CINTA SANAWIYAH PART II

Cerpen, Editor Picks, Fiksi

CINTA SANAWIYAH PART I

Setelah dua hari putus dengan dewi, gue naksir lagi sama temen kelas gue namanya Ana. Ana ini anaknya cantik, pinter, alim, pokoknya menarik hati gue dah kalo gue pandang dia. Wadu..h rasa cinta gue ke Ana ini melebihi cinta gue ke Dewi.
Gue coba pedekate dengan dia. Gue deketin temen deketnya dulu, namanya Nur. Gue tetep ngeliat nur sambil-sambil senyum kepadanya. Saat ngeliat Nur, gue coba memalingkan pandangan gue ke Ana ini. Gue coba senyum ke Ana, dan diapun ngerespo senyuman gue. Wadu…h lega rasa hati gue kalo ngeliat Ana menyambut senyum gue itu.
Karena gue deketin Nur, temen-temen kira gue mau sama Nur. Adu…h mampus dah gue! Mereka salah kafrah. Sampe-sampe Ana ini ngomong ke gue.”side mau ya sama nur?” katanya. Langsung gue jawab,”tidak Ana, gue tidak bermaksud mau sama Nur.” Dia bilang,”o…..h!”
Selanjutnya, gue rubah cara pedekate gue ke Ana. Gue coba palingkan perhatian gue ke dia. jadinya, waktu itu gue deket juga sama keduanya, yakni Ana sama Nur.
Gue deketin si Ana. Gue coba bertanya kepada dia tentang pelajaran, dan dia juga ngerespon gue dengan baik. Wadu….h seneng banget hati gue bisa deket sama dia. Tiep hari gue coba shering pelajaran sama dia, dia juga mau shering sama gue. Gue tetep senyum kepada dia, dia juga menyamut senyum gue dengan senyum juga. Pokoknya seru banget gue deketnya sama dia.
Setelah lama-lama kita shering pelajaran, kita senyum-senyuman, gue mencoba mencari waktu yang tepat untuk menyatakan cinta gue ke dia. Walaupun ndak terlalu lama sih pedekate gue, yang cumen dua minggu.
Dan akhirnya gue menemukan watu yang tepat untuk nyatakan cinta gue ke dia. Tapi, gue nyatakan cinta masih pakek kertas aja, belum berani ngomong langsug sama dia. Gue tulis surat untuk dia. Yang isi suratnya seperti ini: ”Ana! Sebenernya aku cinta sama kamu. Maukah kamu jadi pacar aku?” Dan gue berikan surat itu ke dia pas kita pulang sekolah waktu itu. Gue jalan berdua dengan dia dengan langkah malu-malu. Nah, pas di area sepi, gue langsung berikan surat itu ke dia, karena gue malu kalo di tempet rame beri dia. “Apa ini,” tanya Ana ke gue. Lalu gue jawb,”bacalah! Nannti kamu tau apa isinya.” Dan setelah gue berikan dia surat itu, kita pisah. Gue pulang lewat jalan yang lain, ndak searah dengan jalan ke pondoknya.
Waktu gue kasi dia surat itu, ketepatan dengan hari libur setelah semester ganjil, ya……h gue nunggu jadinya selama seminggu. Gue tunggu jawaban dia. sambil menunggu jawaban, gue curhat sama temen gue namanya Ali. “Ali! Gue nyatakan cinta ke Ana. Kira-kiri dia nerima aku gak ya?” curhat gue ke Ali. Kemudian Ali jawab,” tenang saja! Kalo kamu, cewek manapun sulit nolak kamu termasuk Ana.” Gue bangga setengah mati dengan pujian Ali. Karena pujian Ali itu, gue jadi optimis diterima oleh Ana.
Seminggu kemudian, tibalah waktu masuk sekolah. Gue jadi deg-degkan kalo mau sekolah. Dan pada hari pertama masuk sekolah itu, tepatnya hari senin, gue ketemu sama Ana. Ternyata, Ana sekarang berubah. Sebelum gue berikan surat pernyataan cinta itu, dia selalu menyambut senyum gue. Pas pertama masuk sekolah itu, gue senyum ke dia, dia cemberut gitu. sulit senyumnya waktu itu. Gue langsung berfikir,” aduh! Mampus dah gue sekarang.”
Sepulang sekolah gue coba deketin dia dan pulang ngikuti dia. Jadi, gue berdua lagi pulang sama dia. Gue tanya dia,”kamu kenapa Ana?” Dia die..m aja. Gue tetep ikuti dia sampe di deket pondoknya dan dia berikan sepucuk kertas. “Ini,” katanya, lalu dia cepet masuk ke pondoknya. Dan gue langsung pulang waktu itu.
Sesampe rumah, gue simpen dulu surat itu. Gue nunggu saat-saat sepi untuk baca surat itu, karena di rumah biasanya rame. Dan akhirnya lama-lama nunggu, gue mendapatkan saat-saat sepi itu. Dan gue langsung buka lembaran itu dan membaca isinya. Bunyi surat itu: “maaf ya wir, aku tidak bisa menerima side. Aku minta maaf sekali.” Perasaan gue secara langsung tersakiti waktu itu. Memang gue sadar, inilah resiko nyatakan cinta. Kadang kita diterima, kadang juga kita ditolak. “ndak apa lah,” kata gue sambil pasrah. Walaupun pasrah bukan berarti gue patah semangat untuk bisa dapatkan cintanya Ana.
Gue curhat di Ali. “Ali, gue ditolak sama Ana,” kata gue. Ali jawab,” Masak? Ya…. sabarlah kalo gitu kawan.” Ali ndak berikan gue semangat, cumen nyuruh gue bersabar aja. Gue gak puas jadinya curhat di Ali. Kemudian, gue coba curhat di temen cewek gue, namanya Ani. “Ani, aku ditolak cobak sama Ana,” kata gue. “kok bisa gitu?” kata Ani.
Ani sarankan ke gue dengan berkata,” cewek itu perutnya lemes, ndak kuat. Maksudnya begini, biasanya cewek itu kalo ditembak sekali ndak cukup. Cobalah untuk yang ke-dua kalinya! Bahkan kalau belum bisa juga, coba untuk ke-tiga kalinya.” Semangat gue tumbuh oleh Ani, dan gue berencana untuk tembak Ana untuk yang ke-dua kalinya.
Gue buat rencana selanjutnya untuk nyatakan cinta lagi ke Ana. Dan setelah rencananya pas menurut gue, gue langsung tembak Ana lagi.
Rencananyapun dah jadi, tinggal gue siep ngutarakannya saja. Sebelum acara pengutaraan cinta ke Ana untuk ke-dua kalinya ini, tiba-tiba datang seorang cewek, namanya Nia. Kebetulan Nia ini juga temen kelas gue, dan dia tau kalo gue mau sama Ana. Nia ini langsung bilang,”nanti, Ana pengen ngomong sama side.” Gue jawab,”bener ni? Ndak bohong?” “bener, n ndak bohong kok,”katanya. Gue semakin semangat, gue pengen cepet-cepet ketemu Ana mendengar kata Nia ini.
Keesokan harinya, gue persiekan kata-kata yang bagus dulu untuk menyatakan cinta gue. Dan kebetulan waktu itu pelajaran gue penjaskes, dan biasanya kalo penjas kita keluar dari sekolah dan berolah raga di lapangan, ya… masak kita olah raganya di dalam kelas kalo di sekolah. Lapangan tempat kita berolah raga agak jauh dari sekolah kita waktu itu. Dan kita butuh perjalanan sekitar sepuluh menitan lah untuk bisa sampe sana. Kita semua keluar dari kelas. Dan ana keluar duluan, gue belakangan. Gue turutin Ana dari kejauhan, ndak terlalu jauh sih, sekiter lima meteran. Ana jalan dengan pelan-pelan, gue juga jalan dengan pelan-pelan. Setelah lima belasan meter kita jalan, gue percepat langkah gue untuk deketin ana. Dengan langkah cepet, akhirnya gue jalan berdua dengan dia. gue coba samperin ana, gue sapa dia. “ana, gimana kabarmu?” kata pertama gue. Ana jawab,” alhamdulillah baik.” Gue sambut lagi dia dengan mengatakan,” ana, apakah bener kamu kepengen ngajak aku bicara kata Nia?” dia jawab,”tidak.” “waduh! Aku dipermainkan ni sama Nia,” kata hati gue. Ana juga langsung lanjutin pembicaraan. “bener, side mau ngajak aku untuk bicara kata Nia juga?” kata Ana. “tidak juga. Berarti ini Nia yang buat-buat. Tapi biar dah, tidak apa-apa.” Kata gue.
Gue lanjutin omongan gue sama ana. “ana, gimana sekarang? Aku bener-bener cinta kamu ana. Aku tidak puas dengan suratmu yang kemarin itu. Apa alasan kamu menolak aku Ana?” kemudian Ana jawab gue dengan merendah,”sebenernya, aku juga cinta sama side. Tapi aku malu, aku minder kalo seandainya aku pacaran sama side, karena side itu orangnya pinter, baik, pokoknya lain dah dari aku.” “ kok kamu begitu? Justru itu yang akan kita benahi. Maksud aku, kalo kamu rasa aku pinter dari kamu, kita bisa shering, kita bisa belajar bareng, dan kita bisa saling suport di sekolah,” kata gue ke ana. Gue menjadi makin semangat waktu itu. Gue lanjutkan pembicaraan gue sama ana dengan ungkapan pertanyaan,” jadi gimana sekarang Ana? Apakah kamu mau jadi pacarku?” trus dia jawab,” ya. Aku terima side wir jadi pacar aku.” “ yeeeeeeee…. aku diterima, yes, yes,” kata hati gue dengan wajah senyum ke Ana. Dan akhirnya, kita pacaran dari sejak itu. Sungguh gue sangat seneng diterima sama Ana, gue bangga diterima sama dia, karena dia cewek idaman gue saat itu.
Gue jalani hubungan cinta gue sama ana dengan penuh rasa cinta. Begitu juga ana, gue percaya bahwa Ana juga menjalani nya dengan penuh rasa cinta.
Setiep hari gue sekolah, gue sangat seneng karena gue bisa tetep ketemu sama pacar gue. Setiap jam pelajaran, gue fokus dulu ke guru yang menerangkan pelajaran, dan setelah pelajaran usai diterangkan biasanya gue memalingkan muka ke Ana untuk tebar senyuman gue ke Ana. Dan setiep gue senyumin Ana, dia selalu sambut senyuman gue dengan senyum manisnya. Gue sangat seneng, karena disamping gue nuntut ilmu, gue selipin kesenengan untuk ketemu dengan Ana. Niat gue sekolah jadi terbagi dua, diat nuntut ilmu dan niat ketemu ana. Tapi biar dah walaupun gak sepenuhnya niat gue untuk nuntut ilmu, yang penting ada motivator dalam nuntut ilmu.
Ana sangat cerdas dalam pelajaran berhitung, khususnya di matematika. Sedangkan gue pengetahuan gue standar dalam hitung-hitungan. Tapi walaupun sedandar, gue tetep dipercaya sama guru gue untuk jawab soal, untuk pimpin temen-temen diskusi dan ngebantu temen-temen gue yang agak kurang ngerti dalam pelajaran tersebut, khususnya pelajaran matematika. Gue mamfaatin kecerdasan Ana untuk bisa diskusi dengan dia, tapi ndak sih gue mamfaatin untuk nyontek ketika ulangan.
Hari-hari pacaran gue, gue selalu isi dengan diskusi jika di kelas. Kalau masalah ngomong cinta sama dia, gue mamfaatin waktu pulang sekolah gue. Ketika waktu pulang sekolah, gue pulang samaan, jalan samaan dengan dia. Jadi kesempatan kita ngomong masalah cinta hanya terjadi di jalan aja. Ketika gue jalan, gue curhat ke Ana tentang prasaan cinta gue. Dia juga buka diri untuk curhat ke gue tentang perasaan cintanya ke gue. Dan masa pulang sekolah merupakan hal yang terindah jadinya bagi gue dan Ana.
Selain waktu pulang sekolah, waktu kita untuk ngomongin masalah cinta juga pada hari minggu. Setiep hari minggu jadwal kita adalah kerja bakti, yang harus dlaksanakan oleh semua kelas, dari kelas satu sampe kelas tiga. Pas jadwal kerja bakti itu, gue mamfaatin waktu untuk ngomong berdua sama Ana. Dan biasanya pada hari minggu itu, kita evalusi gemana jalannya hubungan kita. Kayak perusahaan aja dievaluasi. Tapi cukup berguna juga bagi hubungan gue, karena kita tau apa saja yang perlu kita benahi lagi dalam hubungan kita, kalo seandainya kita kurang belajar misalnya, dia nasehati untuk lebih lagi belajarnya, seperti itulah evaluasi hubungan kita.
Sungguh indah sekali rasanya pacaran gue dengan Ana, dengan bisa memanfaatkan hubungan pacaran untuk kerja sama dalam proses belajar.
Hari berganti hari, rasa cinta gue ke ana tetep pasang dan tidak bisa surut rasanya. Gue hampir ndak pernah bermasalah sama dia, karena gue bisa jaga hati dia, dan dia juga jaga hati gue. Tapi, walaupun kita saling jaga hati, ada saja masalah yang datang melanda hubungan gue. Bukan masalah dari kita sih, tapi masalah ini dari guru ngaji kita. Guru ngaji ini sangat egois melihat anak buahnya pacaran, dia sangat tidak suka ngeliat anak buahnya pacaran. Gue gak tau apa alasannya dia sangat benci kalo tau kita pacaran, apalagi dia liat kita berduaan ngomong walaupun di jalan, mala petaka dah jadinya.
Waktu itu, ketika Ana ngaji di Guru yang egois ini, dia diperingati.”siapa diantara kalian yang pacaran? Angkat tangan kalian!” kata guru itu. Semua temen-temen Ana, termasuk Ana diem dan ndak berani ngomong apapun. “cepet, ngaku! Sebelum mata-mata saya kasih tau saya, siapa yang pacaran di antara kalian.” Mereka tetep diem dan ndak berani ngaku. “ya sudah. Besok siapa pun yang saya tau dan liat pacaran saya akan hukum kalian,” kata guru itu lagi sambil marah-marah. Dan setelah guru ini marah-marah, ahirnya Ana dan temen-temen ana pulang. Setelah pulang ngaji, kebetulan gue ketemu dengan ana di rumah temen gue yang namanya Ani. Gue samperin ana, dan langsung dia bilang ke gue,”wir ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama side.” Kata ana. Gue jawab ana dengan senyum,” apa itu yang ingin kamu bicarakan?” waktu itu gue ndak panggil dia sayang ato apalah, karena gue masih malu dengan kata-kata itu. Selanjutnya ana juga curhat ke gue. “wir, gimana ni? Tadi kita dimarahi sama Kakak yang ngajar kita itu. Kita dilarang pacaran katanya.” Gue mikir, dan mencari teknik apa untuk bisa tetep pacaran sama ana. “gini dah ana. Pacaran kita ini kita sembunyikan dari khalayak. Walaupun temen-temen tahu, saya yakin mereka akan nyembunyikan kita kok. Tapi kita sembunyikan dari khalayak maksudnya, dari guru-guru kita. Gimana?” lalu ana jawab gue,” ya dah wir. Kita gitu dah, kita sembunyikan hubungan kita ini dari khalayak yang belum tau, khususnya guru-guru kita,” kata ana. Strateginya pun kita coba.
Hari demi hari kita pacaran dengan strategi sembunyi-sembunyi. Walaupun denga sembunyi-sembunyi, pacaran gue sama ana tetep lancar waktu itu. Gue tetep pulang sekolah sama ana. Tapi, walaupun tetep berdua, kita cari jalan yang agak sepi yang tidak terlalu banyak orang lewat dari jalan tersebut. Dan gue ternyata berhasil pacaran dengan sembuniyi-sembunyi sama ana.
Pacaran dengan sembunyi gue berhasil. Tapi, ada saja masalah yang tibul walaupun gue sudah usahain kayak gitu. waktu itu, kepala sekolah gue tau bahwa banyak anak buahnya yang pacaran, terutama di kelas gue yakni kelas tiga. Setelah beliau tau keadaan kelas tiga yang seharusnya fokus terhadap ujian, eee malah fokus berpacaran. Beliau sangat perihatin sekali dengan keadaan demikian. Jadi beliau juga melarang kami untuk berpacaran. Dalam ceramah beliau mengatakan,” cobalah sekarang kalian perhatikan sekolah kalian, yang sebentar lagi kalian akan menghadapi ujian. Saya memang mengerti dengan kondisi keremajaan kalian. Tapi, kalian ini sudah terlalu memperhatikan pacar kalian dari pada pelajaran kalian. Mulai saat ini, kalian dilarang pacaran. Dan bagi yang pacaran akan dikenakan sanksi yang cukup berat.” Langsung sejak itu jiwa ana kesetrum dengan kata-kata kepala sekolah kita. Dan saat pulang sekolah waktu itu, ana mencoba menghindar dari gue sambil bilang sesuatu sama gue,”wir! Kita jangan pulang berdua ya! Aku tidak berani kalo kepala sudah bilang kayak gitu.” dan ana langsung mempercepat langkah meninggalkan gue. Gue jalan sante sambil mikir. “kok dia bisa begitu ya?”, kata hati gue. Saat itu juga gue langsung tanya kepada Nia, kebetulan gue pulang sama dia karena ana gak sama gue. “nia! kenapa secepat itu fikirannya berubah. Sampe-sampe dia gak mau pulang sama aku.”tanya gue ke Nia. Nia jawab,” kurang tau sih. Tapi, katanya dia sangat takut kalo kepala sekolah yang peringati.” Dengan fikir pendek, gue langsung lontarkan kata-kata kepada nia,”Nia, kalo kayak dia kayak gini mendingan aku putus aja sama dia.” kata gue curhat ke Nia. “astaga! Kok bisa gitu.” kata Nia. Dan waktu itu kebetulan juga gue dan nia ketemu sama ana. Dan nia langsung kasi tau apa kata-kata gue itu. Setelah dia denger kata-kata gue dari Nia yang menyatakan lebih baik putus, langsung raut muka ana berubah, dan langsung melangkahkan kaki secepetnya meninggalkan gue dan Nia. Saat itu juga, gue langsung marahi Nia. “kenapa kamu biang ke dia tentang kata-kata aku tadi? eh! emang kamu ya, tidak bisa jaga rahasia orang.” Kata gue ke nia. Gue slalu salahkan Nia, gue ndak terima gara-gara omongan gue dibocorin sama Nia. Gue jadi benci Nia waktu itu. Dan gue galau waktu itu, galau banget karena Ana tau omongan gue yang pengen putus itu.
Sejak Ana pertama kali mendengar gue bilang gitu, pas malem hari dia tau itu, dia langsung putusin gue. Gue dikasi surat oleh temen gue, yang katanya,”ini surat dari ana.” Langsung gue baca surat itu. Hanya sedikit kata yang terurai dalam surat itu. “kita putus, putus, putus.” Itulah kalimat yang berulang kali sebanyak tiga kali gue baca dari surat ana. Setelah baca surat itu, gue langsung hilang harapan, hilang tenaga, hilang fikiran, segalanya hilang kecuali nyawa gue, untung nyawa gue masih. Dari itu gue bertekad, “selama nyawa gue ada, gue akan slalu kejer kamu ana.” Kata hati gue. Gue makin galau karna diputusin sama ana.

Karya_Zawir Resilado (Muzawwir)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *