku tidak bisa bernapas. Aku pasrah.

            Pintu terdobrak. Aku merasakan suara pintu kayu yang jatuh ke lantai dan itu sedikit membuatku bisa menarik napas. Wanita itu bangun dan terlihat sangat mengerikan.

            Aku tidak bisa melihat siapa yang datang namun siapapun yang datang aku berharap semua tidak bertambah buruk. Aku merasakan nyeri yang luar biasa di pipiku dan seseorang menarik tanganku kemudian.

            “Crish?”

            Lampu menyala dan aku sudah berada di suite bergaya Victoria-ku sambil duduk di pinggir tempat tidur.

            Apa aku bermimpi?

            Darah yang menetes dari pipiku menyadarkanku bahwa aku tidak bermimpi. Aku memegangnya dan sayatan sebesar lebih dari lima sentimeter itu benar-benar menyakitkan.

            Apa yang terjadi?

            Aku melihat ke sekeliling dan tidak ada keanehan sama sekali hanya saja luka sayatan di pipiku tidak mungkin berbohong.

            Persetan dengan apa yang terjadi. Aku dengan kakiku yang masih gemetaran melangkah ke koper yang belum sempat aku bereskan setiba di California untuk mencari sapu tangan untuk menutup luka ini.

            Dan…

            Tidak mungkin Crish-ku adalah penganut voodoo. Aku menemukan buku mantra dan aku tahu benar gambar siapa yang terselip di sana. Gambar ratu voodoo California dan gambar beberapa orang wanita.

            “Mom.”. Aku tidak peduli lagi dengan rasa sakit di pipiku, wanita itu, dengan tulisan “mom” di buku catatan Crish.

            Ia bukan hanya penganut voodoo, ia penganut voodoo yang mengerikan. Ia bukan penganut voodoo, ia pasti menyembah setan untuk melukai oranglain.

            Suara ketukan pintu membuat dadaku sesak.

            “Jangan buka pintu untuk siapapun malam ini.” Aku ingat kata-katanya. Namun masih bisakah aku mempercayai kata-katanya? Mungkin saja aku akan terperangkap lagi di ruangan yang entah dimana itu kalau aku mengikutinya. Iya, aku harus mencari siapa saja, siapa saja yang mungkin bisa melindungiku.

            Entah aku harus percaya atau tidak. Aku tidak tahu.

            Deringan ponsel mengagetkanku. “Home” itu yang tertera di layarnya. Aku tinggal berdua dengan Crish dan seseorang menelponku dari rumah.

            Bukan, ini pasti bukan seperti yang aku pikirkan.

            Dengan ragu, dengan tangan yang masih bergetar, aku lekatkan ponsel itu ke pipiku, ke telinga kiri tepatnya. Jantungku berpacu, aku tidak bisa mengatakan apapun, tidak juga untuk mengucapkan salam.

            “Anna!” Crish. tidak salah lagi, suara itu miliknya.

            “Kau ada dimana?”

            Rumahku, Adelaide, Crish menelponku dari sana.

            Aku merasakan seseorang merangkulku dari belakang. Bau busuk itu, tubuh kurus yang jahat itu. Ponsel yang tadi jatuh ke lantai, aku dapat mendengar suara berisik dari sana, teriakan tidak jelas dan suara tidak jelas lainnya. Bunuhlah aku…

            Leherku, aku merasa sesak dan tidak bisa bernapas. Mungkin ini akhirnya…

            Suara di pintu terdengar lebih keras dan tubuhku hampir saja kejatuhan daun pintu yang di dobrak.

            Crish datang dan aku bisa bernapas lagi. Cekikan di leher tiba-tiba saja hilang. Aku bisa bernapas lagi.

            Aku tidak peduli bagaimana lelaki itu bisa ada di sini, di California setelah telepon yang aku terima tadi. Aku yakin, dialah yang bersamaku, dia yang datang bersamaku. Telepon tadi halusinasi.

            Lelaki itu terlihat begitu khawatir. Melihat bagaimana ia memandangku, aku yakin telepon tadi sebeuah kesalahan. Bagaimanapun kesalahan itu bisa terjadi. Perasaanku perlahan mulai menghangat dan aku merasa tekanan ini sedikit terangkat. Aku bersyukur ia sudah ada disini, ia ada untukku disini sekarang.

            “Maafkan aku Anna.” Crish memelukku. Aku tahu ia menangis. “Aku tidak bisa menjagamu.”

            Ia memelukku kuat. Pelukannya selalu membuatku lebih tenang, aku mulai merasakan darah sudah bisa mengalir secara normal ditubuhku. Lelaki itu menangis seperti anak kecil di pelukanku. Ia menangis dengan sangat  hebat hingga pundakku basah.

            “Aku minta maaf Anna. Aku punya masa lalu yang kelam, aku punya keturunan yang kelam Anna. Aku minta maaf.” Crish sesenggukan, suaranya tidak begitu jelas. “Keluargaku penyembah setan Anna, ibuku adalah penganut fanatic Mary Ellen Pleasant ratu voodoo disini, tapi dia melakukan hal yang lebih mengerikan, ia menyembah setan, ia memanfaatkan setan… maafkan aku.”

            Aku merasakan penyesalan di suaranya. Ia memiliki masa lalu yang kelam. Aku menyesal untuk itu. Aku tidak pernah berpikir kalau laki-laki itu memiliki masa lalu yang sangat buruk.

            Aku merasakan sebuah benda tajam menusuk punggungku. Pelukan Crish padaku menjadi longgar dan aku bisa melihat seringai di wajahhnya. Wanita itu…

            “Crishmu ada di rumah sayang.” Aku melihat wanita itu menyeringai di pelukanku dan apapun yang menusukku tadi sudah ada di tangannya sekarang…

            Semuanya gelap dan berakhir.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *