Hedonisme Kekinian

Non Fiksi, Opini

Hedonisme Kekinian

HEDONISME yang berasal dari bahasa Yunani Hedone yang berarti kesenangan atau kenikmatan.
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. dan hal ini sangat tampak dalam remaja kita dewasa ini. banyak remaja yang melakukan hal-hal untuk bersenang-senang dan membuat sekolah, pendidikan, keluarga bahkan agama menjadi hal kesekian dari hidupnya. hari-hari dijalankan dengan pikiran bersenang-senang bahagia dan hura-hura semata.

Rasa gengsi tinggi yang diperoleh dari menonjolkan merek-merek terkenal dan mahal, atau simbol-simbol kemewahan lainnya adalah merupakan gejala umum sekarang ini. Lihat saja di kota-kota besar saat ini semakin banyak bermunculan butik-butik atau toko-toko pakaian dan perlengkapan lainnya yang merupakan barang impor dan bermerek dengan harga yang, wow, membuat jantung saya berdegup kencang, dimana harga selembar baju kaos (T Shirt) dengan tulisan seadanya “cuma” sebesar Rp. 250.000,-.
Melihat harga-harga fantastis dari toko-toko yang biasanya menambahkan nama surf pada nama tokonya tersebut, maka menjadi maklumlah saya kenapa orang-orang menjadi begitu bangga walaupun hanya membawa kantong kreseknya kemana-mana. Dan akhirnya saya pun bisa maklum kenapa teman saya begitu bangganya membawa tas kulit bulukannya ke mana-mana.
Begitu juga ketika banyak remaja yang sangat tergila-gila dengan merek HP tertentu, mereka akan berupaya memilikinya baik dengan cara meminta -meminta ke orangtua maupun terkadang dengan jalan pintas. tak heran kita sering mendengar istilah “cabe-cabean”, hal ini mengacu kepada para remaja ABG khususnya yang nampak genit manja menor untuk menggoda siapa saja bahkan hingga om-om berkantong tebal guna menebalkan dompet dan membeli barang-barang mewah dengan cara instant demi sebuah gengsi.
Belum lagi demam korea (korean wave) yang begitu santer membuat para remaja rela membeli tiket berjuta-juta hanya untuk menonton konser beberapa jam saja, mengkoleksi pernak-pernik artis idola hingga tetek bengek yang di luar logika. namun itulah yang terjadi saat ini di dunia remaja. serangkaian kejadian lucu lainnya adalah harus makan di tempat elit, bermerek dan restorant fastfood terkenal juga merupakan kebiasaan saat ini. selfie (menfoto diri) kemudian mengunggah foto di tempat makan tersebut lalu menshare di jejaring sosial merupakan jaring bentuk hedonisme baru.
Namun tidak serta merta pula kita menyalahkan para remaja itu, karena peran orangtua juga diperlukan untuk membimbing mereka agar kembali ke jati diri remaja. namun saat ini para orangtua juga terbawa arus hedonisme.
mereka pun dalam perangkap yang sama bahwa gengsi, harta benda, foya-foya juga ada dalam mindset para orang tua kekinian. disayangkan namun itulah faktanya.. lantas siapakah yang salah dengan keadaan ini? sebuah pertanyaan yang terus bergulir di otak saya sendiri!.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *