KUPIKIR PERASAAN (bagian 1)

Cerpen, Fiksi, Romance

love-3

Masih seperti tiga tahun yang lalu langit-langit kamar Hadi tidak sepenuhnya putih, beberapa bercak sebentuk gambar-gambar peta yang tak jelas menggambarkan pulau apa, yang hanya merupakan lukisan-lukisan tanda kebocoran atap kamar ini ketika musim hujan datang. Masih seperti tiga tahun yang lalu, sejak pertama kali Hadi menempati kamar ini di tahun penerimaan mahasiswa baru, pemandangan yang sama selalu dinikmati Hadi hampir di setiap menit ia menempati kamar ini. Kebosanan yang sama, masih seperti tiga tahun yang lalu selalu saja menggerogoti perasaan Hadi setiap waktu di kamar ini.

“Huuft!” Hadi mendesah panjang. Kebosanan bukan lagi hal yang membosankan baginya. Seperti sosok teman yang selalu ada menemaninya setiap waktu, teman yang bisu, tuli dan lumpuh! Bahkan untuk sekedar menjauh dari Hadi, ia tak mampu. Mendengar keluhan hati Hadi, juga tak mampu. Apalagi untuk meramaikan kesepian Hadi. Hadi muak, tetapi ia sudah terlalu terrbiasa dengan kehadiran temannya yang satu ini.

Klik, klik.. Masih seperti tiga tahun yang lalu, Hadi berusaha melupakan kebosanannya dengan menggeluti leptop dan koneksi internetnya, bertualang di sosmed, berkeliling dumay. Dan akhirnya bosan lagi. Masih persis tiga tahun yang lalu.

“Itu foto siapa, Di?” Agus tiba-tiba masuk dan menegur mengejutkan.

Hadi menoleh dengan posisi masih tengkurap menghadap leptop yang menampakkan foto seorang gadis manis di social media Facebook. Agus terlihat menggantungkan kemeja yang dipinjamnya dari Hadi di kapstok belakang pintu.

“Lumayan tuh, gebetan baru ya?” Tanya Agus kembali karena pertanyaan pertamanya tidak ditanggapi Hadi.

“Bukan, cuma temen.”

“Anak mana?”

“Lotim.”

Agus manggut-manggut. “Lumayan manis, beneran bukan gebetan kamu, Di?”

Hadi menggeleng, gelagatnya Agus sudah mulai punya niat menggaet nih cewek, pikirnya.

“Gebet aja, Di, lumayan lho!” Sarannya

Hadi menggeleng lagi.

“Kenapa? Masih kepincut Icha?” Godanya sambil tertawa kecil den melangkah hendak keluar kamar. “Kalo kamu nggak mau, kasih aku aja! Udah sebulan ngejomblo nih.”

Tuh kan, bener apa gue bilang. Hadi menggeleng-gelengkan kepalanya lagi, kali ini karena merasa mengkel sama teman kontrakannya itu.

Kembali dia memandangi leptopnya, foto cewek manis itu masih terpampang. Akhir-akhir ini Hadi memang sering kepo di timeline si cewek, bukan karena dia tertarik, tapi sebaliknya karena dia merasa cewek ini tertarik padanya. Manis sih, hanya saja sudah cukup lama Hadi merasa tidak pernah tertarik untuk dekat sama cewek. Seperti yang dikatakan Agus, Hadi memang masih kepincut sama seorang cewek cantik bernama Icha, Annisa Fitri. Cewek yang kini secara kebetulan kembali menjadi adik tingkatnya di perguruan tinggi yang sama, cewek yang dulu pernah menjadi adik kelasnya di SMA yang sama. Cewek yang luar biasa cantiknya, pintar dan selalu bersikap manis padanya. Dia tahu Icha pada dasarnya juga menaruh hati, tapi sayangnya karena kepengecutannya yang tidak pernah berani mengungkapkan perasaan, Icha akhirnya jadi pacar orang lain. Disesali pun tidak ada gunanya, dia hanya bisa berharap Icha segera putus dengan pacarnya dan dia bisa masuk. Harapan yang buruk memang, tetapi itulah yang sebenarnya. Dan lebih disayangkan lagi, kini sudah hampir empat tahun dia masih memendam harapan yang belum juga terwujud. Semantara perasaannya tidak juga pernah berubah, dan tidak pernah berpaling kepada cewek lain.

Beberapa kali Hadi pernah didekati oleh gadis-gadis cantik, tapi sengaja dia manjauh. Bukankah akan sakit jika mencintai cowok yang mencintai cewek lain? Dia tidak mau menyakiti hati cewek manapun, terlebih lagi cewek yang dia tahu jatuh hati padanya. Dan kini terulang lagi, seorang cewek cantik dan manis rasanya juga telah jatuh hati padanya. Manis memang, anggun, cerdas dan sopan-santun. Sebelumnya Hadi merasa sangat suka pada cewek ini, tapi setelah dia merasa ada sesuatu yang berbeda pada diri si cewek terhadap dirinya, dia berusaha menjauh selangkah demi selangkah. Dia bukan tipe cowok yang suka memberi harapan palsu pada orang lain, apalagi cewek yang dia sukai dan dia tahu tertarik padanya.

“Kamu punya nomor HPnya nggak?” Agus nongol lagi. Sudah dibukanya lagi pintu yang barusan belum dititupnya dengan rapi.

“Cewek ini?” Tanya Hadi menunjuk foto di leptopnya.

“Ho oh.” Agus manggut-manggut.

“Punya.”

“Mana, mana?” Agus kembali mendekati tempat tidur Hadi dan tanpa komando meraih HP Hadi yang tergeletak di sisi leptop. “Namanya siapa?”

Buru-buru Hadi bangkit dan merebut HPnya dari tangan Agus. “Apaan sih?!”

“Yaelah! Pelit amat. Katanya bukan gebetan.”

“Bukan gitu, Gus. Tapi aku mintain ke dianya dulu, kalo dia ngasih nanti aku kasih kamu kok.”

“Jangan khawatir gitu deh! Aku nggak bakalan bilang kalo kamu yang ngasih nomor HPnya ke aku.”

Hadi meragu sesaat.

“Udah deh! Tenang aja, sekalipun aku kasih tahu juga dia nggak bakalan marah kok. Takut amat sih, nggak usah sok jujur gitu lah, Di! Atau jangan-jangan kamu naksir dia, hayo?!”

Merasa dicurigai seperti itu, Hadi akhirnya dengan berat hati memberikan nomor HP si cewek kepada Agus yang sedari tadi senyum-senyum.

“Namanya siapa?” Tanya Agus

“Ar”

“Ar?”

“Ya, Ar. Arsyka.”

“Sebagai imbalannya, nanti aku salamin sama Icha deh. Denger-denger dia udah putus sama Johan.” Janji Agus

“Serius??” Hadi mulai berbinar-binar

Agus mengangguk dan mengacungkan jempol tanda dia berkata yang sebenarnya.

“Tahu dari mana?” Tanya Hadi penuh harap tapi Agus sudah keburu keluar dan menutup pintu.

*    *    *

“Di, nanti kalo sepupuku datang. Kasih aja kunci kamarku ke dia ya, aku mau pergi dulu. Ada janji soalnya.” Pesan Agus tiba-tiba nongol di dekat pintu kamar Hadi.

Kebiasaan nih orang! Baru saja Hadi selesai mandi dan hendak berpakaian. Sukurnya waktu itu Hadi sudah mengenakan celana pendeknya. “Mau kemana pagi-pagi udah rapi begitu? Biasanya hari minggu jam segini masih molor.”

“Mau ke kost-nya Ar.” Agus nyengir.

Hadi mengerutkan dahi, ternyata lancar juga perkenalannya dengan Ar.

Agus sudah ngeloyor dan lenyap di balik pintu. Beberapa saat kemudian terdengar suara motor menjauhi rumah kontrakan.

Hebat juga tuh anak, baru beberapa hari kenalan sudah akrab begitu. Pikir Hadi, ada sedikit rasa kurang senang menyelip di hatinya. Entahlah! Disamping ada perasaan bersukur jika akhirnya Ar bisa dekat dengan Agus, artinya dia tidak perlu merasa bersalah pada Ar jika sampai saat ini belum juga hatinya dapat membalas perasaan Ar. Sekalipun sudah hampir dua tahun lamanya dia mengenal Ar dan tahu bahwa Ar menyukainya, tidak sedikitpun hatinya merasakan perasaan lebih. Bahkan cenderung bosan dan tidak senang. Hadi akhirnya memutuskan untuk tidak terlalu sering berkomunikasi dengan Ar. Barangkali Ar juga menyadari sikapnya yang berusaha menjauh, hingga saat ini Ar sama sekali tidak pernah mencoba untuk mendekatinya juga. Ar seperti menghilang darinya, tapi bayangan Ar kini malah menempel pada Agus.

“Assalamualaikum!” Suara seseorang di depan pintu kontrakan mengingatkan Hadi akan pesan Agus berusan. Tapi Agus tidak berkata bahwa sepupunya ternyata cewek. Suaranya lembut.

Buru-buru mengenakan kaosnya lalu berjalan cepat ke pintu depan. Hari ini kontrakan mendadak sepi, entah kenapa hari ini penghuni kontrakan kompakan pulang kampung dan meninggalkan Hadi dan Agus berdua saja.

“Waalaikumussalam.” Hadi segera membukakan pintu.

Cewek di depan pintu itu tersenyum lebar. Hampir saja Hadi melonjak saking kagentnya, jantungnya tiba-tiba berpacu amat kencang.

“Eh….” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya, ia tergagap.

“Kak Agus mana, Kak?” Tanya si cewek.

“Anu, eh, tadi keluar.” Hadi sudah panas dingin, tidak disangkanya bahwa sepupu Agus yang akan berkunjung itu ternyata Icha. Sejak kapan Agus sepupuan sama Icha? Kok dia nggak pernah cerita?

“Lho, kok keluar? Apa dia lupa kalo aku mau datang hari ini?”

“Oh, nggak kok. Tadi dia sempat kasih pesan.” Hadi berusaha menenangkan gejolak hatinya. “Eh, ayo masuk! Aku ambilin kunci kamarnya Agus dulu di dalam. Mau minum apa? Aduh, tapi cuma ada kopi aja. Ngopi nggak? Aku masakin air dulu. Duduk aja dulu ya!” Di tengah-tengah rasa canggungnya, Hadi berucap panjang lebar. Matanya tidak berani menatap langsung pada Icha.

“Nggak usah kak, aku mau langsung balik aja deh, setelah ambil bukunya.”

“Owh, nggak nunggu Agus pulang?” Tanyanya sambil menggaruk-garuk kepalnya yang tidak gatal. Menyadari penampilanya yang asal-asalan dengan kaos oblong dan celana pendek, Hadi jadi semakin salah tingkah.

“Nggak usah, mungkin kak Agus lama baliknya.” Icha tersenyum-senyum melihat gelagat Hadi yang sedari tadi terlihat tidak tenang.

“Mmm, iya juga sih, dia nggak bilang kapan mau balik.”

“Kak Hadi kok nggak jadi ambil kunci?” Tanya Icha melihat Hadi hanya mematung di dekat pintu.

“Oh iya! Astaga! Tunggu bentar ya!” Buru-buru Hadi kembali ke kamarnya untuk mengambil kunci kamar Agus, dalam hati ia memaki-maki dirinya yang tiba-tiba saja berubah linglung dan bodoh.

Setelah menyerahkan kunci kamar Agus pada Icha, Hadi berdiam di dekat puntu keluar, berkali-kali ia menoleh ke arah Icha yang sudah masuk ke kamar Agus. Hatinya tidak juga berhenti gelisah, bahkan sesekali menarik nafas panjang untuk menghilangkan debaran jantungnya yang tidak bisa pelan. Sebelah kakinya sudah bergerak-gerak tidak jelas, berkali-kali ia garuk kepalanya yang tidak gatal. Ingin sekali ia mengajak Icha ngobrol banyak, jarang sekali ia dapat kesempatan seperti ini. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya.

“Kak, aku langsung balik ya. Nih kuncinya!” Kata Icha kembali mengejutkan Hadi yang sedang menatap keluar pintu memikirkan apa yang akan dilakukannya.

“Eh, oh ya. Iya.” Hadi makin gelagapan

Icha menjabat tangan Hadi sambil mengucapkan salam. Hadi makin berdebar-debar, hampir saja ia lupa menjawab salam Icha.

“Hati-hati di jalan ya, Cha!” Hadi mendengar suaranya sendiri jadi aneh.

Icha tersenyum. Beberapa saat kemudian dia sudah melaju dengan motor matic-nya meninggalkan kontrakan Hadi dan menghilang di pengkolan jalan.

Sudah tidak terlukiskan lagi kegembiraan Hadi saat ini, ia senyum-senyum sendiri. Ingin sekali ia melompat-lompat gembira, tapi yang dia lakukan hanya menggenggam tangannya sendiri sambil tersenyum-senyum. Masih terasa lembutnya tangan Icha yang menjabat tangannya barusan. Ingin ia cium telapak tangannya sendiri yang tadi berjabat tangan dengan telapak tangan Icha yang mungil, tapi ia merasa malu sendiri. Dia sendiri bahkan tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaan senangnya. Issh…..

*    *    *

“Di, menurut kamu gimana kalo aku nembak  Ar?” Agus tiba-tiba masuk ke kamar Hadi selagi Hadi melamunkan pertemuannya dengan Icha tadi pagi.

“Eh, kamu kok nggak bilang kalo sepupu kamu itu Icha?” Hadi malah bertanya balik tanpa menggubris pertanyaan Agus, dan baru kali ini dia tidak merasa kesal dengan kelakuan Agus yang suka masuk tiba-tiba secara mengejutkan ke dalam kamarnya.

“Lho, aku pikir kamu tahu.”

“Aku tadi kaget banget pas dia datang.”

“Padahal kita kan sering banget ngomongin soal Icha, apalagi kamu kalo udah ngomong soal Icha nggak ada bosen-bosennya. Masa nggak tahu kalo dia sepupuku?”

“Kamu kan nggak pernah bilang.” Hadi senyam-senyum. “Eh, beneran dia udah putus sama Johan?” Tanyanya penuh harap

“Katanya sih gitu, kemarin-kemarin dia pernah cerita.”

“Pantes aja kamu tahu banyak tentang Icha, dia sepupumu sih.” Senyum Hadi tak lepas-lepas.

Agus menggeleng-geleng, dia tahu temannya ini sedang berbunga-bunga. “Tadi selagi aku masih di kos Ar Icha SMS.”

“SMS apa?” Hadi jadi bersemangat.

“Dia nanya aku lagi dimana.” Agus terbahak-bahak.

Hadi menyeringai kesal.

“Dia juga nanya, kamu masih pakai nomor HP kamu yang dulu atau udah ganti.” Timpalnya lagi.

“Serius?” Hadi makin gembira.

“Iya, tunggu aja mungkin bentar lagi dia bakalan SMS kamu. Atau kamu SMS aja dia, ini nomornya.” Agus menyodorkan HPnya yang segera disambut oleh Hadi.

“Menurut kamu kalo aku nembak Ar gimana?” Tanya Agus lagi selagi Hadi sibuk menyalin nomor HP Icha di HPnya.

“Iya.” Jawab Hadi ngasal

“Tapi kayaknya aku bakalan ditolak deh, masih perlu pendekatan lebih intens.”

“Kamu ngomong apa tadi?” Tanya Hadi yang tiba-tiba merasa heran dengan gumaman Agus.

“Yaelah! Jatuh cinta nggak segitunya juga kali, bro! Kayak nggak ada orang lain di dunia ini. Ckckck….”

Hadi tertawa perlahan. “Sorry! Tadi nggak fokus. Ngomong apa tadi?”

“Menurut kamu gimana kalo aku nembak Ar sekarang? Diterima apa nggak?” Ulang Agus lebih jelas, seolah mengeja di depan telinga Hadi.

Perlahan ada perasaan aneh menjalar di hati Hadi. Ia mengerutkan dahi. “Dia suka sama kamu?” Tanyanya meyakinkan diri

“Nah, itu dia yang bikin aku ragu. Dia biasa aja, nggak menunjukkan ketertarikan sama sekali. Takutnya nanti aku malah ditolak.”

Entah kenapa ada perasaan lega yang Hadi rasakan. “Pastikan aja dulu, nanti kalo dia udah ada sinyal baru kamu bertindak.”

“Hahaha, berarti sekarang waktunya kamu yang bertindak. Selagi Icha jomblo, tembak dia segera! Dia udah ada sinyal tuh kayaknya.”

Hadi tersenyum, hanya saja dia tidak segembira tadi. Dia berniat mendekati Icha selagi Icha masih jomblo, tapi dia meragu lagi. Keraguan yang sebenarnya tidak berdasar. Barangkali perasaan seperti inilah yang membuat dia selalu gagal. Perasaan yang tidak pernah bisa yakin.

Bersambung……….


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *