Hampir Sebuah Subversi

Cerpen, Fiksi

Hampir Sebuah Subversi

Sebenarnya saya suka ketempatan Pak De, tetapi istri saya sering mengancamnya sebagai pria lajang yang ceroboh. “ Lihatlah kamarnya, seperti kandang kuda.” Tentu saja kuda-kuda sekarang sudah mengalami emansipasi sehingga kandangnya pun bersih, itu pasti tidak diketahui istri saya yang bukan keturunan belantik kuda.

Pak De tidak terlalu mengganggu sebenarnya. Ia kita tempatkan dikamar atas, punya jalan masuk sendiri. Ia juga orang terhormat, sebab ia mengajar di universitas. Tetapi itu saja tidak cukup bagi istri saya. Orang juga harus hidup bersih, bersih di dalam itu tidak cukup, orang juga harus bersih di luarnya. Biarlah itu pendapat ibunya, tetapi anak-anak saya punya pendapat sendiri. Bagi mereka, Pak De merupakan idola. Pak De saya suka pada anak-anak termasuk anak-anak saya. Ini juga menjadikannya cacat di depan pengadilan istri saya. “ Hati-hati dengan dia, jangan-jangan ia seorang,” istri saya memang tidak sampai hati melanjutkan, tetapi sebagai seseorang yang berpengetahuan tahulah saya apa yang dimaksud. Ia memang suka membawa cklat untuk anak-anak, satu hal juga yang tidak disukai ibunya. Pendek kata, tempatnya ialah surga bagi anka-anak, tempat anak-anak bermain-main, sementara pada ibunya anak-anak hanya kenal disiplin. Kesalahan Pak De, kalau itu dianggap kesalahan, ialah tidak pernah minta izin kami, kalau akan memberikan apa-apa. Tetapi menurut saya, sebagai anggota keluarga ia punya hak penuh. Juga tidak pernah terdengar ia mengaji, satu hal yang tidak disenangi istri saya. “Itu tidak baik bagi pendidikan anak-anak,” katanya. Untunglah, ia berasal dari pihak istri, jadi bisa saya tidak peduli.

Saya hanya tidak tahan pada suaranya. Kalau dikatakan bahwa sejelek-jelek suara ialah suara khimar, barangkali suara Pak De lah contohnya. Tetapi apa boleh buat, itu bawaan lahir. Mungkin latihannya adalah meneriaki orang dari seberang bulak. Kalau memberi kuliah, dia akan ditempatkan diruangan yang agak terbuka, sebab ia bisa bersaing dengan mobil. Lagi pula, itu menguntungkan mahasiswa. Mahasiswa tidak usah berebut untuk duduk dekat pintu, sebab kalau sedang marah, dan itu sering, seluruh penghuni kebun binatang akan keluar. Mulai dari monyet yang tak berakal sampai unta yang berkali-kali ke Mekah tapi tak pernah jadi haji, dari otak udang sampai air mata buaya. Entah darimana ia belajar itu semua, seingat saya tidak terdapat dalam kamus. Kalau sudah demikian mahasiswa yang tidak tahan akan berkali-kali ke belakang. Itu masih untung baginya, tidak ada mahasiswa yang mati berdiri. Sayalah yang sering diminta orang untuk melunakkannya, sementara para guru besar tidak sanggup. Alasannya sederhana saja, sayalah satu-satunya keluarga.

Pernah sekali terjadi keributan di kelas akibat ulah Pak De dalam kelas. Ia tidak tahu kalau dalam kelasnya ada seorang mahasiswa yang sudah dididik untuk memata-matai para dosen. Nah, untuk menunjukkan kejengkelannya pada mahasiswa, ia kentut di depan mahasiswa. Mahasiswanya tidak dapat menerima perlakuan itu, dan mereka tahu persis tempat mengadu, yaitu pada Inspektur Jenderal Pendidikan. Maka melayanglah inspektur itu ke universitas. Sayalah yang dipanggil. Pertanyaan sekitar kelakuan Pak De, yaitu apakah dia penganut free-sex, apakah dia kumpul kebo, apakah dia galak, apakah moral dia bagus, apakah dia suka menghukum, apakah dia suka bicara kotor, apakah dia suka memaki, dan baru apakah dia suka kentut di kelas. Tentu saja saya menjawab apa adanya.

Satu hal lagi yang tidak disukai istri saya, ia suka mengobrol di gardu siskamling. Sebagai lajang yang tidak punya tanggungan, itu lebih baik baginya daripada keluyuran ke mana-mana, lagi pula itu menguntungkan kampung. Mereka yang di gardu akan sangat beruntung mendapat kawan seperti dia. Tapi kata istri saya, “ kalau jadi dosen itu pekerjaannya membaca, bukan keluyuran ke gardu ronda. Kalau dosennya begitu, bagaimana mahasiswanya.” Istri saya tentu tidak tahu bahwa bukan dua puluh empat jam kita menjadi dosen. Konsep lama tentang guru yang seumur hidup rupanya masih melekat di hati istri saya yang menolak disebut kolot itu.

Di gardu — atau dari tempat lain — itulah dia mendapatkan batunya. Sekali ia membawa pulang bor-bor, atau alat semacam itu. Di gardu ia mengatakan dapat membuat terowongan kemana saja ia suka. Pernyataan itu diartiakan oleh orang gardu sebagai ancaman terhadap lingkungan. Atau, setidaknya begitulah persepsi orang yang dekat dengan penguasa. Dan akibatnya, Pak De harus menunda keberangkatannya ke luar negeri untuk mengajar, karena harus berhadapan dengan aparat keamanan. Pengangkatannya sebagai Pembantu Dekan juga batal. Di tempat itu — tempat yang di gambarkannya sebagai neraka dunia — dia harus mengisi formulir dan menjawab beberapa pertanyaan. Yang paling tidak enak baginya ialah penjabat itu sering menggosok-gosok pistol di pinggang, dan keluar setiap ada telepon berbunyi sambil mengatakan kalau sebaiknya tidak pulang hari itu alias ditahan. Seumur hidup baru sekali itu tangannya gemetar, dan berkali-kali menyebut “Bismillah”. Itu pun tangannya masih gemetar. Coba bayangkan, dia dituduh anti-ideologi negara, mau meledek banguanan sakral, mau melawan negara. Hal-hal yang tak pernah terlintas dalam benaknya. Pernyataan hari itu diakhiri dengan sebuah tour ke tempat penyimpanan dokumen dan alat-alat subversi lainnya. Yang luar biasa baginya, yang selalu dipanggil dengan “pak” baik oleh sesama dosen maupun oleh mahasiswa, hari itu dia dipanggil dengan namanya. Pada kedatangan kedua, dia merasa cukup terhormat karena dipanggil dengan “saudara”, dan baru pada kedatangannya yang ketiga dia kembalikan martabatnya dengan panggilan yang dikehendakinya, yaitu “pak”. Dan itu harus ditebusnya dengan paper panjang.

Untuk itu, istri saya hanya mengatakan, “Syukurlah, akhirnya ia mendapat pelajaran juga. Dari siapa lagi !” Memang rupanya itu pelajara penting dalam haidupnya. Pertama, sejak itu tidak terdengar lagi keluhan mahasiswa dan dia tidak lagi mengobrol di gardu, dengan kata lain, ia dapat menahan diri. Kedua, ia menjadi rajin mengaji, artinya ia lebih dekat dengan Tuhan. Ketiga, dan ini yang kami anggap kelewatan, ia menjadi lebih berani. Cobalah suatu kali dia mengatakan bahwa mulai saat ini ia gemetar menjawab pertanyaan, tidak ada lagi yang ia takuti kecuali Tuhan. Itu terbukti dalam banyak hal. Ketika ia naik taksi di Jakarta, ia dapat memaksa sopir untuk memasang argometer. Juga ia bilang pada mahasiswanya, siapa yang akan memata-matai dosen supaya keluar dari ruangan. Dan ini yang membuat takut semua temannya, ia pernah membentak seorang petugas negara yang meminta paper yang dibacakannya dalam sebuah seminar mahasiswa. Katanya, “Petani mesti membawa cangkul ke sawah, pegawai membawa pulpen ke kantor, dosen membawa otak ke kelas, petugas seperti engkau harus menyiapkan rekaman, bukan hanya pandai minta paper atas nama negara.”


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *