Di Balik Hati Seorang Perempuan

Cerpen, Fiksi

muslimah_v02_by_yip87

terkadang Mencintai itu mudah, tapi

melupakan cinta sungguh sulit.

langit sore masih menampakkan mendung menjanjikan hujan di kala petang, akan tetapi yang ditelurkan hanyalah rintik-rintik kecil membuat suasana kembali kelam ditemani gemuruh bersahut-sahutan.

aku terhenyak duduk di teras rumah menatap bunga2 bermekaran menambah indah suasana sore itu. suara riuh ayam tetangga memecah suasana menjadi hingar ketika ternaknya kembali ke peraduan. tiba2 ponselku berdering pertanda sebuah pesan masuk. ternyata dari dina kawan lamaku yg kini sudah berkeluarga dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu,

“hai gimana kabarnya?. dina”. begitu isi smsnya dina yang menggunakan nomor baru.

“waalaikumussalam. Alhamdulillah baik, side gimana?”. balasku sekenanya.

“cueknya sekarang ych”.dia kembali membalas karena memang dulu sehari saja tidak di sms atau dihubungi melalui facebook dia langsung melabraku dengan memvonisku cuek terhadapnya.

“cuek gimana?, malu sih kita ganggu orang udah berkeluarga, ntar suaminya jealous lagi,, haha”

“owh jadi gitu ya sekarang, walau bagaimanapun kita tetap kan harus menjalin silaturahmi, kangen banget sama kamu”

smsnya yg terakhir tak kubalas, entahlah kalimatnya yg terakhir membuatku kelu tak bisa mengungkapkan kata-kata. ingatanku melambung 5 tahun lalu ketika awal kita bertemu, gadis mungil dengan jilbab besar tergerai menutup sebagian badan menyapaku ketika sedang mencoba mencari tanda tangan dosen PA ku, entahlah aku merasa asing tanpa kenal siapapun di awal masuk kampus, karena kegiatan persiapan sebelum memulai perkuliahan tak pernah kuikuti dan lebih senang nongkrong di pepustakaan kota. ketika aku sedang berdiri di depan jendela jurusan melirik-lirik jadwal yang tak kupahami urutannya karena terlalu banyaknya program studi pada fakultas tersebut, tiba-tiba dia datang menghampiriku entah ingin melihat jadwal juga atau melirik ke dalam ruangan melalui jendela untuk mencari orang yg dituju.

“jurusan apa kak?”

“psikologi, anda?”

“wah sama dong, semester berapa?”

“semester 1, kalo anda?”

” sama, semester 1 juga, kok kakak gak pernah keliatan” dia masih konsisten memanggilku kakak, entah niatnya mungkin untuk menghormatiku.

“iya kemaren gak pernah ikut persiapan, males juga ke kampus, gara-gara belum dapet kos-kosan”

“pantesan saja rambutnya masih panjang itu, temen-temen yang lain itu liat pada botak dicukur kemarin”

“yang cewek gak dicukur juga,, hehe” candaku kepadanya.

“ya nggak lah kan kita pake jilbab, terus ngapain disini?”

“ini liat jadwal yang sangat membingungkan gimana cara bacanya,, hehe”

” owh itu, ntar saya kirimin jadwal kita, mana nomor HP nya”. tiba-tiba dia langsung ingin berbaik hati mengirimkanku jadwal kuliah kita.lalu kusodorkan ponselku ke dia untuk mencatat nomor Handphoneku.

lama kuliat dia mengutak-atik HPnya untuk menyimpan nomorku, kupandang sekilas wajahnya yang teduh seperti tidak asing dalam ingatanku. pas dia mengangkat muka pandangan kita beradu dan ketahuan aku sedang menatapnya.

“mana dong jadwalnya?”. tanyaku mencairkan suasana.

“ntar ya belum ada pulsa ini untuk ngirimnya,,hehe”

“oh iya dah kalo gitu, terus mau kemana setelah ini”

“ini masih nunggu dosen untuk minta tanda tangan rencana studi, side kemana?”

“sama juga, siapa pembimbingnya?”

“pak edy, kalo side siapa?”

“saya pak arif, tapi ndak tahu mana ya namanya pak arif”

“itu ada kakak tingket yang sama juga dosen pembimbingnya, kak handiii,, ” orang yang dipanggil menoleh, “saya tanyakan ke kak handi dulu ya mana namaya pak arif”. dia beranjak meninggalkanku namun tasnya masih ditinggalkan di sampingku. tampak kulihat dia ngobrol sambil sesekali tertawa dengan kakak tingkat tersebut, lalu dia kembali menghampiriku.

“pak arif belum datang katanya kak handi”

“darimana saya tahu kalo pak arif udah dateng?, sekarang ya batas pengumpulan rencana studi?”

“orangnya Tua, biasanya pake kopiah haji dibilang sama kak handi, ndk apa-apa kita tunggu sampai beliau datang”

“side udah ada gak dosen pembimbingnya di dalam?”

“belum juga, biasanya beliau agak siangan datangnya, dicek saja lagi rencana studinya, kali aja ada yang salah”. kubuka kembali lembar rencana studiku, dia pun ikut memperhatikannya.

“kok mata kuliahnya bisa kurang?, kita kan sudah dipaketkan, ini liat punya saya”. sambil menyodorkan lembar rencana studinya kepadaku.”jangan lupa gelarnya juga ditulis orang dah capek-capek kuliah,, hehe”

“iya ini mau ditulis” tulisannya tampak sangat rapi, kulirik tangannya, putih mulus dengan jari-jari pendeknya.

“eh itu pak edy udah dateng, saya minta tanda tangan dulu ya, jagain tas saya”. dia tampak agak tergesa-gesa masuk ke ruang jurusan, sementara aku masih terpaku duduk sendirian. selang beberapa menit dia sudah kembali lagi.

“itu pak arif udah ada di dalam, ayo cepat sana”

“masak?, yang mana tapi namanya pak arif”

“itu yang duduk deket jendela pake kaca mata itu” dia mengantarku sampai pintu ruang jurusan, lalu akupun berlalu masuk meninggalkannya untuk meminta tanda tangan.

“setelah ditanda tangani ketua prodi bawa ke saya satu sebagai arsip nak ya” kata dosen PA ku, namun aku malu untuk menanyakan kepada beliau yang mana ketua prodi, akhirnya aku keluar ruangan berharap dia masih ada di luar menungguku, ternyata dia masih duduk di tempat kami tadi.

“yang mana ketua prodi?”

“astaga,, saya kira udah tahu juga tadi, itu bapak yang duduk di tengah itu lho”. akupun kembali ke dalam untuk meminta tanda tangan ketua prodi. lagi-lagi dia masih duduk disana, entah dia menungguku atau mungkin ada urusan lain yang membuatnya bertahan di sana.

“udah selesai dua-duanya?”

“iya udah, terus kemana setelah ini?”

“kita kumpulkan ke akademik, ndak tahu juga kan?,, hehe”.

“iya, kemana emang?”

“ayok nurut aja,”. masih dengan senyum manisnya, dia mengajakku melewati lobi kampus menuju ruang akademik.

“kan itu sudah ada keterangannya yang 2 lembar kita kumpulkan di sini, mana berkasnya biar saya saja yang kumpulkan” ungkapnya, padahal di ruangan itu penuh sesak dengan mahasiswa dari berbagai prodi.

“sudah beres deh”

“habis ini mau ke mana?”

“ada acara di mushalla sama akhwat-akhwat yg lain, side ke mana?”

“saya pulang dah kalo gitu”

“oh iya sudah hati-hati ya” katanya tanpa berniat mencegahku untuk cepat pulang”.

sampai di kos-kosan baru kutersadar aku seperti orang yang bodoh, tak tahu diri, bahkan ucapan terima kasih pun tak sempat kulontarkan padahal dia dengan setianya membantuku sampai selesai urusan rencana studi. dan yang paling kusesalkan, tak sempat kutanyakan namanya walaupun sampai setengah hari kita bersama. aku seperti terbius akan kebaikannya, memang tidak terlalu cantik tapi cukup anggun dengan dandanan muslimah sejati.

sejenak berfikir, harapanku masih ada untuk mengenalnya lebih jauh, melalui sms jadwal kuliah yang akan dikirimkan untukku, toh juga kita satu kelas dan masih banyak kesempatan untuk bertemu. sampai sore kutunggu belum ada juga sms jadwalnya untukku, kumulai berfikir mungkin dia lupa, atau mungkin belum punya pulsa, atau mungkin juga dia masih sibuk, dan aku masih setia menunggu karena memang sampai saat itu juga tak ada yang menghubungiku. setelah selesai shalat isya baru terdengar ada pesan masuk, berharap itu darinya. setelah kubuka ternyata nomor baru.

“kok ndk dibales 🙁 “

“bales gimana?, mohon maaf ini nomornya siapa?” balasku mencoba sesantun mungkin.

“ini dina yang samaan tadi pagi di kampus”. dina namanya, gadis mungil dengan jilbab tergerai.

“oh iya, mana dong jadwal kuliah itu,?”

“kan udah saya kirimin, masak gak ada?”

” iya ndk ada kok, emang side udah kirim kemana?” tanyaku memastikan.

“iya dah saya kirimin ulang ini” ucapanya, masih tetap berbaik hati padaku. setelah smsnya masuk baru kuucapkan terimakasih.

“terimakasih banyak mbak “

“kok panggil mbak kan udah saya kasih tahu nama saya tadi”

“oh iya siapa namanya tadi”. pura-pura lupa.

“dina agniya, panggil aja dina, kalo ndk salah side namanya ali ya?”. dia bahkan lebih dahulu tahu namaku padahal aku belum pernah berkenalan dengan teman kampus.

“kok tahu, perasaan saya gak pernah kasih tahu deh”

“tadi pagi pas lihat rencana studinya saya kan sempat lirik namanya, aliyuddin, trus di panggilnya apa nih ali, yudi atau udin?, hehe”. dia mencoba membuat suasana lebih fresh dengan mengolokku.

“panggil aja al, panggilan dari sejak kecil”. tak terasa kami keasyikan melakukan chating lewat sms sampai pukul setengah 1 dinihari, tampaknya dia orang yang asyik diajak ngobrol, mudah bergaul dengan siapapun. yang kita bahas padahal hal-hal biasa saja tetapi menjadi hal menarik ketika pembicaraan terlibat dengannya. akhirnya karena kantuk yang tak bisa kutahan beberapa smsnya yang terakhir tak sempat kubalas karena aku sudah terlelap.

*****

hari pertama memulai perkuliahan aku merasa malas untuk bangun, walaupun mentari dengan teriknya telah menerobos melalui jendela di kos-kosanku yang berada di lantai 2. kawan-kawanku yang lain sudah pada sibuk di luar dengan kesibukan masing-masing. baru beberapa menit hendak memejamkan mata lagi handphoneku berdering, sms masuk

“ingat hari ini kuliah psikoanalitik jam 07.30 di ruang F2”. sms dari dina membangunkanku, aku masih terpekur berfikir apakah ke kampus atau melanjutkan tidur, bahkan smsnya diulangi sampai 3 kali berdatangan, entah karena jaringan yang sibuk atau dia memang sengaja mengirim 3 kali karena tak kunjung kubalas.

“iya makasih atas ingatannya”. balasku sekenanya lalu bergegas ke kamar mandi untuk siap-siap ke kampus.

sesampainya di kampus aku bingung di mana lokasi gedung F2 tempat perkuliahan, setelah ku sms dina barulah kutahu letaknya. ternyata di dalam kelas sudah ramai dengan kawan-kawan yang lain semuanya tampak asing tak ada yang kukenal kecuali dina, bahkan diapun tampak acuh ketika aku memasuki kelas, dina tampak asyik mengobrol dengan teman sebelahnya.

setelah lama menunggu dosen tak kunjung datang akupun beranjak masih dengan kebisuanku tanpa mengacuhkan yang lain menuju keluar kelas, ketika hendak menuruni tangga sms dina datang dan memintaku untuk tetap di kelas. dari arah belakangku seorang bapak-bapak tampak menuju ruang F2, pikirku ini mungkin dosennya, ketika dia baru memasuki ruang F2 akupun mengikuti dari belakangnya dan mengambil posisi duduk paling belakang.

perkuliahan pertama berlangsung, cukup membosankan dan aku melewatinya hanya diam dibelakang mengikuti jalannya perkuliahan, tanpa terasa waktupun habis semua bersiap-siap untuk keluar begitu juga aku. dina kembali melayangkan sms untukku menanyakan mau kemana stelah ini, padahal bisa saja dia bertanya langsung kepadaku yang masih di dalam kelas.

“mau ke perpus, cari buku bagus ada wifi juga disana, mau ikut?” balasku untuk mengajaknya.

“ndak dah, saya diem di kampus saja, inget nanti jam 11 ada kuliah lagi di ruang A3” dia kembali mengingatkanku.

“iya”. jawabku singkat diapun tak membalas lagi.sebelum jam 11 dia kembali memberitahuku untuk ke kampus karena kuliah sebentar lagi dimulai, tetapi aku tak menghiraukan sms-nya malah tetap asyik dengan bacaanku, walaupun dia mengulang sms-nya sampai 2 kali karena memang aku tak berniat mengikuti perkuliahan siang itu.

******

tiga bulan berlalu dan kita sebentar lagi akan memasuki ujian tengah semester, sementara aku masih komitmen dengan jarang-jarang mengikuti perkuliahan. dan hal yang sedikit mengejutkanku terdengar dari bisik-bisik teman sekelas dina sudah berpacaran dengan doni, kakak tingkat yang sekarang semester 5. awalnya aku tak menghiraukan dan tak percaya dengan desas-desus yang diperbincangkan teman-teman sekelas yang sempat aku menguping, karena memang dina masih tetap setia dengan sms nya untuk menghubungiku bahkan hampir tiap malam, dan selalu saja ada hal menarik yang menjadi topik walaupun terkadang hanya sekedar menanyakan sedang apa. namun semua terasa benar ketika aku akan menaiki tangga untuk kuliah di ruang B2, kulihat dina sedang duduk berdua dengan laki-laki yang tampak lebih tua dariku, sepertinya kakak tingkat, dina tampak tersenyum-senyum dengan candaan-candaan yang dikeluarkan kakak itu. entahlah, aku tak mengerti apa yang bergemuruh dalam bathinku, terpesona akan anggunnya dina atau karena kebaikannya yang terus-menerus untukku, dan aku tetap mencoba sebiasa saja untuk menanggapi keadaan.

libur semester hanpir tiba, kami masih konsisten dengan kedekatan lewat sms tapi pada realitasnya kita hampir tak tegur sapa. ketika kami berpapasan di lantai 3 setelah semesteran dia sempat tersenyum membuka pembicaraan.

“liburan ini mau ke mana al?”

“pulkam lah, bosan di kota”

“saya ikut ya,, rumahnya di mana?”. sudah satu semester kita bersama bahkan belum tahu alamat masing-masing, itupun luput dari pembahasan pada saat sms-an.

“di lotim, pandan sari, tahu?, ayok aja kalo mau ikut”

“beneran ini saya diajak?”

“iya boleh, tapi apa ya kata orang tua saya nanti kalau bawa cewek pulang, jangan-jangan dikira mau minta restu nanti”

“haha,, ndak jadi sudah kalau gitu, saya bercanda juga, ndak mungkin lah ikut side ke lotim”

“emang side rumahnya di mana?”

“disini deket kok sekitaran lobar, gelora namanya, kapan-kapan maen ke rumah ya”

“insyaallah, side mau kemana trus setelah ini”

“mau pulang langsung, ada acara di rumah tetangga, ikut?”

“kapan-kapan dah, saya juga langsung ke kos siap-siapin barang yang mau dibawa pulang nanti sore”

“oh iya dah, hati-hati di jalan, saya duluan ya, assalamualaikum”

“waalaikumussalam”. padahal aku masih ingin lebih lama lagi untuk ngobrol dengannya.

*****

malam-malamku masih terisi dengan chating lewat sms dengannya, dan dia seolah tak pernah bosan menghubungiku. lalu dia mencoba mengalihkan pembahasan dengan menanyakan apakah aku sudah mempunyai seorang teman dekat cewek. terang saja aku kebingungan menjawabnya, bukankah dia juga teman dekatku yang selalu setia menghubungiku dan mengingatkanku jam kuliah. lalu dia mencoba menjelaskan lebih spesifik.

“al sudah punya pacar?”

“pacar?, belum pernah pacaran din,, hehe”. balasku.

“oh bagus dah,”

“kalo dina gimana?, udah punya ya, kakak yang kemaren itu?” aku mencoba menyelidiki.

“kakak yang mana?, udah berhenti kok sama dia”

“oh gitu, kok bisa”

“ya udah berhenti aja, mungkin udah gak sejalan”

dia sengaja mengarahkan pembicaraan tentang itu, seolah-olah membuka ruang untukku.

waktu terus berlalu, kami sekarang menginjak semester 5, entah dari mana teman-teman tahu kedekatanku dengan dina. dan itu menjadi bahan pembicaraan di kelas yang jelas-jelas membuatku nervous menjadi bahan pembicaraan, bahan olokan teman-teman yang mencoba mencandaiku, dan biasanya aku hanya bisa tersenyum tersipu malu, tidak tahu mau menyanggah atau mengiyakan saja. akan tetapi sebenarnya hatiku bahagia mendengar teman-teman mencandaiku dengan menyandingkanku dengan dina, dina nampak lebih bisa menghadapi situasi bahkan dia ikut juga nimbrung di saat teman-teman mencandaiku, semakin membuatku kelu, diam menahan malu.

kami tetap menjaga kedekatan melalui sms, namun malu untuk bertegur sapa di dunia nyata. kadang dina sengaja mencari celah agar kita bisa bertemu, entah dengan sengaja meminta tolong sesuatu atau dengan alasan meminjam buku, saling tukar pinjam bacaan. dan pertemuan kitapun kadang singkat tak banyak pembicaraan lebih luwes melalui tulisan.

hingga menginjak tahun terakhir kedekatan kita masih terjaga, bahkan dina semakin lebih intensif menghubungiku kadang melalui telepon juga dengan dalih menanyakan sesuatu, begitu juga aku kadang merasa ingin lebih dekat dengan dina. di satu sisi aku merasa minder untuk lebih dekat lagi. suatu ketika salah seorang teman dekat dina melabrakku dengan menggebu-gebu mengatakan bahwa dina sangat menyayangiku dan banyak hal lagi yang diungkapkan seolah-olah mewakili perasaan dina yang ingin disampaikan kepadaku. aku masih diam tak tahu harus berkata dengan apa yang disampaikan rini, teman dekat dina.

“dina itu orangnya baik banget al, dia bahkan bisa memendam perasaannya sampai sekarang untukmu, bahkan dari semester 1 kalian betemu dulu dina sudah merasa nyaman sama kamu al, kamu juga suka sama dina kan”. rini terang-terangan menginterogasiku tentang perasaanku kepada dina.

“entahlah rin, aku masih bingung, ndak tahu mau ngomong apa”

“tega kamu ya, sudah beberapa orang yang mencoba dekat dengan dina tapi semuanya ditolak secara halus hanya karena dia masih mengharapkanmu untuk mengungkapkan perasaan kepadanya, 4 tahun kita bersama dan itu bukan waktu yang singkat bagi dina memendam perasaan untukmu”. kata-kata rini membuatku semakin bingung tentang perasaanku ke dina.

setelah rini memberitahuku tentang perasaan dina kepadaku, entah kenapa dina tak seperti dahulu, dina berhenti menghubungiku walau sekedar menanyakan kabar, seperti tercipta jarak antara kita. aku mencoba berfikir positif mungkin karena kita sama-sama sibuk dengan tugas akhir masing-masing. sampai hari wisuda akan berlangsung dina masih dengan diamnya dan akupun begitu. di ruang wisudapun tak sempat kutemuinya walaupun sudah kulirik kesana-kemari, akan tetapi suara dari speaker mengejutkanku ketika nama dina dipanggil untuk menyampaikan sambutan sebagai lulusan terbaik wisuda priode ini, hatiku bergemuruh, semakin minder dengan melihat dina berdiri di podium, tampak anggunnya, sementara aku hanyalah mahasiswa tunaprestasi, namun mengapa dina bisa memendam perasaan kepadaku selama ini.

setelah acara wisuda selesai kukirimkan pesan ucapan selamat untuk dina, dia tak membalasnya, kucoba telepon tak diangkat juga. kucoba lirik ke seluruh penjuru ruangan tak kutemui juga, aku pasrah meninggalkan ruangan wisuda, bahkan saat moment berharga tak kujumpa dirinya dengan sejuta perasaan rinduku yang membuncah. setelah itu aku dibayang-bayangi perasaan bersalah, menyepelekan hal-hal kecil tentang perasaan seseorang untukku. kuteringat lagi kata-kata rini kepadaku, 4 tahun kita bersama dan dina masih sanggup memendam perasaannya untuk menghrapkanku mengungkapkan perasaan kepadanya. aku merasa bodoh, egois, tidak peka dan salah membuat seseorang yang begitu baik terlalu lama menunggu.

sekarang aku yang lebih sering menghubungi dina, akan tetapi sikapnya sangat biasa, tak seperti dahulu, aku tetap menguasai perasaanku yang belum bisa kuungkapkan.

suatu malam, terinspirasi dari alunan lagu Padi dari laptopku “belumlah terlambat untuk mengerti, dan belum terlambat tuk menumbuhkan cinta” kucoba merangkai kata-kata untuk mewakili perasaanku kepada dina, dan akan kucoba kirimkan tengah malam nanti ketika dia sudah terlelap berharap paginya langsung dilihat. entahlah karena terbawa suasana sendu akupun terlelap juga tanpa sempat mengirimkan kata yang telah kurangkai untuk dina malam itu. selesai shalat subuh aku berniat melanjutkan misiku untuk mengungkapkan perasaan kepada dina. alangkah terkejutku ketika di handphoneku sudah ada sms masuk dari dina lebih dulu, hatiku semakin menggebu pertanda dina masih mau menghubungiku lagi walau sekedar melalui sms. namun semuanya terasa sirna setelah kubaca pesan yang dikirim dina pagi itu, kucoba menguasai perasaanku dan meresapi kata-kata terakhir pada sms dina, “saya sangat mengharapkan kamu bisa datang, mungkin ini terakhir kita bertemu”. aku tersenyum, entahlah tersenyum bahagia, kecewa atau tersenyum konyol. hampir 5 tahun dia masih mengharapkanku untuk mengungkapkan perasaan dan sekarang di hari bahagianya aku akan melihat dia diijab qabul oleh orang lain, dia masih mengharapkanku untuk datang.

tiga hari sebelum hari pernikahannya dia kembali menanyakanku untuk datang, dan aku hanya mengatakan akan kuusahakan dan mengucapkan ucapan selamat untuk hari bahagianya. tepat di hari pernikahannya aku berbesar hati menghadirinya dengan mencoba sebiasa saja dan tetap tersenyum mencoba menguasai keadaan. setelah prosesi ijab kabul selesai tibalah saatnya untuk sang mempelai bersalaman dengan hadirin yang menyaksikan, tepat keduanya berhenti di depanku aku mencoba tersenyum, dina tampak membalasnya namun tergambar jelas dipaksakan. hatiku lega semua bisa terlewatkan, namun jantungku masih dipenuhi degupan kencang yang tak kupahami. aku mengikhlaskan dina untuk bersama yang lain, mencoba menghapus semua kenangan indahnya, mencoba tidak memendam kecewa yang mendalam toh juga karena ketidak pekaanku yang membuat cinta tidak bisa berdiri diatas ketidak jelasan hatiku untuknya. namun satu hal yang membuatku tersenyum, yang kutahu dia selama ini mampu menyimpan perasaannya untukku. memang hati perempuan sungguh ibarat lautan yang dalam, yang mesti diselami untuk mendapatkan mutiara terindah darinya, dan ketika mutiara itu telah kau dapatkan dia tidak akan berpaling darimu. berbahagialah memiliki perempuan-perempuan terindah yang senantiasa menumbuhkan cinta untukmu.

terkadang Mencintai itu mudah, tapi

melupakan cinta sungguh sulit.

bahkan walaupun dia telah bersama orang lain, tidak dipungkiri kadang hatinya masih terpaut untukmu, sungguh itulah perhiasan terindah yang tak seharusnya disia-siakan.

(Baim Lc, Lengkok 131214)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *