Cerpen Kasih Tak Sampai

Resensi

Cerpen Kasih Tak Sampai

KASIH TAK SAMPAI

Barangkali kita semua pernah juga mengalami peristiwa seperti kekecewaan, penyesalan, dan penghianatan. Barangkali juga tidak. Betapa saya telah memutuskan untuk memaparkan peristiwa tersebut di sini. Sekedar untuk meringankan perasaan berdosa yang menghantui saya siang dan malam. Yang membuat tidurku tak lelap. Hiduppun tak enak.

Sekilas cerpen yang menggambarkan tentang ketidak sampaian sebuah harapan……

Dulu…… tapi, tidak terlalu lama. Barangkali tiga tahunan kurang. Saya menjumpai seorang gadis yang sedang menangis. Mula-mula saya kira dia sakit. Perlahan demi perlahan saya dekati dia, barangkali saya dapat membantunya.

“Mbak….” Tegur saya dalam keadaan ragu-ragu. Kenapa?

Si mbak terkejut mendengar suara saya, tangisanya pun mulai terdengar. Tak pernah saya bayangkan, dia memeluk saya.

Suasana mulai berubah. Tetapi keramaianpun masih terlihat, setidak-tidaknya, ia pasti merasa malu memeluk laki-laki di tengah keramaian, di tambah suara ombak yang menambah keramaian, seharunya memungkiankan dia untuk tidak melakukan hal segila itu.

“Kenapa Tuhan tak pernah adil? Kenapa hidup saya selalu menderita? Tutur si mbak ini sambil menangis.

Saya pun terkejut. Tak ada hujan, tak ada angin, dia mengelurkan pertanyaan yang tidak logis dan di luar kesadaran.

“Mbak…. “ tegur saya dengan rasa terharu. “ Apa masalahnya?,

Menit demi menit berlalu, saya mengajak dia kesebuah warung kecil. Saya kasih segelas ari, dengan maksud untuk menenangkan hati dan pikiranya.

“Mbak….” Tegur saya untuk ketiga kalinya. “Ada masalah apa? Perlahan demi perlahan mbak ini bersandar di pundakku.

“Saya sedih mas, “ katanya smbil mengusap-usap matanya. “Saya dihianati mas.”

Putus! Kaget saya mndengarnya. Dia bukan tukang tipu. Bukan wanita jalang. Walapuan pakaianya tidak mencukupi bakal atau pakaian muslimah.

“Mbak dari mana?” dia tidak menjawab. “Mengapa mbak kesini,” raut mukanya berubah sambil menundukkan kepala.

“Emmmmm maaf sudah kalok saya kebanyakan nanyak,” hibur saya sambil mengajak jalan-jalan mengitari pantai. “Hidup ini indah dan panjang.’ Tutur saya untuk menghiburnya.

“Iya mas….. terimakasih atas motivasinya. Kini saya agak lebih tenang” jawab ia sambil menatap mata saya. Saya pun udah agak tenang ketika dia jawab begitu.

“Iya mbak, sama-sama.” Jawab saya dengan penuh rasa simpati. “Jadikan semua ini menjadi pelajaran dan kewaspadaan mbak untuk mneghadapi masa yang akan dating.” Saya akan selalu ada ketika mbak butuh temen curhat.” Tutur saya smbil berjalan.

Hari mulai sore. Matahari pun pulang keberadabannya…….. Tidak ada lagi keramaian. Kini saya berjalan seorang diri.

“Mas….” Terkejut saya mendengar suara pangilan itu. Dalam hati saya berkata “sepertinya, suara ini tidak asing lagi’. Saya membalikkan badan..

“Tunggu mas….” Ternyata mbak yang menagis itu memanggil saya. “Boleh minta nomernya?” tutur ia sambil ngos-ngosan.

“Iya, boleh” jawab saya sambil mengambil handponenya….

Lama tak lebih dari dua minggu. Kenyamanan saya sama dia terasa, harapanpun kinipun terbuka. Lambat laun. Saya memilih untuk mengajak dia lebih dari sekedar temen curhat (pacar).

“Tuhan mengirimkan sebak mas dalam kehidup saya.” Suasana kini hening. “akan tetapi, saya minta maaf. Saya tidak bias. Saya tidak pernah berpikiran untuk menjalin hubungan lebih dari itu.” Jawab ia sambil menangis. “Saya hanya mau mas menjadi teman yang selalu ada buat saya, saya tidak menginginkan jika suatu nanti kita akan merpisah dan menjadi musush.” Tutur dia sambil memegang tangan saya.

Dengan rasa yang sangat kecewa. Saya lepaskan tanganya. Tergesa-gesa saya berbalik dari hadapannya. Berjalan tanpa sepaah kata. Saya merasa sangat berdosa. Saya meninggalkanya tanpa perasaan. Meninggalkan seseorang yang sangat membutuhkan saya, yang sangat mengharapkan kehadiran saya.

Tetapi, seandainya anda jadi saya, apakah anda tidak akan melakukan hal seperti sya? Atau mungkin, anda tidak akan menghiraukannya? Anda terlalu sibuk dengan menegur wanita yang sedang menangis? Kalau begitu, kita sama-sama tak punya hati…!


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *