Lapisan Warna Pelangi Terakhir

Cerpen, Fiksi

                Matahari dengan cantiknya bersinar diantara birunya lukisan tuhan membuat kaca jendela di kamarku tidak sanggup membendung sinarnya. Sinar itu tembus melewati partikel-partikel silika yang begitu tebal dan mampu menyentuh kulit tanganku yang sedang memegang gelas teh. Hangat. Itu yang kurasakan.

Diantara sinar itu, aku pernah menemukan dia, dia yang setiap pagi memarkirkan motornya di balik jendela kamarku. Mengetuknya sesekali, lalu duduk mengobrol dengan ibu yang sedang menyiram bunga. Aku pun keluar dengan seragam putih abu, sepatu sneakers hitam dan kerudung putih, tak lupa tas ransel kuning spongebob menggantung di kedua lenganku yang kurus ini.

            “ Lama sekali!” Keluhnya.

            “ Baru aja jam tujuh!”

            “ Udah sejam nunggu ni!”

            “ Baru aja ngetuk jendela! Nih denger!” Jawabku seraya memberikan rekaman

               suara ketukan jendelanya yang selalu kurekam setiap pagi.

Senyumnya terlihat diantara pancaran sinar yang melewati setiap lekukan wajahnya. Hangat. Angin pagi yang dingin membawa aroma parfumnya menerobos masuk ke dalam celah-celah hidung mungilku ini. Harum.

            Kuletakkan gelas teh yang isinya sudah lama kusruput habis diatas meja hijau tosca disamping jendela. Aku mengambil handbag coklat yang diberikan lelaki itu sebagai hadiah di hari pertama kerjaku. Kerjaan kantor yang menumpuk menjadi sarapanku pagi itu. Hari itu pula aku harus pergi ke kantor area untuk mengambil berkas klaim. Menyelesaikan beberapa berkas untuk di upload dan setelah itu aku berangkat ke kantor area. Panas mentari yang sangat terik ditambah pemerintah sedang melaksanakan program pelebaran jalan yang mengharuskan pohon-pohon sumber oksigen di pinggir jalan harus ditebang membuatku sedikit gerah.

            “ Pagi, mbak Sani!” Sapa salah satu satpam bernama Mas Qadafi yang terkenal

               ramah di kantor area.

            “ Pagi juga mas!”

Aku menaiki berpuluh-puluh anak tangga untuk sampai ke lantai tiga. Tepat di lantai dua aku selalu merasakan aroma hangat dari parfum yang lelaki itu pakai sejak SMA. Tetapi itu bukan dia, aku tak tahu itu siapa. Sampai saat ini pun aku masih belum tahu parfum apa yang ia gunakan. Aromanya masih melekat di setiap bagian hidungku. Angin sepertinya enggan membawa aroma itu pergi dari penciumanku dan air sepertinya tak tega mencuci bersih aroma itu sehingga debu yang menempel di hidungku tidak membawa aroma itu pergi.

            “ Ehh parfum Ruli!”

            “ Tuh kan masih belum bisa move on ! Lebai amat sampe-sampe aroma parfumnya

   masih dihafal sampe sekarang!” Omel Sera.

“ Udah move on kok! Cuma gak bisa lupa sama aroma itu aja!”

“ Udah tiga tahun masih belum bisa lupa dan bilang udah bisa move on ? lucu

   deh, yuk balek ke kampus, katanya dosen ntar lagi masuk!”

Aku selalu mendengar omelan Sera ketika aku mengatakan “Parfum Ruli!”. Seperti lagu lama yang masih sering ku putar dan Sera bosan mendengarnya. Genap enam tahun aku berpisah dengan Ruli, dan sudah enam tahun pula aku tidak menjalin hubungan kekasih dengan siapapun. Aku masih menantinya kembali, disini, ditempat yang sama, diantara sinar matahari pagi.

            Langit yang tadinya sangat cerah berubah menjadi gelap sore ini, langit menurunkan ribuan titik-titik air yang mampu membentuk melodi indah yang sangat aku sukai. Aku menikmati melodi yang diciptakan tuhan dari balik kaca jendela di ruanganku. Memperhatikan orang-orang dijalanan yang sedang menghindari hujan yang turun begitu tiba-tiba ini. Aku menemukan dua anak remaja memakai pakaian putih abu sedang berteduh di depan toko helm depan kantorku. Lagi lagi aku mengingatnya.

            “ JAKETNYA KENAPA GAK DIPAKE? GAK DINGIN?” Teriakku diantara suara

   hujan yang sangat deras.

            “ GAK KOK, GAK APA-APA! AKU GAMAU PAKE SOALNYA KAMU JUGA

  GA PAKE JAKET!”

Terdengar lucu, tetapi sangat berarti untuk anak seusiaku saat itu. Pulang sekolah menembus hujan bersama Ruli. Itu pertama kalinya aku memasukkannya disalah satu lapisan warna pelangi yang aku punya. Aku meletakkan kehangatan hatinya di lapisan pertama. Aku menemukan indah senyumnya diantara cahaya matahari yang bersinar. Senyumnya aku letakkan di lapisan kedua. Mata hangatnya aku letakkan di lapisan selanjutnya. Begitu seterusnya sampai di usiaku yang sudah akan beranjak ke angka dua puluh enam ini.

            Kenangan bersama Ruli, aroma parfum Ruli, bekas jejak kaki Ruli diantara pasir pantai, dan tingkah konyol Ruli saat dilapangan futsal masih tertata rapi di setiap lapisan warna pelangi itu. Aku sangat mencintainya Walaupun saat ini dia berada jauh di Malang karena pekerjaan, sesekali aku bertemu dengannya saat reuni sekolah.

            Kutepis kenangan tentang Ruli yang membuatku sering lupa waktu itu. Jarum jam pendek sudah berada di angka lima dan jarum jam panjang sudah sampai di angka dua belas, waktunya pulang. Badanku sepertinya mau remuk, pekerjaan kantor yang begitu banyak membuat kepalaku pusing dan badanku seperti mau remuk.

            “ Assalamualaikum!” Salamku dengan suara lemas.

            “Waalaikumussalam! Oiya, tadi Sera datang katanya ada sesuatu yang dititip untuk

  kamu.”

            “ Titip apaan ma? Wah tu anak gak ngabarin balek dari Malang! Awas aja yah!”

            “ Gak tau, paling ditaruh di meja dekat jendela. Sera sering ketemu Ruli dong?

              Kamu gak pernah dikasitau tentang Ruli?”

            “ Iya, Ma. Sering kok, Sera jadi mata-mataku disana! Hahahaha…!!”

Aku bergegas masuk kamar untuk melihat apa yang diberikan Sera.

            “ Undangan??”

            “ Sera nikah?” Tanya mama terkejut.

            “ Gak tau ma, kok dia nikah gak cerita dulu sama aku! Awas ni anak ketemu di

   pelaminan abis deh aku omelin! Udah berapa tahun temenan masih aja main

   rahasia-rahasian gini!” Gerutuku seraya membuka undangan yang diberikan Sera.

            “ Udah udah dibuka yang bener itu undangan!”

Tanganku tiba-tiba gemetar membaca kedua nama calon mempelai yang tertulis di undangan putih bertinta emas itu.

            “ Ma, lihat!” Ucapku dengan nada suara yang bergetar.

            “ RULI??? SERA??”

 

 

***


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *