Lale

Cerpen, Fiksi

Lale

Aku mungkin terlalu muda untuk mengetahui ini semua, atau aku mungkin terlalu kecil untuk memahami hal tergis ini. Aku bahkan bisa melihat senyum dibibirnya setalah apa yang dia lakukan. Bahkan yang lain diam membisu tak ingin terlibat dalam tangis bisu gadis itu. “Adat. Ini adalah adat”, hal konyol inilah yang selalu mereka jadikan alasan dan pembenaran atas perbuatan biadab mereka. Pikiran mereka terlalu sempit memandang adat sebagai suatu dasar hidup. Mereka sudah mentuhankan sebuah kekonyolan.

Tubuhku masih gemetar ketika melihat tubuh itu bersandar kaku pada sebuah pohon asam. Darahnya mengalir membasahi daun-daun kangkung yang kini berubah layu. Sebuah lubang besar menganga di dadanya. Seperti bekas tusukan benda tajam yang besar, yang ditusukkan berulangkali. Mengerikan dan mereka hanya diam.

Aku tidak pernah tahu sebelumnya betapa tinggi arti nama mu, Lale. Aku tidak pernah tahu sebelumnya betapa mulia mereka memandang kebabgsawanannya, sampai hari ini ketika melihatnya terbujur kaku seperti itu. Lale, ya…ku pikir hanya nama yang mengikatnya menjadi saudara dengan yang lain. Tapi ternyata itu lebih besar dan menakutkan. Entah itu sebuah kutukan ataukan anugerah, aku masih belum bisa menemukan jawabannya.

Masih teringat jelas dalam benakku akan sosok dirinya. Ia selalu membuatku iri dengan segala yang ia miliki. Kepribadiannya yang selalu ramah, wajahnya yang ayu, keluarganya yang disegani dan nama indahnya, lale. Semua orang mengenalnya tanpa terkecuali. Senyum ramah warga selalu menyambut mereka dimanapun mereka berada. Tangan-tangan selalu terbuka menawarkan bantuan kapan saja merek perlu. Namun kini semua itu tidak menerik lagi, bahkan terdengar mengerikan oleh ku. Aku tak tahu rinciannya bagaimana namun aku dan mereka pastilah tahu bagaimana kami hanya bisa menjadi saksi bisu bahwa nyawa dan ikatan darah tak berarti di hadapan sebuah adat dan kebangsawanan .

Seseorang yang mengenakan mahkota harus menghadapi mahkotanya. Itu yang kini mereka gumamkan didepan mayat tak berdosa ini. Entahlah, tapi kata-kata itu terdengar seperti cacian untukku. Kemana hati nurani mereka? adakah dari mereka yang berfikir mengenakan mahkota baginya bukanlah sebuah pilihan, namun itu adalah takdir tuhan. Haruskah ia dihukum untuk takdir itu. Haruskah aku dihukum karena takdir yang tak bisa ia pilih?

Pagi itu begitu sunyi bahkan angin enggan untuk bersuara. Pohon-pohon membeku kaku, hanya sinar mentari yang Nampak malu-malu membuat malam pag inii sedikit hidup. Kabut-kabut enggan untuk beranjak. Daun-daun berbisik sedih, pelan-pelan beranjak tanpa suara dari ranting menuju tanah gersang. Pagi ini terasa mati, bungkam seperti mereka.

Aku memang bocah kecil yang bodoh tapi aku tahu ini tidak benar. Dari mataku yang bening ini aku bisa melihat kemunafikan. Mereka selalu menghakimi seorang pencuri sampai babak belur karena telah melakukan kejahatan, mereka berucap begitu. Mereka selalu menganggap para pemabuk dan penjudi pendosa. Mereka mengucili si durhaka. Mereka selalu berkata yang bersalah harus dihukum. tapi mengapa mereka diam saat tahu seorang tak berdosa kehilahgan nyawa. Entah apa yang ada dipikiran mereka? Begitu tinggikah sebuah kasta untuk dijaga, hingga nyawa pun tak berharga. Entah ini sebuah kutukan atau anugrah aku tak tahu.

“Bukankah lebih baik begini dari pada esok hari akan menjadi bumerang. Dia jika dibiarkan akan mnjadi duri yang mengoyak daging ayahnya sendiri” ucapnya dengan mata yang menyala-nyala, seolah yang ia lakukan adalah sebuah kebajikan tertinggi. “dari pada ia kubuang dan hidup bersama dengan orang tak sederajat, dari pada ia kubuang dan menjadi aib keluarga lebih baik diakhiri seperti ini” aku mulai geram dengannya, apakah kini ia berfikir dirinya adalah tuhan? Tuhan yang bisa kapan saja menghentikan hidup seseorang karena keegoisan semata?

***

Sore itu senja kehilangan warna jingganya. Ia mengutuk malam karena terlalu cepat membawanya pergi dari langit biru. Ia ingin lebih lama lagi mewarnai langit, namun malam dengan egois membawanya pergi menuju gelap. Aku tak ubahnya seperti senja itu. Aku ingin bebas namun semua hal ini selalu mengikatku kuat, aku bahkan tidak bisa bernafas. Andai namaku bukan lale. Andai darah yang menglir ini bukan darimu. Andai aku bisa memilih takdirku maka itu akan menjadi hal terindah yang pernah ku miliki. Aku selalu berharap, saat bangun pagi aku berubah menjadi orang lain. Tempat ini terlalu indah untukku, terlalu menyilaukan hingga aku tak bisa membuka mata. Cahaya tajamnya selalu menusuk mataku, cahaya indah itu selalu membuatku menangis.

Aku muak. Aku benar-benar muak. Aku kini mulai bertanya dalam hati orang bodoh macam apa kalian yang rela hidup dalam aturan-aturan yang menyesakkan? Melestarikannya adalah bunuh diri. semuanya selalu dengan aturanmu. Bahkan untuk satu detikpun dalam dua puluh tahun umur raga ku aku tidak pernah merasakan apa itu hidup. Aku hanyalah patung bernyawa. Hanya bisa menerima dimana kau akan meletakkanku, hanya bisa menerima semua perlakuan tanpa mampu membantah.

Namun hari ini mungkin tuhan memberikan aku sebuah simpang jalan lain. entah dari mana kata-kata ini muncul. Aku bahkan tidak pernah membayangkan bisa berkata seperti ini. Mungkin ini adalah batas kemampuan ku menahan amarah. Atau mungkin kali ini kau benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa kau memandang seseorang tidak lebih tinggi dari mata kaki mu? Bagaimana bisa menawar harga diri seseorang hanya dengan uang beberapa rupiah?

“Kita hentikan budaya tolol ini mamiq. Ia lelaki baik, dari keluarga baik, ia akan menghidupiku dengan berkecukupan”

“Bagaimana bisa?! Kita berbeda! Bangsawan dan rakyat jelata. Mereka tempatnya di bawah kaki kita, bagaimana kau akan hidup di bawah kaki dengan darah yang kau miliki?

“Kalau begitu aku akan turun ke tempat rendah itu. Di bawah kaki mu. aku akan hidup di sana. Jika kau ingin injaklah tempat itu sesukamu. Namun ingat hati-hatilah dengan tempat itu kau tidak akan tahu mungkin disana ada duri yang bisa melukaimu. Dan semua ini aku akan buang dengan senang hati. Tentang warisan nenek moyang biarkanlah mereka jaya pada masanya dan menjadi sejarah di masa kini. mereka sudah terlalu lama menjaya, dan kini tibalah masa bagi kita. Namun jika hal itu sangat sulit untuk kau lepas maka biarkan aku berjaya di masaku seperti kau berjaya dimasamu dengan cara kita masing-masing.”

Untuk pertama kalinya aku bangga telah melawannya. Tidak ada rasa bersalah dalam diri ku sedikitpun.mungkin tuhan telah lelah mendengar doa dan keluh kesahku, karena itu Ia memberiku kesempatan ini.

“dan juga…” belu sempat aku mengungkapkan rasa amarahku yang masih tersisa, tiba-tiba sesosok pria dengan tangan kekarnya menyeretku tanpa belas kasih. Kini aku mulai ketakutan. Aku ingin meminta tolong tapi mereka berpaling. Maka aku meraung dalam tangis sambil memanggil namanya “mamiq…mamiq!!!” namun ia tak berbalik sedikitpun. Hanya punggung kekarnya yang bisa kulihat.

Mengapa hidupku begitu menyedihkan. Disaat aku berfikir bisa hidup seperti manusia, Kau dengan cepat mengambilnya kembali. Apa Kau piker aku terlalu serakah untuk memiliki hidupku sendiri? apakah caraku mendapatkannya terlalu kejam hingga kau mengambilnya dengan begitu kejam pula?

Apakah hinaan ini, pukulan ini, dan tusukan dalam jantung yang mengambil nafasku ini adalah bayaran untuk kemenangan yang singkat itu? Tidakkah kau sama kejamnya dengan merek Tuhan? Apakah aku hanya diciptakan untuk berakhir seperti ini?

Aku ingin hidup lebih lama Tuhan. Aku menjerit. Aku menjerit. Aku menjerit. Dan kalian hanya diam menikmatinya bagi irama nyanyian surga.

***

Dan aku juga mereka hanya diam mendengarkan tangis memilukannya hingga ia berlalu dalam sepi. Apakah Kau juga begitu Tuhan?


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *