Jangan abaikan satu nyawa !!

Artikel

Jangan abaikan satu nyawa !!

Penulis tersentuh dengan pemberitaan Marshanda akhir-akhir ini, yang melibatkan perseteruan dirinya dan sang ibu melibatkan pengacara kondang OC Kaligis. Tercetus nama sebuah penyakit dalam kasus ini adalah BIPOLAR. Apakah Bipolar itu? Menurut John M Grohol,  Psy.D, Bipolar Disorder atau Manic Depression adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang serius, yang dulunya dikenal dengan  nama yang lebih tua adalah “manic depression”. Episode suasana hati ditandai dengan kebahagiaan ekstrim, lekas marah ekstrim, kesedihan ekstrim, hiperaktif, tidak bisa tidur lama, berbicara yang cepat, kekurangan energi, ketidakmampuan untuk menikmati kegiatan dan perasaan, dan cenderung tidak berdaya dan putus asa.

Siapa yang tidak kenal Marshanda, yang bernama Andriani Marshanda, sebagai seorang wanita muda yang cantik, terkenal dan lahir dari keluarga kaya. Gadis yang lahir 10 Agustus 1989, mulai dikenal publik ketika pertama kali membintangi iklan Dancow, sebagai gadis cilik yang cerdas ketika menghindari anjing yang ditakutinya. Kemudian sebagai pemeran utama dalam Sinetron Bidadari, yang membuatnya makin terkenal. Namun siapa yang menyangka gadis yang hidupnya seolah-olah sempurna itu ternyata “broken home” yang rindu dengan figur sang ayah, adalah gadis kecil yang suka di-”bully” teman-teman SD-nya yang terkuak dalam videonya di You Tube, ada juga video tentang para pria yang sudah menyakiti hatinya. Belum lagi selesai keputusannya mengajukan gugatan cerai ke suaminya Ben Kasyafani dan keputusannya yang menghebohkan ketika dia meninggalkan hijabnya. Muncul berita sekarang Marshanda akan membuat video episode “pemasungan” dirinya di rumah sakit RS Abdi Waluya di Menteng, 26 Juli 2014 selama 8 hari.

Menurut keluarga terutama sang ibu dan RS Abdi Waluya, Marshanda mengidap Bipolar, yaitu gangguan otak yang menyebabkan pergeseran yang tidak biasa dalam suasana hati, energi, tingkat aktivitas, dan kemampuan untuk melaksanakan tugas sehari-hari. Gangguan ini muncul pada masa remaja akhir atau dewasa awal, semua dimulai usia di bawah 25 tahun.  Gejala gangguan bipolar dapat menghasilkan hubungan yang rusak, kinerja pekerjaan atau sekolah yang buruk, dan bahkan bunuh diri.

Apakah Marshanda berpotensi BUNUH DIRI? Keluarga Marshanda yang tidak setuju Marshanda mandiri dengan tinggal di Apartemen Puri Kasablanca, mensinyalir dia berpotensi melompat dari lantai 30 apartemen tersebut. Terlepas dari benar tidaknya penilaian ibu Marshanda, potensi bunuh diri ini menurut penulis jangan dipandang sepele. Bila melihat perjalanan hidupnya dari kecil dan gejolak-gejolak yang diungkapkan, orang mungkin akan setuju dengan pendapat ibunya, Riyanti Sofyan, bahwa Marshanda mengalami gangguan jiwa. Tapi tunggu dulu second opinion dari dokter lain yang dikehendaki Marshanda.

Menjadi gadis cantik, terkenal dan lahir dari keluarga kaya (Pemilik Sofyan Hotel), bukan jaminan untuk hidup bahagia. Lalu siapakah yang paling besar berpengaruh membentuk jiwa dan mental Marshanda bila dikatakan mengidap Bipolar? Tentulah keluarga, yaitu sang ibu yang paling tahu dan paling dekat selama hidupnya sebelum menikah adalah berpotensi yang paling banyak mempengaruhi sikap dan jiwa Marshanda.

Kita coba berandai-andai bila yang dicemaskan keluarganya itu benar, tiba-tiba Marshanda bunuh diri? Apakah tidak akan terjadi penyesalan pada keluarga? Baik dan buruknya Marshanda, dia adalah pribadi yang bebas dan memiliki hak untuk hidup dan menikmati hidupnya. Bila Marshanda bunuh diri, ada sepotong jiwa yang terluka dan terkorbankan. Marshanda bukan lagi gadis cilik Dancow tetapi seorang ibu muda dari Sienna Ameerah Kasyafani, gadis cilik yang cantik yang masih sangat membutuhkan ibunya.

Masyarakat dan keluarga harus bijak menanggapi kasus Marshanda, jangan menuduh, menghujat dan menghakimi seseorang meskipun dia didiagnosis mengidap gangguang jiwa atau deppresi. Satu nyawa sangat berharga. Mungkin di luar sana masih banyak Marshanda – Marshanda yang lain yang mengalami gejolak yang sama. Dan beberapa penelitian menyatakan gangguan bipolar cenderung pengaruh gen tertentu, dan gejala ini dapat diturunkan ke keturunan, dibandingkan anak lain dengan orang tua atau saudara yang memiliki gangguan bipolar lebih mungkin untuk mengembangkan penyakit, dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki riwayat keluarga disorder bipolar.

Gangguan Bipolar masih dapat disembuhkan, yaitu dengan memberikan kehidupan yang nyaman dan kondusif, serta menjadikan hidupnya produktif dengan berbagai kegiatan yang dapat menyembuhkan suasana hati yang pasang surut. Pengidap Bipolar butuh kelompok-kelompok pendukung baik dari anggota keluarga, teman dan masyarakat sekitar yang memberi respon positif, juga terapi bicara dan obat-obatan dari dokter ahli. Pemulihannya dengan mengembalikan hidupnya dengan situasi keluarga yang harmonis, jalani hidup tanpa interfensi pihak lain. Berusaha meraih tujuan hidup dan membangun kekuatan diri sendiri serta melakukan apa yang bisa dilakukan. Yang terpenting penderita berusaha menerima dan menikmati hidup yang dijalani.

“Jangan abaikan satu nyawa karena akan ada korban nyawa-nyawa lain yang berpotensi mengalami penurunan gen “


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *