Kualitas Kehidupan Keluarga Mempengaruhi Tingkat Kemampuan Berbahasa Anak 1

Kualitas Kehidupan Keluarga Mempengaruhi Tingkat Kemampuan Berbahasa Anak

Artikel, Non Fiksi

Pendidikan pertama yang ditempuh oleh seorang anak pertama kali didapat di lingkungan sekitar. Lingkungan yang terdekat dengan anak adalah keluarga, terutama orang tua. Segala hal yang dilihat, didengar, dan dirasakan akan terekam dalam memori serta melekat pada benak anak yang akan menjadi pondasi dasar bagi anak untuk memfilter hal-hal yang akan didapatkan dikehidupannya mendatang.

Berbahasa merupakan hal yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia dalam mengkomunikasikan segala sesuatu yang berada di benak dan pikirannya. Urgensi dari bahasa tidak dapat ditawar lagi. Jika kualitas kehidupan keluarga baik dari sisi keharmonisan, maka kemampuan berbahasa anak juga akan ikut mengikutinya. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Sebab, sebuah keluarga yang memilki kualitas kehidupan yang baik dari sisi keharmonisannya, maka keluarga tersebut akan selalu mengkomunikasikan dengan baik tentang segala hal, baik hal yang besar maupun hal yang kecil. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana keadaan keluarga sebagai tempat awal bagi seorang anak untuk memperoleh pendidikan berbahasa pertamanya agar dapat diolah dengan baik.

Berdasarkan apa yang penulis temukan di lapangan. Ada dua anak yang berasal dari latar belakang kehidupan keluarga yang berbeda. Anak pertama, berumur sekitar 4,3 tahun belum mampu berbicara dengan lancar karena kurang komunikasi yang dilakukan oleh kedua orang tua yang disebabkan oleh keadaan keluarga yang kurang harmonis. Anak kedua, berusia 2,2 tahun sudah mampu berbahasa dengan lancar, karena orang tua dari anak tersebut sering melakukan komunikasi dengannya yang membuat anak tersebut lebih cepat mampu berbahasa dan memilki banyak kosa kata dibandingkan dengan anak pertama.

 

Dorothy Law Nolte menyatakan (dalam Islahudin:117)

 

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar kepercayaan.

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar kepercayaan.

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar mengenali diri.

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

 

Hal di atas akan mempu terlaksana dengan baik jika sebuah keluarga tetap melakukan komunikasi kepada anak yang merupakan sebagai wujud latihan-latihan berbahasanya.

 

“kecerdasan seseorang itu berkembang, tidak statis, kecerdasan seseorang lebih banyak berkaitan dengan kebiasaan, yaitu perilaku yang diulang-ulang” (Howard Gardner)

 

“otak manusia lebih cepat menangkap informasi yang berasal dari odalitas visual yang bergerak” (Venn Magnesen, dari Texas University)

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *