KISAH PERSAHABATAN SEJATI MENEMUKAN JATI DIRINYA YANG SESUNGGUHNYA

Buku, Non Fiksi, Resensi

Resensi Novel Tahta Mahameru 
Judul Novel: Tahta Mahameru
Pengarang : Azzura Dayana
Penerbit     : Republika
Tahun       : 2012
Tebal         : 380 Halaman

Novel ini karya Azzura Dayana yang berjudul “Tahta Mahameru” merupakan karya yang disusun dengan hati-hati. Novel “Tahta Mahameru” mengisahkan tentang perjalanan tiga tokoh sentral, seperti Faras, Maretta serta Raja Ikhsan yang dibungkus dengan cita rasa pertemanan, agama, cinta kasih sayang, kebencian serta konflik dan transisi perubahan jiwa seseorang.

Secara tidak langsung, novel tersebut juga mengajarkan kepada pembaca tentang keindahan pulau yang ada di Indonesia. Contohnya seperti Gunung Semeru, pantai yang ada di Tanjung Bira dan ditambah lagi dengan filosofi tentang adat di Sulawesi dan Kapal Pinisi yang sebenarnya banyak orang yang tidak mengetahui hal tersebut.

SINOPSIS:

“Mahameru… Puncak Abadi Para Dewa.” Ikhsan memandang Mahameru lagi. “Apakah itu artinya… Allah tidak punya tempat di sana?”

Faras, si gadis kutu buku asal desa Ranu Pane hanya bisa mengangkat tinggi kedua alisnya.

“Seperti aku, kamu juga tidak tahu banyak tentang tahta Mahameru?” tanyanya lagi.

Tahta Mahameru?

Itulah salah satu dari tiga pertanyaan tak terjawab dari Ikhsan kepada Faras. Masing-masing diajukan dalam tiga pertemuan singkat mereka sebelum mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa itu. Pendaki gunung berwatak keras dari keluarga yang penuh kebencian ini menjadikan Mahameru sebagai peredam sesaat jiwanya yang penuh dendam. Namun kegetiran semakin memuncak sampai akhirnya ia benar-benar membalas dendam dan hidup terasing. Faras, sang teman baik yang merasa bersalah dalam terseretnya Ikhsan ke ujung tanduk menelusur jejak sang pendaki hingga melintasi pulau. Ia ditakdirkan bertemu dan seperjalanan panjang dengan Mareta, seseorang yang ternyata terkait dalam dendam keluarga Ikhsan.

Apa sebenarnya yang terjadi pada Ikhsan setelah menghilang tiga tahun? Lalu masih pentingkah Faras mengungkap semua jawab atas pertanyaan esensial Ikhsan yang dulu, melalui keajaiban demi keajaiban dalam pendakian Mahameru yang mungkin tak terlihat selama ini?

Tahta Mahameru, sebuah novel yang tak hanya menyajikan rangkaian peristiwa luar biasa tentang kehidupan anak manusia, tapi juga menyuguhkan petualangan tokoh-tokohnya dari satu daerah ke daerah lain, menghadirkan sisi religi yang menggugah, dan ikut mengupas latar adat suku Bugis yang kental dan terkenal akan kapal pinisi mereka. Serta tentu saja, pendakian Gunung Mahameru yang berbeda dari biasanya.

Kelebihan:

Salah satu kelebihan dari buku ini ialah karakter tokoh yang bisa tergambarkan dengan baik. Awalnya Saya gak yakin si penulis bisa menggambarkan karakter keras salah satu tokoh utama. Tapi pelan-pelan say terhanyut dan bisa ngrasain betapa keras wataknya.

Yang paling saya suka dari buku ini adalah penempatan sudut pandang penulis yang luar biasa. Menurut saya cara Azzura Dayana kreatif banget. Ada tiga tokoh utama. Di suatu bab, yang menjadi tokoh aku adalah salah satu dari ketiga tokoh utama. Di bab lain ganti lagi. Jadi menurut saya selftalk dari semua tokoh bisa ketangkep.

Kelamahan:

Kalo kelemahannya, menurut saya bagian klimaks berdarahnya terlalu lebay. Atau mungkin sebenernya gak lebay, tapi cara membawa perasaan pembaca ke sana kurang pelan-pelan. Pokoknya terlalu sinetron, padahal saya gk terlalu sinetron.

Satu lagi yang kurang sreg tu gara-gara cerita tentang pendakiannya sendiri cuman sedikit dan di akhir doang. Padahal ekspektasi saya saat mau baca kan pengen banyak cerita pendakiannya. Tapi untungnya tergantikan cerita petualangan di Sulawesi. Dan menurut saya satu-satunya pesan yang bisa diambil ya cuman pas di Sulawesi itu. Sisanya cuman sebatas memberikan hiburan.
Awal pertemuannya, Fikri melihat kesedihan berlarut-larut yang dialami oleh orang tua Aros akibat ditinggal anaknya. Seperti melihat orang tuanya sendiri, Ikhsan berinisiatif untuk membantu Aros untuk menghilangkan rasa kesedihan yang dialami ayah dan ibu sahabatnya.
Hal pertama yang ia lakukan, mengajak berbicara  tentang deburan ombak pantai yang ganas serta sikap ulung pelaut Suku Bugis. Ternyata, cara yang dia lakukan berhasil, terlihat raut wajahnya yang mulai meninggalkan kesedihannya. Keesokan harinya, Ikhsan mengajak ayah Aros untuk melihat pelepasan Kapal Pinisi di tepi pantai. Awalnya, ayah Aros tidak bersemangat, tetapi setelah sampai di sana, Raja Ikhsan melihat antusias yang tinggi dari muka ayah Aros. Setelah hari itu, Aros mengucapkan terima kasih atas kegigihan Ikhsan untuk membantu orang tuanya.
Cuplikan di atas merupakan sepenggal perjalanan cerita dari “Tahta Mahameru”. Ekspektasi terhadap novel tersebut sangat bagus. Karena dilihat dari segi cerita, gampang dipahami oleh pembaca dan tidak hanya berfokus pada satu unsur rasa dendam saja, melainkan rasa pertemanan, pengorbanan, kasih sayang serta bagaimana merubah suatu sikap. Dari segi bahasa pun, gampang dimengerti oleh pembaca karena menggunakan bahasa sehari-hari, serta dicampur dengan puisi Khalil Gibran membuat bahasanya semakin baik dan indah.
Yang menjadi kejanggalan dari novel tersebut, proses pendekatan antara Faras dan Ikhsan yang tidak sesuai dengan kehidupan yang sebenarnya. Bagaimana mungkin, seorang Faras rela mencari Raja Ikhsan sampai ke Sulawesi padahal keduanya baru bertemu hanya tiga kali. Halaman yang terdapat pada novel tersebut sangat banyak, sehingga membuat jenuh sedikit bagi yang membacanya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa novel “Tahta Mahameru” bisa dijadikan rekomendasi bagi para pembaca yang haus akan cerita novel.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *