7ad25b6a9dcb0d283d7c18249364a629 1

Cinta Si Kembar

Cerpen, Fiksi

           7ad25b6a9dcb0d283d7c18249364a629

Malam begitu dingin mencekam, merambat begitu larut. Keheningan menyelimuti seluruh desa Toyang. Yang terdengar hanyalah angin yang berhembus. Langit begitu terang diiringi bintang yang bertaburan dan terlihat senyuman sang dewi malam. Di tengah dinginnya malam terlihat seorang perempuan yang duduk-duduk sendiri di bawah pohon jati sambil menatap langit. Sorot matanya bersinar tajam, menatap lurus ke angkasa kuasa. Baju putih yang dikenakannya begitu ketat, sehingga membentuk tubuhnya yang ramping dan tampak indah. Rambutnya terurai ke pinggul, sangat hitam dan begitu lebat. Terlihat seraut wajah yang cantik, berkulit putih halus. Bibirnya yang merah pun digigit, tanpa seulas senyum pun terlihat.

            “Malam-malam gini, aku harap ada orang yang menemaniku untuk singgah di dekatku”, membatin si gadis. Sepasang mata si gadis menatap lurus ke depan, terlihat seorang pemuda yang hendak mendekatinya. “Maya. . Tidakkah kau mengenaliku ?!”, teriak si pemuda itu. Dua bola mata yang tadi hanya terlihat bengong itu kini kelihatannya bercahaya bagus, memandang tajam ke arah pemuda yang memanggilnya. Pemuda itu pun mendekati gadis tersebut.

            Ucapan pun keluar dari bibirnya yang merah. “Angga ?, apa yang kau lakukan malam-malam gini”. “Kau sendiri sedang apa, lama-lama aku curiga padamu, apakah kamu ada janjian sama pria lain atau hendak mengkhianatiku ?”, Angga bertanya sambil mengernyitkan keningnya. Si gadis tersenyum. Dua lesung pipit yang muncul di pipinya. Sepasang tangannya tiba-tiba merangkul lalu memeluk pemuda itu erat-erat ke dadanya. Mereka sama-sama dapat merasakan detak jantung masing-masing, Angga pun merasa seribu bahagia. “Aku tidak akan pernah mengkhianatimu”, bisik gadis itu seraya membelai rambut si pemuda. Angga pun melepas pelukannya sambil mengajukan pertanyaan, “Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini malam-malam”. Gadis itu tidak segera menjawab, sesaat wajah si gadis tampak kemerahan. “Kalau kau tidak mau menceritakan tidak jadi apa, “ujar si pemuda. “Ndak ada yang kulakukan di sini, tapi aku berada di sini terjadi karena hasratku yang selalu ingin berada dekat denganmu”. Angga jadi ternganga mendengar ucapan jujur si gadis. “Kalau begitu apa yang terasa di hatiku juga terasa di hatinya. Ah. . . Gayung bersambut kata menjawab. Aku tidak bertepuk sebelah tangan !” Angga pandangi wajah itu sejenak.

            Si gadis tersenyum. Sepasang lesung pipit muncul di pipinya kiri kanan menambah kecantikannya. Membuat pemuda itu ingin mendekap wajah itu dalam kedua tangannya lalu menciumnya habis-habisan. Gadis cantik itu menatap ke arahnya. “Mulai saat ini diriku adalah milikmu Angga…” kata si gadis perlahan hampir berbisik. Suasana di tempat itu laksana di bawah langit cerah malam hari diterangi sinar rembulan empat belas hari dan taburan bintang gumintang. Si pemuda lebih dekat lagi mendekati si gadis. Perlahan-lahan dia merangkul tubuh si gadis. Si gadis balas memeluk erat. Demikian eratnya dua insan ini berangkulan hingga mereka dapat merasakan kerasnya denyutan jantung masing-masing.

            Tiba-tiba seorang gadis lewat dan dengan tidak sengaja melihat pemuda-pemudi itu saling merangkul. Terkejutlah gadis itu, “Angga . . ?!”, tiba-tiba saja gadis itu menyebut nama pemuda itu. Angga pun kaget ada orang yang memanggilnya dan langsung saja melepas rangkulannya, sambil menoleh ke belakang secara pelan-pelan, “Maya ?!”, betapa lebih kagetnya lagi pemuda ini melihat ada dua orang gadis bagai pinang dibelah dua. Dengan tergagap-gagap Angga melanjutkan kata-katanya, “Ka. .kalian koq ada dua ?”, sampai pusing kepala Angga dibuatnya dengan kehadiran gadis yang dilihatnya bagai pinang dibelah dua itu. Angga mengayunkan kakinya ke depan di mana tempat gadis yang memanggilnya tadi. “Angga… dia adalah saudara kembarku Naya, dan ini aku Maya kekasihmu”, gadis itu berusaha menjelaskan sambil mengernyitkan keningnya. Angga semakin menjadi ternganga mendengar penjelasan Maya. “Kalau kamu ga’ percaya, kamu bisa lihat lesung pipitnya, persis sama sepertiku, tapi tentu kau tidak lupa dengan tahi lalat kecil yang berada di belakang pundakku, itulah perbedaan antara dirinya dengan diriku”. Angga pun terlihat semakin lebih ternganga mendengar penjelasan si gadis, dia pun mendekat si gadis yang berbicara tadi untuk memastikan apakah tahi lalat kecil yang berada di belakang pundaknya benaran ada atau tidak. Setelah matanya didekatkan pada pundak si gadis, melototlah mata Angga. “Ternyata benar, gadis ini adalah kekasihku”, membatin si pemuda itu. “Bagaimana Angga, kau percaya kan ?”, bertanya si gadis. “Iya, aku percaya sekarang, kau adalah Maya, kau adalah kekasihku, maafkan aku karena berbuat salah, aku kira gadis itu adalah kau, karena mukanya sama persis seperti dirimu”. Maya mengambil nafas dalam-dalam lalu dikeluarkannya pelan-pelan sambil berkata, “tak apa, aku ngerti koq, ini semua bukan salahmu, tapi ini semua adalah salahku karena belum pernah aku menceritakan sebelumnya kalau aku mempunyai saudara kembar”. Si gadis yang satunya lagi atau saudara kembar Maya yang ternyata adalah Naya menjadi kesal melihat keduanya, karena dari dulu Naya diam-diam sudah menaruh hati pada Angga.

            Hujan pun turun dengan lebat membuat malam menghitam pekat. Sesekali halilintar menyambar menerangi jagat. Ketiga orang itu pun berlari-lari kecil mendekati berugak yang ada di bawah pohon jati. Ketiganya setengah basah, dan sesaat terdiam pula. Mata si pemuda melirik ke arah Maya namun mulutnya terkancing. Satu senyuman aneh kemudian menyeruak dibibirnya. “Kalau saja, aku juga punya saudara kembar tentu akan lebih hebat segala kejadian di dunia ini”. ”Aku minta maaf karena tidak menjelaskan siapa diriku tadi waktu kita bertemu”, tiba-tiba gadis yang satunya lagi angkat bicara, yaitu Naya. Kemudian Naya pergi meninggalkan tempat itu hujan-hujanan sambil menangis. “Nay. . !” teriak si Maya. Tapi menoleh pun tidak sama sekali. “Kurasa dia akan berlari ke arah batu besar yang tak jauh dari sini”, berkata si Maya kepada Angga. “Kita harus ke sana, aku takut akan terjadi apa-apa terhadap adikku pada malam gini, apalagi sekarang sedang hujan lebat”, melanjutkan Maya lagi. “Baiklah, kalau gitu kita kejar dia”, sahut Angga. Sesampainya di batu basar, Maya dan Angga mendapatkan gadis itu sedang duduk di atas batu besar tersebut sambil menangis terisak-isak. Lalu keduanya pun menghampiri gadis tersebut. Kemudian Naya angkat bicara, “harus kuakui, bahwa aku sangat mencintaimu Angga, tapi kenapa. . . kenapa kakakku yang duluan mendapatkanmu, aku menunggumu seumur-umur tanpa satu kejelasan”. Naya usap wajahnya yang basah oleh hujan yang diiringi dengan air mata.

            Maya pun memandang adiknya itu sambil berkata pelan, “semuanya kau boleh minta terhadapku, tapi aku mohon kau jangan pernah memisahkan kami, karena aku telah terlalu lama berpacaran dengannya, dia adalah pemuda kepada siapa aku membisikkan kata bahwa aku mencintainya“. Maya terus menatap saudara kembarnya, tak terasa butir-butir air mata meluncur jauh di kedua pipinya. “Aku mengerti kak, aku minta maaf ya, aku sadar kalau kalian berdua itu tidak bisa dipisahkan?”, berkata si Naya kepada kakaknya. Akhirnya kedua bersaudara itu saling merangkul. Angga pun tersenyum tipis melihat kedua bersaudara itu yang akhirnya saling mengerti. Akhirnya, ketiganya pun lenyap begitu saja ditelan kegelapan.

            Keesokan harinya, Angga duduk-duduk sendirian di atas batu besar yang ditempatinya semalam bersama dua orang gadis kembar. Terlihat dari kejauhan seorang gadis yang hendak mendekatinya, Angga sudah bisa menebak siapa adanya gadis tersebut, tak lain adalah kekasihnya yaitu Maya. Gadis itu pun mendaki batu besar tersebut, karena sudah terbiasa, maka mudah saja bagi si gadis untuk mendakinya, terlebih lagi batu tersebut tidak licin sedikit pun. Sesampainya di atas batu besar, Maya pun mengambil posisi tempat duduk di samping Angga sambil menyandarkan diri. Satu-satunya suara yang terdengar di tempat itu adalah desau angin. Kemana pun mata memandang yang kelihatan adalah pohon-pohon tinggi berdaun lebat, kerumunan semak belukar luar biasa lebat. “Ayo kita pergi May”, ajak Angga sambil menggenggam tangan gadis itu. “Kemana Kak ?” tanya Maya. “Kemana saja, yang penting kita jalan berdua sambil memandangi alam sekitar, kan sudah lama kita tidak berjalan berdua, iya nggak ?”. “Ha ha ha…,”Maya tertawa malu. Wajahnya sampai berubah merah.

Lalu Moh. Sastra Uma


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *