“Gegauk” Tradisi yang Mulai Terlupakan Di Tanah Samawa

Budaya & Folklor

“Gegauk” Tradisi yang Mulai Terlupakan Di Tanah Samawa

Tanah Sumbawa atau tanah Samawa merupakan daerah yang memiliki begitu banyak adat istiadat, budaya, dan tradisi yang masih dijaga dengan baik oleh masyarakatnya. Dari begitu banyak tradisi yang eksistensinya masih terus terjaga di tanah Samawa, ada satu tradisi yang jika kita perhatikan makin lama makin dilupakan dan tenggelam keberdaannya, yakni gegauk (turun tanaq). Gegauk merupakan tradisi yang harus dilewati oleh seorang anak sebelum anak itu menginjak tanah.

Tanah Sumbawa atau tanah Samawa merupakan daerah yang memiliki begitu banyak adat istiadat, budaya, dan tradisi yang masih dijaga dengan baik oleh masyarakatnya. Dari begitu banyak tradisi yang eksistensinya masih terus terjaga di tanah Samawa, ada satu tradisi yang jika kita perhatikan makin lama makin dilupakan dan tenggelam keberdaannya, yakni gegauk (turun tanaq). Gegauk merupakan tradisi yang harus dilewati oleh seorang anak sebelum anak itu menginjak tanah. sebelum tradisi ini dilaksanakan seorang anak dilarang keras untuk menginjakkan kakinya di atas tanah karena masyarakat Sumbawa percaya, jika hal itu dilanggar makan anak tersebut akan menderita penyakit koreng. Sama halnya dengan tradisi yang lain gegauk (turun tanaq) ini sebelum akan dilaksanakan , harus melalui beberapa ritual dan harus dipersiapkan alat atau bahan yang wajib ada ketika tradisi itu dilaksanakan. Orangtua dari sang anak harus menyiapkan alat dan melakukan beberapa tahapan ritual sebelum masuk ke dalam tahap intinya, yaitu gegauk. Tahapan-tahapan ritual yang harus dilewati sang anak sebelum digegauk, sebagai berikut:

  1. Entek keruq “menaiki keruq”

Tahap ini adalah tahap pertama yang harus dilalui si anak. si anak harus menaiki gegauk yang telah di letakkan di dalam tepi dan kemudian si anak di arak keliling rumah sebanyak 7 kali. Keruq adalah alat yang harus dinaiki oleh sang anak dalam melaksanakan ritual tersebut. keruq berbentuk seperti biawak, dengan moncong yang panjang dan terbuat dari kayu.

  1. I Jala “dijaring”

Setelah si anak selesai di arak keliling rumah. si anak kemudian di letakkan di tengah-tengah halaman dengan masih posisi yang masih di atas keruq dan nampan. Namun, di proses ini diletakkan kue khas yang harus ada dalam ritual tersebut. kue ini terbuat dari beras ketan yang di dalamnya dimasukkan gula merah dan kemudian dikukus. Kue tersebut di letakkan di dalam batok kelapa dan diletakkan tepat di depan anak tersebut. setelah kue diletakkan, orang-orang mulai berdatangan dan berebut untuk mendapatkan kue tersebut. Di tengah prosesi tersebt orangtua sang anak juga melemparkan uang logam dan orang-orang yang menjadi penonton dalam tradisi tersebut ikut serta dan berebut untuk mendapatkan uang logam yang telah dilemparkan orangtua sang anak, hal ini wajibkan dilakukan dan termasuk ke dalam tradisi. disaat proses pengambilan tersebut saat itulah orantua si anak tiba-tiba menjaring orang-orang tersebut dalam satu jaring.

  1. Gegauq

Setelah semua tahpan ritual telah selesai dilalui, selanjutnya barulah sang anak di perbolehkan menginjakkan kakinya di atas tanpa alas kaki.

Begitulah tahapan ritual yang harus dihadapi sang anak dalam tradisi gegauk (turun tanaq). Satu hal yang perlu diingat dalam dalam tradisi ini, yakni tujuannya. Tujuan dilaksanakan ritual gegauk (turun tanaq) ini adalah agar sang anak tidak ditimpa penyakit koreng nantinya. Namun, di zaman yang sudah canggih dan dilengkapi dengan alat kesehatan yang lengkap gegauq sudah mulai dilupakan. Salah satu yang menyebabkan gegauq dilupakan di tanah Samawa ini adalah pemikiran manusianya yang mulai maju. Masyarakat berfikir bahwa filosofi yang terkandung di dalam tradisi gegauq itu tidak lagi percayai dan dianggap sebagi tahayul. Kalaupun penyakit tersebut menimpa anak mereka, mereka akan cenderung berfikir bahwa itu hanya kebetulan dan anak tersebut akan sembuh jika dibawa ke rumah sakit, sehinggan gegauq tidak perlu dilaksanakan. Selain faktor dari masyarakat, pemerintah juga seharusnya mengambil alih kejadian seperti ini. Jika hal ini terus dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan kejadian ini akan terulang dengan dilupakannya tradisi, adat istiadat, dan budaya yang lain di tanah Sumbawa ini.

Namun, yang perlu diapresiasi adalah masih ada masyarakat yang masih sampai saat ini tidak melupakan gegauq dan terus dilaksanakan. Masyarakat seperti inilah yang menghargai adat istiadat yang telah diwariskan oleh nenek moyang masyarakat Sumbawa dan masyarakat seperti inilah yang harus biberikan apresiasi yang tinggi. Jaga adat istiadat, tradisi, dan budaya yang telah diwariskan kepada kita. Jadi, mari sama-sama kita menjaga dan melestarikan budaya dan adat istiadat yang telah nenek moyang kita wariskan. Jaga adat istiadatn  maka akan menjaga identitas!

 tradisi ini dilaksanakan seorang anak dilarang keras untuk menginjakkan kakinya di atas tanah karena masyarakat Sumbawa percaya, jika hal itu dilanggar makan anak tersebut akan menderita penyakit koreng. Sama halnya dengan tradisi yang lain gegauk (turun tanaq) ini sebelum akan dilaksanakan , harus melalui beberapa ritual dan harus dipersiapkan alat atau bahan yang wajib ada ketika tradisi itu dilaksanakan. Orangtua dari sang anak harus menyiapkan alat dan melakukan beberapa tahapan ritual sebelum masuk ke dalam tahap intinya, yaitu gegauk. Tahapan-tahapan ritual yang harus dilewati sang anak sebelum digegauk, sebagai berikut:

  1. Entek keruq “menaiki keruq”

Tahap ini adalah tahap pertama yang harus dilalui si anak. si anak harus menaiki gegauk yang telah di letakkan di dalam tepi dan kemudian si anak di arak keliling rumah sebanyak 7 kali. Keruq adalah alat yang harus dinaiki oleh sang anak dalam melaksanakan ritual tersebut. keruq berbentuk seperti biawak, dengan moncong yang panjang dan terbuat dari kayu.

  1. I Jala “dijaring”

Setelah si anak selesai di arak keliling rumah. si anak kemudian di letakkan di tengah-tengah halaman dengan masih posisi yang masih di atas keruq dan nampan. Namun, di proses ini diletakkan kue khas yang harus ada dalam ritual tersebut. kue ini terbuat dari beras ketan yang di dalamnya dimasukkan gula merah dan kemudian dikukus. Kue tersebut di letakkan di dalam batok kelapa dan diletakkan tepat di depan anak tersebut. setelah kue diletakkan, orang-orang mulai berdatangan dan berebut untuk mendapatkan kue tersebut. Di tengah prosesi tersebt orangtua sang anak juga melemparkan uang logam dan orang-orang yang menjadi penonton dalam tradisi tersebut ikut serta dan berebut untuk mendapatkan uang logam yang telah dilemparkan orangtua sang anak, hal ini wajibkan dilakukan dan termasuk ke dalam tradisi. disaat proses pengambilan tersebut saat itulah orantua si anak tiba-tiba menjaring orang-orang tersebut dalam satu jaring.

  1. Gegauq

Setelah semua tahpan ritual telah selesai dilalui, selanjutnya barulah sang anak di perbolehkan menginjakkan kakinya di atas tanpa alas kaki.

Begitulah tahapan ritual yang harus dihadapi sang anak dalam tradisi gegauk (turun tanaq). Satu hal yang perlu diingat dalam dalam tradisi ini, yakni tujuannya. Tujuan dilaksanakan ritual gegauk (turun tanaq) ini adalah agar sang anak tidak ditimpa penyakit koreng nantinya. Namun, di zaman yang sudah canggih dan dilengkapi dengan alat kesehatan yang lengkap gegauq sudah mulai dilupakan. Salah satu yang menyebabkan gegauq dilupakan di tanah Samawa ini adalah pemikiran manusianya yang mulai maju. Masyarakat berfikir bahwa filosofi yang terkandung di dalam tradisi gegauq itu tidak lagi percayai dan dianggap sebagi tahayul. Kalaupun penyakit tersebut menimpa anak mereka, mereka akan cenderung berfikir bahwa itu hanya kebetulan dan anak tersebut akan sembuh jika dibawa ke rumah sakit, sehinggan gegauq tidak perlu dilaksanakan. Selain faktor dari masyarakat, pemerintah juga seharusnya mengambil alih kejadian seperti ini. Jika hal ini terus dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan kejadian ini akan terulang dengan dilupakannya tradisi, adat istiadat, dan budaya yang lain di tanah Sumbawa ini.

Namun, yang perlu diapresiasi adalah masih ada masyarakat yang masih sampai saat ini tidak melupakan gegauq dan terus dilaksanakan. Masyarakat seperti inilah yang menghargai adat istiadat yang telah diwariskan oleh nenek moyang masyarakat Sumbawa dan masyarakat seperti inilah yang harus biberikan apresiasi yang tinggi. Jaga adat istiadat, tradisi, dan budaya yang telah diwariskan kepada kita. Jadi, mari sama-sama kita menjaga dan melestarikan budaya dan adat istiadat yang telah nenek moyang kita wariskan. Jaga adat istiadatn  maka akan menjaga identitas!


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *