pemandangan langit pulau meno 1

Janji di Langit Meno

Cerpen, Fiksi

“bagaimana?”, tanyaku pada Arum. Dia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya sesuatu yang tak mampu untukku baca tersirat di hitam matanya. Jawaban yang selalu ku terima jika aku menanyakan hal itu. Aku tidak tahu apa yang ada di benaknya. Mungkin saja, saat ini ada banyak hal yang harus dia pikirkan.

Sudah tujuh tahun lamanya aku memutuskan bahwa aku mencintainya. Sangat mencintanya. Dia pun memberi hal yang sama. Awal di mana aku menyadari rasa itu. Seperti kembang api di langit malam dan seperti hujan di tengah musim kemarau.

Saat ini, kami sedang menikmati aroma pantai yang penuh dengan kenangan. Tempat pertama kali yang kami kunjungi setelah mengucap janji untuk bersama. Warnanya masih sama, pasir yang hitam keabuan. Pantai berwarna biru kusam. Barisan pulau Sumbawa seperti goresan pensil yang terlihat dari bibir pantai. Dan gantungan awan yang terkadang membentuk dirinya seperti seekor kelinci, ombak, bahkan seperti wajah sang kekasih. Benar-benar lukisan Tuhan yang mahal.

Kami masih diam. Seperti patung. Nafas pun tak terdengar oleh hembusan angin yang cukup membuat ujung gaun selututku terkibas. Sesekali dia menoleh. Tapi, aku tak sanggup melihat mata itu. Mata yang cukup tajam untuk menusuk ulu hatiku. Hati yang penuh harap.

“berikan aku waktu, indah”. Keheningan di antara kami terpecah. Waktu? Setahun? Dua tahun? Atau.. sampai kulitku mengeriput, dan hitam rambutmu beruban? Berapakah waktu lagi yang kamu minta. Aku tidak mengerti. Sungguh tidak! Kamu mencintaiku. Aku mencintaimu. Ada janji kehidupan yang ingin kita rajut. Tentunya, kamu sudah siap.

Dingin, dia berubah sedingin es di Antartika. Tak ada canda tawa, keluh kesah, bahkan tak ada airmata yang melukis keharuan akan cinta kasih selama ini. Semuanya lenyap. Tanpa sebab. Tanpa permisi. Tanpa alasan. Dan tanpa…. ya Tuhan, aku tidak tahu.

***

“Indah, semuanya sudah siap!”, Arman tersenyum lebar di depanku. Dia membawa seikat bunga mawar dengan setelan kemeja putih dan celana jeans biru tua. Sepatunya sangat mengkilap. Bahkan, rambutnya berkilau di bawah terpaan sinar lampu teras rumah. Malam ini adalah malam yang ditunggunya setelah dua tahun. Arman akan ku temani melamar kekasihnya, Tika. Ini rahasia, seperti kejutan untuk Tika. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Tika nantinya. Pastilah tak cukup hanya untuk sekedar berkata. Sebuah coffee shop menjadi tempat tujuan kami.

“kamu yakin, Man, ini tempatnya?”. Arman terlihat resah. Kami sudah dua jam menunggu kedatangan Tika. Tapi, bayangannya saja tak kunjung datang. Arman tak menjawab.

***

sepulang kuliah ini. Aku tidak bisa langsung pulang ke kost. Aku akan pergi menemui Arman di taman kota. Ini adalah minggu ke dua dia di Lombok. Ya, Arman dari Bali. Sebenarnya dia berasal dari Lampung. Namun, sudah tiga tahun ia bekerja di salah satu kantor yang bergelut di bidang pariwisata di Denpasar. Kunjungannya ke Lombok bukan hanya untuk bertemu denganku setelah perkenalan kami dua tahun lalu melalui telepon. Kami dikenalkan oleh temanku yang juga bekerja satu kantor dengannya. Namun, ada pekerjaan yang harus dia selesaikan yang merupakan tugas dari kantornya. Katanya, ia akan lama di sini. Dua atau tiga bulan. Hitung-hitung sekalian dia ingin liburan di Lombok.

Tiba-tiba, ada aroma yang membuyarkan lamunanku. Aroma yang sama seperti aroma tadi malam. Hmmm… itu bau parfum Arman. Dasar! Apakah dia harus menggunakan parfum satu botol sebelum bertemu denganku. Bisa saja, parfumnya memang mahal. Hehe.. tunggu dulu! Kenapa wajahnya tidak berubah. Sebelum ke sini aku sudah mensketsa wajahnya yang cabi itu. Misalnya, berubah menjadi Hulk, Doraemon, bahkan seperti monster atau seperti mayat hidup. Kenapa tetap. Bahkan, lebih segar dari sebelumnya. Seharusnya kejadian semalam harus membuatnya patah tulang. Haha..

Arman adalah teman curhat yang baik. Selama ini dialah yang selalu sabar dan setia mendengarkan keluh kesahku tentang hubunganku dengan Arum. Baiklah, kali ini akulah yang akan menghiburnya.

“kamu baik-baik aja?” tanyaku. Arman hanya diam. Tapi mengapa tak ada raut kesedihan tergambar di wajahnya. Atau jika boleh berlebihan. Kenapa dia tidak menangis. Sungguh orang aneh. Bukankah mimpinya untuk melamar gadis jawa yang saat ini tinggal di Lombok itu sangat besar. Aku begitu ingat kata-katanya, aku ingin menikahi gadis lombok.

Aku memutuskan untuk mengajaknya melihat sunset di pantai Senggigi. Arman memiliki kesukaan yang sama denganku. Senang dengan pantai. Senang dengan suasana senja. Setidaknya, dia butuh hiburan. Sama denganku.

***

“jika ini yang kamu minta. Maaf, aku tidak bisa!”. Aku terus menangis sejadi-jadinya di depan laki-laki yang sangat aku sayangi itu. Arum terus membujukku. Ia terus meyakinkanku, bahwa dia akan tetap menikahiku. Tidak. Tidak harus dengan jalan ini. Aku mencintaimu. Kamu mencintaiku. Haruskah aku berikan apa yang akan menjadi hadiah termahal perkawinan kita nanti. Malam pertama yang dirindukan? Aku tahu, ini adalah kekuranganku. Aku tak bisa memberimu lebih. Bahkan hanya sekedar pelukan saja. Aku tak pernah bisa memberinya. Maaf, jika hanya genggaman tangan yang aku yakinkan kepadamu. Itu karena aku mencintaimu. Mencintai cinta kita.

Ya Tuhan, tolong aku. Aku mencintainya. Sangat. Aku tidak ingin dia meniggalkanku. Aku juga tidak ingin cintaku selama ini harus aku gores bahkan aku nodai dengan hal seperti ini.

“aku tidak bisa mengikatmu. Jika tidak seperti ini!”, “nikahi aku”, “ tidak sekarang, pasti nanti!”, “kenapa?”, “aku belum siap, Indah”.

Dia menangis. Aku terdiam. Apa yang ada di pikiran Arum sehingga dia mencoba berbuat hal yang begitu jahat kepadaku. Dia tidak pernah seperti ini. Memelukku saja. Sungguh sangat ia tahan. Memendam dalam-dalam hasrat itu. Tapi, setan apa yang meracuni pikirannya sehingga ia berpikir sekejam ini!

Tujuh tahun, kami bersabar menghadapi hasrat manusiawi itu. Cinta tidak mesti indah dengan hal-hal semacam itu. bukankah cinta itu berbagi, saling mengasihi, menjaga, dan suci. Bukan saling menodai. Atau benarkah kamu mencintaiku?

***

Arum semakin jarang menghubungiku. Aku tidak tahu. Aku juga saat-saat ini tidak ingin menghubunginya. Aku butuh Arman. Tapi, tidak. Arman tidak boleh mengetahui hal ini.

Ya Tuhan, beri aku jawaban. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Mencintainya tanpa pernah ingin sedikitpun menodai cinta itu tidak, Tuhan.

Bagaimanapun, aku harus tetap mendapat kepastian dari Arum. Aku mencintainya. Dia, mungkin mencintaiku. Aku harus menghubunginya. Aku akan mengajaknya bertemu di salah satu pulau kecil yang berada di bagian barat daya pulau lombok. Biasa disebut dengan Gili.

Aku memilih Gili Meno. Yang merupakan salah satu dari tiga gili yang berderet di bagian barat daya pulau lombok. Yaitu, gili Air, gili Meno, barulah gili Terawangan, yang termasuk bagian dari kabupaten Lombok Utara tersebut. Gili Meno lebih sepi dibandingkan dengan gili Terawangan. Itu sebabnya aku lebih memilih gili Meno. Mungkin, kami butuh ketenangan. Sekalian untuk membuang penat.

***

Membutuhkan waktu sekitar dua puluh sampai dua puluh lima menit untuk tiba di Meno dengan menggunaan boat menyeberang dari pelabuhan bangsal. Aku akan menuggunya di sana. Menunggu kekasihku.

Aku datang dua jam lebih awal dari perjanjian. Ya, kami akan bertemu saat matahari akan bersiap ke peraduannya.

Tuhan, aku gugup sekali. Perasaanku terasa begitu aneh. Jantungku berdegup lebih kencang dari saat Arum pertama kali menawarkan diri untuk dicintai. Sebentar lagi. Sebentar lagi dia akan datang. Menemuiku. Berharap janji kehidupan kami terwujud.

Detak di dadaku semakin berlari cepat. Lebih cepat dari detik. Ya Tuhan, kenapa aku ragu. Tidak. Arum akan datang. Melamarku. Pasti!

***

Dekat, semakin dekat. Aku merasakannya datang. Dalam jiwa yang mendamba. Mendamba sang kekasih segera untuk meminang. Aku mencintainya. Dia, mencintaiku.

Sutra senja semkin jelas tergores. Aroma angin bercampur dalam rindu yang pekat. Aroma itu semakin aku rasakan. Aroma yang tak asing lagi. Aroma yang beda dari tujuh tahun itu. aroma yang baru aku rasakan. Deg! Rasanya, jantungku berhenti berdetak. Ada embun yang tiba-tiba menetes di ubunku. Kaki dan tanganku bergetar. Hebat. Sungguh hebat!

Aku merasakan aroma itu semakin datang. Menghampiri tubuhku yang kaku seperti patung. Sedingin es. Berkeringat. Semuanya menjadi satu. Tuhan, siapakah yang Kau kirim ini. Kekasihku kah?

***

Dia tersenyum. Manis, sangat manis. Membawa seikat bunga mawar putih. Aku beku. Tak bisa menggerakkan bibir, melengkungkan senyum untuk membalasnya. Arman, kamukah itu? mengapa?

Indah, kamu adalah indah. Tahukah kamu. Langkah mimpi membawaku ke sini. Mimpi seorang yang mencintaimu. Sangat mencintaimu. Indah… tahukah kamu. Dia tidak datang bukan karena dia tidak ingin memenuhi janji kehidupannya bersamamu. Namun, ia mencintaimu lebih dari apa yang kamu ketahui selama ini. Indah… tahukah kamu. Bagaimana hancurnya saat dia mengetahui bahwa dia telah menyakiti perasaan dan jiwa kekasih yang amat dia cintai dan impikan untuk menemani sisa hidupnya nanti.

Indah. Tahukah kamu. Dia datang dengan airmata penuh cinta dan janji di matanya kepadaku. Janji yang begitu besar sehingga kamu tidak bisa untuk membacanya. Walaupun, hanya sebuah kata. Indah. Tahukah kamu. Dia tidak datang bukan karena dia meninggalkanmu. Melainkan, dia mencintaimu. Sangat.

Indah. Di langit Meno aku akan mengatakan sebuah janji seseorang yang mencintaimu. Sangat. Dia tidak datang bukan karena dia tidak ingin memenuhi janji kehidupannya bersamamu. Kau pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik. Tapi dia berjanji. Dia akan datang pada suatu masa dimana kamu masih sendiri. Tidak perduli apakah cinta masih bermuara di hatimu. Namun, kesucian cintamu tak akan pernah bisa tertandingi dengan apapun. Indah. Tahukah kamu. Dia mencintaimu. Sangat.

Aku tidak tahu. Hatiku basah mengetahui itu semua. Menangis sejadi-jadinya. Janji di langit Meno tertulis bersama mentari yang membawanya ke peraduan atas kehendak Tuhan yang tak terelakkan.

Dia tidak datang. Dia mencintaiku. Aku tidak bisa menahan. Biarkan pipi, hati, dan jiwa menjadi basah. Akan cintaku. Cintanya yang membawanya pergi untuk menjagaku. Menjaga kesucian dari Tuhan.

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *