Karakter Tokoh Aku Dalam Novel “Pudarnya Pesona Cleopatra” Dialog Dalam Pergulatan Batin

Buku, Resensi

    Karakter Tokoh Aku Dalam Novel “Pudarnya Pesona Cleopatra” Dialog Dalam Pergulatan Batin

     Pada tokoh “Aku” dalam penulisan cerita yang digambarkan dalam novel tersebut begitu menarik, karena pada tokoh “Aku” adalah tokoh utama pada novel ini. Disini sudah jelas digambarkan bahwa tokoh tersebut memiliki karakter yang sangat mengagunggkan seorang gadis Mesir bagaikan titisan ratu cleopatra yang terkenal dengan kecantikannya. Hal ini dapat terlihat dari tuturan tokoh pada novel tersebut yaitu “Aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah”. Bahkan ketika tokoh aku dalam cerita novel tersebutakan dijodohkan dengan anak dari teman ibunya, ia merasa sangat ingin menolak namun melihat wajah ibunya yang teduh akhirnya, hati tokoh “aku” pada novel tersebut luluh dan menerima perjodohan yang telah diatur ibunya dengan sahabat karibnya tersebut ketika sama-sama menjadi santri di pondok pesantren.Sebenarnya tokoh aku tersebut sangat berbakti dengan ibunya, namun kecantikan gadis Mesirlah yang membuat ia menjadi merasa enggan untuk menikah dengan gadis yang sama-sama tinggal dalam satu daerah. Ketika ia menikah pun tokoh aku tersebut sebenarnya merasa tidak bahagia, terlihat dari ugkapan hatinya ketika ia telah duduk di pelainan yaitu “ Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta”. Perkataan yang membuat seseorang yang membaca kalimat tersebut merasakan betapa sangat menderitanya tokoh aku pada cerita novel ini.

     Pergulatan batin yang terus dirasakan tokoh aku tersebut menjadikan ciri khas pada novel yang berjudul “Pudarnya Pesona Cleopatra” ini. Penulis sangat ingin membawa pembaca terhanyut dengan kata-kata setiap kalimat yang ditulis, merasa bermain peran dalam cerita tersebut. Aku pada tokoh ini telah menikah dengan gadis Jawa tempat dimana tokoh aku tinggal. Rumah tangga yang dibangun empat bulan pun, belum juga membawa benih cinta pada tokoh aku tersebut, kalimat yang menandakan pergulat batin yang sebenarnya ia tidak ingin melukai perasaan istrinya dan mencoba untuk menghadirkan rasa kasih dan sayang yang ditujukan hanya untuk istrinya seorang, hal ini dapat tergambar dari pemunculan perkataan, yaitu “ Rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Tuhan kasihanilah hamba!Datangkanlah cinta itu segera!”. Betapa sungguh ia sebenarnya ingin juga merasakan kebahagiaan bersama dengan keluarga kecilnya itu, namun ia masih tetap tidak dapat melupakan keinginnannya yang teguh akan menikahi gadis Mesir yang cantik. Perasaan cinta itu memang sangat sulit dibenihkan pada rumah tangga aku pada cerita novel tersebut. Suatu ketika istrinya yang bernama Raihana pergi meninggalkan tokoh aku ini ke rumah ibu mertuanya dengan alsan usia kandungan yang semakin mendekati bulan-bulan akan dilahirkannya sang buah hati. Tokoh aku sangat bahagia ketika mendengar ucapan dari istrinya tersebut, ia pun langsung mengantarkannya ke rumah metuanya dan meninggalkan istrinya untuk tinggal disana sampai istrinya melahirkan. Rasa bahagia yang dirasakan tokoh aku ini sangat membuatnya ingin terbang setinggi mungkin. Awal dari kebahagiaan yang ia rasakan sungguhlah membuatnya merasa nyaman dan tenang, karena ia tidak melihat istrinya lagi untuk beberapa bulan, yang alasannya sampai saat ini pun ia belum saja merasakan cinta yang sebenarnya. Sampai pada akhirnya ketika ia pulang dalam keadaan basah kuyup karena kehujannan,ia merasa ada bayangan istrinya yang sangat mencintainya untuk merawat ia dengan penuh kasih sayang terasa hilang begitu saja.

     Saat itu tokoh aku mendapatkan pelantikan dosen dan menginap selama tujuh hari. Ketika itu ia bertemu dengan seorang laki-laki yang mempunyai pengalaman menikahi seorang gadis Mesir yang sangat cantik, yang akhirnya berujung dengan kata perceraian. Karena gadis Mesir ini tidak terbiasa dengan kehidupan yang membuatnya menjadi hemat, gadis Mesir sangat memilih kekayaan dari pada cinta yang tulus yang telah diberikan oleh seorang laki-laki. Karena itu ketika teman dari tokoh aku tersebut mengalami kebangkrutan, istrinya lebih memilih selingkuh dengan teman satu daerah tempat tinggalnya yaitu orang Mesir. Ketika ia mendengar cerita itu tokoh aku pada novel tersebut merasakan betapa pesona istrinya yang teduh tiba-tiba merasuk ke hati dan menumbuhkan benih cinta yang ia juga berusaha ingin merasakannya, perkataan ini tergambar dari perkataan “Tiba-tiba, ada kerinduan yang menyelinap di hati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apa pun. Bahkan, yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah, aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala di dindingnya”.

     Akhirnya tanpa berfikir panjang ia pun langsung pergi ke rumah mertuanya dalam keadaan berurai air mata bahagia yang ingin menjemput bidadari hatinya yaitu seorang istri yang sangat shaleha yang kini hadir dalam hidupnya. Namun, ketika sampai disana bukan istrinyalah yang ditemukan untuk menyambut kedatangannya, namun isak tangis ibu mertuanya yang menyambutnya. Ketika itu tokoh akubertanya dan terus bertanya kepada mertuanya, bahwa apa yang terjadi. Kemudian mertuanya menjawab istri dan anak dalam kandungan Raihana telah dipanggil oleh Allah SWT, berita yang sangat menguras hatinya serta penyesalan dalam hatinya ketikaia mendengar penjelasan dari mertuanya.Kini hanya penyesalanlah yang ia rasakan saat ini.

     Kemenarikan dari tokoh “Aku” tersebut terlihat dari kalimat-kalimat yang ditulis oleh penulis tersebut, bahwa kecantikan tidak menjamin kebahagiaan namun cinta tulus dan ikhlaslah yang lebih membuat seseorang merasakan kebahagiaan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *