DENGARKAN CURHATKU

Cerpen, Fiksi

images?q=tbn:ANd9GcQ70DTTuWJPLTg7JPdNKgqtj veyjs2qGD1gh114vDm693 KYf5

 

Mama… aku makin dewasa, cara berfikirkupun makin luas. Kau tau, aku selalu semangat ketika mengingatmu. Sekarang aku bisa membagi waktu itu dan benar-benar memanfaatkannya. Dimana itu semua kudapatkan dari engkau ma… aku benar benar menguunakan cara belajar ATM alias amati, tiru modifikasi. Aku selalu mengamati cara kerjamu, mungkin selama ini kau tidak mengetahuinya. Dan selalu bilang padaku untuk terus belajar dan bekerja, selalu menesehatiku, untuk tidak terlalu banyak membuang waktu dengan sia-sia. Semua yang kau katakan padaku sudah ku rekam. Dan karena seringnya kau ucapkan padaku semua itu sudah terkunci dalam memori otakku.

Sekarang semuanya ku lakukan sesuai dengan pintamu, selalu bangun sebelum subuh dan langsung melangkah kekamar mandi dan mandi. Walupun dingin tapi karena mengetahui dan memahami manfaat mandi sebelum subuh aku pun berani melawan dingin itu. Dan setelah itu aku tak pernah lupa untuk membeli sayur jika matahari telah menampakkan diri. Tapi aku sedikit terlambat ketika menunggu matahari terbit. Jadinya ku majukan sedikit waktu untuk belanja kepasar sekitar pukul 05,30. Hal ini ku lakukan juga agar bisa menghirup udara pagi yang segar.

Ternyata semuanya terasa ringan jika apa yang kita jalankan telah kita ketahui manfaatnya terlebih dahulu. Aku teringat perkataan dosenku dulu. Orang barat membiasakan suatu kebiasaan karena mengetahui ilmunya dan, beda dengan orang indonesia yang melakukan sesuatu karena terpaksa menjadi kebiasaan. Hal ini pernah ku rasakan di mana ketika melakukan sesuatu dengan terpaksa, memang akan mendatangkan kebiasaan. Akan tetapi suatu saat akan hilang karena tidak mengetahuii seberapa besar menfaat dari apa yang kita kerjakan. Beda dengan ketika kita mengetahui menfaat atau ilmunya terlebih dahulu ini akan menjadi sebuah kebiasaan yang akan sulit untuk dihilangkan. Dalam hal ini kita bisa ambil contoh dalam melakukan shalat lima waktu.

Maa… aku memperhatikanmu dan terus meniru apa yang kau lakukan. Dan sekarang aku sedikit berhasil meniru dan melakukan apa yang kau lakukan pula. Tapi, satu yang mungkin tak bisa ku tiru darimu. Menjalankan sebuah bisnis. Kau memiliki jiwa pembisnis tapi aku memiliki jiwa seorang penulis. Tapi akan ku buktikan padamu jiwa pembisnis dan jiwa seorang penulis memiliki semangat dan rasa ingin tau yang sama. Kau selalu membaca untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan, akupun begitu membaca dan mencari informasi dan menambah pengetahuan.

Mungkin kau tidak menyadari hal ini. Aku dan kau memiliki banyak karatkter yang sama. Tapi aku tak pernah menampakkkan langsung dihadapanmu. Sebenarnya aku merasakan banyak perubahan dalam diri ku, tapi kadang kau tak tau bahkan masih menganggapku sebagai anak yang belum bisa melakukan apa-apa. Tapi, perlu kau ketahui dimana saat kau katakan padaku seperti itu. Otakku terasa merespon dengan cepat, dimana aku langsug mencari apa solusi untuk kekuranganku ini.

Aku ingat ketika aku membuat sebuah pembantas bukuku. Kau selalu bilang padaku,” kamu itu bisanya ituuu aja,” meskipun aku merespon dari luar dengan diam. Tapi kau tak tau dalam hatiku, selalu berkata,” maa,, aku fokus terhadap kelebihanku, bukan kekuranganku” maka dari itu sejelek apapun yang ku lakukan dan menurut kalian tidak ada pa-apanya. Bagi ku itu lah sesuatu keunikan dari apa yang ku mimliki. Bahkan tulisan-tulisan yang kumiliki ini hanya sebatas kelebihan yang ku tulis dengan pengetahuan yang pas-pasan.

Tapi, semua itu bukan alasan untuk mundur. Bukan olokan dan hinaan yang menjadikan aku untuk jatuh begitu saja. Justru itu semua yang membuat aku akan terus bangkit. Maa… kau harus bangga telah melahirkan aku, kakak, dan adik-adik kedunia. Yah jelasnya kau pasti bersyukur dengan anugrah dari Tuhan. Lihatlah maa… anak-anakmu itu orang-oarang yang luar biasa, tidak jauh dari dirimu. Yaah walaupun kami tidak mencapai titik kesempunaan sepertimu.

Aku tidak perlu katakan banyak tentang kakak. Kau tau dan bahkan lebih tau tentang dia. Tapi perlu kupaparkan disini. Dia seorang yang bijaksana dan pintar mengambil tindakan, meskipun sesekali dia bertindak seperti anak lelaki yang sangat manja. Maunya diperhatiin. Hehehehe

Tapi dia bernar-benar orang yang kuat dan sabar dalam segala masalah dan cobaan, dan kau tau, aku termotivasi untuk membaca itu awalnya dari dia. Kakak lah yang memberikan aku dorongan untuk bisa bembaca. Padaha dulu aku paling tidak suka dengan mambaca, untuk memegang kupun aku tak suka. Kau tau maa.. kita itu ibarat sebuah aliran listrik yang menarik alirannya satu sama lain. Ku tau kau suka membaca dan menulis. Lihat kakak,, dia selalu membaca dalam waktu kosongnya. Dan mewajibkan membaca buku dalam sehari meskipun hanya lima belas menit. Hal itu turun ke aku yang suka banget dengan membaca. Dan aliran itu tidak berhenti padaku saja. Lihat adikku, Ina. Bukankah dia seorang yang seni yang selalu haus dengan berita tentang sebuah kesenian. Tentunya dia selalu membaca buku tentang bagaimana mengasilkan sebuah karya seni yang bagus. Dan yang terakhir adik kecil kita Deha. Bukankah, dia selalu minta buku bacaan anak-anak yang bergambar. Tidak hanya itu saja, yang perlu kau banggakan pula adalah mendapatkan sosok suami seperti ayah, ia adalah seorang pendidik yang luar biasa, mengedepankan cara belajar mengejar dengan hati. Maa.. banggalah kau menciptakan keluarga yang suka membaca. Keluarga pembaca itulah kita maa.. aku, kau, dan kita semua.

Ini bukan sekedar ATM, tapi bener-benar yang dikatakan buah tak jauh dari pohonnya. Pohon yang tumbuh dengan baik dan subur akan menghasilkan buah yang segar, bukan? Terimakasih ku ucapkan pada yang kuasa telah menganugrahkan kami sosok mama yang sangat luar biasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *