Cerita Terabaikan Dari Orang-orang Gila

Kepenulisan, Non Fiksi, Opini

perjalanan orang gila

Orang gial alias tidak waras adalah salah satu bagian dari masyarakat, terlepas dari ketidaknormalan mereka namun mereka ibarat noktah di kehidupan. beberapa waktu belakangan sering sekali saya melihat orang-orang gila yang berkeliaran dengan serangkaian tingkah unik mereka, sepanjang perjalanan dar rumah di Lombok Tengah hingga Mataram saya menjumpai cukup banyak jenis orang gila dengan segala tingkah yang menjadi ciri khasnya.

Orang gila pertama yang sering saya lihat adalah sesosok lelaki kira-kira berumur 50 tahun-an, lelaki paruh baya dengan pakaian yang tidak terlalu kotor menggunakan celana dan jaket selalu saja berjalan dari dari daerah rumah saya di Aik Dareq batukliang hingga kawasan Keru dan dia akan kembali balik lagi berjalan dengan rute yang sama, langkahnya nampak tergesa-gesa tidak mengganggu orang lain dan acuh saja sepanjang jalan. miris melihatnya. hampir sama juga dengan perempuan separuh baya yang selalu berkain yang tipenya hampir sama senang berjalan namun terkadang saya menemukannya berjalan hingga daerah Gerimax Bertais Mataram.

Ada juga yang kedua lelaki berkisar 30 an tahun nampak muda namun kegilaannya parah, biasanya terlihat di daerah Golong Keru, dia akan duduk di saluran air tidak mau beranjak. entah apa yang membuatnya begitu.

orang gila ketiga mungkin membuat kita shock, yaitu sesosok perempuan muda berusia dua puluh tahunan yang tingkah gilanya paling ekstrim, terlihat di kawasan Pemepek hingga Keru, perempuan yang masih muda dan cantik serta montok ini biasanya akan berkeliaran begitu saja tanpa sehelai pakaian alias telanjang, astaghfirullahaladzim….. rasanya ingin mengelus dada bahkan terkadang tak sanggup melihat, karena merasa sesama perempuan. sungguh malang, entah apa yang menyebabkan ia bertingkah begitu bahkan parahnya ia sempat hamil namun entah bagaimana tiba-tiba perut buncitnya tidak nampak lagi. beberapa hari yang lalu ia nampak berjalan santai di dekat Pos Polisi pertigaan Golong Keru.

Ada juga orang gila lain seperti di daerah Sengkol II Batukliang, orang gila yang berdandan bak ninja, atau di daerah Montong Dao yang suka berjalan juga dengan gaya bak sufi dan orang gila lainnya yang banyak saya jumpai bahkan beberapa orang di seputaran Mataram.

Yang menjadi pertanyaan saya, di manakah peran keluarga maupun pemerintah? tak adakah jalan untuk melindungi mereka atau merawat mereka daripada hidup di jalan dengan luntang lantung?
mungkin dari keluarga karena faktor ekonomi maupun malu hingga mereka diacuhkan, namun bagaimana dengan pemerintah yang memiliki lembaga semacam RSJ ( Rumah Sakit Jiwa )?
menurut saya mereka seharusnya dirangkul dan ditampung dalam RSJ jika keluarga mengabaikan mereka. rasanya kasihan melihat keadaan mereka yang tidak jelas dan tanpa perlindungan sedikitpun.

#renungan sepanjang perjalanan dari Kembang kerang II, Aik dareq Lombok tengah — Mataram.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *