i am waiting for you where are you 1

– Klise –

Cerpen, Editor Picks, Fiksi, Romance

i-am-waiting-for-you-where-are-you

 

Hari ini ia tidak memakai baju lagi. aku mengendap-endap melihatnya dari balik jendela karena takut ketahuan. Matanya bulat tajam, warnanya hitam cenderung coklat. Hidungnya seperti hidung wanita dewasa, bangir dan kemerah-merahan. Aku menahan tawa sambil memeluk bantal besarku.
Seminggu lalu ia ke kamarku, membawakan kue pie yang katanya ia masak sendiri, aku mengucapkan terimakasi kemudian menutup pintu dengan keras, aku tak tahu bagaimana raut wajahnya. Tapi semoga ia tak tersinggung.
Ku dengar dari banyak tetangga ia wanita yang sangat pintar dan kaya. Aku meneguk kopi kemudian melupakan semuanya. Aku pernah melihatnya meminum soda dan meletakkan sampahnya di dekat ia duduk, aku fikir orang pintar tak akan meletakan sampah sembarangan. Tapi hari itu sangat berat untukku, jadi fikiranku langsung hilang saat ia pergi melangkah.
Teman-temanku selalu membicarakan bokongnya yang berisi dan payudaranya yang kencang, dia bisa menjadi topik pembicaraan hingga berminggu-minggu sampai aku benar-benar terbawa oleh suasana itu. Satu malam aku membayangkan ia menindihku lalu mengerang halus, aku tak tahan dan akhirnya berlari ke kamar mandi untuk mengambil tisu.
Bernad, temanku satu kantor menceritakan ia dan kekasihnya sering membuatnya dan teman-temanku yang lain iri. Meski aku juga tahu kekasihnya orang yang sangat tinggi kekar, rambutnya selalu rapi dan licin tapi tak terlihat berlebihan, ia selalu membawa mobil berwarna ungu yang kuyakin milik ibunya. Baru hari ini aku tahu kalau itu milik pamanya.
Ia dan kekasihnya selalu saling mengecup sebelum naik ke kamarnya, aku selalu melihatnya dengan jelas dari kaca jendela kamarku. Aku tak tahu sampai kapan aku membayangkan wanita semenarik dia mengecup bibirku. Aku malas membayangkannya, bukan karena ia tak menarik lagi. tapi tisu di kamar mandiku sudah habis.
Sudah beberapa minggu setelah malam itu aku tak pernah lagi melihatnya membuka baju. Ia tak pernah lagi membawakanku pie buatannya. Di kantor semua teman-temanku haus info tentangnya. Semuanya bagai wabah musim panas yang membuat tenggorokan kering kerontang.
Akhirnya sang ratu datang juga, ia tak sendirian namun tak biasa menggandeng pria lain. Dan hari ini ia membawa pria yang berbeda dari pria yang mengecup bibirnya malam itu.
Aku melihatnya membawa dus besar yang kosong. Tergopoh-gopoh ia naik tangga untuk menuju kamarnya. Fokusku bukan lagi padanya. Aku hanya melihat laki-laki di belakangnya yang mengikuti seperti ekor. Jauh lebih tua darinya, mungkin paman atau kakak. Aku tak mau menebak.
Laki-laki itu sekarang keluar membawa konci motor dan menghilang dalam sekejap. Hatiku berkecambuk. Aku mendekati tetangga wanitaku, aku bertanya padanya mengapa ia begitu lama meninggalkan rumah tanpa berpesan pada siapapun. Dan aku memberitahunya bahwa kekasihnya bekali-kali mencarinya selama tiga bulan ini. Tapi tidak memakai mobil ungu, melainkan hijau.
Ia tak berkata apapun, ia terlalu fokus mengepak barang-barangnya menuju dus besar itu, aku tetap meunggu di daun pintu. Tidak tahu apa yang ku tunggu, aku rasa ia akan mengatakan sesuatu.
“Wanita hanya butuh kepastian. laki-laki yang sering mengecupku selalu berjanji padaku. Laki-laki tadi suamiku. Dan sekarang aku tengah hamil empat bulan” Pintu itu tertutup dengan keras.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *