janji rinjani 1

Janji Rinjani

Cerpen, Fiksi

 

janji rinjani

Ini bukan rahasia atau mengungkap sebuah misteri yang ada. Tapi ini tentang sebuah janji yang terucap. Dan masih terasa begitu pekat dalam diriku yang menua.
“aku tak membencinya.” Begitulah kira-kira gumamnya dalam hati. Kuperhatikan lamat-lamat wajah yang berada di sampingku. Terlihat sorot mata tajam dengan bola mata berwarna coklat memandang entah kemana. Alis mata yang tebal, mata bulat dengan bibir tipis seperti bulan sabit yang baru berusia dua hari, dan garis-garis di dahi, ujung mata, serta sudut-sudut bibirnya tak cukup mengalahkan bahwa perempuan ini masih cantik dalam usianya yang cukup berada di senja.
Udara dingin mulai menjalar dari sela-sela jari kaki. Membelai mesra tubuh dengan lembut. Kabut pun turun dari bukit-bukit sampai terasa menusuk tulang. Namun, kebersamaan kami di tengah udara dingin sama halnya dengan meneguk secangkir teh hangat. Kulihat ia mulai merapatkan baju hangat ke tubuh rentanya. Aku pun melakukan hal yang sama.
“biarkanlah dia mendaki keindahan yang tersimpan di atas sana, nak.” Tiba-tiba diucapkannya disela keheningan kami. Aku tetap melanjutkan memetik buah strawberry yang kupesan. Hari ini aku cukup beruntung. Membeli strawberry dengan langsung memetik di perkebunannya. Biasanya aku hanya bisa membeli yang sudah dibungkus. Perkebunan ini tak terlalu luas. Luasnya hanya sekitar empat are. Tapi ini adalah salah satu andalan bagi sebagian warga desa Sembalun.
Tak hanya satu perkebunan yang bisa didapatkan, tapi terjejer indah sepanjang jalan dari bukit pusuk hingga sejauh dua kilometer ke arah Pelawangan, gerbang awal menuju Rinjani. Harum strawberry yang merayu dengan warnanya yang merona akan menyihir para wisatawan lokal mapun interlokal dan akan terasa rugi jika dilewatkan untuk sekedar berkunjung.
Bukit pusuk yang berada di desa Sembalun ini adalah salah satu anak gunung Rinjani. Ada banyak bukit indah berjejer mengiringi sebuah gunung bernama Rinjani yang berada puluhan kilometer jauhnya dari Sembalun. Terletak di sebuah pulau kecil yang bernama Lombok, Rinjani terlihat perkasa menjulang tinggi dengan segala rahasianya. Ia seperti mengambang di lautan dan dengan ujung yang terlihat begitu tajam. Rinjani adalah sebuah pesona yang dimilki pulau kecil ini. Ya, Rinjani, akan kumulai kisahnya. Tentang seorang perempuan yang kehilangan akan janji yang tak pernah ingkar.
***
Lelaki itu terlihat sedang mengikat beberapa tangkai bunga. Bunga itu terlihat kering dengan batang, daun, dan kelopaknya yang berwarna cokelat. Namun memiliki beberapa bunga dalam satu tangkainya seperti cabang-cabang keindahan yang dimiliki Rinjani.
Bunga Adeluis itu dipetiknya sewaktu melihat matahari terbit yang membelah lautan awan dari puncak Rinjani. Dengan perasaan bahagia dibawanya bunga itu untuk sang kekasih, perempuan yang selama ini ingin dinikahinya, Dewi.
“ini ikatan bunga yang ke tiga pulu satu, bukan?” sambil mengulum senyum diterimanya bunga itu dari tangan lelaki itu. Dewi menyimpan tanya yang cukup memporak-porandakan pikirannya selama ini. Ia tidak tahu siapa yang lebih dicintai kekasihnya. Apakah dirinya yang selama ini menemani hari-hari lelaki yang hobi dipetikkan buah strawberry itu atau rasa cintanya memeluk keindahan yang tersimpan di Rinjani seperti yang diceritakannya berulangkali.
Walau desaku cukup dekat dengan gunung itu, aku tak cukup memilki keinginan bahkan keberanian untuk menyentuhnya. Bagiku cukup kubelai keindahan itu dari jauh jika setelah meraihnya rasa indah itu tak terkecap lagi.
Tangan lelaki itu bergerak. Menjalar ke jemari perempuan itu dengan ragu-ragu yang penuh kelembutan. Digenggamnya tangan Dewi dengan penuh kehangatan meskipun udara dingin sudah biasa menemani nafas mereka. Dengan nafas yang berat, lelaki tersebut memulai menerjemahkan mimpinya selama ini.
“aku tak akan melarikanmu seperti adat yang membalut kita selama ini.” Lelaki itu sejenak menarik nafasnya. “bersediakah sekiranya, kau, menjadi istriku?” dengan terbata-bata lelaki itu menundukkan kepalanya. Tidak disadari itu adalah sebuah lamaran yang membuat sang perempuan berhenti bernafas beberapa saat.
***
Menjelang tiga hari pernikahan, lelaki itu meminta sesuatu yang sulit untuk diterima Dewi. Setelah dijelaskan panjang lebar oleh calon suami yang sangat dicintainya itu, ia tak sanggup untuk membendung air matanya. lelaki itu tetap membujuknya dengan segala cara hingga sujud di kakinya pun dilakukan.
Tidakkah kamu mengerti sekali saja. Aku tidak akan melarangmu melakukan apa pun jika tak ada rasa takut bagiku. Aku juga tak mengerti rasa takut ini sudah mendarah daging untukku. Aku juga mencintainya, mengagumi keindahannya yang hanya bisa kurasakan dari jauh dan tak tersentuh olehku sedikit saja. Sama seperti kau yang jauh lebih memliki rasa cinta yang berbeda karena kau telah menikmati keindahan yang diberikannya selama ini.
Lelaki itu mengemas perlengkapan mendakinya ke dalam carrier berukuran sedang. Tak dihiraukannya tangisan perempuan itu yang menghentak langit-langit hatinya. Tetapi lelaki itu sudah terlanjur mencintai Rinjani dengan sangat.
“dalam sekali langkahmu menyentuh tanah di luar rumah ini untuk pergi. Aku hanya bisa membalut kekhawatiran hatiku dengan doa.” Dewi tak ingin melihat wajah calon suaminya yang akan pergi meninggalkannya hanya dengan alasan ingin ke puncak Rinjani sebelum hari pernikahan mereka tiba. Baginya yang tidak tahu rasa cinta yang seperti apa yang dirasakan lelaki itu, ia hanya bisa meraung dalam hati. Karena tak bisa berkata apa-apa, lelaki itu hanya bisa berkata dalam surat yang ia tulis saat memuncak terakhir kalinya.

Aku tau rasa takut yang terpendam di hatimu selama ini. Tapi kau tak bisa melihat keindahan yang lebih indah dari yang diberikan oleh Rinjani. Baginya tak ada kedustaan. Indah, bukan? Pada alam yang menyuguhkan dirinya dengan rasa jujur dan tulus dari Tuhan. Aku tak bisa menyangkal bahwa aku benar-benar melihat kuasa Tuhan dari atas sini. Dan dari puncak inilah aku berjanji dalam hatiku untuk segera mempersuntingmu sesaat setelah kepulanganku. Akan ku bawakan kau seikat Adeluis sebagai tanda agar kau bisa sekuat bunga yang bisa bertahan sangat lama dan tak layu walau telah tercabut dari tanah yang selama ini menyokong hidupnya.
Kutulis surat ini sekarang karena jika kau menerima ajakanku untuk memintamu sebagai istriku, aku tahu kau tidak akan rela jika melihatku mendaki lagi sebelum beberapa hari menjelang pernikahan kita.
Dewi, aku berjanji, pendakianku selanjutnya akan menjadi pendakian terakhir untukku sebelum kau memilki anak nanti dariku. Aku akan memegang janjiku. Percayalah sayang. Sebelum aku memulai kehidupanku yang baru denganmu. Biarkanlah aku menikmati keindahan Tuhan yang tiada tara ini untuk kali ini saja.
Begitu besar rasa cintaku terhadapnya. Mati pun aku ingin di sana.
Aku mencintaimu
Diremasnya surat itu dengan air mata yang terus mengalir seperti sungai yang meluap.
Rasa takut itu menjalar seperti racun yang baru saja ditegukknya sesaat setelah membaca surat itu. Membuatnya seperti tercekik dan tak bisa bernafas.
***
Wajahnya pucat, tidak makan, mandi, berbicara, bahkan menangis pun tidak. Dia tak menghiraukan suara-suara yang ramai di luar sana. Menunggu kedatangan seseorang yang telah pergi meninggalkan. Dewi hanya bisa terdiam, kaku, dan membeku.
Seluruh warga berkumpul di balai desa untuk melihat jenazah seseorang yang dikabarkan telah jatuh di jalur selatan Rinjani yang ilegal dan sangat ekstrim itu. Seorang lelaki dengan seikat bunga Adeluis yang dikalungkan di lehernya ditemukan dengan kepala pecah dan posisi tubuh terlentang. Ia terpeleset dan jatuh ke dasar jurang karena di lereng Rinjani jalur selatan tersebut tiba-tiba terjadi hujan dan mengaburkan pandangan lelaki itu. Karena tak mampu berpegangan dengan kuat pada bebatuan kecil yang sempat menahan dirinya, akhirnya lelaki itu melepaskan genggamannya yang membuat tubuhnya terpelanting dan memecahkan kepalanya seperti sebuah balon berisi air yang dipecahkan tiba-tiba.
Medan yang berbahaya, bebatuan yang licin, dan jurang-jurang yang curam membuat tim SAR cukup lama dalam melakukan evakuasi. Membutuhkan waktu enam jam hingga akhirnya jasad lelaki pengalung bunga Adeluis itu bisa diangkat dari dasar jurang yang menikamnya.
***
Kau tahu hal apa yang kutakutkan selama ini? Untuk Rinjani yang dipenuhi dengan keindahannya akan sebuah karya Tuhan yang Maha Indah. Ada sebuah rahasia yang selama ini harus kau tahu dan percaya.
Rinjani adalah tiada kedustaan baginya. Ia adalah cerminan bagi dirimu sendiri. Setiap lidah yang berikrar dengan tak disengaja maupun dengan gaya menantang akan langsung terjawab bagimu pada detik itu juga.
Jika kau melihat ada awan kelam menyelimuti langit di Rinjani, janganlah mengucapkan “sepertinya akan terjadi hujan besar!” jika itu sebuah lelucon bagimu, hujan besar seperti badai akan segera menyergapmu dengan keperkasaannya.
Kau tahu hal apa yang kutakutkan selama ini? Untuk dia yang sangat kucintai. Lelaki yang selalu dengan setia dengan Adeluisnya. Begitu ikhlas kubaca janji yang terucap olehnya di puncak Rinjani melalui surat pertama dan terakhir yang diberikannya untukku.
Kau tahu apa yang kusadari saat ini? Pertama, bahwa takdir Tuhan dengan apa yang kau ucapkan memilki perbedaan yang tipis. Kedua, aku pun ikut mencintainya, Rinjani, sama seperti rasa cinta kekasihku itu. Kau tahu apa yang sangat dicintainya selain keindahan akan kuasa Tuhan? Yaitu kejujuran yang akan selalu terlihat.
***
Keranjang kecil strawberryku sudah penuh. Perempuan tua cantik yang ikut memetiknya untukku segera merapikan kain sarungnya, segera setelah kami kegiatan yang sangat menyenagkan bagiku. “papuq Dewi, boleh aku tanya sesuatu?” aku menghentikan langkahnya yang beriringan denganku. “boleh,” jawabnya singkat. “kenapa kau tak membencinya?” tanyaku penasaran. Ternyata, papuq Dewi hanya menjawabku denga senyuman bulan sabitnya.

Mataram, 07 November 2014

*papuq berarti nenek dalam bahasa sasak


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *