Catatan Bulan Desember

Asal Tulis

Catatan Bulan Desember

Ini adalah catatan yang saya tulis dalam perjalanan bulan desember 2014. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

9 Desember 2014

Aku merasakan sesuatu yang baru, aku mulai mengerti nilai uang. Aku tidak pernah ingin menjadi seseorang yang menjadikan uang sebagai tujuan hidup. Merasakan sulitnya mencari dan mengatur keuangan membuat seseorang lebih bijaksana dalam menatap masa depan.

Pagi ini aku membaca ma’tsurat, di dalam salah satu do’a itu , ada do’a yang meminta kepada Tuhan supaya dihindarkan dari 3 hal : kufur, fakir, dan kafir. Meskipun islam mengajarkan manusia untuk hidup sederhana, tapi juga islam menganjurkan agar manusia tidak fakir.

Aku jadi teringat salah satu episode sinetron ramadhan ketika aku SD, Lorong Waktu. Episode itu berkisah ada dua sahabat, yang terus menerus berdo’a hingga kemudian do’a itu dikabulkan. Sahabat pertama meminta kehidupan yang sederhana namun selalu berkecukupan, dan sahabat kedua meminta kehidupan yang berlimpah kekayaan dengan harta yang tidak habis untuk tujuh turunan. Sahabat pertama hidup di rumah yang biasa saja dengan seorang istri yang sebentar lagi dikaruniai seorang anak, mereka shalat berjama’ah seraya berdo’a meminta kelancaran semua permasalahan. Istrinya bercerita bahwa mereka sesegera mungkin harus menyiapkan biaya persalinan, dan suami tersebut memintanya bersabar karena dirinya pun sedang menabung. Tiba-tiba telepon berdering dan kabar gembira datang dari kantor si suami tersebut mendapat bonus kerja, mereka pun bersyukur atas hidupnya, atas rezeki dari Nya. Sementara sahabat yang kedua, setiap waktu selalu sibuk bekerja. Di kantornya yang megah telepon berdering sana-sini, dan karyawan sibuk mondar-mandir mengurusi berbagai data. Sampa suatu saat sahabat kedua ini jatuh sakit karena kelelahan. Di perjalanan ke rumah sakit entah bagaimana caranya, kedua sahabat ini dipertemukan. Dan menyesallah sahabat kedua akan semua hartanya.

Aku mengingatnya sampai situ. Pada suatu ketika aku juga menafsirkan bahwa harta tidak akan pernah membuat seseorang merasa cukup, melainkan rasa syukur dan kehidupan sederhanalah yang membuat kita cukup.

Aku ingin hidup seperti sahabat yang pertama. Tapi aku harus menguatkan diriku sendiri di dunia dimana semua orang mempunyai pola pikir seperti sahabat kedua. Jika suatu saat nanti, aku menjalani kehidupanku pada rel sahabat kedua, aku ingin berhenti di detik dimana aku mengingat apa yang kuinginkan sekarang.

Sebentar lagi, menghitung jam memasuki tahun 2015, ada dua harapan yang aku inginkan diam-diam, aku ingin pergi dari rumah untuk menghidupi diriku sendiri, agar aku tau artinya mandiri, kelak aku akan kembali saat toga sudah ada dikepalaku.

Selama ini aku terus mencari apa arti pengorabanan seorang ibu kepada anaknya, seorang ayah terhadap anaknya. Mengapa hanya karena aku berdiam diri di rahim seorang perempuan yang kusebut ibu lantas ibu memberikan seluruh kehidupannya untukku?  Mengapa hanya karena ayah berbagi separuh gennya denganku, ayah menghabiskan seluruh hidupnya untuk membuat kehidupanku menjadi lebih indah? Aku masih harus menjawab pertanyaanku sendiri, maka dari itu untuk memahami arti pengorbanan orangtua, aku inginn menjadi seperti mereka, menghidupi diri sendiri, tidak hanya ingin tau yang namanya ada dan ada.

Keinginanku untuk melihat dunia luar, mungkin seperti usaha seekor katak melarikan diri dari tempurung. Aku juga ingin tahu seperti apa hidup ini sesungguhnya, dan aku ingin melihat kebesaran Tuhan lebih dekat.

Tapi sayang itu hanya sebatas niat yang tak kunjung aku raih, karna aku adalah wanita, anak satu-satunya orangtua yang masih tinggal bersama mereka.

10 Desember 2014

Bagaimana rasanya apabila kau hidup berdekatan dengan seseorang yang memiliki semua yang kau inginkan? Setiap hari kau melihat mimpimu mewujud pada orang lain. Setiap saat kau menyadari rasa iri yang bersarang dihatimu dan kau merasakan hampa yang bercampur amarah. Apakah karena seseorang tidak cukup dicintai lalu ia bisa mengubah apa saja menjadi kebencian yang merana?

Dalam perut malam, kau separuh patah dan terus berjalan menerobos hujan. Kau selalu mencoba bersabar, tapi sekaligus tidak sabar akan kesabaranmu. Kau perlahan mencoba berpikir positif namun pikiran itu dimakan oleh prasangka buruk.

Kenapa jiwamu begitu mudah tersayat? Aku ingin memberimu kekuatan. Aku ingin mendewasakanmu, namun aku juga luluh oleh tangis dalam diammu. Aku merasa sangat buruk, aku harus melindungimu. Aku tahu aku perlu lebih kuat lagi untuk bisa mengajakmu berdiri dan bangkit. Aku mengerti bagaimana ini bisa membuatmu marah pada takdir. Hanya saja, aku lebih bersedih lagi apabila sedihmu itu menjadi simbol ketidakberdayaanku.

Aku pikir, kita sudah lebih matang dalam perbuatan, itulah sebabnya aku membiarkanmu terluka. Aku mengamatimu dari lorong rindu, dan menangis untukmu. Aku berada di neraka untuk kemudian menjemputmu menuju surga. Mungkin di masa depan, hari-harimu tidak selalu diisi oleh senyuman, tapi percayalah aku akan selalu menemanimu melaluinya. Aku tidak akan mendampingimu saat kamu sukses nanti, tapi aku akan selalu mendampingimu saat kamu tidak jadi apa-apa, saat kamu hidup dengan keterbatasan itu, dan aku akan selalu menemanimu melewati hari-harimu, sampai kelak nanti kau akan sukses bersamaku. Dan kita menjadi kuat karena menunjukkan perasaan kita satu sama lain. Ketika hari itu sudah dimulai, maukah kamu terus berada disisiku dan melangkah menuju tempat yang kita sebut rumah?

12 desember 2014

Memasuki rumah yang sangat asing bagiku, rumah yang ku pandangi dari dekat itu, ternyata itu rumah kamu, kamu membawa aku kerumah yang kamu singgahi selama ini, terasa haru dan bahagia, karna kamu memperkenalkan aku dengan orangtuamu. Semoga harapan yang kita ingin, bisa mendapat restu dan jalan untuk kita berdua.

Dia adalah kekasihku dulu, kekasih yang pernah menemani hari-hariku, saat begitu lama berpisah namun kami kembali dengan rasa yang sama, dengan perubahan yang membuat kita selalu dalam kejujuran, setia dan selalu melengkapi.

19 Desember 2014

Suatu saat aku akan menjawab pertanyaanku sendiri saat ini, “apakah kekayaan membawa kita pada kebahagiaan?”. Aku membaca suatu kalimat bahwa Amerika Serikat dengan 40% berisikan orang-orang yang dikategorikan kaya raya, mereka justru mengalami kenaikan jumlah penderita sakit jiwa. Tidakkah itu ironis?

Kabar bahagia datangnya selalu darimana saja, dan kabar buruk tidak akan pernah datang pada waktu yang tepat. Aku selalu siap. Seharusnya aku menghadapi kesenangan dan kesedihan dengan rasa yang sama, dengan ketenangan. Memaknai kematian dan mendalami ajaran islam mungkin harus dilakukan terus-menerus, setan-setan disampingku tidak pernah lelah. Meskipun aku tertidur, setan-setan itu terus menyiapkan rencana saat aku lengah. Aku harus waspada, karena ia begitu melekat pada diriku. Manusia dikaruniai tujuh dosa yang akan mencelakakannya : kerakusan, hawa nafsu, iri dengki, kemalasan, amarah, kebanggaan diri, ketamakan. Mereka menjadi musuh manusia, tapi manusia itu sendiri baru memahami bahwa itu tidak bisa dimusnahkan ketika mereka sendiri musnah. Kita bisa mengendalikannya. Orang yang memiliki cinta dapat menanggung semua dosa itu di dalam dirinya, meskipun sebagian hidup seperti palsu, tapi manusia sudah berusaha meredamnya dan menciptakan kebahagiaan sejati.

Malam ini, aku masih tidak mengerti apapun, aku harus banyak belajar untuk menjawab pertanyaanku.

20 Desember 2014

Aku masih ingat dengan jelas salah satu dari cita-citaku pada list 100 impian yang kutulis ketika aku SMP, salah satu dari impian 100 impian itu adalah menjadi guru. Saat dulu aku menulisnya, aku tidak pernah berpikir bahwa hal itu penuh rintangan. Mulai dari rasa bosan, kemalasan, sampai lelah. Aku sekarang mengalami semua hal itu, tapi di sisi lain aku bergerak ke dunia baru.

Sekolah adalah laboratoriumku untuk terus belajar menjadi dewasa. Aku menjadi orang yang kuinginkan. Penuh wibawa dan disenyumi kemanapun bertatap manusia. Aku tidak tahu mungkin beberapa tahun ke depan aku telah menjadi orang yang lebih baru lagi.  Aku berencana untuk menyelesaikan catatan ini dan memberikannya pada orang yang selanjutnya akan menemaniku merasakan banyak hal baru, entah itu dia (kekasihku) atau atau mungkin ibuku sendiri, atau adik-adikku. Melalui catatan luka ini, aku ingin menyampaikan perasaan yang ada dalam jiwaku. Pernah aku berpikir, sebelum nanti menikah, aku ingin menguburkan catatan luka. Dan akan kubuka ketika aku mengalami permasalahan yang membuatku ingin menangis.

Perjalanan kehidupan bagaimanapun berjalan cepat. Aku masih bisa membayangkan apa yang terjadi ketika aku kanak-kanak dan sekarang aku sudah tumbuh menjadi manusia dewasa. Sangat ajaib melihat diriku sendiri tumbuh menjadi manusia dewasa, ketika kecil aku membayangkan kehidupan manusia dewasa pastilah sangat menyenangkan karena mereka bisa pergi lebih jauh, pulang lebih sebentar dan bermain di luar lebih lama. Aku jadi iri dengan kepolosan yang ada dalam pikiranku. Haruskah aku menjadikannya nyata?

28 Desember 2014

Menuliskan tentang orang yang sama, dengan perasaan yang berbeda. Menyanyikan lagu untuk seseorang yang membuat aku merasa ada. Entah apa yang ada dalam benakku saat aku berusaha memusatkan pikiranku padamu, aku tidak menemukan apapun. Mungkin karena aku memaafkanmu, atau mungkin karena keeogisanku yang selalu menuntut perhatianmu.

Hari ini aku ingin membicarakanmu dengan diriku sendiri. Mungkin masih ada yang bisa ku rasakan sakitnya ini, saat kau sibuk dengan urusanmu, selalu aku coba untuk mengerti, karena aku tidak bisa menuntutmu.

Aku begitu karena aku sedikit mengkhawatirkanmu karena hidup itu kau tanggung sendiri dengan kemandirianmu, semoga kau menemukan sahabat terbaik di masa ini yang selalu menemanimu saat aku tidak bisa disampingmu. Aku sendiri menemukan sahabat-sahabatku yang paling baik dan adk yang sudah aku sanggap saudaraku sendiri. Mereka baik padaku dengan sikap yang tulus, mereka merelakan berbagi waktunya dan saling menolong dalam kesulitan. Jika aku diizinkan oleh Allah, aku ingin menjadi kekasih sekaligus menjadi sahabatmu. Tempat kau bercerita betapa rumitnya masalahmu, tempat kau tertawa dan tersenyum karena hal lucu di sekitar kita. Inilah yang kumaksud perasaan yang berbeda, yang bercerita tentangmu, masih orang yang sama dan akan tetap sama. Aku menvintaimu dengan rasaku, aku ingin menjadi pribadi yang baik untukmu.

31 desember 2014

Ini adalah penghujung tahun 2014, dimana saat aku terbangun, terdengar tetesan air hujan, entah kenapa aku selalu bahagia saat hujan sehabis bulan desember, karena aku merasakan begitu bersyukurnya selalu bersama keluarga dan kamu. Dimana saat hujan pula aku selalu bersyukur karna masih diberikan kesempatan untuk menikmati tetes demi tetes air yang berjatuhan dari kaca luar kamarku.

Ada sesuatu yang berbeda ditahun ini, kesedihan saat melihat saudara-saudara kita mengalami musibah, namun disisi lain, ada banyak dari kita yang merayakan pergantian tahun dan berhura-hura, semoga kita diberikan kesadaran, akan kepedulian kita terhadap sesama, karena kita tidak tau, sampai mana umur dan kapan ajal akan menjemput kita.

Selamat tinggal 2014, begitu banyak hal yang membuat aku semakin dewasa, dan mengerti akan artinya uang, keluarga, sahabat,cinta, dan yang paling terpenting saat ini adalah kuliahku. I Love u ibu, bapak :*.. I love u my everything .. I love u sahabatku , I love u adak terhebatku :*. Semoga 2015 nanti aku menjadi pribadi yang lebih baik dan memanfaatkan waktu untuk melakukan hal-hal yang positif. Amin.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *