Hapus saja kalau berani !!!

Artikel, Non Fiksi

hapus saja kalau berani

Salam Gigit Dua Jari.

Slogan Jokowi Jk yang selama ini diagung-agungkan yaitu “salam dua jari” sepertinya harus diganti. Salam dua jari yang diimplikasikan sebagai salam perdamaian kini telah pudar siring berjalannya sang waktu yang menghadirkan sebagian dari realitas kepemimpinan Jokowi JK, baru saja berjalan beberapa tapak. Gebrakan-gebrakan baru yang dinilai akan memberikan suasana politik dan menuai hasil yang lebih baik dari sebelumnya, dengan membentuk kabinet kerja Jokowi memilih orang-orang yang akan membantunya menjalankan pemerintahan, memilih orang-orang yang dinilai pantas mendampinginya dan berkompeten dalam bidangnya, sehingga mampu bekerja dan mengabdikan diri untuk Negara dengan maksimal. Janji-janji yang dipaparkan pada saat kampanye pilpres kemarin, kini mulai dituntut masyarakat. Jokowi telah meluncurkan beberapa kebijakan dalam beberapa waktu singkat ini, kartu-kartu jitu yang dinilainya mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat dikeluarkan, kartu Indonesia sehat (KIS) dan kartu Indonesia Pintar (KIP) telah beredar dimaysarakat, kebijakan menghapus keterangan beragama di KTP yang diwacanakan oleh Mentri Agama dalam kabinet kerja Jokowi menuai pro dan kontra di masyarakat, anggapan tidak perlunya memberikan keterangan agama pada KTP banyak ditentang oleh masyarakat, hal tersebut bertentangan dengan falsafah Negara Republik Indonesia yaitu Pancasila yang menunjukkan Indonesia adalah Negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan, setiap penduduk indonesia berhak memilih agama yang diyakini dan beribadah menurut agamanya bukan berarti bebas tidak beragama. Memang pada prinsipnya keberagamaan merupakan hal yang bersifat individualitas dan tidak bisa diganggu gugat namun tidak semestinya keterangan agama dihilangkan dalam Kartu Tanda Penduduk. Sebagai identitas kependudukan sudah selayaknya dicantumkan keteranga-keterangan penting dan mendasar sebagai tanda Penduduk Indonesia begitu juga halnya dengan keterangan agama. Ada banyak kalangan yang menolak hal ini kalangan agamawan, akademisi dan masyarakat yang merasa indentitas beragama itu sangat penting.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *