KAJIAN INTERTEKSTUAL DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN NOVEL TRAVELER’S TALE KARYA ADHITYA MULYA (DKK)

Kepenulisan, Non Fiksi

 5cm

BAB I

PENDAHULUAN

Sebuah karya sastra tidak lahir dalam situasi kosong kebudayaannya, termasuk dalamnya situasi sastra (teeuw, 1980 dalam Rachmat; 2007). Karya sastra mempunyai hubungan sejarah antara karya sezaman, yang mendahuluinya atau yang kemudian. Hubungan sejarah ini dapat berupa persamaan atau pertentangan. Dengan hal demikian, sebaiknya membicarakan karya sastra itu dalam hubungannya dengan karya sezaman, sebelum, atau sesudahnya.

Di dalam makalah ini, penulis akan mengkaji Novel 5 Cm karya Donny Dhirgantoro dan Novel Traveler’s Tale karya Adhitya Mulya (Dkk) dengan pendekatan Intertekstualitas. Penelitian intertekstual merupakan bagian dari kritik sastra yang mengkaji hubungan antara karya sastra yang satu dengan yang lain, serta hubungan antara sastra dengan bidang lain yang menjadi hipogramnya. Hubungan yang dimaksudkan disini bisa berupa hubungan unsur ide, gagasan, penokohan, latar, gaya bahasa dan unsur initrinsik maupun unur ekstrinsik lain yang terdapat dalam karya sastra terhadap hipogramnya. Dalam hal ini, penulis memilih kedua novel tersebut karena adanya beberapa kesamaan ide dalam penulisan novel tersebut. Namun, ada pula perbedaan yang menunjukkan keaslian ide pengarang.

Dalam tulisan ini, akan dibahas bagaimana bentuk hubungan antara novel Traveler’s Tale dan novel 5 cm, serta perbedaan ide diantara kedua novel tersebut yang menunjukkan keaslian ide pengarang novel Traveler’s Tale yang memiliki hubungan dengan novel 5 cm yang menjadi hipogramnya.

BAB II

LANDASAN TEORI

  • Uraian Teori Intertekstualitas

Secara luas interteks diartikan sebagai jaringan hubungan antara satu teks dengan teks yang lain. Penelitian dilakukan dengan cara melakukan hubungan-hubungan bermakna diantara dua teks atau lebih. Hubungan yang dimaksudkan tidak semata-mata sebagai persamaan, melainkan juga sebaliknya sebagai pertentangan, baik sebagai parodi maupun negasi.

Menurut Riffaterre (1978: 5)  pendekatan suatu karya sastra di satu pihak adalah dialektik antara teks dan pembaca, dan di pihak lain adalah dialektik antara tataran mimetik dan tataran semiotik. Lebih jauh Riffaterre menjelaskan bahwa pembaca sebagai pemberi makna harus mulai dengan menemukan arti (meaning) unsur-unsurnya, yaitu kata-kata  berdasar fungsi bahasa sebagai alat komunikasi yang mimetik (mimeticfunction), tetapi kemudian harus ditingkatkan ke tataran semiotik, yaitu kode karya sastra harus dibongkar secara struktural (decoding) atas dasar signifinance, yang hanya dapat dipahami   dengan kompetensi linguistik (linguisticcompetence), kompetensi kesastraan (literarycompetence), dan terutama dalam hubungannya dengan teks lain. Hal ini disebabkan oleh karena membaca karya sastra pada dasarnya adalah membina atau membangun acuan.

Adapun acauan itu didapat dari pengalaman membaca  teks-teks lain dalam sistem konvensi kesastraan. Dengan demikian suatu sajak (baca: karya sastra) baru bermakna penuh dalam hubungannya atau pertentangannya dengan karya sastra lain. Karya sastra lain yang menunjukkan hubungan antar teks yang menjadi acuannya disebut hipogram (hypogram). Dalam hubungan antar teks tersebut terdapat dua hal yang dikemukakan oleh Riffaterre (1978: 5), yaitu:7 (1) ekspansi (expansion), dan (2) konversi (conversion). Ekspansi adalah perluasan atau pengembangan dari hipogram, sedangkan konversi adalah pemutar balikan hipogram atau matriksnya. Di samping itu, Partini Sardjono (l986: 63) menambah dua hal yang telah dikemukakan oleh Riffaterre tersebut, yaitu: (3) modifikasi (modification) atau pengubahan, dan (4) ekserp (exerpt). Lebih lanjut Partini Sardjono menjelaskan bahwa modifikasi biasanya merupakan manipulasi pada tataran linguistik, yaitu manipulasi kata atau urutan kata dalam kalimat; pada tataran kesastraan ialah manipulasi tokoh (protagonis) atau plot cerita. Ekserp artinya intisari suatu unsur atau episode dari hipogram.

Menurut teori interteks, pembacaan yang berhasil justru apabila didasarkan atas pemahaman terhadap karya-karya terdahulu. Oleh karena itulah, secara praktis aktivitas interteks terjadi melalui dua cara yaitu : (a) membaca dua teks atau lebih secara berdampingan pada saat yang sama, (b) hanya membaca sebuah teks tetapi dilatarbelakangi oleh teks-teks yang lain yang sudah pernah dibaca sebelumnya.

  • Kajian Interteks

Kajian intertekstualitas dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks (sastra), yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu, misalnya untuk menemukan adanya hubungan unsur-unsur intrinsic seperti ide, gagasan, peristiwa, plot, penokohan, (gaya) bahasa, dan lainnya, di antara teks yang dikaji. Secara khusus dapat dikatakan bahwa kajian interteks berusaha menemukan aspek-aspek tertentu yang telah ada pada karya-karya sebelumnya pada karya yang  muncul lebih kemudian.

Tujuan kajian interteks itu sendiri adalah untuk memberikan  makna  secara  lebih  penuh  terhadap karya tersebut. Penulisan dan atau pemunculan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya sehingga pemberian makna itu akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan itu (Teeuw, 1983: 62-5).

Kajian intertekstual berangkat dari asumsi bahwa kapan pun karya tulis, ia tidak  mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya. Unsur budaya, termasuk semua konvensi dan  tradisi di masyarakat, dalam wujudnya yang khusus berupa teks-teks kesastraan yang ditulis sebelumya. Dalam hal ini kita dapat mengambil contoh, misalnya, sebelum para pengarang Balai Pustaka menulis novel, di masyarakat telah ada hikayat dan berbagai cerita lisan lainnya seperti pelipur lara.

Penulisan suatu karya sastra tak mungkin dilepaskan dari unsur kesejarahannya, dan pemahaman terhadapnya pun haruslah mempertimbangkan unsur kesejarahan  itu. Makna keseluruhan  sebuah karya, biasanya,  secara penuh baru  dapat  digali  dan  diungkap  secara  tuntas  dalam  kaitannya  dengan  unsur kesejarahan tersebut.

Karya sastra yang ditulis lebih kemudian, biasanya mendasarkan diri pada karya-karya lain yang telah ada sebelumnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik dengan cara meneruskan maupun menyimpang (menolak, memutarbalikkan esensi) konvensi.  Riffaterre mengatakan  bahwa  karya  sastra selalu merupakan tantangan, tantangan yang terkandung dalam perkembangan sastra sebelumnya, yang secara  konkret mungkin berupa sebuah atau sejumlah karya. Hal  itu, sekali lagi, menunjukkan keterikatan suatu karya dari karya-karya lain yang melatarbelakanginya..

Adanya karya-karya yang ditransformasikan dalam penulisan karya sesudahnya  ini menjadi  perhatian utama kajian intertekstual misalnya lewat pengontrasan  antara  sebuah karya dengan karya lain yang diduga menjadi hipogramnya.  Adanyanya unsur hipogram dalam suatu karya, hal itu mungkin disadari mungkin  tidak disadari oleh pengarang. Kesadaran pengarang terhadap karya yang menjadi  hipogramnya, mungkin berwujud dalam sikapnya yang meneruskan atau  sebaliknya menolak, konvensi yang berlaku sebelumnya.

Dalam kaitannya dengan hipogram itu, Julia Kristeva mengemukakan bahwa  tiap teks merupakan sebuah mosaik kutipan-kutipan, tiap teks merupakan penyerapan  dan  transformasi  dari  teks-teks  lain. hal itu berarti, bahwa tiap teks yang  lebih  kemudian mengambil unsur-unsurtertentu yang dipandang baik dari teks  sebelumnya, yang kemudian diolah dalam karya sendiri berdasarkan tanggapan pengarang yang bersangkutan. Dengan demikian, walau sebuah karya berupa dan mengandung unsur ambilan dari berbagai teks lain, karena telah diolah dengan  pandangan dan daya kreativitasnya sendiri,  dengan  konsep  estetika  dan pikiran-pikirannya, karya yang dihasilkan tetap mengandung dan mencerminkan sifat kepribadian penulisnya.

Sebuah teks kesastraan yang dihasilkan dengan kerja yang demikian dapat dipandang sebagai karya  yang baru. Pengarang dengan kekuatan imajinasi, wawasan estetika, dan horison harapannya sendiri, telah mengolah dan mentransformasikan karya-karya lain ke dalam karya sendiri. Namun, unsur-unsur tertentu dari karya-karya lain tersebut, yang mungkin berupa konvensi, bentuk formal tertentu,  gagasan, tentulah masih dapat dikenali (Pradopo,  1987:  228).

Prinsip intertekstualitas yang utama adalah prinsip memahami dan memberikan  makna karya yang bersangkutan. Karya itu diprediksikan sebagai reaksi, penyerapan, atau transformasi dari karya yang lain. masalah intertekstual lebih  dari sekedar pengaruh, ambilan, atau jiplakan, melainkan bagaimana  kita memperoleh makna  sebuah  karya  secara  penuh  dalam  kontrasnya  dengan  karya yang lain yang menjadi hipogramnya, baik berupa teks fiksi maupun puisi.

Adanya  hubungan intertekstualitas dapat dikaitkan dengan teori  resepsi.  Pada dasarnya pembacalah yang menentukan ada atau  tidak  adanya kaitan antara  teks yang satu dengan teks yang lain itu, unsur-unsur hipogram itu, berdasarkan persepsi, pemahaman, pengetahuan, dan pengalamannya membaca teks-teks lain sebelumnya. Penunjukan terhadap adanya unsur-unsur hipogram pada suatu karya dari  karya-karya  lain  pada  hakikatnya  merupakan  penerimaan  atau  reaksi pembaca.

  • Pendekatan Intertekstual

Interteks berdasarkan pada asumsi kritis. Asumsi tersebut yakni:

  1. Konsep interteks menuntut peneliti untuk memahami teks tak hanya sebagai isi, melainkan aspek perbedaan sejarah teks,
  2. Teks tak hanya struktur yang ada, tetapi satu sama lain juga saling memburu, sehingga terjadi perulangan atau transformasi teks,
  3. Ketidakhadiran struktur teks dalam rentang teks yang lain namun hadir juga dalam teks tertentu yang ditentukan oleh proses waktu,
  4. Bentuk kehadiran struktur teks merupakan rentangan dari yang eksplisit sampai implicit,
  5. Hubungan teks satu dengan teks yang lain boleh dalam rentang waktu lama, hubungan tersebut dapat secara abstrak dan juga sering terdapat penghilangan-penghilangan bagian tertentu,
  6. Pengaruh mediasi dalam interteks sering berpengaruh terhadap penghilangan gaya maupun norma-norma sastra,
  7. Dalam melakukan identifikasi interteks diperlukan proses interpretasi, dan
  8. Analisis interteks berbeda dengan melakukan kritik, melainkan lebih terfokus pada pengaruh.

Untuk mengungkap adanya hubungan interteks dalam penelitian ini diasumsikan pada resepsi aktif pengarang dan resepsi pembaca sebagai pengkaji (penulis). Pengkaji pada dasarnya adalah juga pembaca yang dengan bekal ilmu pengetahuan dan pengalamannya berada dalam rangkaian pembacaan yang terakhir. Dengan demikian, latar belakang pengetahuan dan pengalaman pembaca akan memengaruhi makna yang diungkapkannya.

  • Hubungan Intertekstual

Dalam hal hubungan sejarah antarteks itu, perlu diperhatikan prinsip intertektualitas. Hal ini ditunjukkan oleh Rifaterre dalam bukunya Semiotics of Poetry (1978) bahwa sajak baru bermakna penuh dalam hubungannya dengan sajak lain. Hubungan ini dapat berupa persamaan atau pertentangan.

Dalam kesusasteraan Indonesia, hubungan intertekstual antara satu karya dengan karya yang lain baik antara karya sezaman maupun zaman sebelumnya banyak terjadi. Misalnya kita lihat karya-karya pujangga baru, antara karya-karya pujangga baru dengan karya-karya angkatan 45, ataupun dengan karya lain.

  • Analisis Intertekstual

Berdasarkan realitasnya maka sifat hipogram dapat digolongkan menjadi tiga macam, yakni: (1) Negasi, artinya karya satra yang tercipta kemudian melawan hipogram; (2) Afirmasi, yakni sekedar mengukuhkan, hampir sama dengan hipogram; dan (3) Inovasi, artinya karya satra yang kemudian memperbarui apa yang ada dalam hipogram (Ali Imron: 2005:80).

Seperti yang disampaikan oleh Abram (Pradopo) ada empat orientasi sastra berdasarkan sejarah dan dialetikanya. Empat orientasi itu adalah orientasi mimetik yang menganggap karya sastra sebagai tiruan alam ide dan kehidupan; kritik pragmatik yang menganggap karya sastra sebagi sarana atau alat untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca; kritik ekspresif mengganggap karya sastra sebagai luapan perasaan dan pikiran pengarang; kritik objektif berorientasi pada karya sastra itu sendiri.

Kalau kita lihat dari kritik kedua bahwa karya sastra sebagai sarana atau alat untuk menyampaika tujuan pertentu kepada pembaca. Menurut kritik pragmatik semakin mendidik semakin karya sastra itu bernilai tinggi.

BAB IV

PEMBAHASAN

    • Sinopsis Novel

NOVEL 5 CM

Penulis            : Donny Dhirgantoro

Penerbit           : PT.Grasindo

Tahun terbit     : 2005

Jumlah Halaman : 381 halaman

Novel 5cm ini menceritakan tentang persahabatan lima orang anak manusia yang bernama Arial, Riani, Zafran, Ian, dan Genta. Dimana mereka memiliki obsesi dan impian masing-masing. Arial adalah sosok yang paling gagah diantara mereka, berbadan tinggi besar, ia selalu tampak rapi dan sporty. Riani adalah sosok wanita berkacamata, cantik, dan cerdas. Ia mempunyai cita-cita bekerja di salah satu stasiun TV. Zafran seorang picisan yang berbadan kurus, anak band, orang yang apa adanya dan kocak. Ian memiliki postur tubuh yang tidak ideal, penggila bola, dan penggemar Happy Salma. Yang terakhir adalah Genta. Genta selalu dianggap sebagai “the leader” oleh teman-temannya, berbadan agak besar dengan rambut agak lurus berjambul, berkacamata, aktivis kampus, dan teman yang easy going.

Lima sahabat ini telah menjalin persahabatan selama tujuh tahun. Suatu ketika mereka jenuh akan aktivitas yang selalu mereka lakukan bersama. Terbesit ide untuk tidak saling berkomunikasi dan bertemu satu sama lain selama tiga bulan. Ide tersebut pun disepakati. Selama tiga bulan berpisah itulah terjadi banyak hal yang membuat hati mereka lebih kaya dari sebelumnya. Rasa kangen dan rasa saying yang mereka miliki satu sama lain semakin bertambah. Pertemuan setelah tiga bulan yang penuh dengan rasa kangen akhirnya terjadi dan dirayakan dengan sebuah perjalanan. Dalam perjalanan tersebut mereka menemukan arti manusia sesungguhnya.

Perubahannya itu mulai dari pendidikan, karir, idealisme, dan tentunya love life. Semuanya terkuak dalam sebuah perjalanan ‘reuni’ mereka mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru. Dan di sanalah cerita bergulir, bukan hanya seonggok daging yang dapat berbicara, berjalan, dan punya nama. Mereka pun pada akhirnya dapat menggapai cita-cita yang mereka impikan sejak dulu.

Setengah dari buku 5 cm. bercerita tentang keseharian lima sahabat ini, dari sifat-sifat mereka yang berbeda satu dengan yang lain sampai dengan perilaku dan aktifitas mereka yang penuh canda tawa, diselingi cerita tentang permasalahan antar-sahabat. Setengahnya lagi, buku ini menuliskan petualangan kelima sahabat dalam mendaki gunung Semeru.

”…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kamu. Dan…sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa…percaya pada 5 centimeter di depan kening kamu”

NOVEL TRAVELERS’ TALE’

Belok Kanan: Barcelona!

Penulis             : Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat dan Ninit Yunita

Penerbit           : GagasMedia

Tahun terbit     : 2007

Jmla Halaman  : x + 230 halaman

Novel ini menceritakan tentang persahabatan 4 otang anak manusia yang bernama Farah, Jusuf, Retno dan Francis. Farah adalah gadis ketururnan Arab-Jawa yang cantik dan menyenangkan. Jusuf adalah orang yang paling kurang dalam hal pelajaran diantara keempat sahabat ini, yang selalu merasa diri sebagai orang yang sangat tanpan, namun kehadirannya penuh dengan guyonan-guyonan, sehingga sangat dirindukan oleh teman-temannya. Retno adalah seorang gadis yang pintar, yang menurut Francis memiliki paras yang sangat ayu yang dapat menyejukkan hati. Francis adalah laki-laki ampan yang dapat memikat hati kedua sahabatnya ini. Mereka bersahabat sejak kecil, sehingga segala sesuatu yang terjadi pada mereka bukanlah rahasia lagi.

Di masa SMA mereka mulai saling jatuh cinta tanpa pernah disampaikan. Yang diketahui hanyalah Retno sudah dua kali menolak Francis, padahal sebenarnya Farah memendam cinta terhadap laki-laki itu. Yang menjadi masalah adalah kenyataan bahwa Jusuf juga sebenarnya menyayangi Farah.

Mereka berpisah setelah lulus SMA dan menjalani hidup masing-masing. Ketika bekerja, mereka bekerja di empat Negara yang berbeda. Farah bekerja di Budapest, Hungaria. Jusuf bekerja sebagai asisten regional marketing mmanager di sebuah perusahaan jasa kirim surat di cabang Cape Town, afrika selatan. Retno bekerja di Kopenhagen. Dan Francis menjadi seorang vianis dan sedang menjalani tour konsernya.

Setelah sekian lama berpisah, mereka dikejutkan oleh kabar bahwa Francis akan menikah di Barcelona dengan seorang gadis Spanyol. Dari penjuru yang berbeda dan dengan butget yang terbatas, keempatnya pergi menuju Barcelona. Mereka membawa misinya masing-masing: mencari jawaan untuk pertanyaan yang tak pernah tersampaikan selama ini.

Sebagian novel ini menceritakan pengalaman tentang traveling, dicantumkan pula tips-tips traveling ke Negara-negara yang berada di benua yang berbeda. Novel ini banyak memberi pelajaran dengan mengungkapkan beberapa kejadian mengesankan saat penulis melakukan traveling, ditambah dengan postcard-postcard indah yang didapatkan di Negara yang berbeda. Menghibur dan memotivasi pembaca dengan kisah travel yang menyenangkan.

  • Kajian intertekstual novel Traveler’s Tale dan novel 5 cm
    • Latar Belakang Pengarang dan Novel

Dari segi latar belakang penulisan novel, terdapat persamaan antara novel Traveler’s Tale dan novel 5 cm, namun terdapat pula perbedaan diantara kedua novel tersebut.

Novel 5 cm terbit pada tahun 2005 yang merupakan novel pedana dari Donny Dhirgantoro. 5 cm adalah pengalaman pribadinya bersama sahabat-sahabatnya mendaki puncak Mahameru, yang kemudian ia tuangkan kedalam tulisan. Novel ini banyak menunjukkan keindahan-keindahan alam Indonesia lewat Mahameru yang dapat meningkatkan kecintaan anak muda terhadap Tanah Air.

Novel ini juga banyak menunjukkan keadaan social masyarakat kelas menengah kebawah yang dapat menggugah rasa peduli social pembaca, sekaligus mengiris hati pembaca mengingat pemerintahan dan perekonomian Indonesia yang sangat lemah sehingga menyebabkan banyak penderitaan bagi rakyat. Hal ini dapat dilihat dari kutipan novel 5 cm sebagai berikut:

“… setelah angkot berjalan kembali, supuir angkot itu bercerita tentang susahnya hidup sebagai sopir angkot, yang selalu dihantui oleh setoran yang selalu kurang, mahalnya biaya sekolah anaknya yang menurutnya sangat mencekik, partai pilihannya yang ternyata isinya koruptor semua. Gerutu si sopir berlanjut pada rasa susahnya hidup di Negara yang menurutnya bregsek, karena setiap orang bertindak semaunya sendiri, suka makan uang rakyat, nggak peduli sama orang kecil, rakus kayak tikus, nggak pernah peduli sama orang miskin, nggak pernah mau membantu sesame, nggak pernah mau peduli sama orang lan…”

Apabila novel 5 cm menceritakan pengalaman pribadi Donny Dhirgantoro dengan sahabat-sahabatnya mendaki puncak Mahameru, novel Traveler’s Tale pun menceritakan tentang perjalanan 4 orang penulis ke Barcelona. Namun perjalanan yang diceritakan dalam novel ini dilakukan secara terpisah. Novel Traveler’s Tale terbit paada tahun 2007, yang merupakan karangan empat orang penulis Indonesia yaitu Aditya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat dan Ninit Yunita. Novel ini menceritakan pengalaman keempat penulis tersebut dalam perjalanannya menuju Barcelona. Novel ini menceritakan tentang keunikan-keunikan yang mereka temui di Negara-negara yang mereka lewati, serta pengalaman-pengalaman menarik yang mereka dapatkan di perjalanan menuju Barcelona.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, novel 5 cm menjadikan keindahan Indonesia sebagai objek utama, sedangkan novel Traveler’s Tale menjadikan keunikan-keunikan yang mereka temui di Negara-negara yang mereka lewati sebagai objek utamanya. Ada kesamaan dari kedua novel ini, cerita yang dimuat dalam kedua novel ini diawali dengan profil dan kisah masing-masing tokoh.

  • Cerita

Terdapat persamaan cerita dalam kedua novel ini, yaitu sama-sama menceritakan tentang persahabatan yang terjalin sejak kecil, dan tentang rasa cinta yang tumbuh diantara sesama sahabat.

Didalam novel 5 cm diceritakan tentang persahabatan lima orang anak manusia yang selalalu bersama hingga meraka dewasa, dan kemudian merasa jenuh dengan segala aktivitas yang mereka lakukan, hingga memutuskan untuk tidak bertemu dan tidak saling menghubungi sementara waktu. Itulah yang menyebabkan mereka berpisah untuk sementara, dan melakukan perjalanan untuk merayakan kebersamaan mereka kembali. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:

“…kita lagi bosen kali ya, kemana-mana berlima mulu…,” zapran menatap teman-temannya.

“…mungkin sebaiknya kita nggak usah ketemu dulu,” Genta mengalirkan kalimat pendek.

“…mungkin kita emang harus ngeliat dunia lain di luar tongkrongan kita dulu, jangan berlima melulu kemana-mana,” timpal Arial dengan keapaadaannya.

“…kita keluar sebentar aja, bermimpi lagi masing-masing tentang kita, nanti pas ketemu lagi pasti lain lag, lain ceritanya, lain orangnya…” kata Genta.

Berbeda halnya dengan novel traveler’s tale. Novel ini juga menceritakan tentang persahabatan empat orang anak manusia yang selalu bersama hingga SMA, namun harus dipisahkan oleh jarak karena mereka harus mengejar cita-cita masing-masing. Hingga akhirnya mereka harus menetap di empat Negara yang berbeda. Namun pada akhirnya mereka dipertemukan oleh sebuah undangan pernikahan yang dikirim oleh salah satu temannya. Novel ini juga menceritakan kisah cinta yang terpendam antar empat sahabat tersebut. Perjalanan yang mereka lakukan disebabkan oleh undangan pernikahan tersebut, yang memperlihatkan bahwa perjalanan tersebut mereka lakukan untuk mendaptkan cinta mereka masing-masing.

“…e-mail yang gue tunggu-tunggu biasanya dri tiga sobat gue. Tepatnya, dua sobat dan satu crush. Namanya Francis. Sobat gue dari SD. Tukar menukar joke-email, seperti itulah…” cerita Farah.

Francis is getting married.

“Gue serasa tertimpa setumpuk bata. Seketika senyum diwajah gue hilang. Gue benar-benar dapat kejutan…” Farah.

“…Tapi gue harus datang ke Barcelona. Makna dari masa depan gue ada di sana…” Farah.

  • Latar belakang kehidupan dan ekonomi

Latar belakang kehidupan yang diceritakan dalam novel 5 cm menggambarkan tentang kehidupan masyarakat Indonesia yang sebenarnya. Novel ini menggambarkan perbedaan kehidupan masyarakat desa dengan masyarakt kota yang menyebabkan perbedaan pola tingkah laku diantara masyarakat itu. Novel ini juga menggambarkan tentang perekonomian Indonesia kalangan menengah kebawah secara jelas dalam novel tersebut. Perbedaan wajah perekonomian Indonesia dari yang diharapkan dengan adanya reformasi, serta gambaran kehidupan rakyat akibat pemerintahan yang tidak dapat dipercaya. Kehidupan social ekonomi sangat jelas digambarkan dalam novel ini.

Berbeda dengan novel 5 cm, dalam novel traveler’s tale tidak secara spesifik menggambarkan tentang kehidupan social dan ekonomi masyarakat. Novel ini lebih banyak menceritakan tentang perjuangan tokoh dalam melakukan perjalan di Negara-negara asing dengan pengetahuan dan bekal seadanya, bagaimana mereka berusaha untuk menikmati perjalanan yang mereka lakukan dan mendapatkan momen-momen terbaik dari perjalanan tersebut. Sehingga, dalam novel ini banyak sekali menceritakan tempat-tempat yang sangat popular di Negara-negara lain dan keindahan apa saja yang mereka dapatkan di Negara itu. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan novel 5 cm.

  • Perubahan Pola Pikir

Dalam novel 5 cm, digambarkan bagaimana tokoh mengalami perubahan pola pikir saat melakukan perjalanan kepuncak Mahameru. Perjalanan yang mereka lakukan membuat mereka menyadari berbagai hal dalam hidup mereka. Membuat mereka menyadari betapa indahnya tanah air yang mereka pijak, tanah yang memberikan mereka kehidupan, serta segala kenikmatan lain yang diberikan oleh Tanah Air. Mereka menyadari bagaimana kehidupan yang mereka lalui selama ini, mau untuk berusaha lebih giat dan menikmati hidup dengan baik, serta tetap bangga menjadi bagian dari Negara dan Tanah Air tercinta.

Dalam novel traveler’s tale, tidak diceritakan dengan jelas perbedaan pola pikir yang dialami tokoh. Di dalam novel ini, lebih bayak menceritakan tentang pengalaman-pengalaman di Negara lain dan memberikan banyak tips traveler kepada pembaca, tujuannya agar para traveler lebih siaga dalam melakukan perjalanan ke Negara-negara yang belum dikunjungi sebelumnya. Dari perjalanan-perjalanan yang dilakukan, diharapkan pembaca dapat mengambil pelajaran untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan di Negara asing.

  • Perjuangan Kehidupan dan Mencari Cinta

Perjuangan hidup yang diceritan dalam novel 5 cm menggambarkan tentang perjuangan para tokoh dalam melakukan perjalanan dalam mendaki gunung Mahameru. Bagaimana mereka mencoba menghadapi rintangan untuk sampa di puncak Mahameru, dengan kejadian-kejadian aneh yang mereka alami. Perjuangan mereka melawan dinginnya malam di sekitar Mahameru, pendakian yang panjang, pendakian yang menyebabkan salah satu diantara mereka hamper meninggal. Bagaimana mereka berusaha untuk menghindari segala macam bahaya yang ada di depan mereka, hingga akhirnya mereka berhasil meggapai puncak Mahameru.

Kisah cinta yang terdapat didalam novel ini berakhir dengan tak terduga, bagaimana novel ini dari awal menceritakan tentang inta Genta terhadap Riani, dan Riani yang selalu mengagumi Genta, namun ternyata pada akhirnya pengakuan Riani yang mengejutkan, Riani dengan setia mencintai Zafran.

Dalam novel traveler’s tale, menceritakan tentang usaha tokoh dalam menempuh perjalanan panjang menuju Barcelona. Rintangan yang dihadapi di setiap Negara yang mereka lewati. Novel ini juga menggambarkan tentang bagaimana para tokoh kesulitan berkomunikasi dengan orang-orang yang notabenenya tidak menggunakan bahasa Inggris, sulitnya bertahan di Negara asing yang baru pertama dikunjungi tanpa persiapan yang matang, cara tokoh memecahkan masalah yang mereka temui disetiap Negara.

Akhir cerita cinta dalam novel ini bisa ditebak, dengan melihat bagaimana novel ini menceritakan tentang perasaan francis terhadap Retno. Dari awal dapat kita lihat bagaimana novel ini menceritakan kisah cinta kedua tokoh tersebut. Sangat berbeda dengan novel 5 cm. Namun, ada juga persamaan dalam akhir kisah cinta yang tedapat dalam kedua novel tersebut. Apabila novel 5 cm berakhir dengan bersatunya Zafran dan Riani karena kesetiaan Riani yang selalu mencintai Zafran, novel Traveler’s Tale berakhir dengan cerita cinta Jusuf yang akhirnya bersatu dengan Farah karena cinta yang dimiliki oleh Jusuf. Namun, gaya yang digunakan dalam mengungkapkan cinta oleh masing-masing tokoh dalam novel ini berbeda. Dapat dikatakan bahwa, novel 5 cm menggunakan adat Timur, sedangkan novel Traveler’s tale menggunakan adat Barat.

E. PENUTUP

            Kedua novel ini memiliki hubungan interteks ari segi ide cerita tentang persahabatan dan kisah cinta para tokoh dari kedua novel tersebut. Namun ada pula perbedaan dari kedua novel tersebut. Hal ini menerangkan adanya kemurnian ide dari pengarang yang membedakan novel tersebut dengan hipogramnya. Meskipun sebuah novel menjadikan sebuah karya sastra atau karya seni lain sebagai hipogramnya, karya tersebut tidak mungkin persis sama dengan hipogramnya.

DAFR PUSTAKA

Dhirgantoror, Donny. 2005. 5 cm. Jakarta : GRASINDO

Mulya, Adhitya (dkk). 2007. Traveler’s Tale. Jakarta: GagasMedia

Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *