Lansia Mewarisi Faham Wawasan Kebangsaan

Asal Tulis, Berita

nenek

Kokohnya semangat kebangsaan yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan factor utama penunjang keberhasilan pembangunan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia selama seperempat abad terakhir.
Dalam perjalanan sejarah proses pembinaan kehidupan kebangsaan yang tiada hentinya baik secara kuantitatif maupun kualitatif telah membuat bangsa ini maju melangkah untuk menjadi contoh universal dari bangsa-bangsa lain di dunia yang masih terus mencari wadah peningkat kejiwaan bangsa yang dapat membentuk pemersatu kehidupan nasionalnya.
Indonesia dengan kemajmukan etnik atau sekitar 525 suku bangsa yang masing-masing mempunyai bahasa serta kebudayaan sendiri dapat menjadi Negara kesatuaan , sementara bangsa –bangsa lain di dunia di antaranya hanya memiliki kurang dari sepuluh etnik banyak yang tengah mengalami gejolak berkepanjangan yang memporakporandakan dirinya sendiri hal itu tentunya merupakan salah satu keunggulan bangsa Indonesia dalam membina persatuan dan kesatuan bangsa yang selain dikagumi banyak pemimpin Negara lain juga diminatai untuk dipelajari.
Di sisi lain dari keberhasilan tersebut tentunya tidak lepas dari dinamika perkembangan zaman serta alih generasi yang senantiasa memerlukan perhatian dan upaya berkesinambungan agar semangat kebangsaan yang dimiliki generrasi pendahulunya tetap terjaga dan tumbuh subur semakin sempurna
Suatu indikasi dari tahap perkembangan kebangsaan adalah perkembangan kultur politik nasional yang terbentuk dari hasil pembinaan dan pendidikan politik etis normative. Kultur politik itu akan berlanjut terus ke masa depan yang harus dijiwai oleh lapisan-lapisan generasi penerus.
Dalam suasana nasional yang umumnya stabil selama seperempat abad belakangan ini, diiringi lahirnya gelombang generasi baru yang kini mulai tampil dalam dunia karir dan profesi .Tampilnya generasi muda dalam kancah pembangunan nasional dewasa ini tentunya tidak begitu saja lepas dari ikatan kejiwaan yang dibentuk oleh generasi pendahulunya.Berbeda dengan generasi sebelumnya yang kini rata-rata telah berusia lanjut (Lansia) dan memiliki pandangan bahwa seluruh kemajuan nasional seagai rangkaiaan panjang perjuangan yang berat dengan penuh pengeorbanan jiwa raga.
Sebalikny dari generasi yang lebih muda memahami segala kemajuaan yang dicapai dengan susah payah oleh generasi pendahulunya dianggap hanya sekedar sebagai garis awal dari perjuangan ke masa depan yang baru saja dimulai dalam arti hanya sebagai landasan modal memasuki tahap pembangngunan jangka panjang ke II.
Lapisan generasi muda yang semakin terdidik, itu sedang mempersiapkan didri dengan sungguh-sungguh untuk mengemban tanggung jawab sejarahnya sendiri dalam situasi strategis abad ke 21 yang bukan saja semakin terbuka tetapi juga semakin kompetitif.
Adalah logis jika mereka menghendaki agar kondidi dewasa ini memungkinkan mereka lebih siap menghadapi abad mendatang yang penuh dengan tantangan kompetitif.
Perbedssn persepsi antar generasi tersebut tentunya perlu disadari karena dapat menimbulkan miskomunikasi dan misinterpretasi dengan segala akibatnya.Miskomunikasi dan misinterpretasi tidak perlu terjadi jika kita memandang seluruh perkembangan itu sebagai gerak dinamik dari kesinambunganan kehidupan kebangsaan serta sekaligus kepada generasi penerus ditanamkan pemahaman bahwa peranana sejarah dari gelombang demi gelombang generasi dalam kehidupan kebangsaan kita adalah memantapkan , melanjutkan, menyempurnakan , serta meningkatkan prestasiprestasi generasi pendahulunya.

Pengukuhan peran Lansia dalam mewariskan faham wawasan kebangsaan pada tanggal 29 mei 1996 telah diwujudkan dengan dicanangkannya Hari Lanjut Usia Nasional dan Gerakan Orang TuaAsuh oleh Presiden Soeharti di semarang Jawa Tengah .Benang sejarah dari perencanaa tersebut menurut Presiden Speharto adalaha karenea pada tanggal 29 mei 1945 atau tahun yang lalu diselenggarakan sidang pertama badan Usaha-usaha PersiapanKemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Badan tersebut di pimpin oleh dr.Radjiman Wedyoningrat yang pada waktu itu telah berusia 66 tahun. Pada siding tersebut Beliau mengajukan pertanyaan yang amat bersejarah tentang dasar Negara yang hendak dibentuk dalam kemerdekaan. Beliaulah yang memimpin seluruh pembicaraan yang akhirnya menghasilkan rancangan pembukaan dan ramcangan Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945 yang kita gunakan sekarang.
Presiden Soeharto saat merancangkan Hari Lnjut Usia Nasional dan Gerakan Orang Tua Asuh menyatakan , intisari kearifan kenegaraan yang terkandung dalam pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945 itu merupakan karya besar. Sulit bagi kita untuk membayangkan Republik yang kita cintai ini tanpa pancasila, tanpa pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945 yang kita miliki bersama sampai saat ini.
Dengan mencanangkan Hari Lnajut Usia Nasional ini, kita berharap agar timbul pandangan dan kesdaran baru terhadap usia pada umumnya dan para pensiunan khususnya. Kata Presiden Soeharto , lanjut usia merupakan suatu tahap kematangan pribadi dan kekayaan pengalaman dalam perjalanan hidup seseorang , yang dapat di sumbangkan bagi masyarakat di sekitarnya
Dijelaskan oleh Presiden Soeharto pencanangan Hari Lanjut Usia Nasional dan Gerakan Orang Tua Asuh merupakan wujud nyata dari hakikat pembangunan kita, yaitu pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia . Ini berarti bahwa tolok ukur keberhasilan-keberhasilan pembangunan kita terletak pada meningkatnya harkat dana martabat seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian dari upaya pengukuhan Hari Lanjut Usia dan gerakan Orang Tua Asuh tersebut jelas bahwa perjuangan yang akan dicapai dan diwujudkan generasi penerus bangasa tidak terlepas dari prestasi keberhasilan generasi penerus dalam mewujudkan generasi penerus bangsa tidak terlepas dari prestasi keberhasilan generasi penerus dalam mewujudkan cita-cita harapan bangsa.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *