LAMBUNG “Benarkah Baju Adat Perempuan Suku Sasak” ?

Budaya & Folklor, Opini

LAMBUNG “Benarkah Baju Adat Perempuan Suku Sasak”

Berawal dara era prasejarah asal-usul penduduk pulau Lombok terdapat beberapa Versi salah satunya yaitu Kata sasak secara etimilogis menurut Dr. Goris. s. berasal dari kata sah yang berarti pergi dan shaka yang berarti leluhur. Berarti pergi ke tanah leluhur orang sasak ( Lomboq ). Dari etimologis ini diduga leluhur orang sasak adalah orang Jawa, terbukti pula dari tulisan sasak yang oleh penduduk Lomboq disebut Jejawan, yakni aksara Jawa yang selengkapnya diresepsi oleh kesusastraan sasak.
Etnis Sasak merupakan etnis mayoritas penghuni pulau Lomboq, suku sasak merupakan etnis utama meliputi hampir 95% penduduk seluruhnya. Bukti lain juga menyatakan bahwa berdasarkan prasasti tong – tong yang ditemukan di Pujungan- Bali, Suku sasak sudah menghuni pulau Lomboq sejak abad IX sampai XI masehi, Kata sasak pada prasasti tersebut mengacu pada tempat suku bangsa atau penduduk seperti kebiasaan orang Bali sampai saat ini sering menyebut pulau Lomboq dengan gumi sasak yang berarti tanah, bumi atau pulau tempat bermukimnya orang sasak.
Pengaruh Bali memang sangat kental dalam kebudayaan Lomboq hal tersebut tidak lepas dari ekspansi yang dilakukan kerajaan Bali sekitar tahun 1740 di bagian barat pulau Lomboq dalam waktu yang cukup lama. Dalam hal ini pengaruh kerajaan bali juga terlihat dari bangunan-bangunan yang ada dan baju adat suku sasak juga tidak lepas dari pengaruh kerajaan bali , yang dimana pakain tersebut dipakai dalam upacara kerajaan bali dulunya .
Pakaian ataupun baju adat perempuan suku sasak di kenal dengan sebutan lambung . dilihat berdasarkan sejarah pakaian adat lambung diberikan oleh raja bali yang bernama Anak Agung karena raja sangat senang melihat perempuan suku sasak mengenakan pakaian lambung tersebut, dikarenakan pakaian lambung berbentuk terbuka dibagian perut dan punggungnya, atas hal itu anak agung mewajibkan perempuan pada masa itu mengenakan baju lambung.
Dalam hal ini haruskah kita bangga sebagai suku sasak menyebut lambung sebagai baju adat perempuan suku sasak? Dilihat dari agama yang dianutnya suku sasak mayoritas memeluk agama islam dalam hal ini juga terjadi pertentangan norma agama dengan apa yang kita banggakan itu “lambung” islam mengajarkan kita menutup aurat tapi kenapa lambung malah dijadikan sebagai baju adat perempuan suku sasak. Jadi benarkah “lambung “ merupakan baju adat suku sasak? Silahkan anda mengkaji sendiri berdasarkan sejarahnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *