Kutukan

Cerpen, Fiksi

   kutukan

Malam begitu mencekam diiringi angin yang menghebus di setiap jari-jari pohon yang agak goyah. Tak jauh dari pohon mangga yang dihempas angin begitu saja, terdapat sebuah rumah besar bertingkat tiga.

Di depan rumah terdapat halaman yang sangat indah dan besar disertai bunga-bunga yang tak kalah indahnya, menyejukkan mata di saat pagi telah tiba. Tapi malam yang membuat bunga-bunga itu agak kalem, tapi walaupun demikian keindahan bunga itu tidak bisa dielakkan. Rintihan hujan turun begitu saja setelah tadi didahului oleh petir yang menyambar, apalagi awan hitam yang sangat tebal sehingga malam itu merupakan malam yang kurang enak dipandang mata.

Kini rintik-rintik itu berubah menjadi hujan yang begitu lebat, lebat, lebat, dan sangat lebat. Angin tak mau kalah melemparkan dirinya di sekitar tempat. Sehingga hujan dan angin menyatukan diri. Kini kedua-duanya menjadi congkak, sehingga menghancurkan apa yang didapatinya. Air hujan itu kini berubah menjadi gumpalan-gumpalan besar, besar, dan sangat besar. Sehingga terciptalah air bah. Hamparan angin tak mau kalah, kini angin mengubah dirinya menjadi pusaran yang tak terduga sebelumnya.

Begitu keduanya menyatu dengan lekatnya, tak dapat dipungkiri lagi semuanya dapat dilahap begitu saja. Terdengar jeritan seorang anak dari dalam rumah yang besar bertingkat tiga itu. Terus-terusan memanggil nama “ibu”. Dilain sisi, penduduk kampung sekitar yang berdampingan dengan rumah besar itu tak kalah hebohnya mengeluarkan suara yang riuk-piuk. Berbondong-bondong mencari tempat perlindungan. Ada yang menggendong anaknya, ada yang membawa bungkusan kain yang tebal, entah isinya apa, dan yang paling gila adalah orang yang menyelamatkan harta bendanya dan rela meninggalkan anak istri yang terjepit di sebuah tiang rumah dan banjir terus melanda, kini airnya sudah sampai di atas lutut, tapi tak ada yang mau peduli, semuanya hanya mementingkan diri sendiri tanpa ada yang mau menolong sesamanya. Banjir terus melanda dan gumparan angin terus saja membantunya. Dan akhirnya, pagi menjelang tiba, tapi tak seekor ayam pun yang berkokok. Matahari pun kelihatan enggan untuk menampakkan diri.

Seorang perempuan berjalan sambil melihat-lihat apa yang terjadi di sekitarnya. Agaknya perempuan ini pendatang, sehingga kagetnya begitu rupa. Tak seorang pun yang ditemuinya selain ampas-ampasnya saja. Perempuan ini melirik ke kanan, kini dia melihat seorang anak kecil yang tergeletak di tanah dihempit kayu jati. Segera saja perempuan ini berkelebat menghampiri anak itu. “Apa yang telah terjadi ?”, kata perempuan itu sambil memandang anak yang tergeletak di tanah. Tapi anak itu hanya diam saja, seolah-olah tak perduli dengan ucapan pertanyaan yang ada di hadapannya. “Gila…kelihatannya anak ini pasrah sekali untuk mati, mungkin dia terlalu percaya dengan adanya takdir”, pikir si perempuan. “Nasib..nasib…nasib”.

            Tiba-tiba anak itu menyahutinya seolah dia sedang dipanggil, “ya, ada apa?”. Kaget dan herannya si perempuan, “bener-bener gila, aku nanya apa yang telah terjadi di dekitar sini, malah kau menyahutiku dengan ya, ada apa?, sambil sumbingkan mulutnya.

“Kau ni bagaimana sih, melihat diriku yang tak berdaya dan sedang dihempit kayu jati, kau malah mengajukan pertanyaan dan tidak duluan segera menolongku”, jawab si anak dengan nada agak-agak keras tapi kedengaran lucu, membuat perempuan ini sunggingkan senyum tipis dibibirnya yang merah. Walaupun kelihatan tidak memakai dandan dan hanya memakai rok canda baju kaos, tapi kecantikan si perempuan itu kelihatannya tidak dapat disembunyikan. Akhirnya, tanpa berpikir panjang, perempuan itu mengangkat kayu jati itu dengan sekuat tenaga, tapi hanya sedikit yang terangkat, sehingga anak itu keluar dengan cara menyusup di bawah celah-celah yang tersedia. Anak ini maklum, karena tenaga perempuan tidak sama dengan laki-laki, sehingga kayu itu hanya terangkat sedikit, untungnya dia masih kecil sehingga dia bisa menyusup di celah-celah yang tersedia.

“Namaku Anggini”, perempuan itu memperkenalkan lebih dulu.

“Aku Rasta”, anak itu tak lupa pula perkenalkan dirinya.

“Oh ya, apa sebenarnya yang telah terjadi di tempat ini sehingga menjadi porak poranda seperti ini”, perempuan ini mengulang pertanyaannya yang awal tadi. Si anak terus-terusan memandang orang yang ada dihapannya dari lutut kaki sampai ke kepala.

“Wah…cuantik bener ni cewek”, membatin si anak sambil melongo.

“Kau sendiri mau ngapain ke sini”, si anak malah balik bertanya. “Gila..kau ni malah balik nanya, untung-untung aku lewat sini dan melihatmu lalu menolongmu”, si perempuan sudah mulai agak-agak geram menghadapi lawan bicaranya. Tiba-tiba anak itu tertawa panjang lebar lalu melanjutkan percakapannya, “Walah-walah…itu aja koq geram ?, aku kan cuma bercanda doang, tapi kalau dilihat-lihat seperti ini kau kelihatan tambah cantik”. Muncullah sifat asli si anak yang tadinya hanya diam saja sekarang menjadi riangnya begitu rupa. Si perempuan menjadi terheran-heran, “anak ini udah bener-bener gila atau setengah waras sih, dalam keadaan genting seperti ini masih aja bisa ketawa-ketawa, emang keluarganya ndak ada kali ya..?”, pikir si perempuan dengan tanda tanya. “Oke oke aku akan kasih tau apa yang terjadi di tempat ini”, kata si anak. “Baiklah, aku akan mendengarkan ceritamu”. Si anak pun mulai bercerita.

            “Dulu, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Yang perempuan bernama Kinansih dan yang laki bernama Rana. Namun, keduanya jarang merasakan kebahagiaan sebagai pasangan kekasih karena kedua orang tua masing-masing tidak setuju. Orang tua si laki dan perempuan mempunyai selang sengketa yang sangat kuat. Tapi kedua sejoli ini tak memperdulikan kedua orang tua masing-masing, saking lekatnya cinta mereka seperti lem dlukol”. Anggini yang mendengar cerita si anak mencoba untuk menahan tawanya yang bilang lengket seperti lem dlukol. “Emang manusia itu kertas apa yang bisa di lem-lem segala untuk membuat layangan”, membatin si gadis sambil menahan tawa. Si anak terdiam sesaat seperti orang yang sangat serius walaupun tampangnya tidak memungkinkan, kemudian ia melanjutkan ceritanya. “Pada suatu hari ketika mereka berjalan-jalan di sebuah jembatan, terdengar suara yang bergemuruh yang sangat luar biasa. Mereka ketakutan dan akhirnya Rana cepat-cepat mengantarkan Kinansih ke rumahnya, tapi Rana hanya mengantarkannya sampai ke depan pintu gerbang, takut-takut ntar dilihat sama orang tua Kinansih. Setelah itu Rana mencium kening si gadis lalu cepat berkelabat pergi. Di pertengahan jalan…” Belum saja si anak melanjutkan cerita Anggini malah memotongnya begitu saja, “Aku kan mau mendengar ceritamu kenapa tempat ini menjadi porak poranda, malah kau menceritakan dua sejoli yang bernama Kinansih dan Rana. Malah ntar aku akan persingkat nama mereka menjadi “KIRANA”, motor honda yang kecil bodynya tu.” Si anak ketawa gelak-gelakkan mendengar ucapan si gadis, “rupanya kau funny juga ya ?”. Si gadis diam sesaat lalu ikut-ikutan tertawa.

            “Baiklah, aku akan melanjutkan ceritaku”, berkata si anak. Anggini mengambil tempat duduk yang paling nyaman untuk mendengar lanjutan cerita si anak.

            “Di pertengahan jalan setelah Rana pergi dari rumah Kinansih, dia melihat ada orang samar-samar yang menghampirinya, ternyata setelah dilihat lebih dekat lagi, ternyata orang itu merupakan seorang kakek yang memakai celana kain putih dan berselempang kain putih pula, wajahnya kelihatan klimis walaupun kepalanya botak. Kakek itu lalu berkata pada Rana bahwa kelak hubungannya itu akan membawa malapetaka, karena masing-masing dari keluarga dua belah pihak pernah bersumpah untuk tidak menurunkan anak cucu jika keluarganya si Kinansih dan keluargamu bersatu. Rana pun terkejut mendengar akan hal itu. Dia tidak habis pikir. “Dari mana kau tahu akan semua ini kek?”, berkata si Rana. Tapi alangkah kagetnya si Rana karena kakek tadi tiba-tiba saja tidak ada di situ.

            Singkat cerita, Rana sudah tidak tahan lagi dan mengajak Kinansih untuk menikah di perantauan. Mereka berdua pun menikah tanpa wali. Begitu mengucapkan ijab kabul, terjadilah malapetaka seperti yang kau saksikan ini”.

“Tunggu dulu, dari mana kau tahu semua ini, sedangkan kau kan hanya anak-anak”, bertanya si gadis.

“Dari mana aku tahu tak usah kau tahu”, menjawab si anak.

“Gillak,,,anak ini sudah benar-benar tidak waras rupanya”, membatin si gadis.

“Mungkin kau berpikir kalau aku ini orangnya aneh”.

“Kau bisa membaca pikiranku ya ?” tanya si gadis dengan heran.

Namun si anak hanya mesem-mesem. Lalu si anak menunjuk ke arah pohon yang belum tumbang. “Lihat itu”, berkata si anak. Si gadis langsung menuruti perintah si anak.

“Emangnya ada apa dengan. . .”, belum selesai si gadis mengeluarkan ucapan, tiba-tiba ada suara yang mengiang di telinganya.

“Eh cahayu, diam jangan bergerak, apalagi untuk menoleh ke belakang. Dengar baik-baik, akulah si anak tadi, sebenarnya aku adalah Rana. Sekarang tubuhku sudah nampak seperti semula, bukan seperti anak-anak lagi. Ini semua berkat dirimu yang telah menyelamatkan jiwaku dari hempitan kayu jati tadi. Karena sebelumnya aku telah menerima kutukan selain menimbulkan malapetaka ini dari perkawinanku dengan Kinansih, yaitu menjadi seorang anak kecil supaya tidak ada orang yang mengenalku. Baiklah, aku tidak mau bicara panjang lebar lagi, aku mau pergi untuk mencari Kinansih dan melebur kutukan keparat ini. Selamat tinggal Anggini, senang berkenalan denganmu.”

Anggini menjadi diam seribu bahasa mendengar orang yang mengiang ditelinganya. Akhirnya dia menoleh kebelakang dengan perlahan. Betapa kagetnya gadis ini sudah tidak mendapatkan anak itu lagi.

“Ternyata benar, mungkin tadi itu adalah Rana, semoga kau mendapatkan Kinansih dengan cepat, dan meleburkan kutukan ini yang ada dalam diri kalian”, membatin si gadis.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *