kakak perempuan terbaik

Buku, Non Fiksi, Resensi

kakak perempuan terbaik

Judul                : Bidadari-bidadari Surga
Pengarang       : Tere-Liye
Penerbit           : Republika
Tahun terbit      : 2011 (cetakan VIII)
Tebal buku       : viii + 365 halaman
Ukuran buku    : 20,5 x 13,5 cm

 

Sinopsis novel

Novel bidadari-bidadari surga ini menceritakan sebuah keluarga di rumah panggung yang sederhana di Lembah Lahambay, keluarga lima bersaudara dan mamak Lainuri. Lima saudara tersebut ialah Laisa, Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta. Laisa adalah kakak perempuan yang paling besar diantara yang lainnya, ia adalah seorang yang ramah, santun, dan pekerja keras. Dibandingkan dengan adik-adiknya, Laisa memiliki kondisi fisik yang berbeda, ia pendek, gendut, dan hitam sedangkan adik-adiknya kebalikan dari dirinya, namun Laisa memiliki kecantikan hati yang luar biasa yang didambakan setiap lelaki.

Ia dipanggil kak Lais, ia sudah terbiasa bekerja keras setelah babak atau ayahnya meninggal karena dimakan harimau gunung Kendeng. Ketika kak Lais kelas 4 SD, ia meminta izin kepada mamak Lainuri untuk berhenti sekolah dan membantu mamak bertani, karena ia ingin adik-adiknya terus belajar dan bersekolah. Karena kerja keras dan ketekunan kak Lais dan mamak berhasil menanam dan memiliki ribuan hektar kebun strawberry yang sebelumnya tidak pernah ditanam oleh warga Lembah Lahambay. Kak Lais selalu bekerja keras dan meneriaki adik-adiknya untuk bersemangat belajar dan sekolah, berbagai motivasi ia berikan kepada adik-adiknya. Ia menjanjikan kehidupan yang akan jauh lebih baik dan indah di luar sana jika terus belajar dan bekerja keras hingga menjadi pintar. Laisa adalah sosok kakak yang sangat disayangi dan dipatuhi oleh adik-adiknya. Laisa selalu mengutamakan adik-adiknya, ia selalu datang ketika adik-adiknya membutuhkannya, selalu berjuang dan tak pernah kenal lelah, bahkan rela mempertaruhkan nyawa demi keselamatan adik-adik yang ia sayang. Karena itulah adik-adiknya menyayangi, mematuhi dan meneladaninya, tidak memandang perbedaan fisik yang sangat menonjol diantara mereka. Kak Laisa tidak akan pernah membiarkan adiknya merasa malu. Jika harus ada yang kecewa dan malu itu adalah ia, bukan adik-adiknya. Bagi Laisa, sejak babak pergi, hidupnya amat sederhana. Adik-adiknya berhak atas masa depan yang lebih baik dibandingkan dirinya. Berkat kerja keras kak Lais, Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta sukses meraih kehidupan yang luar biasa seperti yang dijanjikan kak Lais. Kak Lais tidak pernah datang terlambat dan selalu menunaikan janjinya.
Kelebihan novel

Meskipun novel ini sederhana, tapi novel ini berhasil membuat mata saya bekaca-kaca ketika membacanya, novel ini b enar-benar menyentuh. Dari novel ini saya belajar menjadi kakak yang baik buat adik-adik saya, novel ini juga membuat saya iri, karna saya tidak memiliki kakak.

Novel ini dapat menggambarkan kesuksesan yang diraih dengan kerja keras, pengorbanan, keikhlasan dan kesabaran.

Bahasa kiasan yang digunakan dalam novel ini juga indah membuat saya sebagai pembaca takjub membacanya.

Kekurangan novel

Menurut saya novel ini hampir tidak memiliki kekurangan, namun setiap karya manusia pasti memiliki kekurangan, kekurangan novel ini terkadang penulis terlalu berlebihan dalam menjelaskan situasi kejadian-kejadian dalam novel ini.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *