FILSAFAT IBU KANDUNG ILMU PENGETAHUAN

Opini, Pendidikan

FILSAFAT IBU KANDUNG ILMU PENGETAHUAN

filsafat ‎merupakan induk segala ilmu, the queen of the sciences, karena daripadanya berkembang ilmu-ilmu ‎pengetahuan yang beragam sampai pada spesifikasinya yang amat khusus. Dewasa ini kita ‎mengenal ilmu-ilmu mikrobiologi, genetika, ilmu perbintangan, tehnik nuklir dsb. yang keberadaannya ‎tak mungkin kita pahami selain dalam kaitannya dengan perkembangan filsafat.
Saat saya sedang duduk-duduk di perpustakaan universitas, secara tidak sengaja saya mendengar keluhan salah seorang mahasiswa ekonomi terkait dengan hal ini. Mahasiswa itu menuntut adanya mata kuliah filsafat sebagai mata kuliah yang wajib dipelajari selain mata kuliah wajib lainnya. Saat itu, dalam hati saya sebenarnya tidak setuju, apakah semua mahasiswa harus belajar filsafat? Setelah lama saya berpikir, ternyata memang mata kuliah filsafat harus ada dan mahasiswa harus mempelajarinya.
Bukankah saat kita hendak meminang seorang gadis, maka mengenal ibu dari gadis itu sangatlah perlu. Bahkan mungkin merupakan suatu hal yang wajib. Barangkali itulah analogi yang dapat mengambarkan betapa perlunya filsafat itu diketahui oleh mahasiswa selaku insan intelek. Terlebih karena peran mahasiswa adalah sebagai pemanggul masa depan bangsa.
Memanusiakan manusia
Beberapa tahun terakhir ini, yang paling sering di sebut-sebut adalah konsep tentang “memanusiakan manusia” dan ini semakin hangat diperbincangkan ketika menteri pendidikan Mohammad Nuh mengusulkan kurikulum 2013 mengganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Meskipun saat Anies Baswedan sebagai menteri pendidikan menggantikan Mohammad Nuh kurikulum 2013 tiba-tiba diberhentikan dan kembali ke KTSP. Terlepas dari semua itu, baik kurikulum tingkat satuan pendidikan maupun kurikulum 2013 tetap saja suatu pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia.
Kenapa perlu dimanusiakan manusia-manusia kita? ya. Bahasa Konyolnya adalah karena manusia-manusia kita masih setengah manusia. Mungkin kita masih kebingungan menentukan dimana letak kekurangan insan-insan Indonesia sehingga menjadi sasaran utama pendidikan dan harus dimanusiakan sedemikian rupa. Lingkungan perguruan tinggi, tempat tumbuh dan berkembangnya generasi-generasi penerus bangsa tentu manusia-manusianya mutlak menjadi manusia yang utuh.
Tujuan ini bukanlah hal yang tidak mungkin. Penyakit yang menyerang sebagian besar mahasiswa-mahasiswa negeri ini belumlah terlalu parah sehingga tidak mungkin untuk disembuhkan. Fenomena-fenomena yang terjadi seperti tidak lagi belajar untuk mencari ilmu melainkan untuk mencari pekerjaan, langkah-langkah yang mulai tersendat karena lumpur-lumpur kehidupan modern dan lain-lain. Mereka bisa disembuhkan dan disadarkan akan pentingnya peran mereka untuk keberlangsungan nafas negeri ini.
Langkah yang harus dilakukan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan adalah dengan memasukkan filsafat sebagai mata kuliah wajib berdampingan dengan mata kuliah Bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Pendidikan Agama. Tentu hal ini tidaklah sulit, karena kurikulum 2013 saja dengan sekali kepakan tangan bisa didepak dari panggung pendidikan Indonesia. Lagipula, filsafat sudah seharusnya untuk diketahui oleh mahasiswa, agar tak lagi memandang segala sesuatu secara dangkal seperti yang selama ini terjadi.
Pentingnya Filsafat
Ditinjau dari asal katanya, filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Atau dengan kata lain cinta akan sesuatu yang benar. Sehingga dari pengertian ini kita dapat menarik benang merah bahwa belajar filsafat adalah belajar untuk mencintai suatu kebenaran atau kebijaksanaan. Hal ini sangat relevan dengan keadaan yang marak terjadi saat ini, yang mana mahasiswa-mahasiswa kita seperti telah terhempas jauh dari nilai-nilai hakiki kehidupan yang sedang mereka jalani.
Selain itu, belajar filsafat adalah belajar bersikap kritis dalam menanggapi segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Tidak menelan mentah-mentah segala apa yang dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga. Semua harus benar-benar dianalisis dan dikupas sampai sesuatu itu layak untuk dikonsumsi.
Baik kecintaan akan kebenaran dan kemampuan berpikir kritis akan dapat ditapaki dengan memasuki gerbang filsafat. Tentu sebagian dari kita akan merasa tidak setuju dengan usul ini. Tetapi coba tinjau lagi apa yang terjadi di sekitar kita akhir-akhir ini, manusia seperti kehilangan jati diri. Jelas ini bukan suatu perkara yang tiba-tiba terjadi tanpa suatu alasan, mungkin terlalu berlebihan kalau saya mengatakan ini karena mahasiswa-mahasiswa belum diajarkan filsafat. Tetapi, faktanya filsafat merupakan ibu kandung ilmu pengetahuan dan bagaimana kita tidak kehilangan jati diri jika kita melupakan asal-muasal pengetahuan yang sedang kita pelajari kini. Semoga menteri pendidikan dan kebudayaan sadar akan hal ini.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *