DELAPAN PULUH PERSEN (80%) PENAMBANG EMAS DI SEKOTONG POSITIF TERKENA DAMPAK MERKURI

Uncategorized

MATARAM (2412/14) – Aktivitas pertambangan liar di Kecamatan Sekotong, LOBAR, yang dibuka pada tahun 2009 kian memprihatinkan. Pasalnya warga yang melakukan aktivitas pertambangan menggunakan merkuri dalam memisahkan partikel emas dengan partikel lainnya tanpa memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan bagi kesehatan dan lingkungannya. Hal ini tidak diindahkan, karena tergiur dengan hasil yang menjanjikan daripada bekerjaan menjadi seorang petani dan nelayan.

Pengolahan emas menggunakan merkuri merupakan cara yang cepat, mudah dan murah untuk dilakukan. Walaupun ada tekhnologi aman yang dapat digunakan, tetapi masyarakat tidak mau menggunakan karena memakan waktu lama. Sehingga masyarakat memilih jalan pintas dengan menggunakan merkuri. Menurut salah seorang peneliti,Baiq Dewi krisnayanti, Sp. Mp. PhD saat kami wawancara mengatakan bahwa, penggunaan merkuri yang dilakukan oleh penambang sudah mengakibatkan pencemaran lingkungan. Hitungan kasarnya , bila 1 gram emas yang didapatkan maka limbah merkuri yang terbuang ke lingkungan sebanyak 2 gram. Bila di Sumbawa ada 5000 gelondongan dan memakai merkuri sebanyak 200 gram maka 5000 kali 200 sama dengan 1 ton perharinya merkuri terbuang kelingkungan.

Lebih lanjut lagi dijelaskan oleh Ibu yang pernah menjabat sebagai kepala Laboratorim Ilmu Tanah Unram ini, pencemaran merkuri dapat melalui udara, tanah, dan air. Sehingga pencemaran tersebut sehingga akan berdampak pada kesehatan manusia. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ibu Dewi, dari sample 60 penambang beserta keluarganya, 80 % di antaranya positif terkena merkuri, lebih dari standar yang ditetapkan oleh WHO yaitu 1 mikrogram pergram.

Bila pertambangan ini tidak mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah, dihawatirkan kasus Minamata Jepang akan terjadi pula di Indonesia. Yang akhirnyaa akan memakan banyak korban “ujarnya” .Dampak merkuri ini memang tidak terlihat secara langsung akan tetapi dampaknya baru akan tellihat dalam jangka waktu 5, 10 hingga 20 tahun. Karena peroses masuknya merkuri ke dalam tubuh tidak secara langsung, akan tetapi mengendap sedikit demi sedikit. Adapun gelaja yang akan timbul bila kadar merkuri sudah penuh dalam tubuh yaitu, terjadinya gangguan saraf otak, hilangnya koordinasi tangan dan kaki, gagap bicara, hilangnya kesadaran, bayi-bayi yang lahir cacat hingga menyebabkan kematian. Bila sudah akut maka penderita akan merasakan seperti memakan logam dalam lidahnya.

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan peneliti dengan warga setempat perihal dampak limbah merkuri mengatakan, bukanya mereka tidak mau mencari pekerjaan lain. Tetapi kurangnya lapangan kerja dan factor pendidikan yang rendah membuat mereka tidak punya pilihan lain walaupun tahu resikonya sangat membahayakan. Mereka telah mempasrahkan hidup dan matinya kepada Tuhan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *