CEMARA SERIBU

Cerpen, Fiksi

CEMARA SERIBU

Tanah tertinggi di pulau Lombok ini sangat indah, kita bisa melihat betapa indahnya matahari terbit dengan sangat jelas dan nyata, melihat matahari tenggelam seperti di telan lautan. Kita bisa merasakan bagaimana rasanya seperti berada di atas awan, seperti bisa berdiri dan meraih gumpalan awan tersebut, merasakan dinginnya kabut pagi dan senja hari. Berada di ketinggian terkadang membuat kita merasakan bahwa betapa sempurnanya ciptaan Tuhan.

Perjalanan mendaki gunung akan ku mulai hari ini sampai lima hari kedepan, ditemani kedua sahabat baikku, Akbar dan Artha. Kami memang sering melakukan pendakian bersama, sering bepergian sekedar jalan-jalan menikmati keindahan alam. Kali ini kami akan melakukan pendakian ke gunung Rinjani, dimana gunung tersebut merupakan Gunung berapi tertinggi ketiga dengan ketinggian 3.726 mdpl, yang berada di pulau kecil ini, pulau lombok. Kami mengambil momen pergantian tahun untuk menikmati puncaknya, setidaknya menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang memulai tahun baru dari ketinggian.

Perjalanan ini akan melelahkan. Keluh Artha saat kami berada didalam angkutan kota.

Sudah, jangan mikirin lelahnya, lelah itu kan sudah pasti, namanya juga kita akan melakukan perjalanan, pikirin nikmat dan pemandangan indah yang akan kita temui disana bro1. Sahut akbar.

Aku, hanya bisa tersenyum, sebab setiap kali kami akan melakukan perjalanan Artha pasti akan mengeluh seperti itu dan Akbar pasti akan mengeluarkan jawaban bijak yang serupa. Asik mengobrol, akhirnya kami tiba di terminal, karena disana kami harus naik angkutan selanjutnya. Suara riuh kenek-kenek angkutan yang berteriak menawarkan angkutannya untuk ditumpangi tak terelakkan, sabelum kami turun dari angkutan pertama, ransel kami sudah diangkut oleh salah satu kenek kemudian memindahkannya ke dalam angkutan miliknya.

Bang, bang, sergah artha yang melihat ransel kami di angkut oleh kenek tersebut. Sebentar dulu, kami mau istirahat. Artha berkata sambil mengambil ransel kami.

Iya, saya hanya menaruh ransel kalian diatas supaya mudah. Kata sang kenek.

Dengan raut wajah yang terlihat kesal dan manyun Artha dengan segera bergegas meninggalkan kenek angkutan tersebut.

Kamu kenapa ta?. Tanya Akbar.

Itu, kenek yang menyebalkan, sudah tahu panas begini, ditambah ketemu kenek yang cerewet dan memaksa. Runtuk Artha dengan kesalnya.

Setelah beristirahat cukup lama dan matahari sudah semakin terik, kami pun melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum.

Nanti kita istirahat dulu di Aik Mel Ndi, sembari kita melengkapi lagi apa yang sekiranya masih belum cukup untuk kita bawa. Akbar membuka obrolan.

Oke bro, disana memang kita harus turun untuk ganti angkutan lagi, ya sekalian kita istirahatlah. Jawabku.

Tidur pak!. Aku melanjutkan sambil menepuk bahu Artha.

Emm,, emm,, iya ndi, masih panas rasanya kepala saya gara-gara kenek tadi. Sahut Artha dengan mata terpejam.

Hampir satu jam perjalanan didalam mobil angkutan yang terasa begitu sesak. Masih sekitar 45 menit lagi kami akan tiba di terminal. Aku pun ikut meletakkan kepala pada sandaran kursi sembari memejamkan mata. Hanya Akbar yang masih terjaga, melamun sendiri, entah apa yang dipikirkannya. Aku tak tahu.

Ndi, ndi, kita sudah sampai di terminal, ayo bangun. Akbar berkata sambil mengguncang-guncang bahuku.

Aku terbangun, kemudian membangunkan Artha yang terlihat begitu menikmati tidurnya. Kami akhirnya tiba di terminal, tapi kami belum tiba di kaki gunung Rinjani, masih sekitar satu setengah jam perjalanan lagi yang harus kami tempuh dengan angkutan untuk sampai ke kaki gunung Rinjani. Kami beristirahat sejenak, mencari derai angin untuk menyegarkan sedikit tubuh kami yang terasa panas saat berada didalam angkutan tadi.

Ayo. Ajak Artha.

Wih, kembali bersemangat kayaknya abang ni. Canda Akbar.

Iya dong, harus itu, kan kita mau lihat pemandangan yang indah. Jawab Artha sambil cengengesan.

Ayo. Aku berdiri.

Siap kapten. Jawab Akbar.

Kami melanjutkan perjalanan kembali dengan menumpang mobil pengangkut sayur untuk bisa sampai di kaki gunung Rinjani. Diatas mobil tersebut kami tidak hanya bertiga, ada juga dua orang ibu-ibu yang akan kembali ke rumahnya yang berada di desa terakhir, tepatnya di kaki gunung Rinjani.

Bu ada punya kebun strawberry?. Artha membuka percakapan.

Tidak ada nak, sayuran aja yang kami tanam. Jawab salah satu ibu tersebut.

Sayur apa itu bu?. Artha melanjutkan.

Banyak ini. Jawab ibu tersebut.

Boleh kami minta bu?. Sambung Artha.

Ambil saja nak. Jawab ibu.

Dengan cekatan Artha memilah sayur-sayuran dari keranjang ibu-ibu itu untuk kami bawa. Aku hanya tersenyum melihat tingkah sehabatku ini.

Bar, bantuin ayo. Tunjuk Artha kepada Akbar.

Oh, iya bro. jawab Akbar.

Setelah selesai memilah sayuran yang akan kami bawa, kami duduk kembali ke posisi masing-masing. Artha begitu asiknya mengobrol dengan ibu-ibu tersebut. Aku menikmati pemandangan yang terpajang disekeliling ku, menikmati udara ketinggian yang sudah mulai terasa dingin.

Satu setengah jam perjalanan itu akhirnya berakhir, kami tiba di Desa terakhir yang merupakan awal dalam perjalanan kami. Kami mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan ini. Kami berkumpul membuat lingkaran kecil, menundukkan kepala.

Kita akan memulai perjalanan dari sini, siapkan mental, fisik kalian. Tetap bersama, jaga jarak jangan terlalu jauh ketika berjalan. Artha, kamu yang didepan, Akbar dan aku di belakangmu. Mari kita menundukkan kepala sejenak, memohon keridhaan dari Tuhan, supaya perjalanan kita lancar dan aman. Berdoa, mulai. Aku memimpin.

Kami memulai perjalanan, perlahan, selangkah demi selangkah, mencoba tetap untuk menyeimbangkan, menikmati beban dari bawaan kami. “Aku kembali lagi kesini, aku tidak pernah bosan untuk mengunjungi tempat ini, tempat ini selalu indah untukku. Hai, rinjani. Aku membatin.”

Ndi, kita istirahat di pohon besar itu iya, kita makan siang dulu. Teriak Artha.

Oke bro. Aku menjawab.

Huh, fiuh. Artha menghembuskan nafas. Lumayan. Sambungnya.

Kami membuka nasi bungkus yang telah kami persiapkan untuk makan siang. Menyantap makan siang seadanya dengan latar pemandangan pegunungan membuat serasa kami sedang makan di resataurant termewah yang ada di dunia ini. Setelah makan siang kami tandaskan, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2 sembalun, dimana tempat itu merupakan tempat kami akan berkemah.

Hari sudah semakin senja, kami terus berjalan untuk segera sampai dan beristirhat.

Sampai bro. celetuk Artha.

Akhirnya. Dengan nafas terengah Akbar berkata.

Kami langsung membuka perlengkapan untuk bermalam. Membangun tenda, menyiapkan peralatan masak dan makan, mengambil air. Kami membagi tugas masing-masing. Malam dengan atap langit yang sangat indah terbentang diatas kami. “Aku selalu ingin menikmati malam seperti ini. Aku selalu ingin melihat bintang-bintang menari diatas awan. Aku membatin.”

Pagi dengan suara riuh burung, monyet yang bergelantungan diatas pohon menyambut kami. Hari ini kami akan melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya. Kami harus menyiapkan fisik yang lebih, sebab jalur yang akan kami lewati akan lebih menanjak. Packing dan sarapan telah kami tuntaskan. Kami bersiap untuk mendaki kembali. Setelah semua selesai dan bersiap kami mulai mengayunkan kaki, berjalan selangkah demi selangkah.

Pos 3. Teriak Akbar.

Istirahat dulu dah bentar. Sambung Artha.

Kami menyandarkan tubuh kami pada batang pohon cemara yang tumbang sembari menenggak air untuk membasahi tenggorokan kami yang terasa kering. Beberapa menit kami beristirahat, kami melihat dua orang pendaki lain yang menuju ke arah kami. Satu pria dengan badan tinggi, rambut gondrong, memabawa dua ransel sekaligus, sedangkan satunya seorang wanita bertubuh mungil dengan hanya memabawa kantong air di punggungnya.

Hay. Pria itu tersenyum menyapa kami yang sedang beristirahat.

Halo, istirahat bang. Sahut Artha.

Iya. Jawab pria tersebut.

Kami beristirahat bersama, berbincang-bincang sebentar.

Kami lanjut duluan ya. Pria tersebut berkata.

Oh, iya bang. Jawab Artha.

Beberapa menit setelah meraka berjalan, kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Dari sini, jalur akan terus menanjak, hati-hati dan tetap jaga jarak. Aku berpesan. kami terus berjalan, mendaki dan mendaki. Sepuluh langkah pertama Artha langusng membungkuk.

Huh, suara nafas Artha.

Kenapa Ta, capek?. Goda Akbar.

Dikit. Jawab Artha sambil tersenyum.

Ayo. Pelan-pelan aja dah. Sambungku.

Di kiri kanan kami terdapat banyak pohon cemara berukuran kecil, kami terus menyusuri jalan setapak didepan kami. Mendaki dan mendaki.

Udah berapa punggungan ni bar?. Tanya Artha tiba-tiba.

4 kayaknnya Ta. Jawab Akbar.

berarti satu punggungan lagi shelter ekstra. sambung Artha.

Iya. Jawab Akbar.

Aku melihat bangunan dari besi berwarna hijau tersebut, entah, tapi bukan itu yang ku perhatikan. Aku melihat dia sedang beristirahat disana. Sejak pertama melihat mata itu, aku memikirkannya. Pandangan matanya membuatku semakin bersemangat untuk mendaki.

Eh, ketemu lagi bang. Celetuk Artha.

Iya. Jawab pria tersebut.

Lanjut dah dulu, nanti di cemara seribu kita istirahat. Ngopi-ngopi. Teriakku.

Kami melewati mereka yang sedang beristirahat. Batinku, aku ingin berbicara dengannya, walaupun hanya ber say hay. Perjalanan kami masih panjang dan kami mengejar target waktu untuk sampai di tempat bermalam sebelum malam hari, untuk itu kami harus jeli memilih tempat dan waktu untuk beristirahat.

Blek, suara ransel yang dilepaskan oleh Akbar. Cemara seribu.

Bar, keluarin dah trangia, kita buat kopi. Artha meminta Akbar.

Akbar langsung membuka ranselnya kemudian mengeluarkan trangia, Artha menyiapkan perlengkapan lainnya. Aku duduk diantara empat pohon cemara yang terlihat paling besar dan tinggi. Aku mengeluarkan sebungkus rokok untuk menemani istirahat “ngopi” kami.

Dia kembali terlihat, kali ini terlihat sedikit berbeda, dia tersenyum kepadaku dan aku pun membalas senyumnya.

Istirahat dulu. Ngopi. Nyemil-nyemil. Aku berkata.

Iya. Dia menjawab.

Itu pertama kali aku mendengar suaranya. Merdu dan mungil. Kami berbincang-bincang ringan tentang gunung, pendakian, tempat-tempat indah dan lain sebagainya. Mereka berasal dari pulau Jawa, tapatnya daerah Cirebon. Pria tersebut bernama Ian dan wanita itu bernama Rita. Segelas kopi dan sebatang rokok telah kami tandaskan, menandakan waktunya kami untuk melanjutkan perjalanan. Artha, Akbar dan Ian telah bersiap untuk berjalan, sedangkan aku masih rada bermalas-malasan.

Ndi, temenin Rita ya, minta tolong, saya udah ngerasa agak gak kuat ni bawa dua beban sekaligus, jadi sepertinya saya harus duluan jalannya. Ian berkata.

Iya. Dengan ekspresi agak kaget Aku menjawab.

Mereka bertiga langsung bergegas tanpa berkata apapun. Aku mengangkat ransel ke bahuku.

Ayo. Aku mengajaknya.

Iya. Dia menjawab sambil tersenyum.

Kami melangkah, dia berada di depanku, aku mengikutinya. Kami berjalan dalam bisu, hanya menikmati aroma nafas bercampur dengan kabut dingin. Mulutku seperti beku. Beku dalam kekaguman, beku dalam keterpesonaan, beku karena pandangan. Aku memberanikan diri, mengumpulkan tenaga untuk membuka mulutku. Ayolah bicara. Aku membatin.

Minum Rit. Aku memulai percakapan.

Ndaq, ntar aja. Rita tersenyum menjawab.

Udah selese kuliah?. Tanyaku.

Udah. Dia menjawab dengan singkat.

Oh, kerja dimana sekarang?. Aku bertanya lagi.

Ngajar. Dia menjawab.

Aku kaget mendengar jawabannya. Ternyata dia adalah seorang Guru Sekolah Dasar. Dia lebih tua tiga tahun dari ku. Selanjutnya banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari hal remeh-temeh, perkembangan pendidikan di Indonesia, dan sebagainya. Tanpa terasa senja dingin kabut dari ketinggian 3.200 mdpl datang menyambut kami. Artha, Akbar dan Ian telah membangun tenda dan menyiapkan segala sesuatunya. Kami akhirnya tiba ditempat kami akan bermalam. Kami di sugihi minuman hangat oleh mereka.

Aku mau istirahat, kan ntar mau muncak. Rita berkata.

Oh, iya. Ntar bang Ian yang bangunin kamu. Aku menjawab.

1 Januari 2013, pukul 00.30.

Aku terbangun, kemudian menyiapkan perlengkapan serta makanan yang akan kami bawa menuju puncak.

Hay. Sapa Rita yang mengagetkanku.

Eh, hay. Cepet sekali bangun. Aku menjawab.

Kan emang jam segini kita persiapan sebelum berangkat ke puncak. Jawab Rita.

Hehe. Iya, iya. Jawabku malu-malu.

Mau buat apa?. Tanyanya.

Mau buat kopi jahe, biar hangat ntar badannya pas muncak. Jawabku.

Bisa tetep hangat emang?. Sanggahnya.

Walaupun ndaq hangat, setidaknya rasa hangatnya masih tetep ada. Sergahku.

Dia tertawa renyah sekali, sampai membangunkan ketiga lainnya. pinter ngeles ya kamu ni. Rita berkata.

Ndaq ngeles, tapi emang gitu kan. Jawabku.

Iya dah iya. Dia menjawab dengan manjanya.

Aku tersenyum padanya dan dia membalas tersenyum kepadaku.

Terkadang, kita akan merasa bahwa hawa dingin itu adalah sebuah kehangatan. Hembusan angin yang terasa menyengat, hangat, seperti di bumbui dengan serpihan percikan api. Tak peduli mata yang terasa berat, tubuh yang terasa letih, kaki yang terasa lelah, karena cukup dengan tertawa semua akan menjadi lebih baik. Aku melihat senyum itu pertama kalinya, diantara empat dari seribu pohon cemara yang mengelilingi kami. Manis, bahkan sangat manis melebihi manis gula buatan tangan manusia, tak kalah dari gula alami. Dan aku merasa, aku jatuh cinta kepada dia, Rita, si ibu guru kecilku.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *